
"Nduk, kamu senang dengan rumah ini?" tanya Bu Harun saat menemani menantunya memasak untuk acara makan malam nanti.
Acara jamuan memang diadakan nanti setelah magrib. Untuk yang akan dibagikan pada tetangga terdekat, Bram memilih untuk memesan pada catring saja. Tapi untuk di makan sendiri, Gendis memilih untuk membuat masakan simpel.
"Gendis merasa cocok, Bu. apalagi rumahnya terasa adem." jawab Gendis. Selain pohon rambutan dan mangga di depan rumah. Di belakang juga ada pohon melinjo yang sudah tumbuh besar.
"Kalau kamu susah membersihkan sendiri, bilang saja ke Bram, agar dia mencarikan asisten rumah tangga untuk membantu kamu, Nduk." lanjut Bu Harun sambil memperhatikan Gendis yang sudah terlihat terbiasa memasak. Gadis manja yang awalnya tidak bisa melakukan apapun kini sudah terlihat pandai memasak meskipun bumbunya dihaluskan dengan Cooper.
"Nanti saja itu, Buk. Sebenarnya jika ada orang luar di rumah, Gendis merasa tidak nyaman."
"Ya, minta saja Bram untuk membantumu. Setiap hari pasti banyak daun jatuh yang mengotori halaman rumahmu." lanjut Bu Harun.
"Iya, Bu."
"Bu, Bram ajak Gendis keluar dulu ya!" sela Bram yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dapur.
"Loh, mau kemana, Mas?" tanya Gendis kemudian mematikan kompornya. Dia baru saja memasak ayam ungkep untuk dibakar.
"Kita nyari kue, Ndis. Mas sulit milih jika sendirian." ujar Bram sambil menarik lengan Gendis.
"Tapi..." Gendis ragu dengan tatapan sungkan ke arah mertuanya.
"Nggak apa-apa, Nduk. Biar ibu lanjutkan,
tinggal bikin sambel, nanti biar Radit yang bakar ayamnya." jawab Bu Harun sambil tersenyum.
Wanita sepuh itu terlihat bahagia kala melihat Bram yang sudah terbiasa dengan menantu kesayangannya itu. Bisa terlihat hubungan keduanya memang semakin lengket.
"Aku mau mandi dulu!" protes Gendis.
"Nggak usah! Kamu udah kelihatan cantik." puji Bram agar tidak menghabiskan banyak waktu.
"Tapi..."
"Ayolah, Ndis." Bram menarik lengan Gendis, membukakan pintu mobil dan meminta Gendis untuk segera masuk.
Bram tahu, Gendis baru saja kembali ke dapur setelah mandi. Sejak pagi, Gendis sudah berkutat di dapur barunya dan meninggalkan ayam yang sedang diungkep untuk mandi terlebih dahulu.
__ADS_1
Mobil Pajero putih itu segera meluncur menuju toko cake dan barkery yang terdekat dari rumahnya.
Bram menghentikan mobilnya di depan ruko yang sudah menjadi tujuannya. Dia pun turun menghampiri Gendis yang kini sudah turun dan mencepol rambutnya dengan asal- asalan, namun masih terlihat cantik.
Mereka memasuki toko cake itu dan memilih tujuh buah kue dengan jumlah dua lima biji setiap jenisnya.
"Mbak, tolong langsung dimasukkan dalam kotak Snack, ya!" pinta Bram.
"Masih kurang satu jenis, Pak." lanjut salah satu pegawai dengan tersenyum manis.
"Sayang, masih kurang satu jenis!" panggil Bram saat lelaki itu melihat lirikan Gendis pada dua pegawai perempuan yang sejak tadi menatap Bram penuh dengan kekaguman.
"Iya, Mas." jawab Gendis kemudian kembali mengitari etalase yang berisi beberapa macam jenis kue.
"Mas, bagaimana kalo ditambah lapis legit saja?"
"Kayaknya lebih bagus red velved deh, Mas." sela Seruni sambil menghampiri Bram. Gendis dan Bram sebenarnya tidak menyangka jika akan bertemu Seruni di toko ini.
"Bagaimana, Ndis?" tanya Bram menatap penuh tanya ke arah Gendis.
"Terserah Mas Bram saja." akhirnya Gendis mengalah, tapi rasa marahnya sudah hampir meledak saat Bram menghampiri pelayan toko dan memberi tahu jika dirinya memilih red velved.
Seruni tersenyum penuh kemenangan. Apapun yang terjadi, ternyata pilihannya yang masih menjadi keputusan Bram.
"Makasih Run atas sarannya." ujar Bram saat kembali menghampiri Seruni.
"Sama-sama, Mas Bram. Aku balik dulu!" pamit Seruni, sebelum balik, dia juga sempat melirik Gendis yang sudah menahan diri agar tidak ribut di tempat umum.
Gendis menatap kesal gadis yang kini melewati pintu kaca itu, dia seperti sengaja ingin membuat ricuh dan yang bikin dia bertambah emosi yaitu Bram. Bram pun menanggapi tanpa rasa bersalah.
"Ndis, kita cari minum dulu, yuk!" ajak Bram tanpa berdosa sama sekali. Saat akan menggandeng tangan Gendis, istrinya langsung mengelak, menarik tangannya membuat Bram memperhatikan wajah putih itu sudah memerah.
"Ndis, Mas, nggak tahu jika Seruni ada di sini!" lanjut Bram, sedikit berbisik.
Gendis hanya terdiam, Gadis itu masih mematung di dekat etalase hingga ada pembeli yang baru masuk, kemudian Gendis menyingkir.
"Kuenya sudah siap, Pak." panggil Mbak Kasir yang tidak jauh dari tempat Bram dan Gendis berdiri.
__ADS_1
Bram pun langsung menghampiri kuenya dan membayar dengan debit. Sementara, Gendis langsung keluar menuju mobil.
"Mungkin inilah cinta lama belum usai dan aku berada diantaranya." gumam Gendis dalam hati, dia berdiri di dekat mobil saat Bram menenteng beberapa plastik besar berjalan ke arahnya.
"Ndis, masalahnya di mana?" tanya Bram saat dia sudah duduk di belakang kemudi.
"Masalahnya aku ingin berpisah, tapi Mas Bram malah membeli rumah baru."
"Gendis!" geram Bram jika Gendis membahas soal perpisahan terus.
"Bentak terus! Aku memang pelampiasan kemarahanmu, Mas."
"Jika cinta lamamu belum selesai, selesaikan saja." lanjut Gendis dengan mata yang sudah berkaca-kaca, suaranya seperti tertahan di tenggorokan saat dia menahan tangis.
Bram mendesah berat, mencoba menurunkan emosinya. Tanpa bicara sepatah katapun lelaki itu melajukan mobilnya.
Hanya sepuluh menit perjalanan, lelaki yang tidak lagi bicara itu menghentikan mobilnya.
"Mencobalah dewasa , Ndis. Aku dan Seruni sudah tidak ada hubungan lagi." jelas Bram sebelum mereka turun dari mobil.
Gendis masih terdiam, tapi sesaat kemudian dia sibuk mengusap air matanya. Entahlah, dia sulit mengungkapkan alasan yang membuatnya semarah itu.
"Ndis, Mas tidak tahu jika Seruni ada di toko itu juga!" ujar Bram dengan suara yang di buat selembut mungkin.
Melihat Radit mendekat, Bram membuka pintu mobilnya, " Mas, Radit bantuin bawa kuenya!" pemuda yang masih duduk di semester dua itu menawarkan jasanya.
"Bawa semuanya, Dit!" jawab Bram, sambil menoleh ke kanan. Sementara Gendis langsung berlari masuk ke dalam. Bram hanya menatap punggung istrinya dari kejauhan. Masih banyak tanda tanya yang belum terjawab.
"Sepertinya Mbak Gendis ngambek! Mas Bram lupa membelikan ice cream paling heee.." ledek Radit yang sempat melihat wajah manyun Gendis.
"Sok tahu kamu!" sambut Bram masih dengan kesal.
"Mas Bram, harus belajar banyak soal cewek pada generasi kekinian. Jangan cuma belajar dan baca buku!" Radit kembali meledek Bram. Pemuda itu memang dekat dengan keluarga Bram, hingga Bu Harun mengajak pemuda itu dan keluarganya ikut datang ke rumah baru Bram.
"Kami jangan kebanyakan main sama cewek, kuliah yang bener. Pak lek Mukhlis berharap kamu bisa sukses." jelas Bram.
"Wah Mas Bram, kalau aku main sama cowok, nggak bahaya ta, Mas?" tawa Radit membuat Bram melirik tajam pemuda yang sedikit konyol itu. Cowok yang kini berjalan bersama Bram memang anak tuan tanah di kampung ibunya, Bahkan Bu Harun menyewa sawah yang di garapnya pada ayah Radit.
__ADS_1