
Gendis memulai aktifitas sebagai Ibu rumah tangga. Dapur dan tempat loundry membuat dirinya sesibuk mungkin pagi ini.
Semalam dirinya sudah membuka you tube untuk belajar memasak telur omlet dan ca sawi. Mungkin bagi perempuan yang sudah terlatih, memasak itu adalah hal sepele, tapi bagi Gendis itu adalah hal yang membutuhkan konsentrasi dan persiapan penuh.
Omletnya tidak gosong saja sudah membuat Gendis sangat bahagia," Huuuuhhfff, omlet pertamaku hehehe. Terlihat sangat menggoda." senyum dengan lesung pipit di pipi membuat Gendis terlihat sangat manis. Gadis itu sudah sangat puas dengan hasilnya.
"Gendis, apa ini? " tanya Bram terlihat sangat Shock ketika mendapati dapurnya seperti kapal pecah. Beberapa benda sudah tercecer di lantai.
"Heee... heee...nanti aku beresin, Mas." ujar Gendis sambil menoleh lelaki yang tengah berdiri di depan pintu. Gadis itu hanya tertawa kecil saat melihat wajah kecut Bram. Baru kali ini, Bram mendapati dapurnya sekotor ini.
"Kopinya, Mas, sudah jadi? " tanya Bram. Lelaki itu enggan melangkah lebih dalam karena kondisi dapur yang sangat berantakan.
"Eh iya, aku lupa, Mas?" Gendis menepuk jidatnya dengan senyum yang tak juga surut dari bibirnya.
"Tolong bawakan ini ke meja makan." pinta Gendis sambil menyerahkan semangkok ca sawi dan sepiring omlet pada Bram.
Tanpa berkomentar lagi Bram membawa piring dan mangkok yang sudah berisi itu ke meja. Sedangkan, Gendis kemudian mulai membuatkan Bram secangkir kopi.
"Mas. kopinya sudah jadi!" teriak Gendis membuat Bram menoleh dan kemudian berjalan menghampiri secangkir kopi yang baru saja diletakkan Gendis di meja makan.
Gendis pun langsung membersihkan dapur. Rasa lelahnya kini sudah terobati ketika masakan pertamanya terlihat begitu menggiurkan hingga dirinya ingin sekali berteriak puas.
"Loh, Mas Bram, sudah mau berangkat? " tanya Gendis. Langkahnya menuju ruang loundry pun terhenti saat melihat Bram sudah rapi dengan kemeja kerja dan celana bahan kainnya. .
"Sebentar aku ambilkan piringnya, Mas." Gadis yang terus menebarkan senyum itu memilih berbalik untuk mengambilkan piring dan membawanya ke meja makan.
Bram menatap ragu, nasi yang terlihat lembek dan masakan yang nampak pucat.
"Maaf, airnya sedikit berlebih dari yang seharusnya." sambung Gendis saat mengambilkan nasi dipirimg Bram. Dia sudah mengerti arti tatapan Bram.
"Belajar memang itu berproses." jawab Bram dengan datar. Dia memang tidak ingin berekspektasi lebih pada masakan Gendis.
__ADS_1
Mereka pun mulai sarapan. Gendis pun menunggu reaksi Bram. Tetapi lelaki itu tidak berkomentar sama sekali.
Sesekali, Gendis melihat Bram meneguk air disela sela mengunyah makanan.
Dengan tenang gendis pun mulai untuk menyantap makanannya. Sejak tadi, dia begitu penasaran dengan rasa masakannya itu.
"Mas Bram..." panggil Gendis dengan menahan tangan Bram yang akan kembali menyuap makanan.
"Stop, Mas!"
"Aku buatkan mie instan saja, ya?" lanjut Gendis dengan sedikit terbata karena kesulitan menelan makanan. Rasa asin dari makanannya membuat Gendis sampai berdigik.
"Nggak usah. Ini saja, tinggal sedikit nasinya. Mas, nggak bisa ngabisin telur dan sayurnya." jawab Bram dengan santainya, dia bahkan menyingkirkan tangan Gendis yang masih berusaha menahannya untuk menyuap.
Gendis hanya tertegun menatap lelaki yang terlihat biasa memakan masakannya itu. Bahkan, gadis itu tidak melanjutkan makannya hanya untuk memperhatikan Bram.
"Besok dicicip dulu, kalau terlalu asin tambah air saja!" lanjut Bram dengan mengusap mulutnya dengan tissu.
"Rencana pulang jam berapa, Mas? Cepat pulang ya!" pinta Gendis dengan ikut berdiri.
Bram menatap gadis di depannya. Dia merasa, ini pertama kalinya dia mendapatkan kalimat itu. Beginikah menjadi suami? Pertanyaan Gendis membuat Bram merasa sangat diharapkan kepulangannya.
"Mas belum tahu. Kalau bosan, kamu keluar saja, tapi jangan terlalu jauh dari apartemen. Jika bingung di jalan, telpon Mas." jawab Bram dengan mengusap kepala istrinya.
Gendis mengantar Bram melangkah keluar dari apartemen. Bram yang canggung saat Gendis mengambil tangannya dan menciumnya dengan takzdim
Gendis melakukannya karena seperti itu yang selalu dilakukan mamanya saat akan keluar rumah. Perlakuan Gendis membuat Bram merasa dirinya adalah sosok suami yang sebenarnya.
###
Pukul dua siang, lelaki yang sudah mengatur janji dengan Seruni itu keluar dari lingkungan kampus dia mengajar. Setelah mengisi jam kelas dan bertemu beberapa mahasiswa yang melakukan bimbingan, Bram langsung berangkat untuk bertemu seruni.
__ADS_1
Benda pipih berlogo buah itu terus saja berbunyi, tapi Bram hanya mendiamkannya saja karena jalanan sedang padat merayap. Lagi pula Bram pikir, dirinya juga sedang menuju ke tempat, dimana dia dan Seruni akan bertemu.
Tidak mudah mencari waktu untuk bisa bertemu dengan gadis yang dia cintai. Apalagi, Bram juga punya jadwal yang terkadang cukup padat. Tapi, kali ini dia harus menyempatkan diri karena Seruni mengatakan ingin bicara sesuatu yang penting.
Lelaki yang kini membuka kaca mata hitamnya dan melangkah masuk ke dalam kafe itu, mengedarkan pandangan mencari sosok gadis yang sudah begitu dekat dengannya.
Seketika senyumnya terbit kala seorang gadis dengan rambut disanggul modern itu melambaikan tangan, agar Bram mengetahui keberadaannya.
"Mas Bram, mau makan?" tanya Seruni karena dia tahu Bram pasti belum makan.
"Nggak, Run. Aku pesan minum saja." jawab Bram saat meletakkan bobotnya di kursi yang ada di depan Seruni.
"Camilan ya? Pasti Mas Bram lapar."
"Boleh." Mendengar jawaban Bram Seruni langsung tersenyum. Dia merasa hanya dirinyalah yang bisa mengerti Bram.
Gadis yang masih mengenakan blazer itu langsung memesankan Bram camilan dan miniman. Dia tidak lagi bertanya, Seruni sudah hafal kesukaan Bram.
"Terima kasih, Kamu selalu mengerti apa yang Mas inginkan." lanjut Bram.
"Kita bersama sudah lama, Mas. Bagaimana aku tidak tahu kesukaan Mas Bram." ujar seruni. Gadis itu terus saja menatap Bram tanpa bosan.
"Mas, Papa menanyakan hubungan kita?" Seketika Bram terhenyak, meskipun dia mengingnkan hal ini tapi Bram masih saja tidak menyangka jika secepat ini harus memutuskan sesuatu.
"Tapi, aku bilang ke Papa jika Mas Bram masih sibuk dan fokus untuk posisi Dekan." lanjut Seruni saat melihat Bram terdiam. Gadis itu bisa melihat jika Bram terlihat bimbang ketika mendapatkan pertanyaannya.
"Beri Mas waktu, Mas harus menyelesaikan segala sesuatunya dengan baik. Setidaknya sampai semua bisa Mas selesaikan dengan seharusnya." ujar Bram. Tidak ada lagi yang ada di otaknya kecuali Gendis. Dia harus mengantarkan Gendis pada batas yang tepat.
Bram, juga belum berani mengatakan apapun pada Seruni. Dia akan mengatakan semuanya di waktu yang tepat agar Seruni bisa mengerti posisinya.
"Mas Bram jangan khawatir! Lagi pula selama ini kita bisa melalui semuanya dengan dewasa kan, Mas? " lanjut seruni, dia akan bersabar untuk lelaki yang sudah lama dia cintai itu.
__ADS_1