
Baru beberapa menit Gendis menyadari ada yang terasa berbeda dari tubuhnya. Dia menyingkap selimut yang sudah membalut tubuhnya.Tapi, tidak juga mendapatkan kenyamanan.
Desiran yang begitu kuat yang dia sendiri tidak mengerti kini semakin bergejolak. Ah, rasanya ini benar-benar aneh.
Di raihnya, remot Ac yang tergeletak di sebelahnya. Kemudian meningkatkan suhu pendingin ruangan itu hingga membuat Bram yang sedari tadi duduk di sofa menoleh ke arah Gendis yang nampak Gelisah.
"Ndis..."
"Panas rasanya, Mas." suara Gendis terdengar parau. Dia pun kembali berbaring dengan gelisah, rasa ingin di sentuh yang dia tahan seolah mengalahkan kemarahannya pada Bram.
Sesaat kemudian dia kembali bangkit dan membuka satu kancing atas piyama membuat Bram bangkit dan mendekatinya. Gendis benar-benar dibuat tidak tahan untuk melakukannya.
"Mas..." panggil Gendis dengan menatap harap Bram. Wajah putihnya sudah terlihat memerah. Bram yang merasa bingung itu mendekati istrinya.
"Panas, Mas! Kepalaku juga rasanya sedikit berat." Suara itu terdengar sedikit mendesah, tak ada yang bisa diungkapkan lagi kecuali rasa panas dan perasaan aneh yang semakin bergejolak.
Bram menahan tangan Gendis yang akan membuka satu lagi kancing piyamanya, dia sudah memahami situasi yang kini terjadi pada istrinya meskipun salah satu logikanya menyangkalnya.
"Biar, Mas, saja!" lirih Bram, kemudian mencium lembut bibir ranum yang sebenarnya selalu menggodanya.
Gendis yang biasa masif itu pun membalasnya tak kalah agresif hingga Bram yang sedari tadi menginginkannya pun langsung menyambut lelaki itu lebih bersemangat.
Gairah yang selama ini ditahan membuat Bram begitu kalap dengan hasratnya. Sosok yang biasa terlihat cool itu pun menunjukkan sisi garangnya kala dikuasai nafsu dan cinta yang kini sudah meledak dalam sisi jiwa lelakinya. Apalagi, Gendis juga mengimbanginya meskipun masih terlihat kaku dan tertahan karena malu-malu.
Hanya lenguhan dan ******* yang memenuhi malam panas mereka. Bahkan, keduanya seperti tak ingin berhenti, meskipun Gendis sempat menitikkan air mata ketika penyatuan pertama mereka. Rasa sakit yang begitu sangat itu membuatnya hampir tidak tahan tapi kemudian disusul rasa nikmat kala Bram mengendalikan permainan.
Pertempuran panas yang menumbangkan keduanya itu pun berakhir ketika menjelang pagi. Keduanya tertidur pulas dengan saling memeluk hingga suara Adzan subuh terdengar.
Gendis mengerjapkan mata, rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya sulit untuk bergerak. Apalagi bagian inti miliknya, masih merasakan perih.
Ditatapnya lelaki yang kini masih terlelap. Wajah tampan dan kharismatik milik Bram memang sudah membuatnya jatuh cinta. Tapi, tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga takut jika Bram tak bisa menyelesaikan cinta di masa lalunya saat bersama dirinya.
"Kenapa, Sayang?" Suara serak itu terdengar meskipun mata pemiliknya masih terpejam. Bram masih ingin tertidur tapi gerakan dari tubuh yang ada dalam dekapannya itu membuat lelaki itu terbangun.
__ADS_1
Bram berusaha mengerjapkan matanya agar bisa terbuka lebar.
"Kami begitu seksi hingga Mas lupa diri jika ini pertama kalinya." ujar Bram dengan suara parau saat mengungkapkan kekaguman pada tubuh istrinya. Bayangan tubuh Gendis yang meliuk-liuk justru masih terbayang hingga saat ini.
"Mas, masih perih!" Gendis benar-benar takut jika Bram menginginkannya lagi.
"Aku juga sangat lapar." lanjut Gendis seperti kehilangan semua tenaganya karena pertempuran semalam.
"Mas, mengerti." sambut Bram sambil tersenyum. Rasa bahagia dan puas kini membuat lelaki itu terlihat sumringah. Kini Gendis sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Ayo, Mas Bantu ke kamar mandi!"
Bram pun langsung bangkit mengenakan boxernya. Kemudian mengangkat tubuh mungil istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Bram membiarkan Gendis berendam sebentar dengan air hangat agar menghilangkan rasa perih dan meregangkan otot-ototnya yang lelah. Sementara itu, dia pun menghampiri tempat tidur. Dia masih teringat saat ada noda merah yang mengotori sprei berwarna biru muda itu.
Darah perawan dan cairan yang menodai spreinya membuat Bram tersenyum. Dia kembali terbayang betapa nikmatnya permainan semalam. Ini pertama kalinya dia dan Gendis melakukan hubungan yang selama ini jadi fantasinya.
"Loh, kamu belum Salat Subuh, Bram?" tanya Bu Harun kala melihat Bram masih kusut. Bu Harun baru saja masuk ke dapur setelah Salat Subuh.
"Sebentuk, Buk. Katanya Gendis lapar!" ujar Bram dengan mengambil dua helai roti yang kemudian di oles selai sekalian.
"Buk, nanti sarapannya biar Bram nyari di luar. Gendis sedang tidak enak badan." bohong Bram.
"Loh, Gendis sakit apa?"
"Biar ibu yang masak saja. Lagi pula makanan yang semlam masih banyak. Biar Ibu panasin." lanjut Bu Harun.
"Kecapekan, kayaknya." jawab Bram dengan mengaduk segelas susu untuk Gendis.
"Kalian tidak sedang ribut, kan?" selidik Bu Harun karena dia tahun sejak kemarin anak dan menantunya sedang tidak berbicara.
"Nggak, Buk."
__ADS_1
"Bram ke atas dulu ,ya. Jika Ibu masih ingin santai, biar Bram yang nyari sarapan di luar." lanjut Bram kemudian meninggalkan ibunya yang masih menikmati secangkir kopi yang baru saja dibuatnya.
Bram membuka pintu kamarnya, terlihat Gendis sibuk menarik sprei yang sudah kotor akibat percintaan mereka semalam.
"Sayang, sudah Salat Subuh?" tanya Bram membuat Gendis menoleh.
"Belum, nunggu Mas Bram." ujar Gendis melanjutkan aktifitasnya.
"Kamu makan roti dan minum susu dulu! Mas, akan mandi sebentar." uajr Bram dengan membuka kembali kemeja yang dipakainya.
Gendis menatap gelas susu semalam dan beralih pada gelas susu yang dibawa Bram barusan, " itu sama dengan susu semalam ya ,Mas?" tanya Gendis dengan curiga. Dia teringat setelah minum susu itu dia merasakan tubuhnya menjadi aneh.
"Sama tapi beda. Nanti, Mas, akan jelaskan perbedaannya." ujar Bram kemudian masuk ke kamar mandi.
Gendis masih menikmati roti yang dibawa Bram, dia masih ragu untuk meminum susunya. Semalam, rasanya hampir membuatnya gila jika mengingatnya, bagaimana bisa dia seagresif itu. Mengingat kejadian semalam wajahnya bersemu merah, dia pun melangkah menatap dirinya di pantulan cermin.
"Mas Bram...tok ...tok...tok..."
"Mas..." Gendis terus mengetok pintu kamar mandi kala mendapati beberapa tanda merah di lehernya.
"Apa, sayang?" tanya Bram dengan cemas membuka pintu kamar mandi. Bram hanya mengenakan handuk dan rambutnya masih meneteskan air.
"Leherku! Bagaimana aku bisa keluar jika seperti ini!" protes Gendis dengan wajah cemberut.
Awalnya dia hanya mengira tanda merah itu hanya di dada dan sel*ngk*ngan-nya. Tapi, ternyata Bram membuatnya juga di area yang bisa di lihat orang dengan jelas meskipun sudah ditutup dengan rambut panjangnya.
"Mas sudah bilang sama Ibu, jika kamu sedang tidak enak badan."
"Cepetan ambil wudhu nanti keburu siang!" titah Bram kemudian mengenakan baju Koko dan bersiap Salat Subuh bersama istrinya.
mampir yuk di Rahasia Cinta Zoya
__ADS_1