
Bram berlari masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Gendis. Sedangkan, dia hanya mendapati ibunya dan Bu Mukhlis yang sedang menghidangkan hasil masakan mereka di meja makan.
"Sepertinya Mbak Gendis naik ke atas, Mas Bram." ucap Bu Mukhlis saat memergoki Bram yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.
"Kalau begitu saya naik ke atas dulu!" pamit Bram, kemudian melangkah dengan tergesa menaiki tangga. Radit yang dilewatinya begitu saja hanya menggelengkan kepala.
"Pasangan aneh!" gumam Radit yang sudah memperhatikan hubungan Bram dan Gendis sejak awal.
Bram melangkah menuju kamar mereka. Kamar yang masih belum tertata sempurna itu terlihat sepi. Dia pun melangkah masuk mencari keberadaan Gendis. Dan ternyata sosok yang dicarinya tengah berdiri di sudut balkon dengan menatap layar ponselnya.
"Gendis..." panggil Bram membuat Gendis menoleh. Dan menyimpan ponselnya kembali.
"Kamu kenapa?" tanya Bram saat dirinya berdiri di dekat istrinya.
Gendis masih terdiam, dia masih kesal dengan Bram tapi tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada lelaki yang kini menatapnya tajam.
"Pilih aku apa wanita tua itu?" tantang Gendis membuat Bram meraup wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak becanda! Mas Bram, tidak konsekuen dengan apa yang Mas katakan!" lanjut Gendis membuat Bram menghela nafas ketika dihadapkan pada kalimat-kalimat yang baginya tidak penting karena jawabannya sudah jelas.
"Apa sih maumu, Ndis? Jangan seperti anak kecil!" lanjut Bram yang ingin Gendis mengerti posisinya.
"Tentu Mas memilih kamu, sampai saat ini Mas masih bersamamu, sementara aku dan Seruni sudah tidak ada hubungan apapun lagi." jelas Bram.
"Tapi kenyataannya Mas Bram mengambil pilihan wanita tua itu." Gendis menatap Bram. Sudah beberapa kali Gendis mengatakan Seruni wanita tua untuk meluapkan kekesalannya pada gadis itu.
"Astaga hanya masalah itu? Masalah itu, emang kenyataannya Red Velved bisa mengimbangi beberapa kue tradisional yang sudah dipilih, kan?" jelas Bram dengan entengnya, tapi sikapnya yang santai justru membuat Gendis semakin muak.
"Jika sudah bisa memilih sendiri, kenapa harus mengajakku?" kelit Gendis.
Gadis yang sudah merasa kesal melangkah meninggalkan Bram. Tapi tangan Bram berhasil menangkap lengan kecilnya dan berhasil membuat Gendis berhenti.
"Jangan menyentuhku! Jangan bicara padaku lagi, atau aku akan mengatakan semua perlakuan Mas Bram terhadapku selama ini pada Ibuk." ancam Gendis, membuat wajah Bram seketika murung. Gadis itu terlihat tidak main-main.
Seketika, Bram mengendurkan genggamannya. Sebelumnya dia merasa semua itu tidak akan menjadi masalah. Tapi, ternyata seorang perempuan akan menafsirkan semuanya dengan begitu sensitif.
__ADS_1
Gendis menuruni tangga dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin. Tapi, Bu Harun bisa melihat jika menantunya sedang merasa sedih sejak pulang dari membeli kue.
"Kalau capek sebaiknya istirahat dulu, Nduk! Semua sudah siap. Biar Ibu yang membersihkan dapur." ucap Bu Harun saat Gendis akan mencuci gerabah yang kotor.
"Nggak apa, Buk. Biar cepat selesai kita bisa istirahat sebentar, sebelum acara nanti malam!" jawab Gendis tanpa menghiraukan lelaki yang sudah menyusulnya di dapur. Bu Harun dan Bu Mukhlis saling melempar pandang, dua wanita yang cukup berpengalaman itu bisa mengerti jika keduanya sedang bermasalah.
###
Ambar membereskan barang pribadinya. Dia sudah meminta Mika untuk menggantikannya sore ini. Mamanya, dari kemarin selalu mengingatkan jangan lupa datang ke acara pindahan rumahnya Mbak Gendis dan membeli kenang-kenangan untuk rumah baru Mbak Gendis.
Sementara, dia belum juga membeli sesuatu yang sudah di pesan mamanya.
"Mik, membeli barang elektronik yang bagus dan murah di mana ya?" tanya Ambar saat membenarkan posisi bross di jilbabnya yang menjuntai agar bisa menutupi bagian dadanya.
"Beli di tokonya Bapak Mertua... hahaha...hahah..." jawab Mika membuat Ambar yang sudah tergesa-gesa pun sedikit kesal.
"Kamu itu....aku, serius mika!" protes Ambar.
"Mana ada murah bagus kecuali di tokonya Bapak Mertua." jawab Mika.
"Di pertigaan lampu merah!" ujar Mika sambil menunjuk ke arah kanan dari posisinya.
"Katanya sih, pemiliknya sama dengan pemilik resto ini. Jadi, kalau membeli barang tunjukkan ID cardmu!" jelas Mika membuat Ambar mengangguk.
Gadis berwajah cantik itu pun melangkah keluar melewati ruangan yang dimana banyak orang sedang duduk menikmati suara musik romantis.
"Heh, kamu!" suara bariton itu membuat Ambar menoleh. Dalam hati Gadis itu merujuk kesal karena lelaki yang baginya sangat menyebalkan itu sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa hari ini tidak datang ke kantor membawa makan siang?" tanya Zayn saat keduanya sudah saling berhadapan.
"Saya sudah ke sana, cuma katanya Pak Zayn ada rapat di luar dan saya juga ada ujian saat itu." jelas Ambar membuat Zayn menyeringai.
"Kenapa tidak meninggalkan makan siangku di kantor." ucap Zayn dengan menatap tajam mata bulat di depannya.
"Apa pak Zayn datang ke sini, hanya untuk mengurus sekotak makan siang?" Ambar pun mulai kesal. Big bosnya itu seperti selalu ingin menyudutkannya.
__ADS_1
"Eh, ngelunjak kamu!" kesal Zayn, saat mendengar kalimat Ambar yang berani membantahnya.
"Maaf." ucap Ambar menyadari dia masih membutuhkan pekerjaan untuk beberapa bulan ke depan.
"Besok, kamu sendiri yang harus memasak makan siang untukku dan menemaniku makam siang. Itu jika masih ingin bekerja."
Ambar terdiam, dia tidak ingin diperlakukan layaknya wanita tolol yang mau dibuat boneka oleh orang berduit. Tapi, kenyataannya saat ini dia belum bisa mengambil sikap karena kondisi keuangannya yang masih krisis dan belum ada pandangan pekerjaan lain.
"Kenapa?" desak Zayn.
"Baik, Pak." jawab Ambar membuat Zayn melangkah meninggalkannya.
Gadis itu pun menghampiri motornya yang terparkir tidak jauh. Dan rasanya kesialannya bertambah saat melihat ban motor belakangnya Sudan kempes.
"Ya Allah, jika seperti ini rasanya aku ingin menangis saja!" keluh Gendis kemudian berjongkok meyakinkan kondisi ban motornya. Sementara, Zayn memperhatikannya dari pintu kaca yang akan dia lewati saat masuk ke dalam resto.
Ambar memilih meninggalkan motornya, dia mulai berjalan menuju toko elektronik yang ada di ujung jalan, tepatnya di pertigaan lampu merah.
Sesekali, dia mengatur nafasnya yang berat karena tidak terbiasa berjalan kaki. Hampir sepuluh menit dia berjalan dan toko itu nampak masih beberapa meter.
"Tin...tin...."
Sebuah mobil mewah berhenti di dekatnya. Raka asisten Zayn keluar dari pintu kemudi.
"Mbak Ambar ayo sekalian bareng kita!" ajak Raka, Ambar dan Raka memang sudah saling mengenal.
"Sudah dekat Mas Raka. Saya mau ke toko itu!" tunjuk Ambar pada toko dua lantai yang terlihat sangat ramai pengunjung.
"Sekalian, kita juga mau ke sana!" sambut Raka.
"Jika tidak mau jangan dipaksa!" Zayn membuka jendela, lelaki itu memberi lirikan tajam pada gadis yang tengah berdiri dengan mengapit tote bagnya.
Lirikannya yang terkesan mengintimidasi membuat Ambar terpaksa berjalan masuk ke dalam mobil.
"Duduk di belakang! Aku tidak ingin terlihat jadi kacung." titah Zayn membuat Ambar makin dilema. Dia harus duduk berdua dengan lelaki menyebalkan itu padahal hanya tinggal beberapa meter, big bosnya itu malah membuat dirinya makin ribet.
__ADS_1