Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Minta Jatah


__ADS_3

Setelah makan malam, Gendis menemani mertuanya di kamar. Kedua wanita itu tidur di atas ranjang dengan bercerita banyak hal. Satu hal yang membuat Bu Harun senang. Dulu, saat pertama kali jadi menantunya, Gendis selalu malu-malu dan hanya bicara ketika ditanya. Tapi sekarang, dia lebih luwes dan dewasa ketika berkomunikasi dengan orang tua.


"Buk, sebaiknya Ibu tinggal bersama Mas Bram. Sudah saatnya Mas Bram menunjukkan baktinya." ucap Gendis dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar mertuanya.


"Nanti kalau Ibu sudah punya cucu." jawab Bu Harun sambil tersenyum.


Sejak tadi dia menatap Gendis dengan curiga karena tubuh menantunya yang terlihat berbeda. Tapi saat beliau bertanya apakah menantunya sedang hamil, Gendis terus saja menjawab 'tidak' karena tidak merasakan mual-mual.


"Kalian kapan ngasih Ibu cucu?" Pertanyaan Bu Harun membuat Gendis menelan salivanya. Dia sendiri tidak ingin hamil sekarang karena hubungannya dengan Bram yang kurang baik.


"Mungkin, Bram bukan suami yang baik tapi Ibu yakin dia akan menjadi seorang ayah yang baik." lanjut Bu Harun.


Gendis menoleh ke arah mertuanya, hingga Bu Harun juga meliriknya sambil tersenyum.


"Seorang istri memang jauh lebih mengenal suaminya dari pada seorang Ibu yang mengenal sifat putranya. Tapi, hidup bersama Bram hingga delapan belas tahun membuat Ibu faham seperti apa putra Ibu." ucap Bu Harun dengan menggenggam tangan menantunya itu. Beliau berharap Gendis mengerti.


"Bram itu punya karakter keras, dominan dan cuek karena dia tumbuh dengan keadaan yang menuntutnya sepert itu. Jadi, Ibu harap kamu sabar ngadepin dia."


"Tapi percayalah dia lelaki yang jujur dan setia." lanjut Bu Harun mencoba meyakinkan menantunya.


Beliau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, dia yakin anak dan menantunya akan melalui masa yang tidak mudah dalam rumah tangganya karena mereka dijodohkan.


Gendis tidak bisa berkata apapun, dia hanya memeluk mertuanya dengan manja. Wanita inilah yang selalu menguatkan dirinya saat dia sudah putus asa meghadapi hubungan pernikahannya.


"Tok... tok... ceklek. " Pintu kamar Bu Harun terbuka. Terlihat Bram sudah berdiri di tengah pintu dengan mengenakan kaos dan celana pendek.


"Ndis, biarkan Ibu istirahat! " titah Bram agar Gendis meninggalkan kamar ibunya.


"Aku akan tidur di sini untuk menemani Ibu." jawab Gendis dengan merapatkan pelukannya pada tubuh mertuanya.

__ADS_1


"Gendis... biarkan Ibu istirahat!" desak Bram membuat ibunya sangat faham maksud putranya.


"Ayo Nduk! Ikuti kata suamimu." bujuk Bu Harun membuat Gendis menatap Bram dengan cemberut. Berlahan, dia turun dari tempat tidur dan keluar beriringan dengan Bram.


"Kamu kenapa juga sering marah-marah, Ndis? " tanya Bram dengan melemahkan suaranya saat mereka masuk ke dalam kamar. Dengan sangat hati-hati dia bertanya agar tidak terjadi pertengkaran lagi.


"Mas Bram sendiri kenapa sering bentak-bentak? Aku kan cuma meniru imamku." balas Gendis. Kemudian, berlalu begitu saja menuju kamar mandi.


Bram hanya mendesah, menatap tubuh yang menurutnya semakin terlihat seksi. Sejak tadi Bram memperhatikan tubuh istrinya yang nampak beda. Kurus tapi menggoda hasratnya hingga dia tidak rela Gendis tidur dengan ibunya.


"Astagfirullah, Mas Bram." ucap Gendis mengusap dadanya kerena terkaget dengan keberadaan Bram yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Ndis... " panggil Bram dengan menarik lengan Gendis agar istrinya mendekat.


"Apa? " tanya Gendis dengan menautkan kedua alisnya.


"Mas, pingin!" lanjut Bram dengan mencium pipi kiri istrinya.


Bram mulai sibuk memasukkan tangannya ke dalam piyama istrinya. Gerakan tangannya mulai memijat dan menekan hingga Gendis mulai terbawa suasana.


"Janji dikeluarkan di luar!" ucap Gendis dengan berusaha menahan tangan Bram yang sudah bergerilya kemana-mana.


"Aku belum ingin hamil saat ini." lanjut Gendis saat mendapatkan tatapan memohon Bram.


Saat ini, Gendis memang melayani Bram karena masih punya kewajiban. Selanjutnya, dia masih gamang dengan status pernikahannya hingga dia tidak ingin mengambil resiko jika sampai hamil.


"Baiklah." jawab Bram dengan langsung membawa Gendis ke tempat tidur.


Lelaki itu begitu garang mendominasi pergulatan panas mereka. Seminggu berpuasa karena perang dingin antara dirinya dan Gendis membuat Bram seperti orang kalap.

__ADS_1


"Aku tidak ingin ada ronde selanjutnya." lirih Gendis dengan terbata saat tubuh kekar suaminya memompanya dengan penuh semangat. Bram biasanya tidak puas jika hanya sekali.


Bram mengerti karena beberapa kali sebelumnya, Gendis selalu mengeluh kram perut setelah mereka melakukan hubungan suami istri.


Lenguhan dan des*han yang terus saling mengejar menjadi tanda jika pergulatan panas keduanya akan segera berakhir.


Setelah lenguhan panjang, Bram menjatuhkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lengannya agar tidak menindih tubuh Gendis. Di daratkan ciuman di kening istrinya yang kini terulai lemas sebelum dia berbaring di sebelah Gendis. Keduanya, terdiam sejenak dengan peluh yang masih membasahi tubuh mereka.


"Terima kasih, Sayang." bisik Bram dengan memeluk tubuh mungil yang masih terkulai lemah. Dia merasa bahagia, meskipun akhir-akhir ini mereka terlibat pertengkaran, tapi dia masih bisa meminta haknya sebagai suami. Itu artinya Gendis masih miliknya seutuhnya.


Gendis hanya terdiam menikmati rasa lelahnya. Dia sudah tidak peduli, jika suaminya melakukan percintaan kali ini tanpa cinta dan sekedar pelampiasan hasrat.


###


Seruni kini berada di rumah Aleta. Sudah beberapa hari Bram, tidak bisa dihubungi membuat gadis itu mencari sahabatnya untuk menemaninya hang out.


"Kita mampir ke butik ya! Minggu depan Bang Zain akan bertunangan." ucap Aleta saat meneliti kembali tampilannya di depan cermin.


"Loh, bertunangan dengan siapa? Padahal sekarang sudah tidak ada kabar dia jalan sama siapa." tanya Seruni menatap Aleta dengan rasa penasaran.


"Sama karyawan restonya." jawab Aleta dengan menoleh ke arah Seruni yang masih duduk di atas tempat tidurnya.


"Oh Tuhan, ada apa sih dengan cowok-cowok itu. Kenapa mereka lebih menyukai gadis-gadis rendahan model begitu." celetuk Seruni terkesan tidak terima.


"Tapi calon tunangan Bang Zayn cantik dan kelihatannya baik. Dia juga berjilbab sepertinya religius. Semoga bisa membuat Bang Zayn insaf." jawab Aleta membuat Seruni melengos dia seperti tidak yakin dengan perkataan Aleta saat memuji calon tunangan sepupunya.


"Sekarang jilbab tidak menjamin. Lagian, mungkin dia lagi ngambil hatinya Mas Zayn makanya dibuat sebaik mungkin agar bisa mengambil hati targetnya." jelas Seruni. Dia memang selalu berfikir gadis dari kalangan menengah ke bawah mencari target lelaki berkelas agar bisa menaikan status sosialnya.


"Sudahlah, aku juga nggak tahu. Penting kita jalan dan have fun sekarang saja." ajak Aleta membuat Seruni beranjak dan mengikuti ajakan Arleta.

__ADS_1


Meskipun tanpa nampak rasa penasaran Seruni, tapi gadis yang kini memasuki mobil sedan mewah bersama sahabatnya itu ingin sekali tahu wanita seperti apa yang bisa membuat Zayn seserius itu menjalin sebuah hubungan.


__ADS_2