
"Ndis, dari tadi cemberut terus! Nggak enak tau dilihatnya." protes Bram saat mereka selesai menata ruangan di rumah baru. Padahal memang sejak melihat Bram dan Seruni, Gendis sudah merasa kesal.
Keduanya di bantu oleh beberapa pegawai dari tempat mereka membeli perabot untuk meletakkan barang-barangnya.
"Capek, Mas!" ujar Gendis seraya menjatuhkan bobotnya di sofa barunya.
"Hmmm..." sambut Bram yang sudah tahu kenapa istrinya cemberut. Lelaki mata tajam itu menatap lesu istrinya yang tengah menyandarkan punggungnya.
"Bukan karena Mas bertemu Seruni?" tanya Bram kemudian.
"Mas dan Seruni sudah dewasa, sudah seharusnya kita menyelesaikan masalah kita dengan cara yang baik." jelas Bram. Kemudian mengambil tangan kecil dan menautkan jari-jarinya.
"Aku tahu!" jawab Gendis. Masih dengan mengerucutkan bibir, tapi kepalanya di sandarkan pada bahu kekar milik suaminya.
"Tahu atau mengerti?" tanya Bram kemudian merangkul bahu kecil sisinya dan satu sisi tangannya menyalakan televisi yang dengan ukuran 40inch. Rumah mereka memang sudah siap huni.
"Tahu..." jawab Gendis.
"Jangan cemberut gitu dong!" ujar Bram sambil menoel dagu Gendis.
"Mas Bram, apaan si." protes Gendis saat diperlakukan seperti anak kecil.
"Mas, aku haus." ujar Gendis saat Bram mencium puncak kepalanya.
"Sebentar, sepertinya di mobil masih ada air mineral." jawab Bram kemudian beranjak dari duduknya. Sungguh, Gendis merasa jantungnya akan meledak diperlakukan semanis itu oleh Bram.
Gendis beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan menghampiri balkon. Dia memang butuh satu sofa lagi untuk diletakkan di sana.
"Sayang..." kehadiran Bram mengagetkan Gendis. Lelaki itu sudah melingkarkan satu lengan di bahu istrinya.
"Ini airnya." ujar Bram dengan mengulurkan satu lengan menyerahkan botol mineral yang tinggal separo.
"Mas, aku susah minum jika seperti ini." protes Gendis, tangan besar Bram seperti menghalangi geraknya.
Bram pun tersenyum kala melepaskan tubuh mungil di depannya. Tapi, mata tajamnya seolah masih mengikat Gendis untuk bergerak lebih. Entah kenapa saat bersama Gendis, dirinya ingin selalu menempel terus.
"Ndis ingat, nggak?" tanya Bram kala istrinya menutup kembali botol yang baru saja di tegak isinya.
__ADS_1
"Apa, Mas?" tanya Gendis dengan membalas tatapan Bram.
"Disini, kamu merasakan pertama kalinya ciuman, kan?" tanya Bram dengan begitu yakin.
"Siapa bilang pertama kali, itu yang kesekian." jawab Gendis berusaha mengelak dia tidak senang saja jika Bram tahu dia tidak pernah pacaran.
"Hahaha... kamu itu! Kamu nggak bisa bohong sama Mas." ujar Bram dengan mencubit gemas kedua pipi Gendis. Tangannya kemudian menuntun Gendis untuk melingkar di punggungnya, meskipun cekapan lengan itu tidak sampai.
Gendis yang terdiam karena menenangkan jantungnya itu hanya menatap wajah tampan di depannya. Wajah yang kini semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Cup..."
Sebuah ciuman lembut kini mendarat di bibir ranum yang sudah melambai-lambai memanggil Bram untuk menciumnya. Ciuman lembut lelaki yang sudah terbawa suasana itu berubah menjadi ciuman penuh hasrat, hingga Gendis sulit untuk mengimbanginya.
"Mas..." lirih Gendis kala mendapat kesempatan untuk bicara.
"Mas, aku..." kalimat Gendis terpotong kala Bram kembali mengulang kegiatan yang dilakukan dengan perasaan berdebar. Bahkan, jari- jari besar itu mulai beralih pada bagian-bagian sensitif seorang wanita.
"Mas Bram, jangan di sini." bisik Gendis kala dia menyadari jika mereka berada di atas balkon yang bisa dilihat tetangga sebelah.
"Kepala Mas jadi pusing, Ndis." keluh Bram dia kembali duduk di sofa.
"Mas Bram, sakit?" tanya Gendis dengan wajah penuh rasa cemas.
"Iya, sakit yang tidak biasa!" lanjut Bram kemudian memejamkan matanya sejenak. Dia mulai menetralkan hasratnya yang sempat bergejolak saat berdekatan dengan Gendis.
"Kita ke rumah sakit saja kalau begitu, takutnya ada indikasi penyakit yang serius." ucap Gendis sambil menunggui di samping Bram. Tapi lelaki yang masih memejamkan mata itu masih terdiam.
"Seperti yang Mas Bram bilang, sakit yang tidak biasa." lanjut Gendis. Wajahnya memang terlihat serius. Gadis yang memang tidak berpengalaman soal hubungan dewasa lelaki dan perempuan.
"Gendis, sakit tidak biasa itu hanya di rasakan lelaki yang sudah ingin bercinta." jelas Bram dengan vulgar. Sadar jika istrinya begitu naif, Bram pun menjelaskan tentang dunia lelaki.
"Mas Bram, vulgar banget si."
"Kamu tahu kan bercinta?" tanya Bram dengan sedikit kesal. Membahas itu lagi, dia semakin sulit untuk menurunkan hasratnya.
"Tentu aku tahu. Hubungan suami istri, kan?" sambut Gendis. Dia memang tahunya seperti itu.
__ADS_1
"Nah, itu tau..."
"Mas akan mandi dulu ya! Setelah itu kita pulang!" pamit Bram. Lelaki itu kemudian turun untuk masuk ke kamar mandi yang ada di lantai bawah.
"Ohhh terima kasih Om Hastanto sudah menjaga jodohku sampai sepolos itu." gerutu Bram. Dia yang biasa masif pun harus aktif jika bersama Gendis.
###
Seruni mengendarai mobil mewahnya menuju rumah megah Pak Alwy. Malam ini ayahnya ingin memperkenalkan seorang lelaki yang sangat berpengaruh dalam di kota ini.
Seruni yang sudah mengenakan gaun cantik itu turun dari mobilnya dengan gaya elegant. Gaunnya terlihat anggun dengan tubuh tinggi semampai.
"Selamat Malam, Pa." sapa Seruni dengan menghampiri papanya yang sudah duduk di meja makan bersama lelaki yang cukup berumur itu.
"Malam, sayang." jawab Pak Alwy.
"Kenalkan Pak Anton. Beliau salah satu politikus yang cukup berpengaruh di negara ini." lanjut Pak Alwy.
"Anton." Lelaki yang mengenakan jas dengan rambut klimis mengulurkan tangan. Anton terlihat sangat percaya diri.
"Seruni." sambut Seruni dengan senyum yang nampak di paksakan.
"Dia dosen Pak Anton." sela Pak Alwy.
"Wah saya sangat senang jika punya istri seorang istri dosen." jawab lelaki yang berumur sekitar empat puluh tahunan.
"Ayo, kita langsung saja menikmati makan malam seadanya." Pak Alwy mulai membuat Anton dan Seruni duduk berhadapan.
Anton, terlihat menyukai Seruni. Seruni memang sudah sangat dikenal dari kalangan menengah ke atas. Cantik, pintar dan anak seorang yang berpengaruh di kota ini. Itulah sosok seroang Seruni di mata umum.
Berbeda dengan Seruni, dia merasa lelaki yang akan dijodohkannya itu tidak menarik sama sekali. Tentu jauh dari sosok Bram, meskipun Bram tidak punya pengaruh besar seperti Anton. Tapi, baginya Bram sangat ideal untuknya.
Ada rasa kecewa yang saat ini Seruni tutupi. Dia masih menginginkan sosok Bram.
"Dek Seruni, sudah lama mengajar?" tanya Anton memecahkan kebisuan diantara mereka.
"Baru, awal tahun saya baru pulang dari Singapure mengambil S2 di sana." jawab Seruni dia rasanya ingin sekali pergi menjauh dari sosok di depannya.
__ADS_1