
"Ndis, kita akan makan di luar!" ucap Bram saat melihat Gendis keluar dari kamar dengan keadaan segar.
"Dengan wajah Mas Bram yang seperti itu? " tanya Gendis dengan menunjuk lebam di pipi sebelah bibir wajah ganteng suaminya. Meskipun lebam menghias, tetap saja Bram terlihat masih tampan.
"Biar begini Mas juga tetap ganteng." ujar Bram membalas tatapan tidak yakin Gendis.
Percekcokan yang baru saja terjadi, terkikis begitu saja. Iya, semua berdiri pada batasan yang mereka buat masing-masing.
"Berarti hari ini aku libur masak?" tanya Gendis dengan menampilkan senyum girang.
Memasak membuat beban sendiri bagi Gendis. Selama hampir sebulan menjadi istri Bram, belum pernah masakannya mendapat pujian, atau setidaknya satu kalimat ' Pas' dari Bram.
"Benaran, kan, Mas?" ulang Gendis merasa tidak yakin.
"Hmmmm.... " jawab Bram dengan deheman lelaki itu kemudian mengambil kunci mobil di atas rak penyekat.
"Asyikk.. asyikkk... dapet bonus cuti." sorak Gendis begitu girang.
"Tapi ganti celana pendekmu itu!" titah Bram menghentikan langkah Gendis. Bram menatap celana pendek berbahan jeans di atas lutut yang dikenakan istrinya.
"Dengan rok panjang?" tanya Gendis dengan lirikan tajam.
"Heemmm... " jawab Bram singkat.
"Kenapa nggak pakai gamis dan jilbab sekalian, Mas Braaammm....! " teriak Gendis dengan menghentakkan kakinya karena kesal.
"Kalau kamu mau, Mas, sangat senang." jawab Bram dengan datar. Lelaki yang sebenarnya tersenyum tipis itu menatap tajam Gendis yang mengerucutkan bibir.
"Apa kita tidak usah makan dan meneruskan perdebatan ini?" lanjut Bram.
"Ya. Ayo pergi! " ajak Gendis dengan menarik tangan Bram. Tapi, lelaki itu tidak juga bergeming.
"Mas bilang ganti rok panjang, Gendis." titah Bram penuh dengan penekanan. Tidak mudah membujuk Bram.
"Atau kita tidak akan pergi sama sekali dan kamu memasak untuk makan malam." lanjut Bram saat melihat gadis itu tidak bergeming sama sekali.
"Baiklah, tunggu sebentar! " pamit Gendis kemudian kembali masuk ke dalam kamar.
Sambil menunggu Gendis keluar dari kamar, lelaki itu mendudukkan kembali tubuhnya di sofa. Bram mengatupkan mata sejenak untuk mengusir sedikit rasa lelah yang kini dia rasakan.
__ADS_1
"Mas Bram, ayo kita berangkat! " ucap Gendis membuat Bram membuka mata.
Sejenak lelaki itu tertegun. Gendis terlihat cantik dan anggun dengan pita menghias kuncir rambutnya. Bahkan, Dress panjang dengan warna pastel terlihat elegan membalut tubuh mungilnya.
"Seharusnya, tidak perlu dandan segitunya juga, Ndis."
"Norak!" celetuk Bram. Padahal batinnya sebaliknya, dia memuji tampilan Gendis yang telihat cantik dan feminim.
"Bawel amat kayak ibu-ibu." balas Gendis dengan menarik tangan besar Bram untuk segera berangkat.
Bram pun terkekeh, dia pun menurut saat Gendis memaksanya berjalan menuju lift untuk turun. Bahkan dia sempat melirik gadis mungil itu masih bergelayut di tangan kirinya.
"Ting..." pintu lift terbuka seorang wanita paruh baya tersenyum pada mereka.
Gendis yang baru menyadari jika dirinya masih memeluk lengan Bram itu pun berlahan melepaskannya. Wajahnya terlihat memerah saat mendongak Bram yang kini menarik sudut bibirnya hingga terlihat lengkungan senyum tipis di wajah tampannya.
Lift terbuka, berganti Bram merangkul bahu kecil Gendis dan membawanya berjalan menghampiri mobilnya yang ada di parkir basemant apartemen.
Rasa nyaman keduanya membuat Bram terkadang seperti terombang ambil dalam perasaan yang penuh dilema. Iya, meskipun dengan banyak kelemahan Gendis, lelaki itu merasa nyaman dengan Gendis, hingga kadang perasaanya melewati batasan yang sudah dibangun sekokoh mungkin.
Di dalam mobil, mereka berdua hanya terdiam. Sesekali Bram melirik Gendis yang sering menundukkan wajah dengan malu. Ramainya Kota dan iringan musik dari audio mobil, tidak juga membuat keduanya menikmati suasana kota. Dua insan itu telah bermain dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing.
"Sudah lama aku tidak makan bakso, Mas." ujar Gendis tiba-tiba menginginkan makanan fovoritnya itu.
Sejak kepergian orang tuanya, kehidupan baru yang harus dia terima dan dia jalani dengan tertatih membuat Gendis lupa akan banyak hal tentang dirinya sendiri.
Bram tidak menjawab, dia lebih fokus membelokkan mobilnya pada sebuah warung bakso yang cukup ramai.
"Kita sudah sampai." ujar Bram saat berhenti di depan tempat yang bertulis Istana Bakso.
Mereka keluar dari mobil. Gendis terlihat bersemangat, sementara Bram masih terlihat datar diikuti tatapan beberapa orang yang melayangkan sorot mata aneh karena luka lebam di wajahnya.
"Mas Bram, pesan yang apa? " tanya Gendis saat dia duduk dan melihat buku menu yang tertulis berbagai varian bakso dan minuman kekinian.
"Yang biasa aja." ujar Bram yang bukan penyuka bakso. Bahkan, dia disana hanya untuk menemani Gendis. Lelaki itu merasa bersalah setelah dia pikir perkataannya cukup kasar pada Gendis yang bukan lagi anak kecil.
Bram melihat Gendis begitu bersemangat. Gadis yang dianggapnya labil itu terlihat menikmati bakso di depannya. Tapi, kuah yang terlalu merah dan kental pekat itu membuat Bram merasa ngilu membayangkan betapa pedasnya makanan yang masuk ke dalam mulut istrinya.
"Jangan biasakan makan terlalu pedas. Apalagi dengan saos yang berlebih seperti itu." ucap Bram sambil mengaduk -aduk makanannya.
__ADS_1
Gendis menghentikan gerakannya. dia melihat Bram yang juga menatapnya. Kemudian Gadis itu tersenyum, " Mantap, Mas. Mas Bram, mau coba?" jawab Gendis dengan mengulurkan sebutir bakso dalam sendoknya ke arah Bram.
"Nggak!" tolak Bram hingga membuat Gendis melihat mangkuk bakso milik Bram yang masih utuh.
"Kenapa tidak di makan? Jangan hanya menatapku, Mas." ujar Gendis membuat Bram salah tingkah. Kenyataannya dia hanya menikmati wajah dan gerak gadis yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Nggak bakal kenyang, jika hanya melihatku." lanjut Gendis dengan tekikik dan kemudian melanjutkan kegiatannya.
Bram memang mengakui jika dirinya sudah terbiasa dengan gadis yang menyandang status istrinya. Bahkan, tanpa dia sadari sebagian hidupnya sudah bergantung dengan Gendis.
Gendis. Berlahan, gadis itu mampu menciptakan rasa yang sulit dia artikan. Rasa sederhana yang tidak mudah untuk dia kendalikan.
###
Sebuah mobil sedan mewah yang dikendarai Seruni melewati gerbang otomatis yang menjulang tinggi.
Setelah datang ke apartemen Bram tapi ternyata dia kecewa karena Bram tidak ada di apartemen, bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Gadis yang kini mengenakan atasan crop dengan kulot panjang itu memutuskan datang ke rumah papanya.
"Ada apa anak Papa pulang? " tanya seorang lelaki berkaca mata tebal itu saat melihat putrinya meletakkan paper bag di meja.
"Aku tadi ke tempat Mas Bram, tapi ternyata, Mas Bram tidak ada di apartemen. Bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi." ucap Seruni saat mendudukkan tubuhnya di sofa panjang kemudian disusul Pak Alwy dengan meletakkan bobotnya di sebelah dirinya.
"Sudah cukup lama kamu menunggu Bram. Sampai kapan lelaki itu memperjelas hubungan kalian? " tanya Pak Alwy yang merasa Bram tidak fokus dengan putrinya. Beliau tidak ingin Seruni dipermainkan begitu saja karena dia bisa melihat betapa cinta putri semata wayangnya itu pada Bram.
" Mas Bram, orangnya memang tidak bisa di paksa. Tapi, Seruni yakin Mas Bram, sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk kelanjutan hubungan kita."
"Kita sudah sama-sama dewasa, Pa. kita punya cara sendiri dalam membina hubungan ini. " jelas Seruni begitu yakin pada Bram.
"Ya sudah, kalian sudah sama-sama dewasa jadi kamu buat saja Bram menghamili kamu." sambut
Pak alwy membuat Seruni tersentak kaget.
"Papa... "keluh Seruni mendengar jalan keluar dari papanya yang tidak benar itu.
"Papa serius, Run."
"Kalian sudah dewasa, Kamu juga tidak kurang apapun, apalagi jika kamu hamil anak Bram, dia pasti akan segera bertanggung jawab." ujar Pak Alwy membuat Seruni tertegun memikirkannya.
Seruni yakin, papanya tidak akan bicara sembarangan. Selama ini, lelaki yang sudah mahir dikancah dunia politik akan menghalalkan segala cara untuk sesuatu yang menjadi tujuannya.
__ADS_1