Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Belajar Private


__ADS_3

"Tidak mudah mendapatkan posisiku saat ini!" gumam Pak Alwy mengingat semua usahanya untuk mendapat semua kekuasaan, kekayaan dan status sosial seperti saat ini. Dia tidak ingin lagi melakukan sesuatu yang beresiko.


Lelaki itu bermonolog dengan pikirannya sendiri karena banyak hal yang harus dia pertimbangkan setiap langkah besar yang akan dia lakukan. Beliau tidak ingin kehilangan nama baik, kekuasan dan materi yang sudah ada dalam genggaman.


"Selamat pagi, Pa!" sapa Seruni saat menghampiri papanya yang sudah berpenampilan rapi dan kopi di depannya.


"Hari ini kamu tidak mengajar?" tanya Pak Alwy.


"Masuk siang, Pa. Tapi malas jika harus ketemu Pak Bagas, teman satu ruangan dengan Runi."


"Kenapa?" tanya Pak Alwy begitu penasaran.


"Dia sedang mendekati Seruni. Kemarin juga sudah menyatakan cinta pada Seruni. Tapi, Runi tidak menyukai lelaki yang terlalu lembek, Pa." Mendengar cerita putrinya Pak Alwy hanya tersenyum.


"Papa tahu banyak yang menginginkan kamu. Tapi, kenapa harus Bram, Runi?" ujar Pak Alwy dengan menatap penasaran putrinya.


"Runi hanya cinta Mas Bram." jawaban Seruni membuat Pak Alwy tersenyum cemeh. Dia begitu mengenal putrinya.


"Papa ada rapat, jika tak ingin naik mobil sendiri kamu bisa minta tolong sopir." ujar Pak Alwy kemudian beranjak meninggalkan putrinya yang baru akan memulai sarapan.


"Iya, Pa." ujar Seruni.


Terbiasa mendapat apa yang dia dapatkan, membuat gadis itu begitu ambisius dan tak ingin di kalahkan.


###


"Aku kok ngantuk ya, Mas." ujar Gendis saat Bram menyodorkan soal latihan matematika yang kedua.


Gendis menyandarkan tubuhnya di kursi yang biasa Bram gunakan untuk belajar dan bekerja. Sedangkan, Bram berdiri di samping istrinya sambil menggelengkan kepala. Dia tahu Gendis malas menghitung.


"Itu masih soal yang mudah lo, Ndis." ujar Bram masih menunggu Gendis untuk kembali memperhatikan soalnya. Gendis hanya mencebikkan bibir ketika mendapatkan tatapan tegas Bram.


Belajar yang seperti inilah yang Bram tidak sukai. Dia tidak bisa tegas dengan Gendis dan Gendis pun seperti tidak serius.


"Ya sudah, besok ikut bimbel saja!" Bram menghela nafas lemah. Dia sudah tidak sabar jika anak didiknya seperti Gendis.

__ADS_1


"Ya... ya... aku serius ini!" Gendis memeluk pinggang Bram dan menyandarkan sejenak kepalanya di perut keras Bram.


Dia mengakui cara yang diajarkan Bram-lah yang paling enak dia fahami. Sepertinya, Bram memang yang mengikuti pola pikir Gendis, bukan Gendis yang memahami apa yang dijelaskan Bram.


Gendis mulai mengerjakan kembali soal yang hanya berjumlah lima nomer. Dengan membungkukkan badannya, Bram mulai mengikuti cara mengerjakan Gendis. Sesekali lelaki itu melirik wajah manis yang terlihat serius itu.


"Aku akan masuk Psikologi saja, deh. Biar nggak ada Matematika." ujar Gendis saat dia hampir selesai mengerjakan.


"Sama saja. Hampir semua program studi itu ada statistiknya!" jawab Bram, dia semakin mendekatkan posisinya hingga jarak keduanya begitu tipis.


"Kok, Mas Bram, bisa pintar sekali bikin rumus sendiri?" tanya Gendis masih mengerjakan soal terakhir dengan rumus yang sudah dipermudah oleh Bram.


"Mas juga pinter bikin tubuhmu meliuk-liuk indah." bisik Bram membuat Gendis menghela nafas.


"Mas Bram...!"


"Katanya suruh serius!" kesal Gendis dengan meletakkan pensilnya di atas meja secara kasar. Matanya melirik tajam ke arah Bram yang tersenyum penuh arti.


"Iya, sayang. Kan, hampir selesai belajarnya. Tinggal belajar bikin adik, ya!" lanjut Bram, sambil melirik jam yang menggantung di dinding.


"Mas Bram!" Keluh Gendis yang merasa Bram begitu mesum, karena akhir-akhir ini hanya itu yang ada di otak Bram.


"Dari kemarin kamu belum mencoba baju yang Mas beli, lo." Bram membujuk sekali lagi.


"Ayolah, Sayang!" bujuk Bram sekali lagi.


Mendengar rayuan Bram, Gendis malah kembali sibuk menyelesaikan soalnya, hingga Bram langsung mengangkat tubuh mungil itu.


"Aauuuggghhh!" pekik Gendis saat Bram mengangkat dan membawa tubuhnya ke kamar mereka.


"Kerjaanku belum di koreksi, Mas." ucap Gendis dengan menatap Bram.


"Tadi sudah langsung Mas koreksi." jawab Bram sambil menatap mata indah itu.


Setelah masuk kamar, Bram meminta Gendis untuk mencoba lingeri yang kemarin dia beli meski melalui perdebatan alot terjadi karena Gendis beralasan malu.

__ADS_1


"Aku malu, Mas!" teriak Gendis dari dalam kamar mandi. Melihat pantulan dirinya yang hampir tel*nj*ng di depan cermin saja dia malu, apalagi jika Bram melihatnya.


"Keluar saja, Sayang! Mas sudah melihat semuanya sampai ke intimu!" jawab Bram sambil menulis pesan jawaban untuk Deska.


Pintu kamar mandi terbuka, tapi Bram malah sibuk dengan ponselnya. Deska meminta Bram untuk menjemput dirinya besok karena mobilnya sedang berada di bengkel.


Gendis berjalan pelan mendekati lelaki bertubuh tinggi tegap yang kini terkesan tak peduli padanya. Sambil menyilangkan kedua tangannya di depan, Gendis berdiri di samping Bram, tapi Bram yang masih menyimak balasan dari Deska terkesan tak peduli, membuat Gendis merasa kesal.


"Ya sudah!" rungut Gendis kala dia akan berbalik.


Tapi Bram keburu mencekal lengannya dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Mau kemana?" tanya Bram kemudian menatap tubuh mungil itu penuh dengan kekaguman. Meskipun kecil mungil tapi cukup padat berisi apalagi kulit putih Gendis yang putih seperti susu, Bram tak bisa beralih dari itu meski sekejap.


"So beautiful." lirih Bram dengan tatapan memuja. Hasratnya pun di buat meledak seketika hingga lelaki tampan itu tak membuang banyak waktu.


Pergumulan panas mereka terjadi. Janjinya yang hanya dua jam pada akhirnya harus mundur berjam- jam hingga akhirnya Gendis dibuat hanya bisa meringkuk dalam pelukan tubuh atletis suaminya.


Suara ponsel yang terus berdering membuat Bram mau tidak mau bergerak. Tangan besar itu melepaskan pelukannya pada perut rata Gendis dan mengambil ponselnya. Dia pun beringsut menarik tubuhnya dari bawah selimut hingga menyandar pada kepala ranjang.


"Ada apa, Desk?" tanya Bram masih dengan malas.


"Sialll.... Pantesan tidak membalas pesanku. Ternyata habis ***-***." umpat Deska saat melihat tubuh Shirtless Bram.


"Wajar sudah menikah." jawab Bram enteng dengan menyindir Deska yang masih enggan memilih pasangan. Bram melirik Gendis yang menarik selimut hingga menutup seluruh kepalanya.


"Nyesel aku nelpon malam- malam begini." sambut Deska dari seberang. Lelaki itu terdengar masih di luar karena suara ramai yang mengikuti suaranya.


"Hahahaha, makanya cepetan ijab qobul." sambut Bram.


"Besok kamu bisa, kan, mampir ke rumah. Soalnya sebelum ke kampus kita mampir bertemu Pak Ryanto untuk membahas proyek yang kemarin." jelas Deska.


"Iya, besok aku jemput," jawab Bram.


Akhirnya Deska langsung memutuskan hubungan ponselnya. Dia tidak ingin terlalu lama mengajak ngobrol Bram karena saat ini dia mengingat Bram bukan lajang lagi.

__ADS_1


__ADS_2