
Suara gerimis masih terdengar dengan lembut mengiringi hembusan angin yang menyeruak masuk dari pintu dan jendela yang terbuka. Di lantai satu rumah yang mempunyai banyak jendela itu, suasana terasa sunyi.
Dua orang yang menghuni rumah minimalis dengan pepohon yang tumbuh rindang di setiap halamannya itu masih bermain dngan pikiran masing- masing.
Gendis masih menikmati semangkuk mie instans yang masih mengepulkan asapnya di teras belakang. Naungan pohon melinjo yang menjulang tinggi membuat suasana sore yang penuh dengan gerimis itu terlihat lebih petang dan lembab.
Sejak takdir membanting hidupnya mati-matian, Gendis memilih sebisa mungkin menikmati keadaan.
Sepasang langkah kaki yang kini menuruni tangga, berjalan mendekati wanita yang merindukan masa dulu. Masa dimana dia tidak memikirkan perasaan dan banyak hal yang berkaitan dengan orang lain. Hidupnya hanya tentang dirinya saja.
“Sayang...” panggil Bram saat menghampiri istrinya yang sedang menyeruput panjangnya mie yang menjuntai dari mulut hingga mangkuknya. Aroma wangi makanan itu bahkan sampai terhidu oleh Bram.
Bram memang baru keluar dari ruang kerjanya. Proyek yang sedang dia kerjakan bersama Deska, menuntutnya untuk selesai secepat mungkin.
Gendis menoleh ke arah sosok bertubuh tinggi dengan wajah tampan yang membuat banyak wanita tidak bosan menatapnya. Tapi, tidak dengan gendis, wanita itu terkadang tidak ingin melihat wajah lelaki yang terkadang membuat hatinya terasa sesak. Itulah cinta, keberadaanya memang membuat sensitif si pemilik rasa.
“ Aku sudah membuatkan semangkuk mie untuk Mas Bram.” ujar Gendis tanpa ingin tahu maksud sebenarnya Bram mendekati dirinya.
Bram tak menjawab kalimat Gendis. Dia memilih duduk di sebelah istrinya dengan pikiran yang sedang mengolah beberapa kata untuk menjelaskan penyebab sikap istrinya yang menghindar darinya. Bram menyadari sejak Seruni menelpon sikap Gendis berubah.
“Aku dan Seruni tidak ada hubungan seperti dulu!” jelas Bram. Tapi, tak ada tanggapan dari Gendis.
Wanita berhidung mungil itu kini hanya mengaduk sabagian mie dan beberapa butir bakso yang tersisa di mangkoknya.
“ Dia sekarang dosen baru di kampus Mas...”
Kalimat Bram menggantung, kala wanita di sebelahnya langsung menoleh, seolah terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Gendis memang baru mengetahui itu.
“Kami mengajar di fakultas yang berbeda.”
__ADS_1
“Meskipun berbeda fakutas, tapi tetap saja itu akan membuat kalian sering bertemu.” sela Gendis membuat Bram tak bisa menjawab.
Keduanya kembali membisu. Entah kenapa setiap membahas Seruni perasaan Gendis menjadi sensitive.
Wanita berwajah manis itu hilang rasa percaya dirinya setiap kali bersinggungan dengan cinta pertama suaminya. Seperti yang dikatakan Seruni kala mereka bertemu, jika dirinya adalah cinta pertama Bram.
“Seharusnya, aku punya cinta pertama.” Suara Gendis membuyarkan kesunyian diantara mereka.
Kini, Bram hanya menatap lekat istrinya dengan sorot mata sendu. Dia tahu, jika apa yang diucapkan istrinya hanya sebagai ungkapan rasa kesalnya saja.
“Sayang, Mas, harap kamu mengerti jika ini tentang pekerjaan dan masa depan kita.” Bram memeluk Gendis yang masih memangku mangkok mienya. Dia pun merengkuh kepala istrinya hingga bersandar di dada bidangnya.
“Aku nggak suka dengan perawan tua itu!” jujur Gendis dengan lirih.
Perasaan marah dan mengerti akan posisi Bram membuat dirinya dilema. Iya, masa depan keluarganya memang bergantung pada pekerjaan Bram, tapi di sisi lain dia merasa Seruni itu wanita yang jahat.
“ Ssssttt... jangan mengatakan itu! Seruni tidak seburuk itu, sayang!”
“Aku harap kamu percaya pada Mas.” lanjut Bram dengan mengusap bahu kecil istrinya.
Dia berusaha menenangkan keadaan dengan cara yang lembut. Istrinya itu memanglah wanita yang manja dan mudah meledak-ledak meskipun ketika sangat marah dia memilih diam dengan sikap dinginnya.
Gendis terdiam, sebenarnya dia ingin mengatakan seperti apa Seruni kala bertemu dengannya. Permpuan culas yang dikemas dengan begitu elegant. Tapi, dia yakin jika dia mengatakan itu, suaminya pasti tidak akan percaya.
“Mas, minta ya!” Bram menarik mangkuk mie sisa yang ada di tangan Glendis. Disuapnya ke dalam mulut untuk pertama kalinya, tapi wajah Bram langsung
berganti merah.
“ Hah..hah...minum, Ndis!” ucap Bram sambil terengah engah menahan panas di mulutnya. Lelaki yang tidak suka pedas itu hampir tidak tahan dengan rasa panas yang membakar mulutnya.
__ADS_1
“ Aku sudah buatin untuk Mas Bram di meja!” ucap Gendis dengan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk oleh Bram.
“ Mas pikir sama rasanya.”
“ Kamu juga tidak kepedasan!” lanjut Bram masih dengan mengipas mulutnya.
“ Aku lagi pingin makan pedas dan asam , yang seger-seger gitu! Apalagi hawanya mendukung.” jawab Gendis kemudian mengambilkan semangkuk mie yang sudah disiapkan untuk Bram.
Sambil menikmati mie yang sudah hampir dingin, Bram menceramahi istrinya agar tidak makan terlalu pedas dan asam. Keduanya juga membahas bagaimana nanti mengurus rumah saat Gendis sudah kuliah.
Rasanya, tidak mungkin jika Gendis harus mengurus rumahnya sendiri, sementara Bram semakin diisibukkan dengan banyak pekerjaan.
###
Seruni berjalan menuju kantor rektorat, sementara Deska juga datang ke sana. Lelaki yang menjadi sahabat dekatnya Bram itu hampir tidak percaya jika Seruni menjadi salah satu dosen di kampus tempat dia mengajar.
“ Hae, Des! Lama tidak bertemu, apa kabarmu?” sapa Seruni kala keduanya berpapasan.
“ Aku baru tahu jika kamu mengajar di sini!” sambut Deska tanpa menjawab pertanyaan awal Seruni.
“ Iya, Papa yang merekomendasikan aku pada Pak Rektor.” jawab Seruni membuat Deska mengangguk.
Deska mengerti jika rektor kampus ini adalah teman Pak Alwy, selain itu latar belakang pendidikan Seruni juga sangat mumpuni untuk menjadi dosen di kampus ini.
“Aku kira karena kamu masih ingin mendekati Bram.” tembak Deska langsung pada intinya.
“ Nggaklah, Desk! Aku sama Mas Bram murni berteman. “ lanjut seruni dengan senyum ramahnya. Dia tahu jika Deska tidak suka jika dirinya dekat dengan Bram.
“ Oh, syukurlah. Itu artinya tidak akan ada skandal di kampus ini!” lanjut Deska. Lelaki itu kemudian berpamitan dan kembali ke niat awal untuk menemui bagian tata usaha.
__ADS_1
Seruni menatap Deska yang semakin menjauh dari pandangannya. Semua yang dikatakan pada lelaki berkulit sawo matang itu tidaklah benar, dia masih sama, masih menginginkan Bram hingga detik ini.
“ Aku sudah banyak berkorban untuk Bram, aku juga tidak bisa berhenti mencintai Mas Bram. Jadi salahkah aku jika masih menginginkan lelaki yang sudah mengisi sebagian besar dari cerita hidupku?” gumam Seruni. Setiap kali memikirkan Bram, hatinya merasa patah, tapi dia juga tak mampu untuk berhenti mencintai lelaki yang sudah mengambil sebagian rasa di hatinya.