Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Seruni


__ADS_3

Bram keluar dari ruangananya yang ada di lantai dua, di sebuah gedung dengan empat lantai itu.  Rencananya,dia sudah sampai rumah sore ini seperti yang dia katakan pad Gendis. Tapi sahabatnya, Deska malah menah dirinya untuk hanya membicarakan tentang Seruni yang kemarin bertemu Desak disalah satu pusat perbelanjaan.  Apapun tentang seruni memang mampu menyita perhatihan Bram.


“Kring... kring... “ Baru saja dibicarakan dan dipikirkan, gadis berwajah tirus itu sudah menelpon.


“Assalamualaikum, Runi.” ujar Bram berusaha menenangkan perasannya kala gadis yang sudah lama menjadi cintanya itu menghubungi. Akhir-akhir ini, komunikasi mereka pun kurang baik karena Bram juga bukan tipe lelaki pemburu wanita meskipun hatinya sudah tertaut pada gadis itu. kesibukan keduanya sempat memberi jarak pada hubungan mereka.


“Waalaikum salam, Mas Bram. Apa kabar?” tanya suara lembut itu hanya untuk berbasa basi.


“Baik, kamu sendiri bagaiamana? Tumben menelpon, Mas.” sahut Bram dengan menuruni tangga, sore ini dia akan langsung pulang ke rumah meskipun sudah terlambat dari janjinya pada Gendis ketika sampai rumah.


“Runi ada di parkiran bawah, Mas.” jawab seruni membuat Bram terhenyak kaget. 


“ Kampusnya Mas Bram.” lanjut Seruni untuk meyakinkan  Bram.


Mendengar kalimat terakhir Seruni, Bram langsung menutup ponselnya dan berjalan cepat untuk menemui Seruni. Lelaki yang begitu menarik dimata setiap wanita itu tidak peduli dengan banyak pasang mata yang menatapnya penuh kagum. Bramasta Dewangga seperti world of universe.


Seruni. Hanya  gadis itu yang membuat dunianya seoalah sudah tumpah ruah hingga dia tidak bisa lepas dari gadis yang selalu tampil feminim itu. Gadis yang smart dan penuh dengan rasa percaya diri, itulah sisi menariknya Seruni di mata Bram.


“Mas Bram...” Panggilan suara lembut itu membuat Bram menoleh seketika.


Saat berada di area parkir, Bram memang sudah memelankan langkah kakinya dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis yang sudah beberapa bulan ini tidak dia jumpai. 

__ADS_1


“Seruni...” Bram pun mendekat ke arah gadis yang tengah tersenyum simpul padanya. 


Dengan jantung yang berdebar dan sorot mata yang penuh dengan kerinduan membuat  Bram menatap lekat sosok yang sudah mengisi hatinya sejak lama. Sosok yang sudah memberinya semangat untuk terus meraih masa depan yang jauh lebih baik. Gadis itulah yang mengiringi perjuangan Bram dalam mencapai cita-citanya. 


“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Seruni dengan senyum yang tidak lepas dari wajah cantiknya, meski memang tak semanis wajah Gendia. 


“ Tentu saja.” jawab Bram dengan mengangguk pelan. 


Dengan secuil rasa ragu yang menyelinap di hatinya, Bram memilih menunda untuk pulang. Dia merasa pertemuannya dengan Seruni kali ini terasa berbeda. Jika biasanya tidak ada yang mengganjal dalam pikirannya, tapi kali ini berbeda. 


 Gendis. Gadis itulah yang menciptakan rasa ragu, meski dengan mudah di pupuskannya kembali keraguan itu.


“Aku sekarang tinggal di apartemen ,Mas.” Kalimat Seruni membuat Bram menoleh dengan tatapan penuh selidik. 


“Biar dekat dengan tempat kerja dan Mas Bram.” ujar Seruni, dari dulu dia memang tidak ingin lepas  dari Bram. Bahkan, gadis itu selalu setia berada di samping Bram, kala Bram merasa butuh seseorang untuk mensupportnya.


Bagi Seruni, sejak dulu Bram memang sosok yang tampan, pintar, tidak neko-neko dan lembut. Rasanya tidak ada lelaki yang bisa menandingi pesonanya seorang Bramasta Dewangga. Bahkan, saat ini Bram terlihat lebih menarik sebagai seorang pria yang cukup matang dan mapan. 


“Apa?” sela Bram. Lelaki yang kini masih mengendalikan kemudi itu pun terhenyak kaget. 


“Nanti ceritanya kalau sudah sampai di kafe.” jawab Seruni dengan senyum yang masih mengembang. Rasa bahagia yang membuncah membuat Seruni tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Bram.

__ADS_1


Tanpa menjawab lagi, Bram terus mempercepat laju kendaraannya yang kini membelah jalanan yang cukup ramai. Rasa penasaran membuatnya tidak sabar  mendengar cerita dari Seruni. Mobil Pajero itu berhenti tepat di sebuah kafe yang di desain cukup kekinian. 


Keduanya berjalan memasuki kafe. Pasangan yang cukup serasi saat orang melihat keduanya. Meskipun, keduanya menjalin hubungan tanpa sebuah komitmen tapi rasa nyaman yang sama pada keduanya memberi ikatan tersediri. Bahkan, kedekatan keduanya membuat Bram dan Seruni merencanakan banyak hal untuk masa depan mereka, sebelum pertemuan formal Bram  dengan Hastanto yang tak disangka-sangka dan begitu cepat.


“Ada apa Run, sepertinya hari ini kamu sangat bahagia?” tanya Bram mengawali pembicaraan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan di meja yang ada di dekat jendela. Lantunan musik romantis terdengar mengiringi pertemuan mereka.


“Mas, aku resmi diterima kerja. Minggu depan aku akan mengajar. Iya aku resmi jadi dosen, Mas.” ujar seruni sambil terus tersneyum. Binar bahagia tidak bisa disembunyikan lagi dari wajahnya. Bukan masalah pekerjaan yang membuat bahagia Seruni karena seruni sendiri terlahir dengan latar belakang anak orang berada. Tapi, menjadi dosen memang cita-cita Seruni sejak dulu.


“ Wah, selamat ya, Run. Akhirnya impianmu terkabul. Kamu mengajar di mana?” sambut Bram dengan rasa yang tak kalah bahagia. Dia bisa merasakan betapa bahagianya Seruni saat ini. 


“Kampus swasta yang ada di jalan  Widyatama.” ucap Seruni dengan sedikit kecewa karena kampusnya masih kalah dengan kampus tempat Bram mengajar. 


“Bagus dong. Itu salah satu kampus yang bonafit. Mas, ikut senang, Run.” jawab Bram masih memberi semangat. Kampus Seruni memang salah satu kampus swasta yang cukup bagus dengan uang kuliah yang cukup mahal.


“ Terima kasih , Mas.” ujar Seruni dengan menggenggam tangan berotot itu.  Rasanya, Seruni ingin sekali memeluk lelaki di depannya untuk mengungkapkan rasa bahagia dan juga rindunya,jika saja ini bukan tempat umum.


Berbeda dengan Bram, ada rasa bersalah yang diam- diam mengusiknya. Bayangan Gendis menunggu di rumah membuat Bram sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tidak bisa dipungkiri oleh  Bram rasa bahagialah yang kini dia rasakan saat bertemu Seruni. Tapi, satu sisi ada rasa bersalah pada Gendis. Biar bagaimana pun dia sadar Gendis adalah istrinya meskipun pernikahan mereka baginya seperti, entahlah.


Pertemuannya Bram dengan Seruni tidaklah lama, lelaki itu langsung mengantar Seruni untuk balik ke apartemen meskipun hanya sebatas di pinggir jalan. Bram juga sempat mengatakan jika hari ini dia mengmbil cuti dalam satu minggu ke depan untuk pulang ke rumah ibunya. Seruni yang merasa, ibunya Bram kurang respect kepadanya pun tidak banyak bertanya. 


“Hati-hati, Mas. “ ujar Seruni saat dia akan turun dari mobil. Gadis itupun tersenyum dengan melambaikan tangan saat mobil milik Bram mulai berjalan pelan dan menjauh. Hanya melihat bram saja hatinya sudah bahagia, terkadang dia juga tidak sabar untuk bisa hidup bersama bram seperti impiannya itu. 

__ADS_1


__ADS_2