
“ Kenapa harus dikeluarkan di dalam? Bukankah aku bilang aku tidak ingin hamil dulu!” protes Gendis dengan memunggungi lelaki yang kini memeluknya dari belakang.
Saat pelepasan terjadi , Gendis berusaha keras mendorong tubuh Bram menjauh agar lelaki yang sengaja memaksa memeluknya erat bisa menghujamkan cairnya ke dalam sarangnya. Bram memang sengaja memaksa Gendis untuk melakukannya agar dia bisa membuat hamil istrinya secepat mungkin.
“ Mas ingin kita punya anak.” jawab Bram sambil menciumi punggung putih yang kini masih lembab dengan keringat karena pertempuran barusan.
“ Aku baru akan masuk kuliah. Jadi aku akan sangat repot jika punya anak.” ucap Gendis beralasan.
Padahal hatinya masih gamang dengan Bram. Bahkan, dia sudah memikirkan akab membawa hubungan yang rapuh ini.
Keadaan kembali hening. Bram tahu, bukan itu alasan Gendis yang sebenarnya. Tapi, dia juga tidak bisa memaksa Gendis untuk menjawab seperti apa yang menjadi maunya. Percintaan mereka sore ini tidak seperti biasa karena dalam hati Gendis masih ada yang mengganjal.
“ Tumben kamu tidur sore?” tanya Bram.
“ Nggak bagus tidur setelah Ashar” suara Bram memecahkan kebisuaan diantara keduanya.
“Aku nggak enak badan, rasanya lemas dan mengantuk.” lirih Gendis.
“ Ndis...” Bram membalik tubuh mungil bagai candu itu untuk menghadap ke arahnya. Kini jari-jari kokoh itu menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah manis istrinya .
“ Maafkan, Mas! Mas, tahu kamu marah, tapi bukan maksudnya Mas berbuat kasar padamu!” ujar Bram sambil menatap manik mata indah milik istrinya.
Belum sempat gendis menjawab kalimat Bram, sayup-sayup terdengar suara adzan dari kejauhan. Gendis menyingkirkan tangan besar yang sejak tadi memluknya. Tapi saat akan beranjak bangun, dia merasa perut bagian bawahnya terasa kaku. Diurungkan niatnya untuk bangun,hingga Bram menatapnya penuh selidik.
“ Kenapa? “ tanya Bram terlihat cema kala melihat Gendis meringis dan mendesis.
“ Perutku, kram. Mungkin karena aku minum es tadi siang.” jawab Gendis dengan mengusap lembut perut bawahnya. Dia merasa mungkin karena dia kebanyakan minum es menjelang tanggal dia biasa menstruasi.
“ Istirahat saja sebentar! Aku buatin teh hangat. “ ujar Bram kemudian bangkit dan mengenakan kembali bajunya dengan asal asalan. Lelaki yang sedikit mencemaskan keadaan istrinya segera melangkah keluar kamar.
“ Mas, aku ingin coklat hangat.” pinta Gendis . Dia memang menginginkan sesuatu yang di rasa lembut di mulut. Bram pun mengangguk faham.
Setelah merasa lebih enakan, Gendis berusaha bangun. Disandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan menatap suasana di luar yang terlihat petang. Jika melihat Bram yang terlihat penyayang dan lembut sikapnya ,dia kembali dilema antara bertahan dan berpisah.
__ADS_1
Pergi atau bertahan bukanlah sesuatu yang mudah diputuskan bagi Gendis, setelah pergi mungkin,tidak akan ada alasan untuk dia kembali. Dia akan kehilangan cinta dan keluarga yang sudah dimiliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
Tapi, bertahan juga bukan hal yang mudah dan menyenangkan, apalagi kala Bram masih mempriorotaskan gadis yang pernah mengisi masa lalunya dan sikap kasar Bram yang terkadang membuat Gendis benci dengan lelaki itu.
“Ndis...” panggil Bram setelah melangkah masuk ke dalam kamar membawa segelas coklat hangat untuk Gendis.
“ Terima kasih.” ucap Gendis dengan menerima gelas berisi sus coklat dan satu tangannya agar tidak melorot.
Bram menatap seksama Gendis. Matanya pun memergoki tanpa merah hasil percintaannya di tulang selangka istrinya. Tubuh mungil itu memang tidak bisa membuatnya berhenti ketika sudah memulai.
“Sekarang bagaimana rasanya perutmu?” tanya Bram. Dia juga merasa bersalah, mungkin Gendis seperti itu karena dirinya terlalu bersemangat menghujamkan miliknya ke dalam milik istrinya.
“ Sudah lebih enakan.” jawab Gendis dengan meletakkan gelas coklat hangat yang tinggal separo itu di atas nakas.
“ Ayo ,Mas, gendong saja ke kamar mandi.” ucap Bram. Tanpa menunggu jawaban Gendis, Bram langsung menggendong istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“ Setelah Salat Magrib kamu istirahat! Makan malamnya kita grab food saja.” Lanjut Bram ketika membawa tubuh istrinya ke dalam kamar mandi. Gendis pun hanya mengiyakan saja. Dia memang lagi tidak berselera dengan masakannya sendiri.
Setelah keduanya Salat Magrib berjamaah, Gendis memilih duduk di sofa yang ada di dekat jendela kamar. Bisa terlihat suasana malam yang terbilang sepi di lingkungan mereka tinggal. Meskipun begitu di sepanjang jalan ada beberapa penjual makanan yang cukup menjamur termasuk angkringan yang dipenuhi oleh anak-anak kos.
“Akhir- akhir ini kamu terlihat murung.” lanjut Bram dengan mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya. Angin yang berhembus masuk menyapu wajah Gendis yang menghadap ke jendela.
“ Aku hanya merasa cepat lelah dan malas bicara.” ucap Gendis padahal otaknya sedang berfikir tentang banyak hal yang akan dia lakukan setelah berpisah dari seorang Bramasta Dewangga.
Kali ini Gendis hanya mengikuti tuntutan lengan Bram agar dirinya mau bersandar di dada bidangnya. Keduanya menikmati suasan petang bersama dengan pemikiran yang berbeda.
“ Kruk...kruk..kruk...” Tak lama kemudian suara perut Gendis membuatnya keduanya saling beradu pandangan.
“ Kita cari makan sekarang atau pesan makanan saja?” tanya Bram.
“ Ingin minta makanan di rumahnya Mama Alya. ” jawaban Gendis membuat Bram mengernyitkan kedua alisnya. Dia merasa Gendis semakin mengada- ada. Lagi pula sungkan jika harus meminta makan pada tetangga meskipun mereka sangat baik.
“ Nggak enak, Ndis, minta makan ke rumah orang!” ucap Bram.
__ADS_1
" Ayo kita nyari makan di luar!" Ajak Bram.
Gendis pun menurut, meskipun dia tidak menginginkan yang lain tapi alasan suaminya memang benar. Keduanya akhirnya memutuskan untuk mencari makan di luar.
Mereka memutuskan menjcari makan dengan naik motor saja. Vespa warna hijau itu menelusuri jalanan yang masih ramai. Banyak anak muda yang berlalu lalang di jalan hanys untuk mencari makan atau sekedar nongkrong.
"Aku ingin empek-empek." pinta Gendis saat mulai masuk sebuah jalan yang menjual empek-empek legend.
"Kamu belum makan nasi. Kita nyari nasi saja! " jawab Bram. memutuskan ke mana keduanya akan makan malam.
"Sate ayam mau, Ndis? " tanya Bram saat didepannya ada penjual sate ayam langganannya sejak dulu saat masih kuliah.
"Terserah Mas Bram saja." jawab Gendis sekenanya. Dia kesal karena awalnya dia hanya ingin empek-empek.
Bram menstandarkan motornya tidak jauh dari gerobak penjual sate. Mereka harus antri karena memang pembeli selalu ramai di sini.
"Makan sini atau bungkus? " tanya Bram pada Grndise.
"Bungkus saja! " jawab Gendis malas sekali jika harus makan lesehan dengan tempat yang sesak dan terburu-buru.
Bram memesan makanan, meninggaljan Gendis di dekat motor. Seorang gadis turun dari mobil dengan masih mengenakan pakaian kerja itu pun mendekat ke arah penjual.
"Mas Bram." Seruni saat melihat Bram akan berbalik menghampiri Gendis.
"Baru pulang? " tanya Bram.
" Baru dari salon, tadi pulang ngajar langsung saja ke salon barenga Areta." jawab Seruni.
" Bungkus satu, nggak usah pakai lontong." pesan Seruni saat melihat asisten penjual Sate melintas.
"Aku kira cuma aku saja yang masih senang makan sate di sini? Ternyata Mas Bram juga." lanjut Seuni membuat Bram tersenyum.
" Kebetulan saja Gendis lagi nggak enak badan. Jadi kita beli sate buat makan malam. " jawab Bram malah keterusan mengobrol dengan Seruni.
__ADS_1
Dari tempatnya Gendis terus menatap dua orang yang tengah asyik mengobrol. Merasa tidak dipedulikan oleh Bram, dia memutuskan meninggalkan tempat itu tanpa memberi tahu Bram yang sempat dia lihat sesekali tertawa.