
Deska tertawa terbahak-bahak saat melihat sahabatnya memegang kepalanya yang terasa pusing setelah menceritakan masalahnya dengan Seruni dan Gendis.
"Lo, tau dosanya orang yang sudah menikah berselingkuh hingga berzina?"
"Itu dosanya berlipat ganda Bram." lanjut Deska. Sejjak Bram membagi perasaannya antara Gendis dan Seruni, lelaki berkulit sawo matang itu memang tidak menyukai apa yang dilakukan Bram. Tapi, dia tidak mau mencampuri terlalu jauh urusan Bram.
"Jika sampai berzina orang itu akan mendapatkan dosa Zina dan dosa menyakiti hati pasangannya." lanjut Deska. Meskipun, tak se-alim para ulama tapi sedikit banyak Deska mengetahui garis besar tentang hukum agama.
"Tapi, aku nggak sampai melakukannya, Desk." elak Bram.
"Tapi kamu hampir melakukannya, kan? Kamu juga merasakan pesonanya,kan? Tubuh sensualnya...."
"Sudah, Desk! Aku nggak mau mengingatnya." bantah Bram dengan memotong kalimat sahabatnya itu. Dia benar-benar tidak ingin mengingat kejadian itu.
Deska pun terdiam dia menatap tajam lelaki di depannya. Baru kali ini Bram terlihat sekacau ini.
"Berusahalah mendapat maaf dari Gendis meskipun aku yakin itu tidak mudah. Bersabar, jika mengakui salah harus bersabar menerima konsekuensi semuanya." Deska kini berbicara pada Bram dengan penuh keseriusan.
"Jika kamu didiemin, diomelin semua itu memang resiko. Bahkan, jika sampai Gendis tidak ingin bersamamu itulah konsekuensinya. Gendis berhak bahagia dengan versi dirinya sendiri." lanjut Deska. Kali ini Deska juga seperti menyalahkannya.
"Apapun alasannya. Kamu dan Seruni salah! Hidup itu ada aturan mainnya."
Bram tidak menjawab lagi kalimat Deska, lelaki itu kemudian hanya menghela nafas berat dan kemudian memijat pangkal hidungnya. Hal yang tidak ingin terjadi, Gendis benar-benar nekat untuk berpisah.
###
Gendis menikmati Ice Cream dengan duduk di kursi berbahan besi yang ada di pinggir jalan. Jalan yang ada di depannya tidaklah ramai, tapi dia berharap bisa mengusir rasa gelisahnya saat ini.
Satu kotak ice cream hampir dia habiskan sendiri. Tapi, belum juga mampu membuat hatinya mendingin karena masalahnya dengan Bram. Justru, setiap suap yang masuk ke dalam mulutnya justru membuatnya merindukan papanya.
"Papa Gendis lelah!" gumamnya dalam hati. Dengan masih memangku kotak ice cream di atas pangkuannya, pandangannya menerawang jauh ke depan.
Bayangan papa dan mamanya terus membayang. Hidupnya sangat sempurna dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Boleh aku temani?" suara itu membuyarkan lamunan Gendis. Gadis itu kemudian menoleh ke arah sosok bertubuh tinggi yang kini berdiri di sampingnya.
"Silahkan Mas Zayn." ucap Gendis sambil mengangguk. Gendis merasa sungkan setiap kali melihat Zayn.
"Terima kasih untuk belanjaan kemarin, Mas. Maaf belum bisa memasak makan siang buat Mas Zayn, sebagai ucapan terima kasih." lanjut Gendis.
"Tidak masalah, aku bisa menagihnya nanti." jawab Zayn sambil tersenyum. Tatapannya tak beralih dari Gendis hingga gadis itu menjadi salah tingkah.
Gendis terdiam. Sebenarnya, dia ingin sendiri. Moodnya hari ini memang tidak bagus. Dan banyak hal yang sedang mengganggu pikirannya.
Zayn masih menatap penuh selidik gadis di sebelahnya. Bukan tanpa sebab, Gendis yang biasa energik itu pun terlihat murung.
"Mas Zayn, kok ada di sini?" tanya Gendis memecahkan kebisuan diantara mereka.
"Aku habis bertemu dengan kolegaku di resto 'Kayangan'." jawab Zayn. Lelaki itu memang tidak berbohong. Sedari tadi dia juga sudah mengamati Gendis dari resto yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Gendis duduk.
"Ada lowongan kerja nggak, Mas, untuk lulusan SMA?" Mendengar kolega dan urusan bisnis Zayn membuat Gendis berfikir bagaimana jika dia meminta pekerjaan pada Zayn.
"Untuk siapa?" Akhirnya lelaki yang kini melipat lengan kemejanya hingga ke siku itu bertanya.
"Untukku, Mas. Aku butuh pekerjaan." Pernyataan Gendis kembali berhasil menghentikan gerakan gerakan Zayn.
Lelaki yang kini sudah dibuat penasaran itu pun kembali menatap Gendis semakin tajam. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Ada apa, Ndis?" pertanyaan penuh rasa penasaran terlontar dari lelaki yang sangat siap membantu gadis yang masih menundukkan pandangannya itu.
"Aku butuh pekerjaan, Mas."
"Aku tahu, tapi apa yang sebenarnya terjadi?" cecaran pertanyaan Zayn malah membuat Gendis terdiam.
Zayn sangat mengenal Bram. Meskipun dirinya dengan Bram bagai tikus dan kucing, tapi dia tahu jika Bram tidak akan membiarkan istrinya bekerja.
"Jika Mas Zayn tidak bisa membantu tidak apa-apa." lanjut Gendis. Dia tahu untuk, lulusan SMA dan skill yang terbatas memang tidak mudah mencari pekerjaan di jaman sekarang.
__ADS_1
Zayn terkekeh mendengar kalimat Gendis. Dalam hatinya bekerja, jika Gendis mau, Zayn dengan senang hati akan memenuhi kebutuhannya.
"Mana ponselmu?" tanya Zayn dengan mengulurkan tangannya.
Gendis pun menoleh, kemudian disambut anggukan Zayn, "Aku akan menyimpan nomermu, nanti aku hubungi kapan kamu bisa bekerja." ucap Zayn membuat Gendis mengulurkan ponselnya.
"Aku akan menempatkanmu jadi asistenku." ujar Zayn sambil memasukkan nomernya di ponsel Gendis dan melakukan panggilan ke nomernya sendiri.
"Tapi, aku nggak punya skill dan pendidikanku hanya SMU, Mas." sergah Gendis yang merasa dia tidak akan bisa melakukannya.
"Maksudnya kamu akan menjadi asisten sekretarisku dan sekretarisku yang akan mengajarimu. Tidak sulit." lanjut Zayn kemudian dia berdiri. Jika saja tidak ada rapat penting, dia pasti akan memilih untuk duduk bersama Gendis sampai gadis itu bosan. Tapi, rapat kali ini membuat lelaki itu harus pergi.
"Aku harus pergi. Kamu akan tetap di sini atau aku akan mengantarmu pulang?" tanya Zayn.
"Aku di sini saja, Mas. Nanti aku bisa pulang naik taxi." jawab Gendis.
"Baiklah, hati-hati! Jika butuh bantuan hubungi aku saja." Gendis hanya mengangguk.
Zayn pun berjalan menuju mobilnya, sesekali dia berandai. Jika saja bukan istri orang, jika saja dia lebih dulu bertemu Gendis. Gadis yang semakin terlihat spesial di mata Zayn, hingga membuat lelaki yang kini masuk ke dalam mobilnya itu pun semakin jatuh hati.
###
"Aku kecewa. Sampai saat ini Mas Bram belum menghubungiku." ucap Seruni dengan mengaduk jus yang ada di depannya.
"Kenapa tidak kamu saja yang menghubunginya?" tanya Areta. Saat ini Seruni sedang bersama Areta. Setelah jam mengajar selesai, Seruni meminta sahabatnya itu untuk menemaninya.
"Kenapa harus, Bram, Run. Bram memang baik. Tapi, dari awal aku ragu akan perasaan Bram. Meskipun dia memang tidak pernah selingkuh atau menjalin hubungan dengan wanita lain di belakangmu." jelas Areta. Dia banyak tahu soal Bram karena Zayn. Sepupunya itu memang banyak tahu dan bercerita soal Bram karena mereka musuh bebuyutan.
"Aku telanjur cinta dengan Mas Bram. Dia lelaki yang setia dan penyayang." lanjut Seruni. Dia merasa sangat kecewa dengan Bram.
"Aku penasaran seperti apa istrinya, Bram. Atau jangan-jangan Bram sudah jatuh cinta sama istrinya?" lanjut Areta membuat Seruni semakin kesal. Selama ini, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, dia juga selalu membuat iri orang lain. Cantik, berkelas dan pintar.
Tapi sosok Bram kali ini membuat dirinya merasa terpuruk.
__ADS_1