
"Kalian menginap saja di sini! Tante sudah menyiapkan kamar untuk kalian." ujar Tante Halisa kala mereka mengobrol di pendopo belakang.
Hanya Halisa, Om Rendra, Bram dan Gendis kini mereka sedang duduk bersama. Sedangkan, Ambar terlihat bersama tiga temannya yang akan menginap, mereka nampak tengah asyik di tempat yang berbeda.
"Tapi, kami tidak ada persiapan menginap, Tan." jawab Gendis, dia berusaha menolak secara halus.
"Aku sudah membawakan baju untukmu, Ndis." sela Bram membuat Gendis menoleh pada lelaki di sebelahnya.
"Tuuuh, Bram sudah persiapan, Ndis. Lagian, besok juga hari minggu, sekali-kali menginap di rumah Om Rendra." desak Halisa membuat Bram tersenyum.
"Iya, Ndis. Lagian, kasian Bram jika balik ke kota. Nanti, kalian sampai apartemen sekitar jam 11an." timpal Om Rendra membuat Gendis hanya tersenyum kaku. Jika sudah begini, gadis yang hanya tertunduk itu tidak bisa mengelak lagi.
Sejenak mereka menghentikan obrolannya. Kedua lelaki yang ada di sana sedang menyesap cangkir dan menikmati kopi hitam yang masih hangat.
Om Rendra mengulurkan rokok pada Bram, hingga membuat Gendis melirik lelaki di sebelahnya. Setahu Gendis, Bram tidak merokok tapi karena rasa sungkan, membuat lelaki itu menerima tawaran Om Rendra.
"Setelah menikah, Gendis sekarang banyak berubah ya, Mah." ucap Rendra pada Halisa tapi tatapannya melirik Gendis yang kini tersipu.
"Iya bener, sekarang lebih dewasa, lebih kalem dan pinter masak." puji Halisa sambil tersenyum pada Gendis yang masih malu-malu.
"Kamu berhasil jadi Imam yang baik, Bram. Bisa membimbing Gendis jadi lebih baik." sambut Rendra membuat Bram tersenyum lebar, sedang lirikan matanya tertuju pada Gendis yang sudah melenyapkan senyumnya.
"Gendis memang istri solehah, Om." jawab Bram dengan mengambil tangan mungil istrinya dan menggenggamnya. Senyum terus melekat pada wajah tampannya, dia juga masih menahan tangan Gendis dalam genggamannya meskipun istrinya berusaha meronta.
Saat asyik-asyiknya mereka mengobrol, tawa Ambar bersama teman-temannya membuat Gendis menoleh. Sebenarnya, dia iri dengan mereka. Seharusnya, dia juga akan melalui masa mudanya seperti mereka. Bukan, terjebak dalam pernikahan yang rumit.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian istirahat dulu! Kasian Bram, dia pasti lelah setelah seharian mengajar dan harus menyetir sampai di sini." ujar Halisa sambil melihat jam yang menggantung di salah satu pilar pendopo.
Halisa berjalan mengantarkan Gendis dan Bram menuju sebuah kamar yang terletak diantara ruang keluarga. Ruangan yang tertata dengan nuansa klasik khas jawa dan beberapa foto-foto sesepuh yang terpampang rapi.
Wanita itu menunjukkan sebuah kamar di mana banyak menyimpan barang-barang Hastanto saat kecil.
"Anggap saja rumah sendiri ya. Ingat, Ndis! Rumah ini dulu juga rumah almarhum papamu." ujar Halisa mengingatkan Gendis agar dia tidak usaha sungkan saat berada di rumah peninggalan leluhur mereka.
Halisa mengatakan semuanya karena dia melihat Gendis cukup berbeda dengan Gendis yang pernah dia kenal. Jika dulu, Gendis selalu melakukan apa saja yang dianggapnya tidak salah, tapi Gendis yang sekarang lebih cenderung untuk menjaga sikap.
"Terima kasih, Tan." ujar Gendis sambil tersenyum hangat pada Halisa.
Halisa pun meninggalkan Gendis dan Bram. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar itu. Memang benar, kamar ini beda dari sebelumnya. Nuansa papanya saat kecil begitu kental menghias di setiap detail ruangan.
"Papa..." gumam Gendis dalam hati. Entah kenapa ini justru membuatnya mengingat kembali papanya.
Setelah puas melihat foto kenangan papanya, Gendis masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu berniat untuk membersihkan diri dan berniat untuk tidur. Seharian, dia membantu Halisa memasak, membuat tubuhnya terasa lelah.
Beberapa menit dilaluinya, wajah cantik tanpa polesan itu terlihat sangat segar setelah keluar dari kamar mandi.
Gendis menghentikan langkahnya, saat mendengar dengkuran halus dari tempat tidur. Bram sudah memejamkan mata dengan kedua tangannya sebagai tumpuan.
Gendis menatapnya sejenak. Meskipun terlihat lelah, tapi wajah yang memberi kesan manly itu memang sangat tampan. Wajar jika selama ini Bram punya tingkat rasa percaya diri yang tinggi, wajah tampan, pintar, mapan dan satu yang memang tidak setiap orang punya, kharismatik yang kuat membuatnya selalu menjadi magnet yang menarik perhatian setiap orang disekitarnya.
"Tapi sayang, dia jahat." gumam Gendis, berusaha mengelakkan segala kekaguman dengan rasa kecewa dan marah atas apa yang sudah dilakukan oleh Bram padanya.
__ADS_1
Tangannya mengelus pipi dimana Bram sudah menamparnya, itu sangat menyakitkan. Belum lagi rasa patah hatinya membuat Gendis mengurungkan niatnya membangunkan Bram yang tertidur dengan mengenakan kemeja yang sudah dipakainya seharian.
Gendis meletakkan baju kotornya pada sebuah tas yang sudah dia siapkan. Kemudian, dia memilih duduk di depan cermin, menyisir rambut panjang serta mengoleskan moisturizer agar kulitnya tidak kering.
Sejenak dia menatap wajahnya di cermin. Ternyata banyak hal yang harus dia persiapkan jika memilih berpisah dari Bram, termasuk menghadapi Ibu Mertua yang begitu menyayanginya. Berat, hal itu yang membuat Gendis begitu berat.
Pergolakan batin gadis itu membuat dirinya tidak menyadari jika sejak tadi Bram memperhatikannya. Lelaki itu bangun setelah Gendis keluar dari kamar mandi dan memperhatikan dirinya yang masih memejamkan mata.
"Kenapa tidak membangunkan, Mas? Sampai kapan kamu akan seperti ini terus, Ndis." ujar Bram membuat Gendis yang beranjak dari duduknya pun terkaget. Gadis itu salah tingkah ketika Bram menatapnya begitu tajam dan dalam.
"Apa yang Mas Bram inginkan dariku?" tantang Gendis. Dia juga sudah lelah dengan semuanya.
Pertanyaan Gendis membuat Bram sulit untuk menjawabnya. Lelaki itu kemudian terdiam sejenak, tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok mungil nan rupawan.
"Apa yang harus, Mas, lakukan agar kamu memaafkan, Mas?" tanya Bram, wajah garang yang biasa terlihat, kini nampak memelas hingga Gendis memilih memalingkan pandangannya.
Gendis terdiam, ganti dirinya yang bingung mencari jawaban atas pertanyaan Bram. Jika ini di teruskan buntutnya pasti akan terjadi perdebatan lagi dan posisi mereka masih di tempat orang lain.
"Jangan membahas masalah itu sekarang. Ini rumah orang, Mas. Yang harus Mas pikirkan, dimana, Mas, akan tidur." Gendis meletakkan bobotnya di tepi ranjang disisi berbeda dari yang saat ini Bram tempati.
"Tidak ada kursi panjang, tidak ada karpet dan tidak ada sofa." lanjut Gendis dengan menarik selimut bermaksud untuk segera tidur.
Bram melihat sejenak setiap sudut dari kamar yang dia tempati. Tidak ada satupun yang disebutkan Gendis.
"Tempat tidur ini cukup besar untuk kita berdua." Kalimat Bram membuat Gendis mendelik ke arahnya. Dia tidak ingin tidur bersama Bram.
__ADS_1
"Tidak akan berdosa jika kita satu ranjang, Ndis. Bahkan, kita akan dapat pahala." jelas Bram, yang tidak mungkin dia tidur di lantai karena dia merasa tubuhnya sudah sangat lelah.
Gendis tersenyum kecut mendengar alasan kamuflase dari Bram, "bagaimana bisa orang yang sudah mengkhianati pernikahannya bicara tentang dosa dan pahala?" gerutu Gendis dengan kesal. Dia ingin segera tidur dan tidak ingin memperpanjang perdebatan ini.