
Gendis berjalan pelan menghampiri ibu mertuanya yang sedang berada di dapur. Gadis yang kini hanya mengenakan kaos dengan celana pendek selutut itu merasa canggung meski saat ini dia berada di rumahnya sendiri.
“Eh, sudah bangun kamu, Nduk.” Sapa Bu Harun saat beliau menoleh dan mendapati Gendis sudah berdiri dan tersenyum di sebelahnya. Sekilas wanita patuh baya itu memperhatikan rambut basah menantunya.
Rumah almarhum Hastanto itu sudah nampak lenggang setelah seminggu lebih kepergiaan Hastanto dan istrinya.
Rendra dan keluarganya pun sudah pulang terlebih dahulu setelah pernikahan Gendis dan Bram secara agama.
“Sudah, Buk.” jawab Gendis masih bersikap canggung dengan mertuanya. Dia tahu mertuanya sangat tulus menyayanginya tapi dia takut salah bersikap karena kebiasaan yang membuat mamanya mengomel.
“Hari ini, kita akan pulang ke rumah Ibu. Bram sudah meminta orang untuk mengurus surat-surat nikah ke KUA." jelas Bu Haru Harun, beliau sangat senang karena pada akhirnya dia mempunyai anak perempuan seperti yang dia inginkan.
Berbeda dengan mertua lainnya yang menginginkan menantu yang penurut, beliau menyukai Gendis yang apa adanya dan periang.
“Apa Gendis akan tinggal bersama Ibu selamanya, katanya jika menantu tinggal bersama mertua tidak akan bahagia, Bu?” Pertanyaan Gendis membuat Bu Harun terkesiap dan menoleh. Padahal gadis itu tidak tahu apa rencana selanjutnya.
“Kamu itu kalau bertanya disaring dulu, Ndis. Jangan apa yang ada dipikiranmu diutarakan semua.” ucap Bram dengan jari jari mencengkeram ujung kepala istrinya dan memutar kepala Gendis untuk menghadap ke arahnya.
Lelaki itu hanya menggelengkan kepala sambil berdecih. Dia hanya tidak percaya Gendis akan melontarkan kalimat serupa. Sementara itu, Bu Harun hanya tersenyum dan kembali melanjutkan memasak untuk sarapan.
“Sakit, Mas Bram.” ucap gendis dengan memukul tangan kekar yang menolehkan kepalanya itu.
“Buatkan Mas kopi, Ndis.” pinta Bram yang memang sudah membawa laptopnya ke meja makan. Lelaki itu berusaha membuat semuanya seperti biasa, layaknya seorang pasangan meski hatinya masih belum bisa menerima semua ini dengan sepenuh hati.
“Jangan katakan kamu nggak bisa, ya!” lanjut Bram kemudian berlalu mencari segelas air putih dan menegaknya hingga tuntas.
Gendis terdiam dan termenung, seumur hidupnya dia belum pernah membuat kopi. Bahkan saat dia menginginkan teh atau susu, mamanya yang selalu menyiapkan untuknya. Dia merasa selama ini hidupnya terlalu nyaman hingga dia tidak berfikir untuk belajar banyak hal, meskipul hal sepele sepertu itu.
“ Nduk, ini kasihkan ke suamimu katakan kamu yang bikin sendiri.” ucap Bu Harun yang sudah menyerahkan cangkir berisi kopi panas yang masih mengepulkan asap pada Gendis yang masih terlihat mematung.
“ Tapi, Bu...” Gendis tidak menyangka dengan apa yang dilakukan mertuanya.
__ADS_1
Kenyataan yang dia hadapi berbeda dengan keluhan banyak wanita pada sebuah aplikasi yang sering dia lihat. Pertanyaan yang sempat terlontar pada mertuanya membuat dirinya merasa sungkan sendiri.
“Udah nggak apa-apa. Pelan –pelan, kamu bisa belajar nanti.” lirih Bu Harun hingga terkesan berbisik. Wanita berumur itu sudah faham bagaimana pasangan Hastanto dan Rahayu memanjakan putrinya.
Gendis melangkah mendekati meja makan, dimana Bram terlihat sangat anthusias dengan laptopnya. Lelaki yang berprofesi sebagai dosen di salah satu fakultas teknik mesin itu sedang mengamati sebuah pembuatan gambar rangkaian mesin.
“Mas, ini kopinya.” ucap Gendis dengan meletakkan cangkir kopi itu di pinggir meja.
Bram menoleh. Menatap sejenak wajah Gendis yang terlihat meragukan baginya. Gendis memang sudah dikatakan dewasa, tapi kedua orang tuanya yang terlalu memanjakan dirinya membuat lelaki yang mengambil cangkir kopinya itu sedikit ragu.
“Benar, ini kamu yang buat?” tanya Bram setelah menyesap isi cangkir berwarna putih itu dan meletakkannya kembli di atas meja.
Gendis hanya terdiam, dia tak berani menjawab. Gadis itu memang tidak terbiasa berbohong karena didikan keluarganya yang selalu menekankan selalu untuk bersikap jujur dan bisa dipercaya. Hanya cara itu Hastanto bisa mengendalikan putrinya yang susah diatur.
“ Ayo sekarang kita sarapan! Bukankah kamu nanti langsung ke kampus?” panggilan Bu Harun menyelamatkan Gendis dari pertnyaan Bram yang sudah tahu jawabannya.
Lelaki itu hanya melirik tajam Gendis sebelum mematikan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Sebelum Rendra pulang terlebih dahulu bersama keluarganya, beliau sempat menyerahkan sebuah buku tabungan atas nama Gendis Ayunda dalam sebuah brankas yang ada di dalam kamar kakaknya. Menurut Rendra mungkin itu tabungan yang sudah Hastanto siapkan untuk putrinya hingga jenjang pendidikan S1.
“Jika Bram sibuk, kamu bisa minta untuk diantar ke rumah Ibu, Nduk.” ujar Bu Harun saat memikirkan Gendis yang akan ikut Bram setelah mereka melangsungkan resepsi di rumah Bu Harun. Di kota yang baru bagi Gendis beliau mengerti jika memantunya itu belum punya teman apalagi Bram tinggal diapartemen yang mana orang-orangnya sangat cuek.
“Iya, Buk.” sahut Gendis singkat.
“Jangan khawatirkan Gendis, Buk. Rumah Om Rendra juga dekat dengan apatemen Bram. Jadi Gendis bisa main sendiri ke sana.” Sahut Bram. Dia pasti akan repot jika bolak balik dari pusat kota dengan kampung dimana ibunya meskipun masih dalam satu kota.
“Sekarang, kamu sudah tidak sendiri, Bram. Kamu punya tanggung jawab jadi kamu harus peduli dengan keluarga jika ingin rumah tanggamu harmonis.” pesan Bu Harun sebelum mereka mengakhiri sarapan.
Sementara itu, Gendis dan Bram hanya saling melempar pandangan. Keduanya memang merasa belum bisa menerima pernikahan ini dengan sepenuhnya meskipun hubungan keduanya tidaklah buruk.
Setelah sarapan, ketiganya pun mulai bersiap. Tidak banyak yang di bwa gendis tapi ada satu hal yang tidak ingin ditinggalkan Gendis yaitu album foto lamanya bersama kedua orang tuanya. Hanya benda itu yang saat ini dia punya untuk mengobati rasa rindu pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Gendis sudah siap dengan mengenakan rok sepan berbahan jins di atas lutut yang dipadu dengan kaos biasa, rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan poni dijepit di satu sisi.
Cantik. Meskipun tampilan Gendis terlihat simple hingga membuat seseorang tidak bisa mengalihkan tatapannya. Sedari tadi bram memperhatikan Gendis yang masih meneliti barang-barangnya.
“Nggak ada celana panjang atau memang nggak punya celana panjang?” akhirnya lelaki itu membuka suaranya. Sedari tadi dia tidak nyaman melihat kaki jenjang berkulit putih itu terlihat begitu vulgar.
“Kenapa?” tanya Gendis kemudian menoleh ke arah lelaki yang sudah siap untuk berangkat.
“Nggak pantas saja dilihat.” jawab Bram kemudian mengambil satu koper yang akan dibawanya keluar kamar.
“Tapi keren kok, Mas” bantah Gendis membuat Bram menghentikan langkahnya ketika mendengar bantahan Gendis.
“Kamu mau laki laki melihat pahamu!” ujar Bram yang kemudian meninggalkan Gendis yang hanya mengerucutkan bibir.
Bagi Gendis, Bram terlalu banyak mengatur karena menurut gendis apa yang dikenakannya masih sopan dan dalam batas wajar.
“Pasti karena dia sudah tua makanya seleranya yang kayak emak- emak.” gerutunya dengan perasaan yang masih kesal meskipun begiti dia pun akhirnya mengganti rok sepanya dengan rok lebar yang panjangnya hampir mata kaki.
Dengan wajah cemberut akhirnya Gendis terlihat berjalan menghampiri mobil yang sudah dinyalakan mesinnya oleh Bram. Bu Harun dan Bram sudah menunggu di sebelah mobil.
“ Aku terlihat pendek dengan rok panjang.” ucap Gendis dengan kesal. Gadis itupun akan membuka pintu mobil bagian belakang. Bram hanya tersenyum samar melihat kelakuan gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Meskipun banyak protes tapi tetap saja Gendis mau menurutinya.
“Kamu duduk di depan saja, Nduk.” Ucap bu Harun saat meliat Gendis hendak membuka pintu belakang.
“Nggak mau, Buk. Gendis duduk sama Ibu saja.”
“ Ya sudah kita berangkat sekarang.” Bram langsung meyela dan masuk ke belakang kemudi tanpa membujuk Gendis yang masih kesal.
Bu harun pun, ikut masuk. Beliau sangat mengenal Bram, putranya itu terkadang memang tegas bahkan Bram sulit untuk berbas-basi jika itu sudah menjadi keputusannya.
Mobil meluncur meinggalkan rumah penuh dengan kenangan untuk Gendis. Rumah yang banyak memberinya cinta. Gadis itu terus saja menatap rumah yang menjadi saksi dia tumbuh dewasa itu hingga bangun itu menghilang karena jarak yang cukup menjauh.
__ADS_1
Ada rasa kehilangan yang menelisisk hatinya bersamaan kepergiannya ini. Dia akan membuka lembaran baru dengan keluar baru. Ah rasanya semua ini tidak pernah terbayang atau terpikir olehnya jika kepergianny dari rumahnya itu dengan cara seperti ini.