
Hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Sementara itu, sepasang suami istri masih bergelung di bawah selimut menikmati hari libur.
Setelah Salat Subuh, Gendis dan Bram memutuskan untuk kembali tidur karena rasa kantuk yang enggan pergi. Pertarungan panas semalam, membuat mereka bergadang hingga hampir pagi.
"Mas Bram, Bangun! Sudah pukul enam." ujar Gendis sambil berusaha menyingkirkan lengan besar yang melingkar di perutnya.
Sinar mentari mulai menembus tirai jendela, membuat Gendis merasa ini sudah terlalu terang untuk masih berada di bawah selimut.
"Masih ngantuk, Sayang." bisik Bram dengan wajah yang masih menempel bahu putih istrinya.
"Kita nikmati saja hari liburnya." Dengan masih memejamkan mata, Bram malah mempererat pelukannya di tubuh mungil Gendis.
Gendis pun hanya bisa pasrah jika tangan dan kaki besar suaminya mengunci tubuhnya hingga sulit untuk bergerak.
Gendis hanya bisa meraih ponselnya, menscrol beberapa pesan masuk untuk dibacanya satu persatu.
"Ting..tong...Ting ..tong..." suara bel dari pintu gerbang terdengar.
"Mas, ada tamu!" ucap Gendis membuat Bram mau tidak mau melepaskan tubuh istrinya.
Gendis pun beranjak dari tempat tidurnya dengan mencepol rambutnya. Dia juga langsung mengganti lingerie yang dia kenakan dengan piyama.
Bram masih merubah posisi menjadi telentang dan memperhatikan istrinya yang berjalan keluar kamar.
Rasa penasaran membuat Bram ikut beranjak keluar dari kamar. Ingin melihat siapa yang datang pagi-pagi sekali.
"Mbak Gendis, ini dari Mama!" ucap Aliya, gadis berumur lima tahun, anak dari tetangga depan rumahnya yang sudah terbiasa datang bertamu.
"Apa, Al? Sini duduk dulu!" Gendis menerima plastik berwarna hitam yang dibawa Aliya dan mengajak bocah itu untuk duduk di meja makan.
Aliya hanya membuntut saja. Setiap kali ke rumah Gendis dia sangat senang, karena pasti akan dapat jajanan dan sekotak susu.
"Siapa, Sayang?" tanya Bram yang datang dengan sudah berganti kaos dan celana pendek.
"Aku ,Om." sela Alya menjawab pertanyaan Bram.
"Oh, kamu lagi ternyata!" jawab Bram.
"Iya, Om." jawab Aliya sambil meminum susu dan coklat yang baru saja diberikan Gendis.
"Ngapain dia, Sayang?" tanya Bram mendekat ke arah Gendis.
"Ngasih ini!" Gendis menunjukkan plastik hitam yang terlihat lembab dan aneh.
"Ularrrr..." teriak Gendis dengan lempar plastik itu menjauh saat melihat sekilas isi plastiknya .
__ADS_1
Bram tersentak kaget dan Aliya pun langsung berdiri saat melihat Gendis yang histeris ketakutan. Terlihat beberapa belut yang masih hidup tercecer kesana- kemari.
"Ndis itu belut, buka ular!" ucap Bram kemudian bergegas berusaha menangkap kembali belut-bulut yang sudah tercecer.
"Mbak Gendis bikin kaget!" ucap Aliya mendekati Bram yang sudah berhasil mengumpulkan delapan belut dengan sapu.
"Ambil ember, Ndis." titah Bram membuat Gendis bergegas mengambil ember.
"Wah, Om Bram keren!" Alya bertepuk tangan dengan hebohnya saat Bram berhasil memasukkan belut-bulut itu ke dalam ember.
"Eh bocil, semua gara-gara kamu. Sudah menganggu orang tidur. Malah bikin orang hampir jantungan." omel Bram dengan mencuci tangannya.
"Eh bukan aku, Om. Aku kan disuruh, Mama, berarti Mama yang salah, Om." ucap Aliya tidak terima.
"Eh, nggak apa-apa, Al. Bilang terima kasih sama Mama ya! " ucap Gendis sambil mengepel bekas kericuhan.
"Iya, Mbak Gendis."
"Om Bram memang galak." curhat Aliya membuat Gendis tersenyum.
Gendis tidak kaget jika keduanya terus bermusuhan. Karena sejak awal berkenalan dengan keluarga Alya Bram memang sudah tidak senang dengan bocah itu karena di panggil Om, Sementara Gendis di panggil 'Mbak'.
"Ya sudah kamu lanjut saja makan coklat dan biskuitnya." ucap Gendis meminta Alya untuk kembali duduk.
"Biar Mas yang akan memasaknya." jawab Bram, sebenarnya dia suka dengan sambal belut, makanan itu mengingatkan dia pada masa kecilnya.
Liburan yang ingin di isi dengan rasa malas malah justru dibuat heboh dengan kedatangan Alya.
Bram pun yang ingin mengajak Gendis membuat mie instan saja malah harus memasak belut untuk sarapan.
Lelaki yang diikuti terus gadis itu mengatur arang yang dibakar untuk memanggang belut. Sedangkan Gendis memasak nasi dan membuat sambal sesuai perintah Bram.
"Sambalnya jangan pedes, sayang!" teriak Bram tapi tidak di jawab oleh Gendis.
Wanita itu hanya menggerutu karena permintaan suaminya," mana ada sambal tidak pedes? Aneh!" tapi tangannya terus meracik sambal yang menurutnya tidaklah pedas.
Refreshing yang tidak pernah terencana. Iya, gara-gara Alya akhirnya mereka memutuskan untuk sarapan di belakang rumah.
Gendis menata nasi dan sambal di lantai teras belakang. Aliya yang awalnya sudah di suruh Bram pun ikut membawa toples kerupuk.
"Akhirnya selesai juga!" ucap Bram dengan membawa hasil belut bakarnya mengumpul dengan nasi dan sambal.
"Mbak Gendis, aku mau nyoba sambalnya dong?" ucap Aliya setelah Gendis memberikan sepiring nasi dengan belut bakarnya.
"Emang doyan pedes?" tanya Gendis dengan melirik.
__ADS_1
"Dikit. Tapi kata Om Bram nggak boleh pedas." jawab Alya.
"Sayang, aku dong! Jangan ngeladenin si bocil saja!" Bram tidak terima karena Gendis hanya fokus pada Aliya.
"Iya. Lagian Alya masih kecil, Mas." ucap Gendis sambil menyiapkan makanan untuk Bram.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama. Gendis menikmati belut bakar untuk pertama kalinya.
"Ternyata enak ya, Mas!" ucap gendis setelah menelan kunyahannya.
"Lebih enak lagi ngerasain belutnya, Mas!" celetuk Bram dengan sedikit berbisik.
"Uhuk- uhuk-...." Mendengar kalimat Bram seketika Gendis langsung tersedak. Wajah putihnya pun berubah menjadi merah.
"Sayang, pelan-pelan!" Bram menyodorkan segelas air pada istrinya.
"Emang, Om Bram punya belut?" pertanyaan Aliya membuat tenggorokan Bram terasa tercekat. Bagi Bram bocah itu terlalu banyak ingin tahu.
"Nanti habis sarapan kamu pulang saja ya!" pinta Bram mengalihkan pembicaraan.
"Mas Bram, sih. " lirih Gendis dengan melirik tajam Bram.
Sarapan mereka pun selesai. Bahkan, Alya juga sudah terlihat kekenyangan. Sementara suara ponsel milik Bram terus saja berbunyi dari tadi.
"Sayang, nanti kalau keluar lagi. Tolong ambilkan ponselnya, Mas." pinta Bram saat Gendis membereskan bekas sarapan mereka dan membawa masuk kembali bekas sarapan mereka.
Setelah mencuci tangannya, Gendis menghampiri ponsel yang tergeletak di meja makan.
Nama 'Seruni' terus saja memanggil membuat Gendis menjadi dilema harus berbuat apa.
"Ndis, sepertinya ada telepon lagi." panggil Bram membuat Gendis membawa ponsel bermerk buah itu kepada Bram.
"Nih!" Gendis memberikan ponsel itu pada Bram dengan wajah masam.
"Ak- Yuk main ke rumahmu!" ajak Gendis. Dia memang sudah menyisakan belut bakar untuk diberikan lagi pada Mbak Anisa, mamanya Alya.
"Ayuk, Mbak!"
"Ndis..." panggil Bram saat melihat Alya beranjak dari duduknya. Lelaki yang kini menutup speaker ponselnya itu juga memergoki wajah Gendis yang sudah memerah.
Tapi, Bram tidak bisa mencegah Gendis karena Seruni yang sedang berbicara serius membahas tentang penerimaan mahasiswa baru.
Mampir Yuk, kisah Ambar dan Zayn
__ADS_1