
Gendis terdiam dalam kesendirian, masalahnya dengan Bram terkesan simple tapi cukup pelik bagi dirinya. Dua pemikiran yang berbeda dengan pemahaman yang berbeda.
Dengan masih menatap beberapa daun melinjo yang jatuh karena mengering. Seharian ini dia hanya berfikir tentang hubungannya dengan Bram.
Mungkinkah dirinya yang terlalu sensitif pada cinta masa lalu suaminya? Atau dirinya yang terlalu sepele bagi Bram?
Gendis hanya mendesah pelan. Apa yang dikatakan oleh suaminya memang tidaklah salah. Bram tidak pernah menyembunyikan apapun termasuk tentang hubungannya dengan Seruni..Kecuali saat mengantarkan gadis itu pulang sepulang kerja.
Gendis mulai berfikir jika berpisah bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan gegabah. Berpisah artinya dia harus menyelesaikan banyak hal bersama orang yang saat ini bersamanya dan memulai sesuatu yang baru tanpa orang itu.
Tapi bisakan dia bertahan meskipun dirinya merasa jika Bram tidak bisa mencintainya dengan sepenuh hati?
Jika harus jujur ternyata wanita adalah makhluk Tuhan yang cukup serakah. Jika ada wanita yang mengatakan dirinya tidak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya di luar sana, mungkin sebagian rasanya sudah mati.
Wanita adalah makhluk Tuhan yang begitu sensitif. Dia ingin di cintai sepenuh hati diperhatikan keberadaannya dan dicukupi semua kebutuhannya.
"Ehem... ehem.... " deheman itu membuyarkan lamunan Gendis.
Wanita yang tidak menyadari jika sedari tadi Bram sudah memperhatikanya pun senoleh. Bram tersenyum tipis kemudian melangkah dan duduk di sebelah istrinya.
"Sejak tadi Mas lihat kamu melamun saja." ujar Bram dengan mengambil jari-jari kecil istrinya untuk di genggam.
"Mas kangen seperti ini." lanjut Bram dengan mecium tangan yang ada digenggamannya.
"Sejak kapan Mas Bram pulang? Hari jumat begini biasanya Mas Bram pulang sampai jam lima." Gendis mengalihkan pembicaraan. Dia juga merasa heran karena Bram pulang lebih awal.
"Sudah setengah jam Mas memperhatikanmu, Ndis." jawab Bram dengan membawa istrinya dalam pelukan.
" Mas tadi bertemu Radit, katanya Ibu sakit." ujar Bram dengan raut wajah cemas.
"Sakit apa?" tanya Gendis tak kalah khawatir. Sudah hampir satu minggu Bu Harun memang tidak menghubungi Gendis.
"Belum tahu. Tadi Mas telpon Ibu juga nggak ngaku! Mas ingin jenguk Ibu, tapi kamu sendiri sepertinya tidak enak badan." ujar Bram masih bimbang.
"Aku ikut, Mas." ujar Gendis.
"Tapi kamu lagi sakit. " sambut Bram, wajah Gendis tampak lesu.
"Tapi aku tidak sakit, aku hanya malas makan. Kita berangkat kapan? " tanya Gendis, wajahnya terlihat serius. Bagaiamna cara mertuanya menyayanginya membuat Gendis menganggap beliau seperti mamanya sendiri.
__ADS_1
"Mas, rencananya pergi sekarang." ucap Bram.
"Baiklah, aku akan mandi dan Salat Ashar dulu! " ujar Gendis kemudian beranjak dari duduknya.
"Ndis... " panggil Bram mengurungkan langkah Gendis.
"Mas Beli jajan, ada di meja makan." ucap Bram membuat Gendis mengangguk.
Bram menatap kepergian punggung yang samakin menghilang bersama bayangannya. Dia sebenarnya sedikit mencemaskan kesehatan Gendis, karena istrinya terlihat lesu dan pucat, apalagi dengan nafsu makan yang menurun drastis.
###
Senja yang memerah di ufuk barat membawa mereka pada perjalanan menuju rumah lama Bram.
Sejak tadi mereka hanya terdiam, hingga mobil Pajero berbelok pada jalan menuju rumah lama Bram. Rumah yang menjadi saksi betapa sulitnya kehidupannya dulu.
"Dulu, Mas, selalu bermimpi akan pulang dengan menggunakan mobil bersama anak-anak dan istri Mas ke rumah ibu." ujar Bram. Dulu sepeda pun dia tidak punya, hingga tiba-tiba Pak Hastanto datang bersama Bu Rahayu membawa sepeda untuknya. Itupun ukurannya masih terlalu besar untuk anak di usia kelas empat sekolah dasar.
"Jika saja Ibu setuju dengan gadis itu, pasti kalian sudah punya banyak anak." jawab Gendis dengan menatap lurus jalan di depannya.
Bram mendesah kesal, saat Gendis membahas kembali tentang Seruni. Dia tahu jika itu akan berakhir pada pertengkaran mereka nanti.
"Jangan membahasnya lagi jika tak ingin sakit hati." lanjut Bram dengan sesekali menoleh ke arah Gendis yang masih menatap ke depan.
Keduanya kembali terdiam. Rasa jengkel, penasaran dan cemburu masih terus membayang secara bersama dalam rasa wanita yang kini hanya memainkan jari-jarinya. Gendis merasa masa lalu itu masih terus saja membayangi keluarganya saat ini.
Mobil Pajero sudah melawati waduk dan kini perjalanan mereka hanya tinggal satu kilo meter saja untuk sampai rumah mertuanya.
"Aku ingin makan ikan bakar, Mas! " pinta Gendis. Bram memelankan laju mobilnya.
"Di sini! " lanjut Gendis.
" Tapi harus makan nasi." ujar Bram sambil menoleh ke arah Gendis. Gendis hanya menggangguk.
"Kamu seperti orang ngidam saja! " celetuk Bram asal-asalan, sambil menahan sabar karena keinginan Gendis yang aneh-aneh, sementara dia sudah ingin segera sampai di rumah.
Bram menghentikan mobilnya di dekat sebuah warung sederhana yang menyediakan menu ikan dari hasil pancingan dari waduk.
"Bungkus saja, ya! "pinta Bram.
__ADS_1
"Tapi, Mas Bram yang turun untuk membelinya." sambut Gendis membuat Bram langsunh turun dengan rasa enggan.
"Sabar Bram, sabar! Dari pada ngambek lagi m, tambah repot nanti" gumam Bram dalam hati setelah menutup kembali pinth mobilnya.
Hampir lima belas menit Bram berdiri menunggu penjual ikan yang membakar ikan gabus dan gurame.
"Kenapa lama sekali? " ucap Gendis menyusul Bram yang masih berdiri dengan wajah kesal.
"Di bakar dulu, sayang! " jawab Bram, orang yang masih sibuk membakar ikan itu kemudian menoleh keberadaan Gendis dan tersenyum.
"Nggak usah pakai sambel! " sela Gendis saat pesanan mereka mulai di bungkus. Bram menatap heran wanitanya, karena biasanya Gendis paling suka makan pedas.
Mereka kembali ke mobil. Lelaki yang kini tidak sabar ingin sampai ke rumah pun kembali melajukan mobilnya.
"Tidak biasanya kamu menghindari sambal?" tanya Bram sambil melirik Gendis yang terus saja menghidu aroma ikan bakar. Wanita itu seperti tidak sabar untuk segera menyantapnya.
"Perutku ngerasa nggak enak, Mas." jawab Gendis.
"Makanya kalau makan itu yang teratur. Repot kalau udah terkena asam lambung." omel Bram membuat Gendis mengerucutkan bibirnya.
Sesaat kemudian Bram membelokkan mobilnya di halaman rumah yang terlihat sepi. Suara Azan terdengar saat mereka keluar dari mobil.
Dengan tidak sabar Bram berjalan menuju pintu utama rumah tua itu di iikuti Gendis.
"Assalamualaikum ..." ucap Bram yang langsung masuk.
"Waalaikumsalam... " suara lemah terdengar dari balik kamar ibunya.
Gendis dan Bram langsung mencari Bu Harun di dalam kamar. Wanita sepuh itu sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah lesu dan pucat.
"Ibu, sudah ke dokter?" tanya Bram terlihat cemas. Ibunya itu memang jarang sekali sakit.
"Sudah, kemarin di antar Pak Lek-mu." jawab Bh Harun.
"Apa kata dokter. Bu? " tanya Gendis yang kemudian memilih untuk duduk di sebelah Ibu Mertuanya.
"Hanya kecapekan. Pasti Radit yang memberitahu kamu." tebak Bu Harun, sebenarnya beliau ingin merahasiakan keadaannya agar Bram tidak kahawatir.
"Kamu kok terlihat kurus, Nduk?" Lanjut Bu Harun setelah memperhatikan menantunya sejak tadi.
__ADS_1
"Bram tidak memperhatikanmu? " tanya Bu Harun. Dia sangat mengenal putranya, selain berwatak keras juga cuek.