Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Hadiah Pemilik Rumah Baru.


__ADS_3

"Astagfirullah, hidup lagi capek-capeknya, kenapa juga harus bertemu lelaki yang menyebalkan seperti Pak Zayn." gumam hati Ambar. Dia juga sudah menyiapkan diri untuk resign setelah ujian semester berakhir. Gadis yang menuruni kecerdasan ibunya itu sudah tidak ingin terikat dengan lelaki yang titahnya hanya seperti mengada-ada.


Mobil sedan itu membelok di depan toko, Ambar pun keluar kala Raka membuka pintu mobil untuk bosnya.


"Terima kasih, Mas Raka." ucap Ambar kemudian masuk ke dalam toko. Gadis itu terkesan melarikan diri dari tatapan Zayn yang menghujam ke arahnya.


Zayn pun berjalan masuk ke dalam. Lelaki bertubuh tinggi itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang ada di belakang.


Dengan menenggelamkan diri, Ambar mencuri tahu kemana lelaki menyebalkan itu pergi.


"Mbak, ini daftar harganya!" ujar salah satu pelayan yang datang menghampiri setelah Ambar bertanya harga televisi dari berbagai merek.


Ambar masih memperhatikan harga televisi dengan ukuran 42inc. Iya, dia sudah bersepakat dengan papanya untuk membeli televisi saja dengan harga yang terjangkau.


Rendra yang sedang sakit membuat sepasang suami istri tidak bisa menghadiri acara pindah rumah keponakannya itu.


"Mbak, yang ini saja!" jawab Ambar langsung menunjuk salah satu gambar.


"Mari langsung ke kasir!" ajak pegawai yang melayani Ambar.


Ambar pun menunjukkan ID Card seperti yang disarankan Mika, tapi nyatanya diskon 50 percent untuk salah satu karyawan dari group 'DUTA SEMPURNA' itu sudah tidak berlaku.


"Kalau begitu saya ganti saja pilihannya dengan ukuran 32inch."


"Kata Pak Zayn bungkus saja yang tadi!" sela Raka yang tiba-tiba berada di belakang mereka. Zayn masih terlihat sibuk dengan ponselnya. Lelaki pemberi titah itu bahkan terkesan tidak peduli.


"Nggak- nggak! Yang 32inch saja." protes Ambar membuat Zayn menatapnya tajam. Dia sudah tidak ingin berhutang yang akan membuatnya terikat dengan lelaki menyebalkan itu.


"Bungkus Samsung 55 Inc." ujar Zayn membuat Ambar menghela nafas lemah. Entah kenapa dia selalu curigai jika lelaki itu selalu mempunyai rencana buruk padanya.


"Baik, Pak."


Jika sudah begini Ambar jadi serba salah. Menerima itu artinya dia punya banyak hutang yang entah akan dia bayar dengan apa, atau menolaknya membuat lelaki itu bertambah emosi.


"Mbak, untuk yang mengantarkan barang masih sibuk mengantar pesanan semua. Apa Mbak bersedia jika televisinya diantar besok saja?"

__ADS_1


"Aduh, apa nggak bisa diusahakan diantar sekarang. Soalnya itu buat kado, Mbak." Wajah Ambar terlihat cemas. Rencananya, dia akan meminta pihak toko mengantar barangnya terlebih dahulu dan dia akan menambal ban motornya baru kemudian ke rumah Gendis.


"Maaf, Mbak, hari ini team pengantar barang sudah penuh semua."


"Beresin, Ka. Aku tunggu di mobil." ucap Zayn langsung melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil.


Raka pun melakukan pembayaran dan kemudian membujuk Ambar untuk ikut di mobil Zayn.


"Tapi, Mas Raka, saya pakai motor saja ke rumah sepupu saya!" Ambar masih berusaha berkelit. Dia males sekali jika duduk berdua dengan lelaki yang terlalu sibuk dengan ponselnya itu.


"Pak Zayn akan mengantar Mbak Ambar terlebih dahulu! Lagian sore sudah semakin petang dan mendung lagi." Raka masih membujuk Ambar saat mereka berada di halaman toko.


"Kenapa kamu jadi perempuan ribet sekali!" suara dingin dari jendela mobil bagian belakang membuat keduanya menoleh. Baru kali ini, Zayn menemui perempuan seribet ini.


Ambar pun tidak bisa bicara apapun, dia langsung masuk dan duduk di sebelah Zayn. Gadis itu juga memberi tahu Raka kemana tujuannya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Raka yang sedari tadi mencuri pandang dua orang yang duduk di belakang itu menciut kala kepergok Zayn.


Zayn POV


Tidak ada jalan lain kecuali membalas keangkuhannya dengan memilihkan televisi 55 Inc, karena aku yakin, dia tidak akan bisa membayarnya seketika. Tapi ternyata, tidak ada ucapan terima kasih pun yang terucap. Dasar Gadis yang angkuh.


Author Pov


"Mbak, bisa numpang ke belakang?" tanya Raka setelah menghentikan mobilnya di halaman luas rumah dengan desaign perpaduan antara minimalis modern dan klassik. Dari tadi Raka sudah menahan pipis.


"Bisa, Mas. Sepupuku dan suaminya baik kok." jawab Ambar kemudian dia keluar dari mobil tanpa mengajak lelaki di sebelahnya.


Zayn pun ikut keluar mobil dengan perasaan kesal. Dia yang biasa berjalan di depan pun harus membuntut pada dua orang yang melangkah tergesa itu.


"Assalamualaikum..." ucap Ambar di tengah pintu yang terbuka lebar.


"Waalaikum salam..." jawab beberapa orang di dalam rumah secara serentak.


"Dek Ambar...." Gendis yang semula duduk bersama Ibu mertua dan Bu Mukhlis pun akhirnya beranjak menghampiri Ambar.

__ADS_1


"Mbak Gendis, temanku mau numpang ke belakang." ujar Ambar.


"Oh iya silahkan, mari saya antar, Mas." jawab Gendis dengan sopan, dari tampilannya Gendis tahu jika lelaki yang bersama Ambar sudah bekerja.


"Biar, Mas, saja yang mengantarnya." sambut Bram segera menghampiri Gendis yang akan mengantar tamunya kebelakang. Bram memang dingin tapi dia tergolong ramah selain tidak ingin istrinya berdua dengan lelaki lain ke belakang.


Tanpa bicara lagi, Gendis kembali menghampiri Ambar yang nampak cingak cinguk mencari keberadaan Zayn yang sempat dia lihat sudah membuntut di belakang.


"Dek Ambar, nginep di sini ,kan?" tanya Gendis jika Ambar mau menginap di rumahnya.


"Maaf, Mbak Gendis, nanti malam aku harus ngerjain tugas jadi harus pulang kos."


"Oh ya, Mama sama Papa juga minta maaf tidak bisa datang karena Papa sedang tidak enak badan." lanjut Ambar.


"Ya Allah Om Rendra sakit apa?" Gendis merasa sangat cemas. Dari kecil dia memang sangat dekat dengan Om Rendra dan Tante Halisa.


"Typus. Tapi ini sudah tahap pemulihan." jawab Ambar.


Terlihat Bram bersama dengan Raka berjalan menghampiri dua wanita yang tengah duduk di ruang tamu.


"Ehm... ehm..." deheman dari pintu utama membuat semuanya menoleh.


Gendis terlebih Bram terkejut saat melihat Zayn ada di rumah baru mereka. Sebaliknya, Zayn pun berusaha keras menutupi rasa terkejutnya saat melihat wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta berada di rumah ini. Dia tidak menyangka jika gadis yang membuatnya naik darah itu ternyata sepupunya Gendis.


"TV nya sudah datang. Mau ditaruh di mana?" tanya Zayn di susul dengan dua orang membawa TV flat dan berhenti di dekat Zayn berdiri.


Gendis dan Bram saling tatap, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan, rasa terkejutnya belum juga pupus saat melihat sosok yang tidak disukai Bram itu ada di rumah baru mereka.


"Ini hadiah dari Papa. Semoga rumahnya menjadi surga untuk keluarga Mbak Gendis dan Mas Bram." Gendis yang semula merasa tegang pun berlahan menghembuskan nafas lega.


"Kenapa harus merepotkan begini. Tolong katakan pada Om Rendra, Mbak Gendis berterima kasih banyak"


"Tapi, ini mau diletakkan di mana?" sela Zayn, karena dia masih berdiri.


"Letakkan di sini dulu!" sambut Bram dengan kaku menyambut Zayn.

__ADS_1


Dua pegawai Zayn pun langsung meletakkan tv nya dan berpamitan sementara, Zayn dan Bram saling melempar pandangan yang sulit diartikan. Terlalu banyak pertanyaan untuk kejadian sore ini hingga, percikan permusuhan mereka sementara tersisih.


__ADS_2