
Terik mentari terasa sekali menyengat meskipun begitu tidak juga menyurut semangat dua orang yang tengah berlibur secara mendadak.
"Kamu sudah siap?" tanya Bram sebelum mereka benar-benar menaiki kendaraan air yang cukup menantang itu. Gendis hanya mengangguk. Ini pertama kalinya, dia akan melakukan kegiatan yang bisa dikatakan beresiko ini.
Bram menatap hamparan laut dengan ombak yang cukup besar menggulung hingga ke bibir pantai. Sebenarnya, ini pertama kalinya Bram berlibur bersama seorang perempuan.
"Mas Bram, sering ke sini?" tanya Gendis setelah dia berada diantara wahana Jet ski.
"Nggak sering, hanya sesekali untuk mengusir jenuh." jawab Bram dengan memakaikan Gendis pelampung.
"Sama pacar? " selidik Gendis dengan ragu.
"Sama Deska, teman Mas yang pernah ke apartemen." Jawaban Bram ternyata membuat hati Gendis tenang. Ah. Kenapa juga merasa jedag-jedug menunggu jawaban dari lelaki yang terlihat keren itu.
Sedari tadi, Gendis memang memperhatikan Bram. Bahkan, entah berapa kali dia mencuri pandang dari pesona lelaki yang terlihat begitu manly dan kharismatik.
Rasanya Gendis ingin memasukkan Bram dalam kantong ajaib saat saat memergoki beberapa gadis cantik dan seksi menatap kagum suaminya. 'Menyebalkan' sepertinya kata itu yang ingin Gendis umpatkan saat itu.
"Pegangan yang erat! Kali ini cukup menantang, karena ombaknya lumayan besar." titah Bram sebelum mereka menaiki mesin bermotor itu.
Di bantu pemandu wahana, Bram mulai menghidupkan mesin jet ski, hingga Gendis melingkarkan lengan kecilnya yang tidak mencakup di punggung lebar Bram.
Lelaki dengan perawakan atletis itu memulai petualangan yang menguji adrenalin mereka. Teriakan Gendis dan pelukan erat gadis di belakangnya membuat Bram semakin bersemangat untuk melajukan motor jet skinya.
Seru. Mungkin, ini keseruan pertama kalinya yang dia lakukan bersama dengan seorang gadis. Tapi, beberapa saat kemudian dia merasa ada sebuat Jet sky terus mengejar dan memepetnya.
"Pegangan yang erat, Ndis." teriak Bram membuat Gendis yang tidak tahu apapun itu hanya menurut.
Iya, dua orang lelaki di atas Jet sky lain terus saja mengejar membuat Bram terus menghindar. Aksi kejar kejaran diantara air laut terjadi hingga hampir satu jam. Bahkan rute yang sudah dia rencanakan pun teracak tidak karuan untuk menghindari kecelakaan.
"Shiiiitttt... " umpat Bram saat sampir saja Jet ski yang dia kendalikan sedikit oleng. Wajah Bram menegang, jangan sampai jet ski yang dia tumpangi terbalik atau tertabrak oleh jet ski yang terus mengejarnya.
__ADS_1
Bram yang rencana awalnya menyewa kendaraan itu sehari penuh memilih untuk kembali ke start. Jika tidak membawa Gendis, mungkin dia akan melayani dua orang yang tidak dia kenal itu.
"Ndis, kamu sakit?" tanya Bram saat pemandu Jet ski sudah mengambil alih kendaraan bermotor itu dari tangan Bram.
Bram menarik lengan Gendis untuk duduk di sebuah kursi. Lelaki itu berjongkok dengan mengamati bibir mungil yang sudah terlihat pucat itu.
"Aku takut, Mas. Mas Bram dan dua orang tadi gila-gilaan di laut." Bahkan, Gendis menyadari jika mereka sudah melewati area pantai.
"Tidak terjadi apa-apa, Ndis. Kita aman! Mas tidak akan membiarkan kamu terluka." ujar Bram dengan menggenggam tangan Gendis yang terasa lebih dingin dari tangannya.
" Kita kembali ke resort." ujar Bram dengan membantu Gendis berdiri.
"Mas Gendong, ya? " Bram kembali bertanya dengan serius, saat Gendis terlihat gemetaran, tubuh basahnya di terpa angin angin laut yang kencang membuatnya semakin kedinginan.
"Nggak ah, Malu!" jawab Gendis saat menyadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.
Tapi, Bram yang sudah memperhatikan wajah pucat dan tubuh gemetaran Gendis langsung membopongnya begitu saja,"Jangan banyak bergerak! Akan lebih banyak yang memperhatikan kita." bisik Bram membuat Gendis langsung menelusupkan wajahnya ke dada Bram agar wajahnya tak terlihat saat Bram membawanya masuk ke dalam resort.
"Siram, tubuhmu pakai air hangat dari shower terus keluar agar tidak lengkat. Mas, akan memesan makanan dan minuman hangat." pamit Bram setelah meninggalkan kimono handuk di toilet kamar mandi.
"Hiiihhh Mas Bram..." gerutunya dengan wajah memerah dengan menjijing dalaman miliknya. Dia malu karena Bram menyiapkan baju ganti sekaligus barang pribadinya itu.
"Tok.. tok...tok." suara ketukan dari luar menghentikan Gendis mengeringkan rambut setelah mengenakan bajunya.
"Siapa? " teriak Gendis.
"Mengantar pesanan!" jawab suara seorang gadis dari luar.
"Masuk, tidak di kunci." ujar Gendis dengan kembali menyalakan hairdryer.
Seorang gadis langsung berjalan ke arah Gendis yang masih duduk di atas ranjang dengan sebagian tubuhnya berselimut.
__ADS_1
"Pesanan Bapak Bram untuk istrinya."
"Beliau meminta untuk langsung di makan, Mbak." lanjut gadis yang mengenakan seragam salah satu restoran yang ada di sekitar pantai.
"Terima kasih." sambut Gendis dengan menyambut semangkuk bakso dan segelas susu hangat dari gadis tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu! " Gendis pun mengangguk merespon gadis tersebut.
"Tapi kemana, Mas Bram?" gumam Gendis saat akan meletakkan makanannya terlebih dahulu di atas nakas. Tapi bersamaan itu ponselnya juga berdering.
"Hallo... " jawab Gendis. Terlihat wajah Bram. lelaki itu terlihat begitu serius.
"Kamu cepat makan baksonya agar tidak sakit. Jangan lupa kunci pintunya, Ndis." pesan Bram, tanpa basa basi.
"Mas, kapan pulang aku takut sendirian, resortnya sepi." lanjut Gendis.
"Nanti, Mas, masih ada urusan." ucap Bram kemudian menutup panggilannya.
"Kebiasaan, nggak ada basa basinya." gerutu Gendis langsung menyantap makanan dan minuman yang sudah di pesan Bram selagi masih hangat.
###
Seruni masih terdiam di atas tempat tidur. Hari libur in,i dia menginap di rumah papanya setelah kecewa karena Bram yang tidak membalas pesannya.
Jika dulu, Bram memang sering tidak menanggapi pesan atau panggilannya, dia masih bisa mengerti karena Bram memang fokus dengan kuliahnya. Hampir sepuluh tahun dia mengenal Bram, lelaki itu memang sangat cuek dengan godaan para gadis yang berharap bisa dekat dengannya. Dan hanya dengan ketelatenan dirinyalah, Dia bisa sedekat sekarang dengan Bram.
Tapi, sekarang Seruni merasa ada yang beda dengan Bram. Entah kenapa dia merasa ada yang mengganjal. Dulu, meskipun tidak menanggapi pesan atau panggilannya Bram. tidak pernah menghilangkan atau mematikan ponselnya.
"Tok... tok... Mbak Seruni di minta Bapak turun untuk sarapan." panggil ssisten rumah tangga dari luar kamar mewah milik Seruni.
"Iya, sebentar." jawab Seruni. Dia kembali memikirkan apa yang di katakan papanya semalam.
__ADS_1
"Sekarang banyak orang menikah karena hamil duluan. Itu bukan rahasia umum lagi dan itu bisa ditutupi." kalimat terakhir papanya saat mengakhiri pembicaraan mereka semalam, sebelum Seruni masuk ke dalam kamar.
Pak Alwy memang bukan orang sembarang, lelaki itu terkenal punya kekayaan dan kekuasaan yang berlimpah, hingga dalam dirinya, apa yang diinginkan putrinya maka harus dia dapatkan. Tidak boleh tidak, termasuk memuluskan Seruni menjadi dosen.