
Bram terus saja menatap wajah polos istrinya. Hastanto sudah menceritakan jika Gendis memang bandel tapi putrinya itu begitu naif jika menghadapi dunia yang sebenarnya.
"Aku akan mengambil keputusan itu pastinya, tapi tidak sekarang. Gendis akan kuliah, ketika Gendis bisa sendiri tanpa siapapun mungkin itulah batasan aku bisa melepasnya dengan tenang." gumam Bram dengan menatap tenang wajah yang hanya terlihat sebagian, gadis yang menimbulkan rasa iba setiap kali melihatnya.
Saat ini, Bram sudah tahu batasan kapan dia akan memutuskan segalanya setelah beberapa hari berfikir karena tidak mungkin hubungannya akan terus begini.
Cinta dan segala impiannya sudah menjadi milik Seruni. Tapi, janjinya terikat bersama Gendis. Janji pada Hastanto dan terlebih ikrar sumpahnya pada Tuhan.
Bram menghentikan gerakan tangannya. Dia kemudian sedikit menyibakkan beberapa helai rambut panjang Gendis yang menghalangi sebagian wajah cantik gadis itu.
Bram memang mengakui, jika Gendis memang lebih cantik dari Seruni. Tapi dalam diri Serunilah yang membuat Bram menyukai gadis yang hanya terpaut dua tahun dengannya itu. Seruni, terlihat lebih smart dan dewasa. Dia bisa melakukan banyak hal sendiri tanpa merepotkan orang lain termasuk dirinya.
Bram menghela nafas panjang, menyadari karena tidak seharusnya dia membandingkan dua wanita yang pastinya akan punya kekurangan dan kelebihan. Dua kepribadian yang berbeda bahkan bertolak belakang.
"Mas janji, kamu akan mendapatkan yang terbaik, Ndis." lirih Bram dengan mengusap kening gadis itu. Dia akan memberikan pendidikan yang terbaik untuk Gendis.
Bram beranjak menghampiri kembali ponselnya. Lelaki yang berwajah tampan dengan bulu-bulu tipis di rahangnya itu pun mengambil benda pipih miliknya dan kemudian mengetik pesan untuk Seruni.
'Maafkan, Mas Run. Ibu mengadakan banyak acara mungkin selama cuti Mas sulit dihubungi.'
Bram, tahu jika akan membuat Seruni kecewa. Tapi, dia akan menjelaskan pada gadis itu di waktu yang tepat hingga Seruni memahami kondisinya.
###
Pagi-pagi sekali Bram sudah membangunkan Gendis. Lelaki itu memang sudah terbiasa bangun sebelum subuh. Perjuangannya meraih cita-cita menjadi seorang dosen tidaklah mudah, dia butuh usaha dan doa hingga pribadinya terbentuk dengan logika dan religi.
"Mas Bram bangun jam berapa? Kok, selalu lebih dulu?" tanya Gendis dengan suara sedikit bergetar setelah meletakkan mukenanya di atas rak kecil di pojokan kamar Bram.
"Jam tiga." ujar Bram dengan menarik tubuh Gendis yang sedikit gemetar karena pagi-pagi sekali, Bram sudah memintanya untuk mandi keramas.
"Pagi banget." sahut Gendis.
__ADS_1
Bram mendudukkan Gendis di depan cermin meja rias. Dia mulai mengusap rambut basah Gendis dengan handuk kering.
"Sudah terbiasa sejak sekolah. Kalau mau keinginan terkabul, kata Ibu harus banyak tirakat. Jadi, Ibu selalu membiasakan Mas Salat Tahajud." lanjut Bram dengan telaten mengusap rambut basah Gendis karena dalam kamarnya tidak ada hairdryer.
Setelah mengurangi sedikit kelembapan pada rambut istrinya, Bram pun duduk di tepi ranjang yang bersebelahan dengan tempat duduk Gendis. Lelaki yang mengenakan celana pendek dan kaos polo itu mengeluarkan dompetnya dari saku celana.
"Ini untuk kebutuhanmu dan belanja bulanan. Jika masih kurang, kamu bisa bilang ke Mas." ujar Bram seraya menyerahkan salah satu kartu ATM yang sudah menghuni dompetnya.
"Emmm... Apa aku bisa, Mas? " lirih Gendis. Dia masih ragu menerima tanggung jawab dan kepercayaan sebesar itu. Bahkan, keputusan Bram yang seperti inilah yang membuat Gendis merasa sebagai istri yang sebenarnya.
"Belajarlah mengelola keuangan karena tidak selamanya kamu hanya menggantung dan menjadi pemeran figuran dalam keluarga."
"Bagi, Mas, bukan seperti itu, peran seorang istri. Mas hanya seorang dosen. Gaji dosen tidak seberapa dibanding pengusaha." lanjut Bram. Wajah tegas itu memancarkan kharismatik yang luar biasa kala berbicara dengan serius hingga atmosfir disekitarnya seolah terhipnotis olehnya, termasuk Gendis.
"Baiklah jika menurut, Mas Bram, sepertiitu." lirih Gendis. Tidak ada alasan untuk menolak Bram. Gadis itu pun menerima kartu yang diberikan oleh suaminya.
"Suatu saat kamu akan menjadi istri seseorang dengan sepenuhnya, maka kamu harus memerankan peranmu sebaik mungkin." lanjut Bram.
Gendis hanya terdiam menatap lelaki di depannya. Dia merasa lelaki di depannya sudah menjungkir balikkan perasaanya.
Bram seperti sudah mahir saja membuat dirinya yakin untuk menerima pernikahan ini, tapi beberapa menit kemudian Bram seperti melemparnya agar tetap menjauh.
"Hai..." suara Bram membuyarkan lamunan Gendis.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Anggap saja itu nafkah yang menjadi hakmu dan kewajiban yang harus aku lakukan." Bram. menjelaskan pada Gendis kala gadis itu tersenyum kaku ke arahnya.
"Ayo bantu Ibu di dapur, kamu kan menantu kesayangan!" titah Bram dengan membantu Gendis berdiri. Gendis masih berusaha menguasai diri agar Bram tidak curiga tentang apa yang sedang dia pikirkan.
Gendis langsung menyimpan kartu yang diberikan Bram hingga dia lupa untuk mengucapkan terima kasih.
"Jangan lupa beli kuota! " seru Bram kala Gendis sudah membuka pintu kamar dan akan keluar menuju dapur.
__ADS_1
Pagi masih terbilang petang. Suasana di luar masih terlihat remang-remang dengan suara hewan yang saling bersahutan. Tapi, aroma harum masakan sudah mulai terhidu saat Gendis masuk ke dalam dapur.
"Maaf, Buk. Gendis bangunnya telat! " ujar Gendis dengan salah tingkah kala mertuanya menatap curiga ke arahnya.
"Nggak apa-apa, Nduk. Ibu bisa melakukan ini sendiri, bukan hal yang sulit." jawab Bu Harun dengan memperhatikan rambut lembab menantunya.
"Kalau masih lelah kamu duduk saja. Biar Ibu yang melakukannya." lanjut Bu Harun. Dia mengerti jika seorang pengantin baru akan kehilangan banyak waktu untuk beristirahat.
"Nggak, Buk. Sekarang Gendis bantu apa?" desak Gendis, meskipun dia tidak bisa melakukan banyak hal tapi dia tidak ingin meninggalkan mertuanya membuat sarapan sendiri.
"Kamu buat kopi saja untuk masmu. Ini masakannya tinggal menunggu matang."
"Kamu masih ingat, kan, takarannya?" tanya Bu Harun yang pernah mengajarkan Gendis cara dan takaran membuat kopi.
"Gendis sudah bisa, Buk." jawab Gendis kemudian mulai membuat kopi.
Sesekali Bu Harun memperhatikan menantunya. Wanita yang kini tersenyum tipis itu merasa senang. Gendis yang mudah diajari dan mau belajar banyak tentang pekerjaan di dapur.
Suasana pagi di rumah besar yang saat ini terasa hidup. Dua wanita itu saling bercerita meskipun Gendis masih merasa sungkan dengan sungkan. Bahkan, Bram yang sedang berada di kamar mendengar tawa Gendis yang terdengar cukup renyah.
"Mas Bram, sarapan sudah siap." panggil Gendis dengan membuka sedikit pintu kamar dan menjulurkan kepalanya.
Bram pun beranjak dari duduknya, lelaki itu berjalan menghampiri Gendis yang masih berada di balik pintu.
" Terlalu pagi, jika sarapan jam enam , Ndis. " ucap Bram saat mereka berada di depan kamar.
"Kata Ibu, disuruh sarapan pagi karena semalam kita sudah kehabisan tenaga." cerita Gendis sambil cekikikan. Gadis itu pun menutup rapat mulutnya agar tidak terdengar oleh mertuanya.
"Kamu itu!" gerutu Bram sambil mengacak kepala istrinya kemudian berjalan menghampiri meja makan.
Mungkin, bagi Gendis hal itu lucu tapi tidak bagi Bram. Terkadang saat melihat Gendis tertidur pulas membuat sesuatu yang aneh timbul dalam dirinya hingga dia memilih tidur di depan tv.
__ADS_1