
"Bram itu, orangnya keras, Nduk. Kamu yang sabar jika menghadapi masmu itu!"
"Jangan membuat marah dia!"
"Masmu Bram itu memang terlihat pendiam, tapi jika sudah marah dia suka nekat. Kalau dia sudah keterlaluan sama kamu, bilang saja sama Ibu." Bu Harun bercerita tentang sosok Bramasta Dewangga, putranya. Keadaan memang membuat lelaki berperawakan tinggi tegap itu berwatak keras.
"Tapi, dia selalu bertanggung jawab pada keputusannya." Bu Harun terus saja beecerita tentang putranya, sambil memasukkan beberapa makanan yang sudah di kotak-kotak yang akan dibawa Gendis dan Bram pulang.
Bram memutuskan untuk tidak menghabiskan semua cuti di rumah ibunya. Kondisi apartemen yang hanya satu kamar membuat Bram berniat mencari rumah untuk dirinya dan Gendis secepat mungkin.
"Berumah tangga itu kudu sabar dan saling mengerti, karena kalian punya latar belakang dan pemikiran yang berbeda dan itu harus sejalan. Jadi itu harus dilalui dengan sabar." lanjut Bu Harun menasehati Gendis yang memang masih labil dalam memulai peran yang berbeda.
"Mas, sudah siap, Ndis." suara Bram membuat kedua wanita itu menoleh.
Lelaki itu memang terlihat sudah siap dengan celana jeans dipadu kaos oblong yang di rangkapi dengan kemeja yang tidak di kancing. Tangannya pun sudah membawa kaca mata hitam dan kunci mobil, yang artinya mereka sudah siap untuk meninggalkan rumah ibunya.
"Ibu lihat kamu suka makan pedas, Nduk. Ibu membuat sambal ini untuk kamu. Sambalnya awet untuk beberapa hari, Nduk."
"Bram tidak suka pedas dan dia tidak mau ayam pedaging."
"Iya, Bu." Gendis kembali teringat saat pertama kali makan ikan bakar, Bram
memang tidak menyentuh sambal sama sekali.
Pukul sepuluh siang, Bram dan Gendis sudah siap untuk berangkat ke kota. Keduanya mulai berpamitan dengan Bu Harun, wanita dengan wajah ramah tapi cukup tegas dengan tindakannya.
"Kamu kudu belajar sabar, Bram. Laki-laki itu harus bisa menjaga nafsunya, termasuk sabar saat istrinya sedang marah."
"Imam dan pemimpin itu harus bisa menguasai situasi. Akalnya kudu waras, jangan sampai setengah waras karena dikuasai emosi." Bu Harun ganti menceramahi putranya. Beliau tahu titik lemah Bram, yaitu jika sudah emosi lelaki itu bisa berbuat di luar nalar.
" Iya, Bu. Kita pamit dulu! " jawab Bram kemudian mencium tangan keriput ibunya.
"Jaga kesehatan, Bu. Sekarang, Gendis hanya punya satu Ibu." Saat mengatakan itu tiba-tiba mata Gendis memanas. Mata indah itu pun terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya tentu, Nduk. Makanya cepat berikan ibu cucu." lirih Bu Harun saat memeluk menantunya dan mengusap lembut bahu kecil itu. Wanita itu cukup terharu dengan kalimat menantunya.
"Masmu sudah menunggu di dalam mobil." Bu Harun meregangkan pelukan saat merasakan air mata Gendis. Beliau juga membantu Gendis mengusap air mata yang berhasil lolos.
Pajero Putih itu berlahan meninggalkan halaman luas itu. Beberapa tetangga memperhatikan mereka hingga menghilang dari pandangan.
Bu Harun menghentikan lambaian tangannya meski tatapannya masih tertuju pada arah yang sama di mana mobil Bram menghilang. Wanita itu tidak ada henti-hentinya memanjatkan doa untuk kebahagiaan putra dan keluarga barunya. Dia berharap Bram dan Gendis berjodoh hingga maut memisahkan mereka.
###
Sementara di sebuah rumah besar yang bisa dibilang cukup mahal itu Halisa menjadi gelisah. Wanita cantik itu termenung di teras belakang karena memikirkan Gendis. Gendis yang sudah dia anggap putrinya sendiri.
"Mas, apa kita sudah keterlaluan karena berbohong jika Mas Tanto sudah memberi wasiat agar Mas Rendra yang menikahkan Gendis." ucap Halisa saat Rendra menghampirinya.
Halisa takut jika Gendis tidak bahagia dengan Bram. Karena kebohongan mereka, Halisa merasa bertanggung jawab atas pernikahan Gendis.
"Apa yang kamu pikirkan, Sa?" tanya Rendra kemudian memilih duduk di samping istrinya.
"Kita saja yang pacaran lama, sudah mengenal karakter masing-masing saja masih sering cek cok, Mas. Bagaimana Gendis dan Bram ya?"
Kalimat-kalimat Halisa membuat Rendra tersenyum. Tidak biasanya Halisa sepanik itu dan dia senang istrinya tulus menyayangi keponakannnya itu.
" Terima kasih sudah mengkhawatirkan keponakanku."
" Keponakanku juga." sela Halisa dengan cepat, hingga Rendra merangkulnya dengan hangat. Dia merasa tidak salah memilih Halisa meskipun bukan dari kalangan priyayi seperti latar belakang keluarganya.
###
Sejak tadi Gendis sering mencuri pandang ke arah Bram. Lelaki dengan kaca mata hitam yang bertengger di telinganya itu terlihat lebih keren saat mengemudikan mobil.
Gendis baru menyadari wajah Bram yang tampan dengan hidung mancung, bibir tipis dan alis tebal yang mempertegas karakternya.
Tampan. Gendis memang mengakui ketampanan lelaki di sebelahnya yang sesekali ternyata juga memperhatikam Gendis.
__ADS_1
" Kenapa? " tanya Bram saat gadis itu ketangkap basah menoleh ke arahnya.
"Nggak, ada. " jawab Gendis dengan sigap, diiringi gelengan kepala yang cepat. Dia tidak mau Bram menyangka dia tertarik padanya meskipun kenyataannya seperti itu.
Bram hanya tersenyum sinis mendapati jawaban Gendis. Dia sudah memperhatikan Gendis dari balik kaca mata hitamnya sejak tadi.
" Hari ini, kita langsung belanja. Mulai sekarang kamu yang menyiapkan makanan untuk, Mas. Dan bangun lebih awal." Seketika Gendis langsung menoleh dengan tatapan penuh protes pada Bram.
"Aku tidak bisa bangun pagi-pagi sekali." elak Gendis merasa ragu bisa melakukannya.
"Harus dibiasakan, Ndis. Kamu akan menjadi ibu untuk anak-anakmu nanti." lanjut Bram memaksa Gendis.
Perjalan mereka dipenuhi tentang rencana nanti, termasuk mencari sebuah rumah yang sesuai dengan mereka berdua.
Mobil membelok menuju parkiran sebuah pusat perbelanjaan. Tidak seperti pasangan yang lain yang mana si pria membukakan pintu untuk kekasihnya.
Kini, Bram hanya mengetuk kaca jendela di sebelah Gendis duduk, hingga gadis itu keluar dengan sendirinya.
Mereka masuk ke dalam bazar makanan. Satu persatu Gendis memasukkan bahan makanan yang mudah dimasak. Dia sudah berfikir untuk belajar dari you tube cara memasak.
" Beli daging segar saja! Jangan makanan olahan!" titah Bram ketika akan mengambil beef ham.
" Aku gk bisa masak daging segar."
"Belajar! " sergah Bram, dia sudah tahu respon Gendis.
Kala mereka sedang sibuk berbelanja, seseorang menghampiri keduanya. Seorang lelaki berperawakan tinggi dengan kemeja kerja yang masih melekat itu, menghampiri Gendis yang masih memperhatikan deretan barang yang masih akan dia beli.
"Maaf, tadi jepit rambutnya jatuh di parkiran." lelaki dengan wajah Indo itu menyerahkan sebuah jepit rambut dengan model kupu-kupu.
Gendis meraba kepalanya sebelum menjawab lelaki berhidung mancung di depannya itu. Iya salah satu jepitnya memang tidak ada.
"Eh iya, terima kasih. " jawab Gendis dengan mengambil jepit rambutnya itu.
__ADS_1
"Ehm.. ehm... " Deheman Bram membuat lelaki yang belum memperkenalkan namanya dan Gendis menoleh.