
Gendis berteriak kegirangan saat bertemu dengan teman lamanya, teman semasa putih abu-abu itu memang sudah mengabari jika akan mampir ke rumah baru Gendis.
Teelihat dua cowok dan cewek tengah berdiri di dekat pagar rumah Gendis. Sementara, Gendis begitu bersemangat melangkah untuk membuka pintu pagar ketika melihat mereka yang berasal dari kota yang sama dengannya.
"Langsung masuk saja, yuk!" ucap Gendis mempersilahkan keempat teman SMU-nya yang sedang memarkir motor mereka di halaman untuk masuk ke dalam rumah.
Gendis tersenyum sendiri, diantara ke empat temannya itu ada Abiyan kakak kelas yang sempat membuatnya merasakan cinta monyet. Ah, Gendis rasanya malu jika mengingat perasaannya yang dulu pada Abiyan. untung saja dia tidak pernah mengungkapkannya.
"Ndis, apa kabar? " tanya Abiyan saat mereka sampai di teras depan.
"Baik, Kak Biyan." jawab Gendis sambil malu-malu. Dia hanya malu mengingat dirinya yang dulu.
"Kamu banyak berubah, Ndis. Jadi lebih kalem dan dewasa." ujar Sahila yang sedari tadi memperhatikan Gendis. Tampilan Gendis pun telihat lebih feminim.
"Ah, masak si? Eh, ayok masuk ke dalam, biar ngobrolnya tambah enak." Gendis membuat teman-temannya beranjak mengikuti dirinya masuk ke dalam rumahnya dan duduk di ruang keluarga yang menjadi satu bagian dengan ruang makan.
"Wah, rumahmu enak banget ya, Ndis. Nyaman rasanya." sahut Dea dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Jendela yang terbuka lebar dengan pintu di mana-mana membuat mata langsung merasakan adem halaman rumah yang tersadar pohon besar.
"Masih bagusan rumahnya Sahila." jawab Gendis. Sahila memang anaknya pejabat, jadi rumahnya pun yang paling mewah diantara rumah teman-temannya.
"Rumah papa dan mamaku, Gendis, bukan rumahku." sahut Sahila dengan membantu Gendis menyiapkan minuman dingin dan mereka pun menyiapkan makan siang keadanya.
"Ndis, maaf, kami nggak sempat datang saat dirimu terkena musibah." ujar Aris mewakili temannya.
"Nggak apa-apa, semua terjadi dengan tiba-tiba. dan kalian pasti sibuk." jawab Gendis.
Mereka menghabiskan waktu siang mereka dengan banyak cerita. Entah berapa lama, mereka tidak bertemu membuat suasana di rumah Gendis seperti reoni kecil.
Waktu seperti cepat berlalu, hingga akhirnya teman-teman Gendis berpamitan. Meskipun, rasanya Gendis masih belum puas mengobrol dengan mereka.
Di luar, terdengar suara deru mobil saat mereka akan keluar dari rumah klasik minimalis itu. Mobil Pajero milik Bram masuk ke dalam halaman rumah.
"Suamimu pulang, Ndis. Aku jadi nggak enak." ujar Dea saat mereka sampai di teras.
__ADS_1
"Iya, tapi Mas Bram orangnya baik, kok." jawab Gendis.
"Kok, mobilnya mirip mobil dosenku ya?!" humam Aris dengan ragu.
Hingga akhirnya Bram keluar dari mobilnya dan membuat cowok bertubuh jangkuk itu mengernyitkan kedua alisnya. Ternyata benar, dosen killer itu teryata suami temannya.
"Selamat siang, Pak?!" sapa Aris basa basi hingga membuat ketiga temannya menatap penuh selidik.
"Kalian mau kemana? " tanya Bram dengan menghentikan langkahnya menatap teman Gendis satu persatu.
"Mereka mereka teman saat SMU dan mereka mau balik. " jawab Gendis membuat Bram memperhatikan satu persatu hingga tatapannya kini tertuju pada Abiyan. Cowok satu itu terlihat berbeda.
"Oh ya sudah. Mas, masuk dulu! "ujar Bram kemudian meninggalkan mereka.
"Ganteng si, Ndis. Tapi, sedingin salju! " sela Dea dengan bergidik.
"Tidak beda dengan saat mengajar." sahut Aris.
"Kamu kenal Mas Bram?" tanya Gendis menatap penuh selidik ke arah Aris.
"Eh, ayo kita pulang. Nanti sore aku masih ada kuliah." ujar Abiyan dan Sahila punya jadwal yang sama dan kampus yang sama pula.
Gendis menatap kepergian teman-temannya, dia malah merindukan masa putih abu-abu. Meskipun dirinya akan segera kuliah, tapi dia merasa situasinya sangat berbeda saat bersama mereka.
Gendis jadi merindukan rumah lamanya. Rumah dimana menjadi cerita kisah hidupnya yang begitu sempurna.
"Kenapa nggak segera masuk? " tanya Bram yang tiba-tiba saja berdiri di dekat Gendis dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.
"Aku kangen dulu! " jawab Gendis dengab lemah.
"Cowok yang tinggi dan mengenakan hodi hitam itu pandangannya tidak lepas darimu." ujar Bram, dia merasa tidak menyukai tatapan Abiyan pada istrinya.
"Dulu kakak kelasku." jawab Gendis.
__ADS_1
"Bukan pacar?" sahut Bram yang seolah tidak percaya.
"Aku bukan Mas Bram." jawab Gendis dengan singkat kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Lelaki yang kini mengejar langkahnya itu memang sangat menyebalkan.
"Ndis, Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Seruni." teriak Bram kemudian menarik tangan Gendis hingga langkah Gendis terhenti di ruang tamu.
"Aku tidak mengatakan apapun tentang kalian. Lagian jika kalian punya hubungan khusus dibelakangku aku pun tidak tahu." jawab Gendis
"Aku bersumpah, Ndis. Kita hanya berteman." ujar Bram berusaha meyakinkan istrinya.
Gendis menatap wajah Bram, mencari kebenaran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh suamianya.
"Mas aku ingin bertanya pada Mas Bram. Bisakah Mas Bram menjawbku dengan jujur?" ujar Gendis dengan menatap mata Bram.
Suasana berganti dengan serius. Bagi Gendis, kali ini dia hanya berusaha mencari keyakinan pada Bram.
"Apa Mas Bram masih mencinta wanita itu? " tanya Gendis dengan wajah menengadah menatap sorot mata yang kini menatapnya dengan rasa tidak percaya.
"Apa maksudmu, Ndis? " Bram hanya merasa heran kenapa istrinya meragukan perasaannya.
"Jujur saja, Mas! Aku bisa mengerti jika Mas Bram masih mencintai Seruni. Aku hanya ingin mendengar langsung dari Mas Bram." lanjut Gendis, dia berusaha tenang. Gendis hanya butuh pengakuan Bram.
Bukannya menjawab Bram malah membawa Gendis pasa pelukannya. Dia merasa sangat bersalah karena wanita yang selama ini bersamanya meragukan perasaannya.
"Mas sudah menutup cerita masa lalu itu. Saat ini perasaan Mas hanya untuk kamu, keluarga kita."
"Jangan berfikir macam-macam , Sayang. Jika Mas masih mencintai Seruni, Mas akan mempertahankan dia. " ucap Bram dengan meregakan pelukannya menatap wajah Gendis.
Kali ini Gendis mengangguk, kemudian tersenyum. Dia tidak ingin menuntut Bram untuk mencintainya, tapi setidaknya dia ingin Bram tidak berpura-pura saat bersamanya.
"Maafkan aku jika selama ini aku sering marah-marah sama Mas Bram. Maafkan aku jika aku suka melawan dan membuat Mas Bram hilang kesabarannya." lanjut Gendis.
Gendis sudah memutuskan untuk memantapkan perasaannya. Memupuk rasa percaya dalam hubungannya dengan Bram. Pernyataan Bram akan menjadi dasar yang menguatkan hubungannya dengan lelaki di depannya.
__ADS_1
Dia sudah lelah hidup dengan keraguan dan prasangka yang sudah diciptakan sendiri. Jika Bram memang mengkhianatinya dia yakin Tuhan akan menunjukkan itu padanya.