Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Takdir Dan Cinta


__ADS_3

Gendis melihat kembali ponselnya, dia sudah mengirim pesan pada Bram jika dirinya akan menunggu di 'Selaksa Kafe' yang ada di depan mall. Rasa haus membuat dirinya ingin segera membasahi tenggorokannya.


Gendis tidak banyak belanja, hanya beberapa makanan untuk stock di kulkas dan ada sebuah kemeja kerja untuk Bram.


Setelah memesan just alpukat, gadis yang kini menenteng belanjaannya pun memilih untuk duduk di dekat jendela.


Sepasang mata yang tidak sengaja melihatnya pun menatap dengan tajam setiap gerik wanita yang sudah mengambil seseorang yang dia cintai.


Seruni, gadis yang masih mengenakan pakaian kerja itu berjalan mendekati Gendis yang kini melihat kembali ponselnya setelah meletakkan bobotnya dia kursi.


"Boleh, aku duduk!" ujar Seruni. Gadis yang baru saja mengisi perutnya setelah mengajar itu menghampiri Gendis.


"Silahkan!" jawab Gendis setelah melihat siapa yang datang, Gendis yang kini menegakkan badannya itu memang sangat kaget saat bertemu Seruni di kafe ini.


"Habis belanja?" tanya Seruni dengan menunjukkan sisi berkelasnya dari dirinya pada wanita di depannya itu.


"Iya, kamu bisa melihatnya sendiri." Gendis pun tidak bisa berbasa-basi.


"Iya si, kamu kan nggak ada kerjaan jadi untuk menghabiskan waktu memang seperti ini." lanjut Seruni membuat emosi Gendis mulai di acak acak.


"Apa anda hanya ingin menghinaku? Jika ingin menghinaku tidak perlu anda punya pekerjaan yang bagus atau sekolah yang tinggi." jawab Gendis. Dari awal dia memang tidak takut dengan Seruni.


"Aku hanya ingin menyadarkanmu jika Bram tidak pantas untukmu! Kami hanya gadis arogan yang hanya lulus SMU."


"Lalu apa kamu pikir, hanya kamu yang pantas untuk Mas Bram?" sela Gendis hatinya mulai memanas ketika mendapatkan omongan yang menyakitkan.


Entah apa yang sudah dia lakukan hingga kesialan terjadi padanya. Bertemu Seruni memang hal tersial bagi Gendis karena gadis yang sudah berumur itu selalu memancing emosinya.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku dan Mas Bram punya pendidikan yang selevel, aku dan Mas Bram punya sosial kelas yang sama. Bahkan aku dan Mas Bram punya fisik yang serasi." jawab Seruni dengan percaya diri. Gadis itu dari dulu memang selalu mendapatkan pujian dari banyak orang.


Gendis menyesap jusnya untuk mendinginkan dadanya yang sudah terasanya ingin meledak karena luapan emosi. Matanya juga melihat seringai licik terlihat dari wajah wanita di depannya.


"Tapi sayang takdir tak berpihak padamu karena, hatimu minus! Harga dirimu pun sudah tak ada ketika kamu masih mengejar suami orang!" balas Gendis, seketika wajah Seruni langsung memerah. Kedua tangannya saling meremat hingga terlihat garis buku-buku di jari- jarinya.


"Itu karena kami masih saling mencintai. Jika Mas Bram tidak mencintaiku, dia tidak akan merespon aku dengan baik." Seruni mulai terbakar emosi. Ternyata gadis di depannya itu memang tidak mudah di kalahkan meskipun hanya lulusan SMU.


"Kasian sekali hidupmu berada diantara cinta kami. Kamu tidak bisa menghapus sebuah cerita masa lalu yang sudah tertanam bertahun-tahun. Jika pun kamu memiliki Mas Bram kamu hanya memiliki raganya tidak hatinya." lanjut Seruni yang terus saja bicara karena jiwanya sudah terbakar emosi. Dia hanya ingin gadis di depannya itu merasakan sakit hati seperti dirinya.


"Masa lalu adalah sebuah cerita, sedangkan aku adalah kenyataan. Aku harap kamu lebih rasional sesuai dengan pendidikanmu." Kalimat Gendis membuat Seruni membisu, kemarahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.


"Gendis!" panggil Bram terlihat cemas saat berjalan menuju ke meja istrinya. Kedua wanita itu kini menatap Bram dengan tatapan yang entah saat melihat Bram mendekat.


"Seruni, kalian di sini?" tanya Bram yang sulit untuk membuat kalimat yang nyaman untuk di dengar.


"Iya, Mas. Kebetulan kami bertemu dan kami memutuskan untuk mengobrol." jawab Seruni tersenyum semanis mungkin. Dia melihat sosok lelaki itu semakin menawan.


"Eh ya, Mas pantai yang dulu sering kita kunjungi sekarang di kelola jadi bagus. Ada resort yang bagus di sana! Padahal dulu, pantai rahasia itu adalah tempat kita untuk menghabiskan waktu saat jenuh ya!" lanjut Seruni membuat Bram seketika salah tingkah. Dia melirik Gendis yang kini memainkan ponselnya dan pura- pura tidak mendengar.


"Benarkah? Mungkin suatu saat aku akan membawa Gendis ke sana!" lanjut Bram dengan mengusap bahu kecil di sampingnya dia berdiri. Sedangkan dalam hati Gendis ingin meneriakkan kata 'tidak sudi'


"Kalau begitu aku pamit dulu, Mas." pamit gadis itu berusaha menyimpan rasa cemburunya kala lengan yang seharusnya memeluknya malah berada di bahu gadis menyebalkan itu.


"Ndis..." panggil Bram saat Seruni sudah menghilang.


"Kita pulang sekarang?" tanya Bram kala melihat wajah Gendis biasa saja. Ternyata, dia salah, awalnya dia berfikir pertemuan Seruni dan Gendis akan membuat istrinya ngambek, tapi ternyata tidak. Gendis terlihat biasa aja.

__ADS_1


"Boleh, tapi masih ada yang kurang Mas dari belanjaanku!" ujar Gendis membuat Bram menautkan kedua alisnya.


"Ayo, Mas!" Gendis menarik lengan Bram. Dia berusaha bersikap biasa saja meskipun hatinya dilanda rasa bimbang. Apa yang dikatakan Seruni memang berpengaruh padanya.


Bram dan Seruni bersama tidak lama, bahkan dia sendiri masih melihat betapa Bram mempertahankan cinta itu diawal pernikahan mereka.


Sedangkan dirinya dan Bram, mereka bersama karena sebuah perjodohan, bisa jadi Bram menerima dirinya karena rasa tanggung jawabnya dan menghargai sebuah pernikahan seperti yang pernah dia minta.


"Aku harus bagaimana untuk bisa meyakinkan diriku sendiri?" gumam Gendis dalam hati.


Mereka keluar dari kafe dan akan kembali ke dalam Mall. Bram menggandeng Gendis dengan satu lagi tangannya membawa belanjaan.


"Aku ingin mencari kemeja putih, Mas. Siapa tau nanti aku butuh." ujar Gendis membuat langkah Bram mengarah pada toko pakaian.


Saat Gendis memilih kemeja yang dia mau. Ada yang menarik perhatian Bram, dia melihat jejeran lingerie. Lelaki itu pun memilih tiga pakaian dinas untuk istrinya.


"Sayang, sekalian ini!" ujar Bram pada Gendis dengan menyerahkan barang pilihannya untuk dibawa sekalian di kasir.


"Ih, Mas Bram. Aku malu pakai pakaian itu." bisik Gendis dengan menatap wajah yang tersenyum samar.


"Ayo cepetan! Biar Mas yang bayar." lirih Bram dengan mendorong pelan bahu kecil istrinya menuju ke kasir.


Wajah Gendis langsung memerah kala mbak kasir tersenyum saat memasukkan satu barang yang dibeli Gendis ke dalam tas.


"Mas, Nggak sabar ingin lihat kamu mencobanya!" Bram sedikit membungkukkan tubuh saat membisikkan kalimat itu ke telinga Gendis.


"Aku nggak menyangka jika Mas Bram semesum itu!" lirih Gendis saat mereka keluar dari mall.

__ADS_1


"Kamu nggak tahu jika Mas sudah menahannya sejak kita menikah pertama kali! Untung masih kental, nggak mencair atau malah membeku!" bisik Bram membalas Gendis.


Gendis hanya mencebikkan bibirnya, melirik Bram yang kini tersenyum dengan iirikan penuh arti padanya. Gendis benar-benar tidak menyangka dibalik otak cerdas Bramasta Dewangga ternyata tersimpan komponen-komponen kemesuman yang tiada tara.


__ADS_2