
Gendis keluar kamar setelah Salat Subuh. Sebenarnya badannya masih terasa pegak-pegal, tapi mertuanya yang sedang sakit membuat dirinya berniat menyiapkan sarapan.
"Loh, Ibu kenapa sudah bangun? Seharusnya Ibu istirahat dulu." ujar Gendis kala mendapati mertuanya sudah mencuci beras dan siap untuk dimasak.
"Ibu sudah sehat, Nduk. Lagi pula capek juga jika tiduran terus." jawab Bu Harun sambil berlalu menuju sayuran yang sudah di cucinya.
"Hoaaammm.... " Gendis menguap kala dia merasakan kantuk yang enggan juga pergi.
"Jika masih ngantuk lebih baik tidur lagi, Nduk. Pasti kamu lelah." ucap Bu Harun yang kini berjalan mendekat ke arah Gendis. Wanita itu begitu memanjakan Gendis.
Wanita paruh baya itu kemudian memperhatikan menantunya dari dekat. Seperti tebakannya dalam hati, ada tanda cinta di tulang selangka menantunya
"Biarkan Gendis yang memasak, Bu." sahut Bram saat dirinya mendengar obrolan dua wanita di dapur ketika berjalan untuk mencari air minum.
"Kamu itu ya Bram, jadi suami nggak ada pengertiannya. Kamu suruh kerja istrimu siang dan malam, apa kamu pikir istri itu budak? "
"Ngurusin kamu siang dan malam juga lelah Bram. Apalagi jika kamu tidak perhatian sama istri, mau menikah seribu kali, wanita manapun juga tidak ada yang betah jadi istrimu." omel Bu Harun. Wanita itu samar-samar mengomeli putranya sambil berjalan kesana kemari menyelesaikan masakannya.
Bram hanya terdiam, sesekali dia melirik Gendis dengan sorot mata menuduh. Sedangkan Gendis hanya menggeleng lemah, mengerti maksud tuduhan Bram padanya.
"Ibu sudah berpengalaman, meskipun tidak ada yang mengadu, Ibu tahu kamu seperti apa. Saat kamu terlalu sibuk di kampus pun Ibu tahu." lanjut Bu Harun dengan meniriskan cabe yang selesai digoreng.
Tapi bukan juga tanpa alasan wanita yang kini meminta menantunya mengulek sambal itu mengomeli putranya. Semua itu karena beliau mendengar Seruni mengajar di tempat yang sama dengan putranya. Beliau takut itu akan berpengaruh pada rumah tangga putranya.
Gendis mulai mengulek sambal tomat yang sudah disiapkan oleh mertuanya, dia baru tahu seperti apa marahnya Ibu mertuanya itu. Tidak ada nada yang tinggi, hanya saja nada bicaranya yang dingin dan tegas.
"Bram mengerti, Bu. Tapi, Ibu jangan marah-marah terus, tekanan darah Ibu bisa naik lagi." bujuk Bram mendekati ibunya.
"Ibu ingin kamu bisa jadi imam yang baik dan mengayomi anak dan istrimu." lanjut Bu Harun dengan melembutkan suaranya.
__ADS_1
"Iya Bram akan berusaha menjadi seperti itu." lanjut Bram berusaha melegakan ibunya.
Akhirnya mereka bertiga melakukan sarapan pagi setelah semuanyaa siap. Hanya sekedar sayur bayam, sambal tomat dan nila goreng yang tersaji di meja. Menu yang biasa tersaji di kampung.
"Apa Ibu ikut kita saja! Di rumah biar Gendis ada temannya jika Ibu bersama kami." ajak Bram kala mereka sudah selesai makan.
"Ibu sudah bilang ke Gendis, nanti saat kalian sudah ngasih cucu, Ibu akan tinggal bersama kalian." ucap Bu Harun.
Hari ini mereka memang berencana untuk kembali ke kota. Rasa khawatir mereka atas kesehatan Bu Harun sudah sedikit teratasi. Meskipun tidak dipungkiri usia ibunya yang tidak lagi muda membuat Bram tidak tega meninggalkan beliau tinggal sendiri.
###
Bram turun dari mobilnya dan melangkah menuju ruangannya terlebih dahulu, sebelum dirinya masuk ke kelas untuk memberikan materi kuliah.
Hari pertama setelah liburan memang biasa membuat malas seseorang untuk memulai aktifitas. Langkah santai Bram, kini tertuju pada ruangannya di lantai dua dari gedung bertingkat empat.
"Ceklek... " Bram membuka pintu ruangannya. Lelaki yang sempat tersentak kaget itu masuk ke dalam ruangan disambut nyanyian happy birtday dari wanita yang begitu fasih menghafal hari spesialnya.
"Terima kasih, Run. Kamu selalu ingat ulang tahunku." ucap Bram menjadi salah tingkah.
"Sama-sama, Mas. Ayo make wish dan tiup lilin karena kita harus segera mengajar." ajak seruni sambil tersenyum.
Keduanya kini menghampiri kue tar mungil yang disiapkan gadis itu sejak tadi pagi. Seruni sengaja memberi surprise yang simple agar tidak ada yang curiga.
Bram masih terlihat kikuk karena dia sama sekali tidak menyangka jika Seruni masih begitu perhatian padanya padahal selama ini dia selalu membuatnya kecewa.
"Selamat ya, Mas Bram. Semoga selalu bahagia." ujar Seruni masih berdiri di sebelah Bram saat lelaki itu meniup lilin.
"Sekali-lagi terima kasih, Run." lanjut Bram masih dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Sama -sama. Aku balik dulu, Mas." pamit Seruni kemudian melangkah ke arah pintu yang ternyata masih sedikit terbuka sejak kedatangan Bram.
Lelaki itu menatap kepergian gadis yang pernah mengisi masa lalunya. Dalam hatinya, Bram memuji Seruni karena perhatian dan kelembutan gadis itu masih sama seperti yang dulu.
"Bram..." suara Deska membuyarkan lamunan Bram. Lelaki itu langsung masuk menghampiri Bram.
"Kamu ulang tahun?" tanya Deska sambil kembali menoleh ke arah Seruni menghilang.
"Iya." jawab Bram singkat.
"Dan dia masih memberi surprise?" lanjut Deska dengan tatapan penuh selidik.
"Iya, tapi kita hanya berteman. Tidak ada hubungan yang seperti dulu." jelas Bram membuat Deska menghela nafas panjang dan kemudian diakhiri dengan decihan pelan.
"Hati-hati, Bram! Jangan sampai cinta lama bersemi kembali. Atau sebuah skandal di kampus ini." Deska memperingatkan karena dia merasa perhatian seperti ini sudah tidak pantas untuk seseorang yang sudah mempunyai pasangan.
"Seruni sudah faham, jika aku memilih Gendis dan keluargaku." ujar Bram kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Terserah kamu sajalah. Aku sudah pernah memperingatkan dirimu, jika sesuatu hal buruk pada pernikahanmu." lanjut Deska membuat Bram menatapnya tajam.
"Tidak akan. Aku masih memprioritaskan Gendis." jawab Bram mulai kesal dengan kalimat Deska.
"Ini aku bawa undangan seminar besok." Deska menyerahkan amplop pada Bram yang kini langsung dibaca oleh lelaki berawajah tegas itu.
Lelaki itu kemudian berpamitan karena dia juga sudah ditunggu mahasiswanya untuk bimbingan.
Bram terdiam sejenak, dia mulai mempertimbangkan perkataan Deska. Baginya semua biasa, hanya saja yang sedikit berlebihan adalah momen Seruni mencium pipinya.
"Astaga... " Dia berharap jangan sampai Gendis mengetahui kejadian yang tidak di perkirakannya sama sekali. Biar pun dia pikir tidak mungkin istrinya tahu, tetap saja Bram merasa khawatir.
__ADS_1
Sementara itu, di fakultas yang berbeda seorang gadis berjalan dengan wajah penuh dengan senyuman. Seruni memang sangat bahagia bisa memberi kejutan pada Bram.
Dia seolah mengulang masa beberapa tahun yang lalu saat cinta mereka masih hangat dan begitu manis.