Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Password


__ADS_3

Bram menggandeng tangan Gendis untuk turun ke bawah setelah membujuknya. Dengan kaos neckless dan rok midi dengan potongan lebar di bagian bawah. Meskipun tampil sederhana, Gendis memang tetap cantik.


"Mas Bram, kelihatan segar sekali." ledek Radit kala melihat Bram menuruni tangga bersama Gendis. Pemuda itu masih menikmati biskuit dan secangkir kopi yang ada di meja makan.


Bram hanya menatap tajam, ke arah cowok itu. Bram tahu jika kejadian semalam itu karena ulahnya.


"Dit, Mas, mau bicara!" ujar Bram, dia merasa perlu menegur bocah itu karena apa yang dilakukannya bisa berakibat buruk jika salah sasaran.


"Aku belum sarapan, Mas. Nanti saja, ya!" Radit sudah tahu apa yang akan terjadi, pemuda itu masih saja mencari alasan untuk berkelit.


"Bram, kalian sarapan dulu. Ibu sudah menyiapkan semuanya." Bu Harun memang sudah menyajikan makanan, Beliau juga sudah sarapan terlebih dahulu dengan keluarga Pak Mukhlis.


"Nduk, katanya kamu sakit?" tanya Bu Harun dengan menatap menantunya yang berdiri di belakang putranya.


Gendis yang berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tubuh tinggi Bram, akhirnya sedikit bergeser untuk bisa terlihat oleh mertuanya.


"Hanya kecapekan dan kurang tidur, Buk." jawab Gendis dengan menggigit bibir bawahnya, dia yang nggak biasa berbohong akhirnya harus melakukan itu.


"Wajahmu pucat sekali, Nduk."


" Ya sudah sarapan dulu, nanti istirahat saja. Biar Bram yang mengurus semuanya." ujar Bu Harun. Tidak pernah punya anak perempuan membuat wanita itu begitu memanjakan menantunya.


"Jangan khawatir, Bu De. Sebentar lagi Bu De akan punya cucu!" sahut Radit membuat Bram menatap tajam ke arah pemuda itu.


Sedangkan Bu Harun malah tersenyum, Beliau memang sudah ingin menimang cucu agar hidupnya tidak lagi kesepian.


"Ya sudah, Ibu akan persiapan karena sebentar lagi kita akan balik." Wanita sepuh itu meninggalkan mereka menuju kamar untuk beberes.


"Ayo ikut, Mas!" Bram langsung menarik lengan cowok yang sudah dianggapnya adik itu menuju teras belakang.


Gendis yang menatap curiga keduanya memilih mempersiapkan sarapannya. Tapi, obrolan kedua lelaki itu membuatnya sangat tertarik. Langkahnya mulai mendekati teras, mencuri dengar obrolan Radit dan Bram.


"Habisnya, suami istri kok tidur terpisah. Makanya, Mbak Gendis sering ngambek wong Mas Bram belum membuka passwordnya." Gendis mendengar Radit memberi alasan pada Bram yang tengah menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kamu itu belum tahu apa-apa, tapi pikiranmu sudah terlalu kotor." Bram berbicara penuh dengan penekanan.


"Astaga, Mas Bram. Kita sama-sama lelaki dewasa, Mas. Kata temanku jika pacarnya sudah digituin pasti akan nurut kayak kerbau dicucuk hidungnya." jawaban Radit membuat Bram semakin geram. Meskipun, dia tahu pergaulan mahasiswa jaman sekarang tapi Bram tidak pernah setuju dengan gaya pacaran yang melampaui batas itu.


"Awas kamu, Dit. Akan aku bilang kelakuanmu pada bapakmu."


"Lagian, kamu dapat obat seperti itu dari mana? Itu akan berbahaya jika sampai salah orang." lanjut Bram yang juga mengkhawatirkan pergaulan pemuda di depannya.


"Justru, aku sudah menyelamatkan seseorang, Mas. Temanku ada yang mau ngerjain cewek, tapi aku menukarnya dengan serbuk permen. Dan biarlah obat perangsang itu untuk yang seharusnya, agar dapat pahala."


Mendengar pengakuan pemuda itu Gendis menjadi kesal.Ternyata dia sudah dikerjain oleh pemuda yang seumuran dengannya.


"Dasar kurang ajar, aku sampai malu setiap melihat Mas Bram." sungut Gendis kemudian kembali ke meja makan. Saat mengingat kejadian semalam dan betapa agresifnya dia membuat Gendis malu dan gengsi.


"Awas kamu jika main-main sama obat seperti itu lagi!" ancam Bram dengan mengarahkan telunjuknya pada Radit.


"Bisa hancur masa depan anak orang." gumamnya kemudian kembali melangkah menuju meja makan yang di ikuti Radit di belakangnya.


Mereka kemudian sarapan bertiga. Gendis menatap kesal ke arah Radit. Sedangkan, bocah tanpa rasa bersalah itu begitu menikmati sarapannya dengan lahap.


"Terima kasih sudah berkunjung, Pak Lek." ujar Bram ketika bersalaman dengan lelaki yang umurannya di bawah ibunya.


"Sama- sama, Mas Bram."


Setelah bersalaman dengan Bu Mukhlis, Gendis bersalaman dan memeluk mertuanya.


"Sabar ya, Nduk, ngadepin Bram." ujar Bu Harun dijawab Gendis dengan anggukan.


Semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Radit pun sudah siap di belakang kemudi.


"Mas Bram, Mbak Gendis semoga sukses ya! Tak tinggal balik dulu, nganterin calon Mbah-Mbah." ledek Radit sambil terkekeh membuat Bram menatap tajam ke arahnya. Meskipun slengekan tapi pemuda itu sangat penurut ketika diminta bantuannya.


"Hati- hati. Jangan ngebut, Dit!" ujar Bram saat pemuda itu menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


Avanza putih itu melaju meninggalkan rumah dengan halaman luas itu diiringi lambaian tangan sepasang suami istri yang sedang di mabuk cinta itu.


###


"Seruni tidak mau menikah dengan Pak Anton, Pa." tolak Seruni kala papanya memintanya untuk menerima perjodohan itu.


Pak Alwy mendatangai Apartemen putrinya dengan alasan membujuk Seruni untuk menerima lamaran Anton.


"Dia punya kekuasan, dia juga kaya raya. Hidupmu akan bahagia dan apapun akan kamu dapatkan."


"Tapi, tidak dengan Mas Bram..." sela Seruni.


Mendengar kalimat putrinya Pak Alwy menghela nafas. Dia tidak menyangka jika putri begitu terobsesi dengan Bram.


Sejenak suasana terdiam, hingga terdengar Isak tangis Seruni.


"Papa sudah memberikan semuanya untuk Seruni. Seruni hanya ingin Mas Bram." ujar Seruni bahkan hingga dirinya menjadi dosen pun itu karena terinspirasi dari Bram.


Pak Alwy nampak berfikir. Bagaimana caranya mengatasi masalah ini tapi nama baik putri dan dirinya masih tetap terjaga. Tentu saja dalam hidupnya harus menguntungkan di pihaknya.


"Kamu masih menjalin hubungan baik dengan Bram, kan?" tanya Pak Alwy pada putrinya.


"Masih, Pa. Bahkan, Mas Bram masih peduli padaku." ujar Seruni.


"Yah, dekati saja seperti semula. Banyak orang selingkuh karena terbiasa." ujar Pak Alwy.


"Papa yakin, dia menerima perjodohan itu karena ibunya. Jadi gunakan hubungan baik kalian selama ini." ujar Pak Alwy.


"Tapi, sebenarnya Papa berharap kamu bisa mendapatkan yang lebih dari Bram." lanjut Pak Alwy. Bagi lelaki itu, posisi Bram hanyalah dosen biasa, tidak punya kekuasaan berbeda dengan bapaknya dulu yang sangat berpengaruh di masanya dulu.


"Jangan hanya Bram saja! Banyak pemuda keren dan kaya raya di kalangan kita. Seperti Zayn, pengusaha muda yang lagi naik daun. Bahkan, Papanya bilang Zayn lagi jomblo karena fokus dengan usahanya." ujar Pak Alwy.


"Tapi masih keren Mas Bram, Pa. Seruni kenal keduanya. Mas Bram, benar-benar punya value tinggi, sementara Mas Zayn memang lebih beruntung karena lahir dari keluarga kaya."

__ADS_1


"Papa tahu, kan. Seruni hanya ingin yang terbaik." lanjut Seruni dengan menyandarkan tubuhnya pada di sofa.


Perdebatan sore itu memang berakhir kala Pak Alwy mengajak putrinya untuk makan malam di luar. Mereka memilih restoran salah satu milik keluarga Zayn.


__ADS_2