
Gendis membuka pintu kamar ruangan yang sempat ditunjukkan oleh ibu mertuanya, jika ruangan dengan pintu yang berukir di sudut daunya itu adalah kamarnya Bram. Berlahan dia menutup kembali pintu kamarnya agar seseorang yang berbaring dengan bantalan pada kedua tangan itu tidak terbangun.
Bahkan, setelah mengamati sejenak suasana kamarnya, kaki putih itu melangkah dengan mengendap-endap menuju sebuah kursi panjang yang ada di dekat jendela. Niatnya merebahkan tubuh harus terhenti saat mendengar suara bariton milik suaminya,”tidurlah di ranjang, di sana untuk duduk bukan rebahan.” Pemilik suara itu sudah membuka matanya sejenak. Bram membuat Gendis salah tingkah.
“Sebentar lagi,Mas, berangkat ke kampus, jadi tidak sempat untuk menggodamu.” lanjut Bram dengan lirikan mata yang cukup menghujam ke arah Gendis. Sekali lagi, Bram memang membuat Gendis sulit untuk berkutik.
“Tidak usah menggodaku, ada yang lebih pantas digoda oleh Mas Bram.” sindir Gendis seolah ingin menunjukkan pada Bram jika dia sudah menyadari posisinya. Semalam, sejak menjadi istri Bram, Gendis juga tak tahu dimana Bram tidur. Sebelum tidur, Bram keluar kamar terlebih dahulu dan lelaki itu bahkan bangun lebih awal.
“Maksud kamu?” tanya Bram seraya bangkit. Kalimat Gendis berhasil membuatnya penasaran. Lelaki itu menatap penuh selidik Gadis yang kini berjaalan menuju tempat tidur yang sama denganny.
“Mungkin Mas Bram sudah ada calon istri sebelumnya.” jelas Gendis yang kemudian hanya duduk di tepi ranjang. Rasanya dia canggung, saat Bram masih ada di ranjang yang sama.
“Kamu tiduran saja, nggak usah bingung gitu. Semalam kita juga satu ranjang, kamu biasa aja.” Bram mengalihkan pembicaraan. Semalam, Gendis memang terkesan tidak peduli dengan keberadaannya karena emosioanal perasaan yang masih belum stabil.
Gendis pun menatap Bram penuh dengan ragu. Lelaki itu tersenyum miring saat melihat istrinya meraih selimut dan merebahkan tubuh mungilnya dengan miring membelakinya. Begitupun dengan Bram, sebenarnya saat satu ruangan dengan seorang gadis dewasa dia juga merasa aneh saja. Seperti halnya semalam, Bram memilih masuk ke dalam kamar saat malam sudah larut hingga dia bisa langsung tidur di sofa yang ada di kamar gendis.
“Mas Bram katanya ke kampus!” suara Gendis membuat Bram tersenyum lebar. Dia semakin yakin jika Gendis merasa tak nyaman. Tapi tubuhnya memang perlu diistirahatkan sebelum pergi lagi.
“Sebentar lagi, Nunggu kamu menyiapkan makan siangku.” ujar Bram membuat Gendis menoleh ke arahnya, hingga tubuh mungil itu pun berganti arah 180derajat.
“Istirahatlah sebentar! Nanti kamu yang akan menyiapkan makan siangku. Kamu harus belajar melayani suami, Ndis.” ulang Bram meyakinkan Gendis yang kini menatapnya tajam. Itu artinya dia hanya punya sedikit waktu untuk beristirahat.
__ADS_1
“keberatan?” tanya Bram. Dia sengaja akan mengajari banyak hal pada Gadis manja itu melakukan banyak hal.
“Kalau begitu, sekarang saja, biar nggak nanggung gitu.” bujuk Gendis, kemudian bangun dari rebahan.
Sementara itu, Bram masih tak bergeming dengan menatap Gendis yang menggelung rambutnya itu. Gendis memang cantik, bahkan semakin lama di lihat gadis itu semakin terlihat ayu. Bram memang tak bisa mengelakkan kecantikan yang terpancar dari gadis bertubuh mungil itu.
“Ayo , mas!” ajak Gendis. Gendis ingin segera menyelesaikan tugasnya agar dia bisa cepat beristirahat. Biar bagaimanapun dia tidak lagi bisa seenaknya, Gendis merasa perlu untuk menurut dengan Bram karena saat ini dirinya memang menjadi tanggung jawab Bram. Gendis hanya merasa tahu diri saja.
Bram melirik aneh Gendis. Berbeda dengan cerita Rahayu dan Hastanto yang mengatakan jika putrinya susah diatur. Justru dimata Bram, Gendis cukup penurut saat bersamanya meskipun gadis itu memang sering protes.
“Mas masih lelah,Ndis. Sepuluh menit lagi.” tawar Bram yang masih menikmati rebahannya.
“Mas Bram...” keluh Gendis dengan cemburut. Wajah manjanya itu memang selalu menggelitik hati Bram hingga lelaki itu semakin gemas saat melihat bibir tipis itu mengerucut.
Sejenak tatapan keduanya saling tertaut hingga debaran jantung yang tak biasa pun mulai dirasakan mereka, “maaf, Mas, nggak sengaja.” ujar Bram segera bangkit dan membantu Gendis untuk beranjak.
Diantara suana kamar yang tenang, Gendis dan Bram terlihat sekali salah tingkah. Ini pertama kali wajah gendis mencium dada seorang laki-laki. Wajah putih itu berubah menjadi merah seperti kepiting rebus ketika menahan rasa malu.
“Ayo, kita makan sekarang. Sebentar lagi mas pergi.” ajak Bram kemudian melangkah terlebih dahulu meninggalkan Gendis yang masih mengatur nafasnya. Gadis itu menahan dadanya yang berdebar-debar. Kenapa seperti ini? Padahal saat berboncengan dengan Abiyan dia tidak segugup ini.
Sebelum keluar kamar, gendis sempat melirik jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul dua sore, itu artinya dia tidak bisa beristirahat dengan tenang karena harus menyiapkan makanan untuk tamu yang diundang ibu mertuanya setelah magrib.
__ADS_1
“ Mas akan usahakan sampai di rumah sore. Mas, di kampus hanya mampir sebentar.“ ujar Bram saat Gendis menyiapkan makanan di atas piringnya. Bram memang sengaja memesan makanan agar ibu dan istrinya tidak usah memasak untuk makan siang mereka. Dia pikir perjalanan pasti akan membuat keduanya lelah.
“Sepertinya ibu belum makan, ya?” tanya Bram saat melihat tiga ikan bkar itu masih utuh beserta sambalnya.
“katanya mau makan nasi pecel ditempatnya siapa...gitu, Mas.” jawab Gendis kemudian duduk di kursi yang ada di depan Bram.
“Kamu juga makan sekarang. Jangan nanti-nanti!” titah Bram saat melihat Gendis yang hanya tertegun melihat makanan dengan tatapan hampa.
“Maafkan gendis yang hanya menjadi beban Mas Bram.” sambut Gendis yang tiba- tiba dirinya hanya menjadi beban orang lain. Sekarang hanya untuk makan saja, dia bergantung dengan lelaki yang ada di depannya.
Bram menghentikan kunyahannya dan kemudian memperhatikan gadis yang kini wajahnya terlihat lesu,“ bukan beban. Kamu tanggung jawabnya, Mas.” Bram berusaha menenangkan perasaan Gendis yang masih sensitif. Dia mengerti, perubahan keadaan akan membuat gadis yang sudah terpukul akan kepergian kedua orang tuanya itu menjadi lebih perasa.
“Hanya karena pesan papa? “
“Tidak! Mas bram punya kehidupan pribadi yang tidak bisa diikat hanya karena merasa berhutang budi.” jelas Gendis dengan lirih. Dia tidak ingin orang lain menerima keberadaannya hanya karena terpaksa.
“Berhentilah berbicara yang tidak jelas,Ndis!” sergah Bram merasa kesal, tatapnnya menghujam ke arah Gendis.
“Kamu istriku yang sah. Aku mengucapkan ijab kabul itu dengan sadar. Berhentilah bicara sembarangan saat sedang makan.” tegas bBram dengan rahang yang mengeras . Dia merasa kesal, karena dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Gendis. Satu sisi, dia tidak ingin Gendis semakin merasa tertekan berada diantara dirinya dan keluarganya.
Gendis mengatupkan bibir. Ini pertama kalinya Bram terlihat marah di depannya. Hatinya memang merasa sedih, saat melihat reaksi lelakii yang saat ini menjadi pegangan. Tapi dia tahu diri, jadi dia tidak akan merajuk seperti saat mama dan papanya memarahinya atau menolak permintaannya.
__ADS_1
Sejenak suana terasa hening. Ah... rasanya dia memang menjalani kehidupan yang berbeda. Tapi, inilah kenyataannya. Dirinya harus bisa melaluinya hingga suatu saat dia mengerti bagaimana berjuang dan bertahan.
“Maafkan, Mas, yang sudah meninggikan suara. Mas hanya tidak ingin kamu berfikri seperti itu. Kamu sudah menjadi istri , Mas.” akhirnya Bram melemahkan suara saat melihat wajah manis itu terlihat memerah dan menunduk. Bram mengerti jika Gendis sedang menahan perasaan sedihnya.