Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Terlihat Kecewa


__ADS_3

Gendis merasa tubuhnya kini sangat sesak, seperti berada pada himpitan benda yang besar dan berat.


Dia berusaha mengerjapkan matanya yang terasa lengket. Setelah menemukan kesadaran, Gendis melihat tangan besar itu memeluknya dan kaki panjang Bram menumpangi kakinya hingga dia sulit bergerak.


"Mas-Mas Bram." Gendis memukul- mukul lengan berotot yang masih memeluk tubuhnya. Dia benar-benar tidak bisa bergerak karena pelukan Bram.


"Ada apa, Ndis?"


"Mas, baru saja tertidur." ujar Bram mengubah posisinya menjadi telentang. Lelaki itu memijat pangkal hidungnya untuk berusaha mengembalikan kesadaran.


"Mau kemana?" tanya Bram saat Gendis menurunkan kakinya.


"Aku belum Salat Isya." jawab Gendis. Tapi, gerakannya terhenti saat Bram menahan tangannya.


Lelaki itu kemudian menegakkan tubuhnya, melihat dengan seksama mata bengkak Gendis.


"Kamu habis nangis?" tanya Bram dengan menatap lebih dekat lagi mata istrinya.


"Habis nonton Drakor." ucap Gendis sambil mengangguk.


"Nonton Drakor sampai nangis kejer gitu?" selidik Bram hampir tidak percaya, tapi istrinya itu memang sering mendramatisir drama dari negeri ginseng itu.


Gendis hanya mengangguk lemah, dia merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Bram.


"Astaga, ... hanya karena drama..." Bram merasa itu sesuatu yang berlebihan dan tidak berguna.


"Terserah Mas Bram sajalah." sambut Gendis. Perasaannya sudah berada pada titik terserah.


Dengan matanya yang berat dibuka, Gendis melihat jam di dinding. Pukul sebelas malam, dia pun segera berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudu.


Tapi, baru saja Gendis sampai depan kamar mandi, Bram sudah menghentikan kembali langkahnya. Tubuh mungil itu sudah tenggelam dalam pelukan suaminya.


Debaran jantungnya berdetak keras. Gendis malah dibuat bingung dengan apa yang kini dilakukan Bram. Tapi, terus terang saja dia sangat bahagia, saat pelukan hangat itu diberikan oleh orang yang sudah mengambil hatinya.

__ADS_1


"Mas, kangen, Ndis." lirihnya dengan mencium puncak kepala istrinya.


Gendis terdiam sejenak, apa yang dilakukan Bram membuatnya benar-benar bahagia. Tapi, rasa bahagianya berganti dengan rasa kecewa kala dia membalikkan tubuhnya menghadap tubuh tinggi tegap itu.


Jarak yang begitu tipis membuat Gendis bisa menghidu aroma parfum wanita lain pada tubuh suaminya.


Gendis mengundurkan langkahnya, dia menatap dengan teliti sosok di depannya. Dan ternyata benar, di kemeja abu berbahan jeans yang dikenakan Bram terdapat lipstik merah menyala milik wanita lain.


"Sejak kapan Mas Bram jadi pembual." protes Gendis, dengan menatap kecewa Bram. Kini, lukanya seperti tersiram air garam.


"Maksud kamu apa, Ndis?" Bram masih mengejar, ketika dirinya merasa tidak seperti yang Gendis katakan.


Gendis mengelak dan menepis tangan Bram yang akan menyentuh lengannya. Dia menatap tajam Bram dengan mata berkaca-kaca hingga membuat Bram semakin bingung dengan apa yang mesti dia lakukan.


"Mas, tidak bohong!" lirih Bram menghadang langkah Gendis.


"Apa Mas selalu menganggap diriku bodoh? Hingga Mas perlu membohongiku?" Suara Gendis mulai meninggi, suaranya juga sudah terdengar serak. Tapi, Bram masih belum bisa untuk mengerti apa yang dikatakan istrinya.


"Jangan menyentuhku! Jijik aku disentuh laki-laki yang selesai dengan wanita lain di luar sana." ucap Gendis dengan luapan emosi yang terlihat meninggi, dia juga sudah tidak bisa membendung emosinya.


Deg, seketika kalimat Gendis membuatnya merasa bingung dan merasa bersalah. Dari mana Gendis tahu tentang semuanya dan lintasan-lintasan cumbuan panas yang hampir keblabasan itu kembali terlintas.


"Sudah aku katakan, Mas. Lebih baik kita berpisah!" suara Gendis mulai melemah. Dia sudah lelah jika melewatkan hal seperti ini terus menerus.


"Kita tidak akan berpisah! Sampai kapanpun kita tidak akan berpisah." tegas Bram dengan rasa marah dan kecewa. Di saat dia ingin memperbaiki semuanya justru Gendis yang sudah tidak tahan untuk hidup bersamanya.


"Apa maumu, Mas?" pekik Gendis disusul tangisnya yang keras memenuhi ruangan kamar.


"Apa salah jika Mas ingin menjaga pernikahan kita?" tanya Bram dengan lirih. Pikirannya semakin bingung karena Gendis seperti tahu kesalahan yang baru saja dia lakukan dengan Seruni.


Gendis hanya menangis dengan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia sudah tidak mampu mengatakan apapun pada lelaki yang kini memeluknya.


"Kita tidak akan pernah berpisah. Meskipun kamu berusaha keras untuk berpisah. Mas juga akan sekuat tenaga mempertahankan kamu." tegas Bram.

__ADS_1


Sebenarnya saat melihat Gendis menangis sejadi-jadinya hatinya merasa ngilu. Tapi, dia benar-benar tidak bisa jika harus berpisah dengan Gendis.


"Aku benci kamu, Mas. Benci!" ucap Gendis dengan suara tersengal. Tapi, Bram masih menenggelamkannya dalam pelukan, seperti apa yang baru saja dia katakan. Dia tidak akan melepaskan gadis mungil itu.


"Lepaskan, aku!" Gendis mulai meronta tapi sekuat tenaga Bram mendekapnya.


"Lepas! Aku muak menghirup parfum wanita lain." ujar Gendis yang terus berusaha memberontak.


Pelukan Bram melemah dengan kedua tangannya mengendur pada tubuh mungil di depannya. Dia juga baru menyadari jika parfum Seruni masih melekat pada tubuhnya. Dia juga melihat warna merah menempel pada kemeja yang dia kenakan.


"Bukan-bukan seperti yang kamu pikirkan." ucap Bram berusaha membuat Gendis tidak berfikir jauh meski kenyataannya apa yang dilakukan olehnya dan Seruni memang sudah terbilang cukup jauh.


"Mas memang salah, tapi Mas tidak sampai sejauh itu. Kami tidak sampai melakukan...."


"Berhenti mengatakan apapun itu! Aku sudah tidak peduli." kalimat Gendis terucap sebelum dia meninggalkan Bram di kamar mandi.


Membayangkan tubuh Bram bersentuhan dengan tubuh gadis lain membuat Gendis menangis meraung di dalam kamar mandi. Perasaan jijik saat menatap Bram, membuat Gendis enggan untuk keluar dari kamar mandi tapi dia belum Salat Isya.


Setelah meredakan tangisnya dan siap untuk menghadap Tuhannya, Gendis pun keluar dengan wajah yang sembab.


Dia tidak peduli, meskipun Bram menatap setiap geriknya. Bram, memang sengaja duduk dan menungguinya. Dia tidak akan membiarkan pikiran Gendis terlalu jauh dalam berprasangka.


Gendis tidak peduli dengan Bram yang terus menatapnya. Kenapa disaat dia ingin memperbaiki semuanya justru ada saja yang memperburuk hubungannya dengan Gendis. Itulah yang kini mempengaruhi Bram.


Terlihat Gendis mengangkat kedua tangannya. Entah, apa yang dimintanya pada Tuhan, tapi yang pasti air matanya terus saja mengucur deras seolah tidak ada habisnya.


Bram POV


Hatiku merasa ngilu melihatnya menangis seperti itu. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Aku hanya berharap dia tidak berfikir terlalu jauh. Meskipun aku hampir saja melakukannya.


Aku bisa melihat rasa kecewa itu di matanya. Mungkinkah Gendis cemburu? Atau aku yang berlebihan menganggap dia punya rasa cemburu?


Setelah keributan barusan dia mendiamkan aku, bahkan sikapnya begitu cuek denganku. Seperti apa yang dia katakan, dia seperti jijik denganku

__ADS_1


__ADS_2