Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Ambang Batas


__ADS_3

Gendis berjalan terus hingga dia menemukan seorang tukang becak yang tengah mangkal di sebuah pertigaan.


Diletakkannya barang itu di bawah, sementara satu tangannya mengusap peluh di kening. Membawa belanjaan yang lumayan berat dan berjalan hingga hampir satu kilometer, membuat tubuh mungil itu berkeringat.


"Mau kemana, Mbak?" tanya tukang becak menyambut kedatangan Gendis.


"Ini ada sedikit rezeki, Pak. Jika Bapak berkenan untuk menerimanya, saya sangat senang." ucap Gendis dengan menyerahkan tas yang berisi belanjaan isi dapur.


"Serius ini, Mbak?" ulang pengayuh becak itu hampir tidak percaya. Lelaki berkulit hitam dan kusam itu menatap Gendis penuh selidik.


"Iya, Pak." jawab Gendis.


"Waaahhh, terima kasih banyak, Mbak." ucap Bapak itu yang hanya di balas senyuman oleh Gendis.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." Gendis langsung berjalan kembali ke apartemen.


"Mbak saya antar, ya!" teriak Bapak itu hingga Gendis menoleh.


"Terima kasih, saya jalan saja!" jawab Gendis sambil tersenyum membalas wajah senang lelaki paruh baya itu.


Zayn yang mengintipnya tidak jauh dari posisi Gendis saat ini, berusaha menenggelamkan tubuhnya di antara pagar tembok dan pohon, hingga Gendis tidak bisa melihat keberadaannya.


Hatinya semakin mengagumi sosok gadis bertubuh mungil yang kini semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya. Lelaki itu pun mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Areta agar menjemput dengan mobilnya.


Peluh membasahi tubuh Gendis, bahkan sebagian anak rambutnya pun terlihat lembab. Sejenak dia menghentikan langkahnya di loby apartemen karena kakinya yang terasa lelah.


Suasana memang sudah terlihat petang, Adzan magrib pun terdengar samar-samar. Kali ini, dia harus memaksa berjalan lagi untuk secepatnya sampai di apartemen.


"Ndis!" suara itu mengagetkan Gendis di saat tenaganya sudah mulai terkuras.


"Mas Bram. Aku kaget!" ucap Gendis terlonjak kaget ketika sebuah tangan memegang lengannya.


Bram melihat Gendis yang tengah mengatur nafasnya yang tersengal. Lelaki dengan rasa penasaran itu terus menatap istrinya yang sudah basah dengan peluh keringat.


"Kamu, kenapa?"

__ADS_1


"Katanya tadi belanja?" ujar Bram penuh selidik.


"Aku baru pulang, mas. Kita ke atas dulu saja." jawab Gendis kemudian berjalan menuju lift. Bram yang masih merasa heran itu hanya mengangguk dengan masih memperhatikan istrinya.


Mereka memasuki apartemen bersama. Gendis langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, sementara Bram masih mengamatinya dengan seksama.


"Kakiku pegal sekali!" gumam Gendis menaikkan sedikit rok dan memijat betisnya yang terasa pegal. Dia tidak menyadari jika Bram sudah menatapnya sejak tadi.


Bram mendekat ke arah Gendis, kemudian mendudukkan bobotnya pada sofa yang sama, tepatnya di sebelah Gendis.


"Mas pijitin?" tanya Bram dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat Gendis ketakutan seperti kemarin.


Gendis menghentikan gerakan tangannya, dia menatap Bram dengan seksama. Mata itu jelas terlihat beda dengan yang dulu, saat lelaki itu dikuasai emosi dan nafsu.


Bram kini menatap Gendis penuh dengan kelembutan, seolah dia ingin menjadi tempat bersandar dan keluh kesah istrinya.


"Mas janji nggak akan kasar lagi." bujuk Bram meyakinkan Gendis. Dia berusaha keras menghilangkan kecemasan Gendis terhadap dirinya.


Dengan ragu, Gendis mengangguk. Dia tidak ingin Bram tersinggung dengan penolakannya yang terkesan memberi jarak. Seperti dulu, pemberontakannya membuat Bram murka dan justru menyakitinya.


"Tadi, aku ngasih sedekah sama Bapak tukang becak." ujar Gendis. Dia bisa menikmati tangan besar itu memijit lembut hingga membuat kakinya merasa nyaman.


"Kenapa nggak menunggu, Mas. Atau naik taxi." lanjut Bram.


"Ehmmm... nanggung naik taxi. Aku juga gk ada rencana jika akan berbagi, Mas." Gendis masih merahasiakan apa yang sudah terjadi. Dia tidak ingin Bram salah paham jika mengetahui cerita yang sebenarnya.


"Aku akan membuat minuman dingin. Rasanya haus banget." Gendis langsung menurunkan kakinya dan berjalan ke dapur menghampiri keberadaan freezer.


Bram yang sempat tertegun itu pun akhirnya mengikuti Gendis. Lelaki itu mendekat, saat istrinya mengambil sekaleng soft drink dan menumpahkan pada gelas yang sudah berisikan es batu.


"Mas juga mau, Ndis." ujar Bram yang tak kalah haus.


"Tolong gelasnya, Mas!" pinta Gendis pada Bram karena letak gelas ada di dekat Bram berdiri.


Bram mengambil satu gelas dan diberikan pada Gendis. Lelaki itu mendekat dan mengikis jarak pada gadis yang mampu menghipnotisnya. Entah kenapa saat bersama Gendis dia seperti ingin mendekat saja pada gadis itu.

__ADS_1


"Mas Bram..." keluh Gendis. Gadis itu menatap protes Bram karena tubuh tinggi besarnya menghalangi gerakannya.


"Baiklah. Mas, tunggu di depan tv, nya." pamit Bram. Lelaki yang masing ingin berada di dekat Gendis itu memilih pergi, sebelum dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Bram melangkah menuju sofa panjang itu. Jiwanya seolah sulit dimengerti oleh akal sehat. Entah kenapa saat berada di dekat Gendis, dia seolah begitu sulit mengontrol perasaannya.


"Mas, Ini buat Mas Bram." Sesaat kemudian Gendis sudah menyerahkan segelas soft drink pada Bram.


Bram hanya menerima gelas itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sebenarnya, banyak sekali pertanyaan yang ada di otaknya tapi dia begitu sulit untuk mengucapkannya.


"Ndis..." panggil Bram saat Gendis akan kembali ke belakang.


"Apa kamu membenci, Mas, setelah banyak perlakukan buruk,Mas, padamu?" tanya Bram membuat Gendis menoleh setelah beberapa detik terdiam.


"Tidak ada alasan untukku membenci Mas Bram." jawab Gendis membuat Bram kembali bungkam. Bukan jawaban seperti itu yang ingin didengar Bram.


"Apa kamu masih ingin berpisah?" lanjut Bram.


Pertanyaan Bram kali ini seperti menyentakkan perasaan Gendis. Ada rasa sedih yang tiba-tiba meluap menguasai hatinya.


"Jika Mas bersedia, sebaiknya kita secepatnya berpisah." Rasanya berat bagi Gendis mengatakan semua itu. Tapi, sekuat tenaga dirinya harus menerima kenyataan, jika bukan dirinya yang diharapkan Bram.


"Aku akan mandi dan bersiap untuk Salat Magrib, Mas." pamit Gendis, dia segera melangkah pergi agar Bram tidak bisa melihat matanya yang mulai mengembun.


Meskipun sudah mengetahui kenyataan ini, tapi rasanya masih sangat menyakitkan untuk Gendis, yaitu mencintai lelaki yang sudah melabuhkan cintanya pada gadis lain.


Gendis menangis di belakang pintu kamar mandi. Tidak ada lagi yang bisa mendengar tangisan pilu gadis yang kini bersandar di balik daun pintu.


"Ini rasanya masih sangat menyakitkan!" gumam bibir mungil itu hampir tak terdengar.


Siap tidak siap, dirinya harus mengahadapi kenyataan jika pernikahannya sudah diambang batas.


Sementara Bram masih tertegun dengan semua jawaban Gendis. Entah kenapa, hati kecilnya tidak terima dengan jawaban yang dilontarkan oleh Gendis.


Bahkan, kesiapan Gendis untuk berpisah darinya, seolah tidak bisa lagi membuat Bram tenang.

__ADS_1


Ada ruang di hatinya yang terasa nyeri di hatinya. Rasa yang belum pernah dia rasakan dari seseorang sebelumnya.


__ADS_2