Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Tentang Rasa


__ADS_3

Bram menunggu Alya keluar dari kamar. Lelaki itu kemudian menyalakan televisi untuk sedikit memberikan intermezo pada hidupnya yang sedang kacau.


Tapi, tetap saja ada yang membuat dirinya merasa lelah, yaitu memikirkan masalahnya dengan Gendis yang seperti terus mengalir.


"Om Bram, mana hadiah buat Alya?" Alya menagih apa yang sudah dijanjikan Bram. Gadis kecil itu sudah berdiri di dekat Bram dengan menengadahkan tangan.


"Emang tadi Mbak Gendis makannya sampai habis?" tanya Bram begitu penasaran.


" Habis." jawab Alya sambil mengangguk.


"Katanya enak! Mbak Gendis juga bilang Alya Keren." lanjut Alya ingin juga memerkan predikat yang diberikan oleh Gendis pada Bram.


"Baiklah, Om Bram percaya! " jawab Bram kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil satu bungkus sate untuk Alya.


"Ini hadiah buat Alya!" ujar Bram.


"Ini namanya tukar makanan, Om. Bukan hadiah." jawab Alya dengan muka kecewa.


"Terus, maunya Alya apa? " Bram yang tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil akhirnya bertanya.


"Biasanya Mbak Gendis punya coklat atau ice cream. " jelas Alya dengan menggoyang-goyangkan kecil tubuhnya yang sedikit tambun.


Mendengar celotehan Alya, Bram pun memeriksa kulkas, mencari dua benda yang disebutkan gadis kecil itu.


Di frezer memang ada satu kotak ice cream dan beberapa coklat serta susu di bagian pintu lemari pendingin.


Bram, mengambil semuanya dan meletakkannya di meja makan agar Alya memilih sendiri mana yang dia mau.


"Alya, sudah di cari Mama." ucap gendis dengan menuruni anak tangga.


Mama Alya sempat mengirim pesan pada Gendis, agar menyuruh putrinya untuk segera pulang karena hampir pukul sembilan malam.


"Iya, Mbak Gendis, sebentar! " ucap Alya sambil menunggu Bram.


Sementara Bram memasukan semua makanan yang dikeluarkan dari lemari pendingin itu ke dalam kantong plastik untuk di bawa Alya.

__ADS_1


"Ayo Al, Om Bram antar! " ucap Bram dengan menoleh ke arah Gendis, meski akhirnya Gendis melengos, memalingkan wajahnya.


"Aku berani sendiri, Om. Papa, kan, ada di teras depan" jawab Alya berusaha meyakinkan dua orang dewasa.


"Nggak! Ayo, Om anterin! " desak Bram sambil menoleh ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Meskipun hanya menyebrang saja dan ditunggui papanya di teras, tapi Bram tidak tega membiarkan gadis kecil itu pulang sendiri.


"Alya, nurut ya! " bujuk Gendis lagi.


Jika sudah gendis yang turun tangan, bocah itu pasti seperti kerbau di cucuk hidungnya.


Alya pulang bersama dengan Bram. Sementara, Gendis memilih mengambil air minum dan buah yang akan dibawanya ke kamar. Dia benar-benar malas jika harus bersinggungan dengan Bram.


###


Sudah beberapa hari suasana rumah menjadi sepi, tidak ada teriakan seorang istri pada suami agar segera turun untuk sarapan. Rumah yang didesaign dengan kesan humble itu berubah menjadi senyap.


Bram terlihat menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Terlihat nasi sayur lodeh dan telur balodo di atas meja.


Pagi ini nampak berbeda, terlihat sup merah tersaji di meja makan. Itu artinya pagi ini Gendis sudah mau memasak.


"Kita sarapan bersama." ucap Bram dengan kaku. Sebenarnya, dia memang sudah kangen masakan istrinya dan sarapan bersama.


"Aku belum lapar! " ucap Gendis kemudian berlalu menuju halaman belakang. Di mana di sana sudah ada secangkir teh dan biskuit di teras.


Bram mendesah kesal, kemudian menatap wanita bertubuh mungil itu hingga bayangannya pun tak terlihat lagi. Lelaki yang sudah merasa kesal dengan keadaan itu kembali menatap makanan dan piring yang sudah disiapkan di meja makan. Biar bagaimanapun, istrinya selalu menyiapkan keperluannya.


"Mas, berangkat!" pamit Bram. Setelah menghampiri Gendis yang ada di teras belakang.


Seperti biasa Gendis hanya menoleh dan mengangguk. Dia nampak ragu ingin memanggil Bram. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah.


"Mas Bram." panggil Gendis membuat Bram langsung menoleh.


"Aku nanti akan pergi belanja." lanjut Gendis. Dia pasti akan merasa bersalah jika pergi tanpa berpamitan dengan suaminya.

__ADS_1


"Nanti Mas anterin, sekalian kita periksa kesehatanmu." ujar Bram sambil menatap penuh selidik. Dia masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan kesehatan Gendis.


"Tidak jadi, aku di rumah saja! " lirih Gendis kemudian kembali duduk seperti semula.


Tapi, Bram justru berjalan mendekati istrinya. Lelaki yang mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kampus lebih awal itu memilih untuk berbicara dengan istrinya.


Dengan berjongkok dengan mensejajarkan tubuhnya di depan Gendis yang sedang duduk, Bram menatap dua mata indah yang kini menundukkan pandangannya.


"Kita memang harus bicara, Ndis." ucap Bram mengawali tapi tak ada jawaban dari Gendis.


"Tentang masalah kita. Sebenarnya, apa yang membuat kamu sebegitu bencinya sama Seruni? " ujar Bram dengan lembut. Tatapannya juga terlihat sayu memandang wajah yang kini terlihat sedikit pucat.


Gendis terdiam, jika ditanya seperti ini dia memang tak punya jawaban yang tepat kecuali cemburu. Rentetan peristiwa mengalir begitu saja hingga tiba-tiba dia merasa tidak suka dengan gadis itu.


"Jawab, Ndis. Masalah kita tidak selesai hanya dengan diam saja. " desak Bram.


"Istri mana yang senang saat suaminya begitu dekat dengan mantan kekasihnya? "


"Nggak tahu juga mantan atau memang belum bisa move on." ujar Gendis dengan mengalihkan tatapannya dari Bram.


"Astaga Gendis, aku dan Seruni murni teman. diantara kita sudah tidak ada hubungan sepesial." jelas Bram. Gendis tidak ingin mendesak Bram lebih, dia memilih terdiam dengan rasa yang masih mengganjal.


"Mas tidak berselingkuh. Setelah Mas memutuskan fokus pada istri dan keluarga, Mas tidak pernah bertemu dengan Seruni di luar urusan kerjaan dan dia butuh bantuan." jelas Bram.


"Jika Mas niat selingkuh, sudah pasti kita akan menghabiskan waktu berdua di tempat yang intens." lanjut Bram.


"Tapi, cara Mas Bram memperlakukan dan memuji wanita itu, aku tahu Mas Bram masih mencintainya." sergah Gendis.Pelupuk matanya kembalj dipenuhi dengan air.


Bram terdiam, dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semua itu pada Gendis. Tentang sebuah rasa yang sudah terpupuk lama bersama Seruni dan rasa sepesial yang baru saja Bram rasa untuknya.


"Mas hanya ingin kamu mengerti saja. Kita masih harus berproses untuk bisa saling memiliki, mengisi dan setia." ujar Bram.


"Yang pastinya, Mas tidak selingkuh dengan Seruni. Bahkan, Mas tidak pernah menyembunyikan pertemuan atau hubunganku dengan Seruni darimu."


"Mas ingin kamu lebih dewasa dan mengerti, jika tidak semua hubungan harus berakhir buruk. " Bram menjelaskan banyak hal agar Gendis bisa memahami maksudnya.

__ADS_1


Meskipun yang di katakan Bram memang tidaklah salah. Tapi, entah kenapa ada yang mengganjal dalam hati Gendis tentang sosok Seruni.


__ADS_2