
"Kita packing yang penting dulu, Ndis." ujar Bram ketika mereka berdua sedang memasukkan beberapa barang untuk dikemas.
"Ini apa? Kayak gini saja di simpan." Gendis mendorong sebuah kotak yang berisi lembaran- lembaran foto Bram jaman dulu bersama teman-temannya dan Seruni.
"Cuma foto, Sayang. Jangan cemburu, dong!" goda Bram membuat Gendis mencebikkan bibirnya menunjukkan rasa cemeh.
"Nggak ada yang cemburu!" lanjut Gendis.
"Mas, simpan ya?" tanya Bram sambil melirik Gendis. Bagaimana pun itu adalah cerita masa mudanya.
"Simpan saja!" lirih Gendis sambil terus sibuk mengemas barang-barang.
"Sayang, Mas, menyimpannya bukan karena bersama Seruni. Tapi, karena kegiatan- kegiatan yang pernah Mas lalui." jelas Bram saat mendekat ke arah Gendis.
"Ah, akhirnya selesai! Sekarang giliran Mas Bram membawanya ke mobil." seru Gendis dengan mengusap peluh di keningnya.
"Ayo, Mas! Masih ada banyak pekerjaan yang menunggu." lanjut Gendis kemudian menyingkir dari depan lemari dan buku Bram.
Sebagian barang-barang mereka memang sudah berada di rumah baru. Besok adalah acara pindahan mereka, bahkan Bu Harun pun akan menginap di rumah baru putranya.
Gendis merebahkan tubuhnya di sofa, dari padi sampai siang dia belum istirahat sama sekali. Tatapannya kini menerawang, mengingat kembali beberapa barang milik Bram. Dia merasa tak semudah itu seseorang menyelesaikan perasaan yang sudah bertahun-tahun.
"Sementara aku hanya orang baru yang dipaksa masuk dalam kehidupan Mas Bram. Tapi, menyelesaikan sebuah pernikahan juga tak semudah seperti menyelesaikan hubungan tanpa andil Tuhan." Gendis bermonolog dengan perasaannya sendiri.
Perasaan cintanya seolah menuntutnya untuk bisa memiliki Bram sepenuhnya. Tapi, pikirannya masih diombang-ambing dalam keraguan.
"Ndis..." panggil Bram pelan, saat melihat Gendis rebahan di sofa. Dia tahu istrinya pasti sangat lelah. Langkahnya berlahan mendekat, hingga membuat Gendis menoleh.
"Mas bawa siomay, pasti kamu juga lapar." ucap Bram membuat Gendis bangkit, gadis itu menatap tentangan plastik yang kini diletakan Bram di atas meja.
"Sudah lama aku tidak makan siomay." ujar Gendis bersemangat membuat Bram tersenyum tipis.
Ini pertama kalinya mereka makan di dalam kamar, sesekali Gendis melirik Bram. Dia menyadari, sekeras apapun karakter lelaki yang kini jadi suaminya, Bram memang bisa dikatakan tipe orang yang penuh dengan pengertian.
"Aku lihat hanya buku tentang politik dan tata negara, kenapa Mas Bram nggak terjun dalam bidang itu?" tanya Gendis sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Nggak berniat, aku ingin hidup tenang bersama keluargaku." jawab Bram. Gendis hanya mengangguk.
"Besok kamu mau ambil jurusan apa?" Bram balik bertanya.
"Hukum? Seperti Pak Hastanto?" lanjut Bram saat Gendis tidak menjawab.
"Nggak tahu. Tata Boga kali, biar Mas Bram jadi Gendut." jawab Gendis. Keduanya tertawa terbahak. Jawaban konyol yang terlontar dari istrinya membuat Bram hampir tersedak. Itulah Gendis, sedikit konyol, pendiam jika ngambek, manja, dan pembangkang.
"Aku kan menghindar Matematika." lanjut Gendis.
"Kayaknya matematika dasar tetap ada deh, Ndis." sahut Bram membuat Gendis mengerucutkan bibirnya.
Obralan ringan diantara mereka tidak terasa sudah merencanakan kehidupan selanjutnya. Bram hanya berpesan dia tidak ingin Gendis bekerja, dia hanya ingin istrinya fokus dengan anak-anak mereka.
###
Di sebuah jalan raya yang cukup terik Ambar merasa hidupnya dijungkir balikkan oleh big bosnya.
"Ah, kenapa dia begitu sensitif!" gumam Ambar saat berhenti dilampu merah. Gadis itu kini bertugas mengantarkan makan siang untuk Zayn. Padahal, sebentar lagi dia harus ke kampus dan nggak boleh telat.
Sejak bekerja part time, Ambar memang berhenti mengikuti kegiatan kampus. Masalah finansial dalam keluarganya membuat gadis itu mati-matian meringankan beban papanya.
Ambar membelokkan motornya di area jejeran mobil yang ada di parkir depan. Dia pikir hanya sebentar saja karena terlalu ribet jika motornya di parkir di belakang sesuai aturan yang sudah di tulis di papan.
"Mbak- Mbak, motornya di taruh di belakang saja!" ujar security mengejar Ambar yang akan masuk ke dalam gedung bertingkat.
"Sebentar! Please cuma sebentar saja!" jawab Ambar masih melanjutkan langkahnya yang tergesa.
"Nggak bisa begitu, Mbak." kejar security hingga Ambar melewati pintu utama yang terbuka otomatis.
Gadis itu tidak peduli, dia menghampiri meja dimana seorang perempuan dengan baju kerja duduk di sana.
"Mbak, ruangan Pak Zayn di lantai berapa?" tanya Ambar terlihat grasak grusuk.
"Ada perlu apa? Sudah membuat janji?" lanjut Perempuan itu.
__ADS_1
"Saya membawa pesanan makan siang untuk Pak Zayn." lanjut Ambar sambil menoleh disekitar.
"Mbak motornya di pindah ke belakang dulu!" ucap security tadi yang kini sudah berada di samping Ambar.
"Mbak, bisa meninggalkan makan siang Pak Zayn, biar saya akan menelpon asisten Pak Zayn untuk mengambilnya." sela karyawan perempuan itu.
"Astagfirullah kenapa semua jadi mempersulitku sih?" gumam Ambar sedikit kesal. Dia juga bolak Alok melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ambar takut sekali terlambat masuk kelas, karena dosennya kali ini benar-benar killer.
Zayn yang baru saja keluar dari lift pun melihat keributan kecil di loby kantornya. Gadis berjilbab ungu langsung membuatnya mengenali siapa yang datang.
Langkah panjangnya menghampiri tiga orang yang kini terlibat perdebatan.
"Ada apa ini?" tanyanya terdengar dingin hingga membuat ketiganya terdiam seketika.
"Saya bawa makan siangnya Pak Zayn." cetus Ambar, dengan menunjukkan paperbag yang ada ditangannya.
"Ikut aku!" lanjut Zayn yang diikuti Ambar.
Gadis yang mengenakan blus bermotif floral yang dipadu rok panjang senada dengan warna jilbabnya itu ikut masuk ke dalam lift. Lift khusus untuk Zayn dan asistennya.
"Nggak usah lirak-lirik! Dia hanya karyawan resto." tegur Zayn saat melihat Raka mencuri pandang ke arah Ambar.
Ambar memang cantik, wajah kalemnya memang membuat siapapun akan terpesona. Kecuali lelaki yang sudah jatuh cinta dengan istri orang itu.
"Maaf, Pak." jawab Raka dengan salah tingkah, dia tidak menyangka jika bosnya yang terlihat menatap lurus di depan memperhatikannya.
Lift terbuka mereka bertiga berjalan menuju ruangan orang nomer satu di gedung kantor ini.
"Siapkan makan siangnya di meja sana!" tunjuk Zayn di meja dengan sofa mewah yang ada di dekat jendela.
"Tapi saya kan tugasnya mengantar makan siang bukan melayani Pak Zayn makan siang." protes Ambar yang merasa Zayn sangat berlebih.
Zayn yang baru saja melepas jasnya pun menyapa tajam ke arah gadis berwajah bulat itu. Jawaban Ambar membuatnya merasa dibantah oleh karyawannya.
"Jika masih ingin bekerja lakukan saja. Kecuali kamu setuju untuk resign." ancam Zayn, membuat Ambar kesal. Jika saja dia bisa menemukan pekerjaan yang jauh lebih baik dari resto milik bos tengik itu, dia akan memilih untuk resign.
__ADS_1
Tapi, hanya resto "DeJaVu' itu saja yang bisa memberi gaji lumayan dan kelonggaran waktu agar dirinya bisa ikut kuliah seperti biasanya.
Ambar pun menyiapkan makan siang Zayn sebelum dia berpamitan pulang. Tapi, tugasnya tidak selesai hari ini, harus melakukannya sebulan penuh untuk menebus mulutnya yang tidak bisa di kondisikan.