
Pagi ini, Gendis diburu waktu. Padahal dia sudah berusaha bangun sepagi mungkin, agar tidak grasak- grusuk menyiapkan semuanya. Hari ini pukul setengah delapan pagi, dia ada tes masuk perguruan tinggi negeri.
"Mas, ini bajunya Mas Bram. Aku akan ke bawah menyiapkan bekal sarapan untuk Mas Bram." ucap Gendis terlihat sedikit cemas. Pagi ini tidak ada sarapan bersama seperti biasa.
"Sayang, nggak usah buru-buru! Mas yakin kamu nggak akan telat." teriak Bram saat melihat langkah kilat istrinya meninggalkan kamar.
Bram mengenakan kemeja kerja yang baru saja dibelikan Gendis kemarin. Kemeja berwarna biru muda membuatnya terlihat berbeda.9 Lelaki yang biasa mengenakan warna gelap itu pun segera mengenakan kemejanya saat mendengar teriakan istrinya untuk segera turun.
"Astaga, Ndis-Gendis. Baru masuk tes saja sudah sepanik itu." gumam Bram yang ikut tergesa. Dengan menyambar ponsel dan kunci mobil, Bram langsung turun ke bawah.
"Sayang, nggak masalah telat sedikit. lagian kemarin kita sudah lihat ruanganmu jadi tidak usah sepanik itu." ujar Bram yang berjalan menghampiri istrinya yang kini memasukkan kotak bekal untuk Bram dalam sebuah paperbag.
"Mas nanti anterin sampai ruangan ya! Aku nggak ada teman jadi kurang percaya diri." pinta Gendis yang sudah bersiap berangkat.
"Iya nanti, Mas antar sampai di depan ruangannya." jawab Bram dengan meminum kopinya dengan segala tegukan.
Mereka berangkat bersama. Bram sengaja berangkat pagi untuk mengantar Gendis terlebih dahulu.
"Nggak usah setegang itu, lagian nggak masuk perguruan tinggi negeri juga nggak masalah!" ujar Bram yang sejak tadi melirik wajah istrinya yang menegang.
Gendis hanya menghela nafas lemah. Kemudian mencebikkan bibir ranumnya hingga membuat Bram tersenyum gemas membalasnya.
Mobil memasuki gerbang di mana sudah ada banyak orang yang berlalu lalang. Bahkan, banyak mobil terparkir tak beraturan di sepanjang ada tempat sela karena banyaknya pendatang dari luar kota yang mengantar putra putri mereka untuk ikut ujian masuk universitas negeri.
Gendis dan Bram keluar dari mobilnya. Keduanya berjalan menuju gedung di mana nomer urut ujian yang menjadi identitas Gendis berada.
"Mas, aku minder!" bisik Gendis dengan memegang lengan kokoh lelaki yang kini berjalan di sampingnya dengan penuh percaya diri
"Santai saja, Sayang." balas Bram berusaha menenangkan Gendis. Lelaki itu berganti menggandeng tangan kecil istrinya menuju ruangan yang ada di paling ujung lantai dua.
Bram memang sangat istimewa. Apa yang telah diucapkan mampu meyakinkan dan memberi energi positif yang wanita yang kini berjalan bersamanya.
"Pak Bram." sapa seorang lelaki yang sedang berpapasan dengan keduanya.
"Apa kabar?" tanya Bram meskipun tersenyum tipis tapi nada suara Bram terdengar begitu datar.
__ADS_1
"Baik." jawab lelaki yang terlihat seumuran dengan Bram.
"Ada kepentingan apa Pak Bram sampai di sini?" lanjut Rama yang masuk dalam jajaran penyelenggara ujian masuk perguruan tinggi negeri.
"Nganter istri ikut ujian." jawab Bram membuat lelaki di depannya itu tidak yakin, dia kembali memperhatikan Gendis yang masih memeluk lengan kekar Bram.
"Serius? Berarti tidak jadi dengan yang dulu? " Pertanyaan yang dilontarkan lelaki yang masih membawa beberapa berkas itu membuat Gendis seketika bad mood.
Meskipun sudah bukan hal baru lagi bersinggungan dengan cerita masa lalu suaminya. Tapi, tetap saja dia tidak senang mendengar suaminya yang masih dihubungkan dengan Seruni.
"Mungkin bukan jodoh, Pak. Oh ya, saya akan keruangan sana dulu!" ujar Bram sambil menunjukkan ruangan yang menjadi tempat Gendis melakukan ujian.
Lelaki yang menjadi pusat perhatian orang- orang di sekelilingnya itu pun mencoba menghindari pembahasan tentang dirinya dan Seruni. Dia tidak ingin Gendis kembali merajuk karena cerita masa lalunya itu.
"Sayang, Mas, tinggal ya! Nanti kalau pulang pesan taxi saja." ujar Bram setelah terdengar suara bel masuk berbunyi.
"Hari ini jadwal Mas sangat padat." lanjut Bram.
"Iya, Mas." jawab Gendis kemudian mencium tangan suaminya saat akan masuk ke dalam ruangan.
Seruni kini berjalan dengan cepat menghampiri Bram sebelum lelaki yang selalu dia kagumi itu masuk ke dalam mobil.
"Mas Bram." panggil Seruni membuat Bram menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Seruni.
"Kamu juga di sini?" tanya Bram dengan memainkan kunci mobilnya.
"Ada sedikit urusan, Mas." ujar Seruni.
"Oh ya, tahun ajaran ini aku juga akan mengajar di kampusnya Mas Bram. Cuma,baku mengajar di fakultas Teknik industri." Seruni bercerita pada Bram dengan senang.
Gadis itu masih sama, tidak ada yang berubah dalam diri Seruni meskipun hubungan mereka tidak lagi sama seperti dulu. Itulah yang membuat Bram tenang mengenai hubungannya dengan Seruni.
"Wah Selamat, Run." ucap Bram dengan mengulurkan tangan pada Seruni.
"Hanya dosen terbang, bukan dosen tetap seperti Mas Bram." lanjut Seruni.
__ADS_1
"Sama saja! Fakultas teknik industri sedikit jauh dari tempat fakultas teknik mesin." lanjut Bram.
Diantara obrolan mereka yang terlihat asyik. Sesekali, Bram melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi, dia sudah ada kelas.
"Run, Mas, tinggal dulu ya! Pagi ini Mas ada kelas." pamit Bram.
"Silahkan, Mas." jawab Seruni dengan tersenyum melihat kepergian Bram.
Gadis itu memandang mobil Bram yang berlahan menghilang dari tatapannya." Takdir selalu mempertemukan kita, Mas! Aku harap suatu saat kita akan kembali bersama." ujar gadis yang tak bisa move on dari seorang Bramasta Dewangga.
Pukul setengah satu siang Gendis selesai melakukan ujian di hari pertamanya. Entah apapun hasilnya dia sudah pasrah, terpenting baginya dia sudah berusaha belajar dengan maksimal. Meskipun, sesekali Bram mengganggunya.
Suara perutnya sudah menagih. Bekal yang dia bawa malah tertinggal di mobil Bram. Gadis yang kini mengapit Tote bag berbahan kain itu pun melangkah cepat menuruni tangga.
"Gendis, tunggu!" panggil Nita, gadis yang sempat berkenalan dengan Gendis saat di dalam ruangan.
Gendis pun menghentikan langkahnya. Dia menunggu gadis berkaca mata tebal yang berlari kecil ke arahnya.
"Kamu mau pulang?" tanya Nita ketika keduanya melangkah bersama.
"Iya, tapi perutku lapar banget." jawab Gendis.
"Tapi kamu bisa mengerjakan semua?" lanjut Nita dengan menatap wajah manis yang di sebelahnya.
"Bisa sih. Tapi, nggak yakin jawabanku benar." lanjut Gendis. Sambil mengobrol mereka telah sampai di lantai dasar.
"Nit, beli jajan dulu yuk!" ujak Gendis saat melihat tukang siomay mangkal di depan area kampus.
"Ayuk. Kamu nanti pulang dijemput?" tanya Nita. Pagi tadi gadis itu sempat melihat Gendis di antar seorang lelaki.
"Aku mau naik taxi saja." sahut Gendis kemudian mereka berjalan menghampiri tukang siomay. Memesan dua porsi dan kemudian duduk di bangku panjang di sebelah gerobak tukang siomay.
"Tadi yang nganterin kamu kakakmu ya?" tebak Nita. Karena gadis itu merasa ada kemiripan diantar Gendis dan Bram.
Gendis tersenyum, tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan teman barunya. Rasanya dia merasa aneh saja, jika harus mengatakan jika diumurnya yang segini sudah menikah dan lelaki yang mengantarnya tadi pagi adalah suaminya.
__ADS_1