
“ Ndis, kamu tidak sarapan?” tanya Bram saat melihat Gendis tengah sibuk dengan ponselnya. Setelah menyiapkan piring untuk Bram, Gendis memilih untuk duduk di sofa yang ada di dekat meja makan.
“Nanti saja, Mas.” jawab Gendis dengan singkat kemudian membalas pesan dari Nita teman yang dia dapat saat ujian masuk perguruan tinggi.
Bram terdiam, dia menatap istrinya dengan sorot mata kecewa. Bram tidak punya alasan untuk bicara menuntut setelah dia berbuat kasar pada Gendis. Dia tahu jika gendis masih marah padanya.
“ Mas tahu kamu marah sama, Mas, tapi bukan berarti tidak makan, Ndis.” Akhirnya Bram berucap setelah kediamannya yang sesaat tidak di pedulikan istrinya. Bram masih berdiri tenang di dekat kursi meja makan dengan masih menatap tajam istrinya.
"Aku sudah tidak bisa marah lagi sama Mas Bram. Aku hanya tidak berselera saja.” ujar Gendis dengan meletakkan ponselnya dan beralih pada remot yang ada di sebelahnya, wanita yang enggan melihat suaminya kala marah itu akhirmya menyalakan televisi yang ada di dekat ruang makan itu.
Bram hanya menghela nafas panjang, dia rasanya ingin meninggalkan rumah seketika, tapi tindakannya itu pasti akan memicu masalah baru antara dirinya dan Gendis. Hampir satu tahun dirinya hidup bersama wanita keras kepala itu hingga membuat Bram faham akan ritme dari emosi istrinya.
" Baiklah, Mas sarapan dulu! " ujar Bram tanpa menyadari jika istrinya sudah tidak mengenakan cincin pernikahan di jari manisnya.
"Iya." jawab Gendis singkat. Dia memang merasa negh dengan aroma makanannya sendiri.
Sesaat kemudian, suara bel berbunyi. Gendis langsung beranjak dari duduknya dan berjalan membuka pintu gerbang rumahnya.
Dari jauh, Nita sudah berdiri di luar gerbang dengan menenteng pesanannya.
"Pagi, Gendis." sapa gadis berkaca mata tebal itu saat melihat Gendis berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Cepat banget sampai sini!" ujar Gendis saat membuka pintu Gerbang.
" Cepatlah, keburu dingin." jawab Nita. Dia membawa pesanana oseng daun pepaya dan tahu bacem yang di jual ibunya.
" Aku langsung ya, keburu siang! " ujar Nita setelah menyerahkan pesanannya. Gadis itu masih akan akan menyerahkan pesanan pada pelanggan lain.
"Berapa, Nit?" tanya Gendis kemudian merogoh saku roknya.
"Nggak usah! Lagian kemarin kamu sudah traktir aku." jawab Nita kemudian menstater motor bebeknya.
" Nggak bisa gitu, Nit." Gendis langsug menyelipkan usang satu lembar lima puluhan di keranjangan makanan yang dibawa Nita.
__ADS_1
Meskipun beberapa kali mendapat penolakan dari Nita, tapi Gendis berhasil membuat Nita membawa uangnya.
Gendis pun berjalan masuk ke dalam, di meja makan, nampak Bram sudah selesai dengan sarapannya.
"Apa itu, Ndis?" tanya Bram saat Gendis meletakkan plastik hitam di meja makan.
"Oseng daun pepaya." jawab Gendis kemudian meninggalkan Bram yang masih menatapnya lekat.
Bram tak henti-hentinya melayangkan tatapannya pada Gendis yang mengambil piring dan sendok. Sebaliknya, Gendis berusaha menghindari tatapan lelaki yang masih duduk di depannya.
"Kamu, nggak makan nasi? " tanya Bram pada Gendis.
" Aku lagi tidak ingin maka nasi." jawab Gendis.
"Mas, pergi dulu! " ucap Bram dengan beranjak dari duduknya dan menghampiri Gendis yang masih membuka makanannya di piring.
"Aku akan cuci tangan, dulu!" Gendis langsung mengelak pergi ke wastafel ketika Bram akan mencium keningnya.
"Mas Bram, pergi saja! Nanti terlambat, katanya mau mampir ke bengkel juga! " sarkas Gendis dengan mencuci tangannya yang seolah kotor sekali.
Gendis menghentikan kran yang sejak tadi mengucuri tangannya. Sejenak, dia tertegun dengan perasaan kecewa. Matanya kini sudah menitikkan satu dua air mata.
Cara Bram menyikapi sindirannya, dia sudah yakin akan keputusannya memilih berpisah, "Maafkan aku, Mas! Tapi ternyata kamu lebih butuh wanita itu dari pada aku." gumam Gendis.
Dia tentu saja merasa cemburu, Jika suaminya memang tidak bisa menjauh dari Seruni. Gendis mulai meyakini jika keterikatan suaminya dan seruni terlalu kuat hingga dia merasa, meski tak ada status pun, kenyataannya mereka memang saling mengisi.
"Lalu di manakah hatimu berpihak, Mas? " gumam Gendis dengan mengusap kedua air matanya.
###
"Setiap kali kamu masuk ke ruanganku, aku selalu mengingatkan untuk berpakaian yang sapin" ucap Bram saat mengakhiri bimbingan pada sore ini.
Beberapa kali, Bram mengalihkan pandangannya saat melihat bongkahan besar yang seolah ingin tumpah di dada gadis yang berada di depannya itu.
__ADS_1
Kaos ketat dengan dada rendah yang hanya di lapisi blazer membuat milik gadis itu terlihat menantang.
"Maaf, Pak." ucap Inka, dia memang ingin menggoda Bram. Sosok Bram yang telihat dingin membuat dirinya tertantang.
"Aku tidak ingin menjadi dosen pembimbingmu lagi jika kamu tidak mengikuti aturanku." tegas Bram kemudian mulai membereskan meja kerjanya. Saat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat sore, dia memutuskan untuk segera pulang.
"Iya, Pak." jawab Inka kemudian keluar dengan rasa kecewa, dia pikir Bram sama dengan beberapa dosen yang mengambil kesempatnya dengan baik.
Gadis itu pun keluar dari ruangan Bram. Di susul Bram yang juga memutuskan untuk segera pulang. Masalahnya dengan Gendis membuatnya tidak fokus seharian ini.
Bram melajukan mobilnya menuju rumah, tapi saat melihat jajanan sosis bakar, dia mampir sejenak membeli jajanan itu untuk Gendis.
Sedari tadi, otaknya terus memikirkan cara agar istrinya tidak sedikit-sedikit minta pisah, sedikit-sedikit minta cerai.
"Mas, lima puluh ribu! " ucap penjual jajanan membuat Bram tersadar dari lamunan.
Bram kembali melajukan mobilnya dengan tenang. Sedari tadi yang dipikirannya adalah membuat Gendis hamil. Dia harus sering melakukannya agar mereka cepat punya momongan yang akan mengikat Gendis.
Bram memasuki rumah yang seharian dia tinggalkan, diletakkan oleh-oleh itu di atas meja makan, kemudian berjalan mencari keberadaan istrinya.
Rumah memang sudah sepi, Bram sempat memperhatikan di ruangan bawah. Tapi, rumah dalam keadaan sunyi membuat Bram dibuat penasaran.
"Gendis.. " panggil Bram dengan membuka pintu secara berlahan.
Nampak istrinya tengah tertelap di ranjang dengan rok yang menyingkap memperlihatkan kaki putihnya.
Bram mendekatinya setelah membuka dan melempar begitu saja kemeja yang seharian dia kenakan. Lelaki yang sudah terpancing hasratnya sejak satu ruangan dengan mahasiswinya itu pun mendekat ke ranjang.
Bram menaiki ranjang dengan hanya mengenakan boxer. Dia mulai mengusap lembut kaki putih istrinya hingga ke pangkal paha, membuat Gendis membuka matanya.
"Mas Bram... " mendapat serangan yang tiba-tiba membuat Gendis terhenyak kaget, dia berusaha menghindar dan menahan tubuh Bram yang sudah merambah di perutnya. Menciumi bagian-bagian sensitif wanita yang berusaha mendorong tubuh tegap yang sudah berada di atasnya itu.
"Mas Bram, aku tidak bisa... " Kalimat Gendis terhenti kala wajah tegas itu terbenam diantara dua dadanya yang terasa mengeras.
__ADS_1
Suara Gendis kini berganti dengan lenguhan kecil yang tertahan. Otaknya berusaha menolak tapi tubuhnya justru menuntut untuk lebih.