Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Hampir Kelepasan


__ADS_3

Mobil Pajero putih membawa keduanya dalam perjalan pulang ke apartemen. Sejak tadi, Gendis hanya terdiam dengan pandangan menatap ke depan.


Sedangkan, Bram beberapa kali meliriknya. Dia kehilangan banyak hal dari dalam diri Gendis. Senyum, tawa manjanya dan celotehan tidak berguna yang terdengar berisik baginya.


"Ndis, di sini ada bakso yang terkenal enak. Kamu mau mencobanya?" tanya Bram memecahkan kebisuan diantara mereka.


"Nggak usah, Mas. Aku masih kenyang." jawab Gendis tanpa menoleh ke arah Bram.


Akhir-akhir ini, dia memang tidak berselera makan.


"Di sini juga ada tempat yang bagus. Apa kamu tidak ingin melihatnya?" sekali lagi Bram mencoba untuk mencairkan hubungannya dengan Gendis.


"Aku ingin segera pulang." lirihnya, Gendis terkesan malas untuk bicara.


Bram hanya menghela nafas berat, dia sudah tahan dengan keadaan yang seperti ini. Tidak ada tawa ceria gadis di sebelahnya, tidak ada rengekan yang biasa membuatnya kesal, tidak ada pertanyaan absurd yang menguji kesabarannya, bahkan untuk bisa melihat wajahnya saja dirinya harus menahan keberadaan istrinya.


Perjalanan yang membosankan. Lelaki yang saat ini mengendalikan kemudi hanya membisu dengan pikirannya sendiri. Bram hanya berharap, kemarahan Gendis menghilang seketika.


"Dia mengajakku ketemu." suara lirih Gendis membuat Bram menoleh seketika.


"Siapa?" tanya Bram masih dengan membagi fokusnya antar Gendis dan jalan yang ada di depannya.


"Kekasih Mas Bram." jawab Gendis membuat Bram tersentak kaget. Dia tidak menyangka jika Seruni menghubungi Gendis.


"Tidak usah pergi. Mungkin dari semalam aku mematikan ponselku." jawab Bram dengan masih menebak apa yang akan dilakukan Seruni pada Gendis. Sedangkan, dia sudah menceritakan semuanya dan jawaban Seruni pun bisa mengerti dan mau menunggu dirinya.


Gendis tidak menjawab lagi kalimat Bram, padahal lelaki di sebelahnya masih menunggu respon yang dia berikan dengan sesekali Bram masih menoleh ke arah istrinya.


Bram juga dibuat penasaran, dari mana Seruni mendapatkan nomernya Gendis. Sedangkan dia sendiri tidak pernah memberikan nomer Gendis padanya.


"Bulan depan aku ingin nge-kos saja."


Seketika kalimat Gendis membuat Bram menginjak pedal rem hingga mobilnya terhenti seketika di tengah jalan. Untung saja, perjalanan mereka berada pada jalan yang tenggang hingga tidak ada kendaraan lain yang lewat.

__ADS_1


"Dulu, aku memang suka kabur dan menghindar dari masalah. Tapi, sepertinya aku harus belajar sedikit dewasa untuk menyelesaikan masalahku."


"Meskipun aku bukan orang yang berpendidikan dengan banyak title di depan namaku." lanjut Gendis, kalimat itu seperti sindiran, tapi juga menyadarkan dirinya untuk mengerti kelemahannya.


Seketika rahang tegas itu semakin mengetat, kala percikan emosi mulai menghampirinya. Bram seperti sudah habis kesabaran menanggapi Gendis. Lelaki itu kemudian menepikan mobilnya dan keluar menghampiri pintu mobil yang ada di sebelah Gendis.


"Keluarlah! Kita selesaikan sekarang." ujar Bram dengan penuh intimidasi. Tatapannya menghujam hingga membuat gadis di depannya merasa cemas.


Dengan ragu, Gendis keluar dari mobil. Saat melihat wajah Bram yang sudah memerah menahan emosi, Gendis berusaha baik-baik saja. Dia harus bisa menghadapi apapun yang akan dilakukan Bram.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Bram. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua tangan kekar itu bertumpu pada badan mobil untuk mengunci Gendis yang berada diantara dua tangan kokohnya.


Tubuh mungil itu menegang dengan wajah tepat di depan depan wajah Bram. Lelaki itu hanya memberi jarak beberapa senti saja antara wajahnya dengan wajah yang sudah memucat itu, sehingga deru nafasnya pun terasa menyapu kulit lembut gadis di depannya.


"Ak-aku..." Gendis sudah tidak bisa bicara, tangannya sekuat tenaga menahan tubuh Bram yang semakin mengikis jarak diantara keduanya.


"Apa aku harus melakukannya untuk menahanmu." geram Bram kemudian mencium Gendis, melu*at bibir ranum itu dengan begitu kasar.


Entah emosi atau hasrat yang terus membawanya semakin jauh hingga tidak merasakan penolakan dan pukulan yang bertubi-tubi dari tangan Gendis.


Jangankan berteriak, berucap dan mengatur nafasnya Gendis pun kesulitan, hingga pada akhirnya dia hanya bisa menangis dengan pukulan tangan yang semakin melemah.


Menyadari suara tangis dan lelehan air mata , Bram mulai tersadar, lelaki yang mulai bisa mengendalikan dirinya itu melepas ciuman dan pelukannya dari tubuh mungil istrinya. Dia sendiri merasa bingung kenapa dia melakukannya pada Gendis.


Gadis yang tubuhnya meluruh kebawah dengan punggung bersandar di body mobil itu menangis hingga terisak. Jantungnya berdenyut kencang dengan tubuh bergetar dan tak bertenaga.


"Mas- Mas tidak bermaksud untuk..." ucap Bram dengan tergagap dan sulit untuk mengatakan sesuatu. Dia seperti baru tersadar dengan tindakannya yang sangat keterlaluan.


Saat akan mendekat ke arah Gendis. Gadis yang masih merasa ketakutan itu menggeser sedikit tubuhnya menjauh.


"Berhenti, Ndis. Mas, tidak akan menyentuhmu." lanjut Bram dengan tetap menjaga jarak pada Gendis. Dia tidak tahu lagi apa yang meski dia lakukan atau dia ucapkan karena perbuatannya memang sudah keterlaluan.


Lelaki yang tidak kalah gelisah itu akhirnya duduk sedikit menjauh dari Gendis, "Mas tidak ingin kamu terus menjauh dari, Mas. Mas, tidak ingin kamu pergi." ucap Bram kala Gendis terlihat menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Jika berniat seperti itu, sudah dari dulu Mas melakukannya, Ndis."


"Mas salah. Kamu bisa menghukum, Mas." ucap Bram, melihat Gendis yang ketakutan melihatnya membuat Bram merasa kecewa. Niatnya yang ingin menahan Gendis tapi malah membuat gadis itu semakin memberikan jarak.


Bram tidak tahu lagi cara menenangkan Gendis. Dia hanya menunggui dan menatap nanar gadis yang masih mengatur emosionalnya, katakutannya dan rasa kecewanya.


"Mas janji tidak akan melakukannya lagi."


"Mas hanya ingin menyelesaikan masalah kita dengan baik-baik."


"Selama ini Mas mengaku salah. Tapi, beri Mas waktu untuk menyelesaikan semua ini." lanjut Bram. Tatapannya penuh penyesalan ketika menatap Gendis dengan rambut berantakan.


Mereka terdiam, menunggui Gendis hingga gadis itu sedikit tenang. Tidak ada lagi kata yang terucap dari Bram, hanya isakan lirih yang membuat Bram merasa benar-benar menyesal.


"Tin...tin..." sebuah klakson terdengar tapi tak digubris oleh dua orang yang kini tengah duduk di rerumputan.


" Tin...tin..." suara klakson terdengar setelah mereka terdiam hingga hampir satu jam.


Terlihat sebuah truk tronton berhenti tidak jauh dari keberadaan mereka. Seorang turun dari kepala truk dan berlari memeriksa ban truk.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, ya?"


"Mereka akan berfikir yang nggak-nggak pada kita." bujuk Bram pada Gendis.


Tapi, gadis itu masih tak bergeming. Gendis terlihat ragu dengan Bram.


"Mas janji tidak akan menyentuhmu lagi." ucap Bram berusaha meyakinkan.


"Jika sampai terjadi kamu bisa bilang ke ibu atau lapor polisi." lanjut Bram membuat Gendis menatapnya ragu.


"Mereka akan akan berfikir buruk tentang kita, Ndis." bujuk Bram.


Berlahan Gendis bangkit, tatapannya pada Bram masih dengan waspada. Hingga Bram memilih tetap menjaga jarak padanya. Lelaki itu kembali melajukan mobilnya dengan rasa tegang.

__ADS_1


__ADS_2