Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Sedih Yang Tersimpan


__ADS_3

Di dalam lift, menuju lantai apartemen, mereka terdiam. Sesekali Gendis melirik Bram yang terlihat dingin dengan pandangan lurus ke depan. Lelaki itu masih sangat kesal saat mengingat senyum mengejek lelaki playboy yang mendekati istrinya.


Analisanya terus bekerja. Pertama, dia berprasangka jika Gendis sengaja mengatur janji dengan lelaki itu. Tapi, prasangkanya itu dipatahkan dengan pesan Gendis ke ponselnya jika ingin di jemput. Memang tidak ada alasan apapun tapi Bram yang berada di perjalanan itu akhirnya membelokkan mobilnya untuk menjemput istrinya.


Kali ini Bram hanya menghela nafas hingga lift kembali terbuka. Lelaki itu berjalan lebih dulu meninggalkan Gendis yang kesulitan mengejar langkahnya, bahkan gadis itu sempat menarik tangan Bram. Tetapi Bram tak bergeming sama sekali hinngga mereka sampai di unit apartemennya.


"Mas Bram, kenapa memukul Mas Zayn?" Pertanyaan Gendis saat mereka baru saja masuk ke dalam apartemen membuat Bram menghentikan langkahnya seketika. Lelaki yang masih berusaha menahan emosinya itu malah bertambah kesal.


"Apa kamu ingin membelanya? Atau kalian sengaja bertemu?" cecar Bram. Pertanyaan -pertanyaan yang dilontarkan Bram memang yang sudah memenuhi otaknya sejak tadi.


"Aku tidak sengaja bertemu Mas Zayn."


"Dompetku ketinggalan. Makanya aku tidak bisa langsung pulang." jelas Gendis dengan lirih. Dia mengakui jika dirinya bersalah.


"Dasar Ceroboh!" Balas Bram dengan nada meninggi. Bshkan tatapan Bram yang menyala membuat Gendis sempat menundukkan pandangannya.


Gendis terdiam saat Bram memarahinya. Dia juga mengakui jika dirinya salah karena tidak memeriksa apa yang mesti dia bawa.


"Sekali-kali mikir! Bisanya hanya membuat orang lain repot." gumam begitu lirih saat akan melangkah meninggalkan Gendis yang masih mematung di ruangan depan.


"Aku memang tidak pintar. Aku juga ceroboh. Tapi biar begini juga aku istrimu." teriak Gendis menghentikan langkah Bram saat sedang mendekati kotak obat. Gadis itu melangkah menyusul mendekati Bram dengan wajah tak kalah kesal.


"Terus siapa yang bodoh menjadikanku istri?" lanjut Gendis membuat Bram melotot. Lelaki itu menjadi geram ternyata Gendis memang berbakat untuk membantahnya.


Cara Hastanto yang selalu memberi ruang pada Gendis untuk berbicara setiap dia melakukan kesalahan membuat Gadis itu pandai memberi alasan dan berdiplomasi.


"Nggak usah marah! Jika Mas Bram marah di omelin seperti itu aku juga kesal di katakan ceroboh dan bodoh secara tidak langsung." lanjut Gendis langsung mengomel dengan satu tangannya mengambil kotak obat.

__ADS_1


Dia langsung menarik tangan Bram untuk duduk. Gendis tidak peduli tatapan Bram yang terlihat geram padanya. Dia terus saja mengoles salep untuk luka memar di wajah suaminya.


"Aku akan mandi dulu!" pamit Gendis kemudian beranjak meninggalkan Bram yang masih duduk di sofa.


Gendis membuka pintu kamar dan kemudian menutupnya kembali. Dia tertegun sejenak dengan bersandar di balik daun pintu, merasakan nyeri di hati yang sempat dia tutupi dengan membalas kalimat Bram yang menyakitkan itu.


Dia memang tidak sepintar Bram atau wanita yang menjadi kekasihnya itu. Iya, Gendis sudah tahu jika wanita itu adalah salah satu Dosen di kampus swasta ternama di kota ini.


"Kenapa rasanya sesakit ini." gumam Gendis lirih dengan memegangi dadanya. Matanya pun mengembun meskipun sedari tadi sudah berusaha untuk dia elakkan.


Sebuah notifikasi pesan di ponselnya terdengar, membuyarkan pikiran-pikiran negatif yang sempat menghinggapi sisi-sisi buruk dari otaknya.


'Mbak Gendis Sudah di jemput Mas Bram? ' pesan dari Ambar membuyar suasana hati Gendis yang sempat sensistif.


'Sudah, Dek. Ini sudah di rumah'


"Masih ada banyak tugas, Ndis. Ayo semangat! " Gendis berusaha menenangkan hatinya. Dia memang masih punya kerabat yang menyayanginya. Tapi, semua memang berbeda ketika bersama kedua orang tuanya sendiri. Rasanya Gendis mulai merajut kembali kerinduannya pada papa dan mamanya.


Saat tersadar jika tugasnya masih banyak, Gendis langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus menyiapkan makan malam apapun bentuknya, karena Bram sudah memberi aturan jika dia hanya akan makan malam dengan masakan Gendis.


###


Di sebuah halaman rumah yang luas, seorang lelaki dengan serius membidik targetnya dengan cermat. Tapi, tetap saja gagal karena tidak fokus.


Zayn sedang berlatih menembak. Tapi sejak tadi sasarannya selalu meleset. Pikirannya di penuhi dengan Gendis. Gadis mungil dengan senyum yang menawan hatinya.


"Mereka menikah mendadak. Bahkan, prosesnya terlihat memaksa setelah kedua orang tua gadis itu meninggal." jelas seorang lelaki bertubuh tegap yang mirip dengan sosok bodyguard.

__ADS_1


"Bahkan, lelaki itu masih punya kekasih." lanjut lelaki dengan perawakan tinggi tegap itu membuat Bram menoleh. Informasi terkhir yang disampaikan lelaki itu terdengar menarik bagi Zayn.


"Mungkinkah pernikahan mereka hanya sebatas pura-pura atau gadis naif itu sudah dikhianati? " gumam Zayn masih sebatas analisa dari apa yang sudah dia ketahui.


Bertemu Gendis dan mencari tahu banyak hal membuat lelaki yang memang sudah tertarik dari pandangan pertama itu semakin penasaran.


"Aku ingin tahu mereka menikah negara atau tidak!" ucapa Zayn yang berarti perintah untuk lelaki yang beberapa kali membungkukkan tubuhnya, untuk mencari tahu banyak hal tentang Gendis.


"Baik, Pak. "jawab sang bodyguard.


Zayn langsung saja meninggalkan tempat dimana dia berlatih. Lelaki itu benar-benar kehilangan akal sehatnya karena Gendis. Baru kali ini, dia sulit berkonsentrasi hanya karena perempuan.


###


Seruni menghentikan gerakannya, dia memilih mengakhiri yoga yang biasa dia lakukan beberapa kali dalam seminggu. Gadis itu beranjak dari matras dan berjalan menuju meja makan untuk meneguk segelas air.


Dia merasa pertemuannya yang terkhir dengan Bram masih membuat dirinya tidak mengerti.


Dia dan Bram sudah lama bersama bahkan umur mereka juga sudah lebih dari cukup jika memutuskan untuk menikah. Lantas apalagi, yang membuat Bram terlihat meragu padanya. Hati kecilnya merasa Bram menghindari hubungan yang lebih serius. Hubungan yang menjadi tujuan akhir dari kebersamaan mereka selama ini.


Seruni pun bermaksud mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di ataa meja. Saat akan menghubungi Bram dia sempat melihat status temannya yang baru saja melakukan pernikahan mewah. Ah rasanya hal itu memicu dirinya ingin segera mengakhiri masa lajangnya. Menikah sesuai impiannya dan bersama dengan orang yang dia cintai.


"Rasanya sudah saatnya aku menikah dengan Mas Bram. Jika ingin menjadi Dekan Papa bisa membantu memuluskan jalannya." gumam Seruni sambil tersenyum.


Dia yang akan menghubungi Bram pun mengurungkan niatnya. Gadis itu berniat mengunjungi apartemen Bram saja setelah membersihkan diri.


Makan malam bersama Bram diapartemen kekasihnya bukanlah ide yang buruk.

__ADS_1


"Baiklah. Setidaknya aku mampir membawa makanan kesukaan Mas Bram untuk makan malam." Seruni tersenyum membayangkan dia akan memberi surprise pada Bram saat datang tiba-tiba ke apartemen lelaki itu.


__ADS_2