Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Gendis


__ADS_3

Bram saat ini berada di apartemen mewah dengan beberapa ornamen yang memberi kesan elegan. Sore tadi Seruni meminta Bram mampir untuk membenarkan beberapa program di laptopnya yang membuat dirinya kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Mas Bram, mau minum apa?"


"Dingin atau panas?" tanya Seruni saat Bram baru saja tiba. Lelaki itu mendudukkan tubuhnya di sofa.


Meskipun beberapa kali mampir di apartemen ini, Bram masih terlihat canggung. Apalagi saat ini Seruni tampil beda dari saat mereka bertemu setelah mengajar.


Seruni mengenakan rok pendek dengan kaos ketat yang membentuk lekuk tubuhnya. Gadis itu memang punya tubuh yang cukup proposional dengan tinggi badan yang semampai.


"Dingin saja." jawab Bram dengan menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.


Seharian dia sudah menghabiskan waktunya di kampus. Beberapa mahasiswa yang melakukan bimbingan skripsi sudah menyita banyak waktu, belum lagi beberapa agenda yang ditugaskan kampus pada saat rapat untuk acara disnatalis kampusnya yang akan dilakukan dua bulan ke depan.


Seruni berjalan dari arah dapur dengan membawa dua gelas orange jus. Rok pendek sebatas paha dan kaos yang mencetak jelas dadanya membuat Bram beberapa kali mengalihkan pandangan. Pemandangan yang pasti akan menarik perhatian lelaki normal manapun.


"Mana yang membuatmu kesulitan, Run?" tanya Bram saat membuka laptop yang dari tadi sudah ada di depannya.


Wallpaper di laptop Seruni adalah foto lama mereka. Bram tersenyum melihatnya, dia juga masih mengingat hal itu sebagai salah satu kenangan manis diantara mereka.


Setelah Seruni menjelaskan masalah pada program laptopnya, Bram pun segera mencoba membenahinya. Hari ini, sebenarnya dia ingin pulang lebih awal agar bisa sedikit bersantai di apartemen. Tapi, dia memang tidak bisa menolak Seruni.


Sesekali, Bram melirik Seruni yang bergelayut manja di lengan kirinya, Gadis itu memang sengaja ingin membuat Bram terlena dengan kemanjaannya yang selama ini tidak pernah dia tunjukkan. Seruni baru bertindak lebih jauh saat tahu jika sekarang ada gadis lain di dekat Bram yang membuat resah dirinya.


"Mas, kenapa kita tidak menikah saja?" tanya Seruni membuat Bram menghentikan gerakan tangannya.


"Papa sudah mendukung kita untuk segera menikah." lanjut Seruni dengan mendongakkan kepala menatap wajah tampan lelaki yang sudah lama dia tunggu.

__ADS_1


"Nggak semudah itu, Run. Aku dan Gendis sudah menikah resmi." Ada sebuah gelombang yang seolah menggulung perasaan Bram hingga menjadi tak menentu saat gadis di sebelahnya membahas perpisahan dengan Gendis.


"Kita bisa menikah siri dulu. Setelah, Mas bercerai, baru kita menikah resmi dan merayakannya." ujar Seruni, Dia tahu selama mereka hanya berpacaran Bram akan terus membatasi diri darinya. Seruni sudah faham betapa dinginnya Bram dengan seorang gadis.


"Aku belum mencoba membujuk Ibu juga." jawab Bram kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Setelah kita menikah, berlahan kita bisa membujuk ibunya Mas Bram." lanjut Seruni.


"Apalagi jika aku bisa hamil anakmu, Mas. Aku yakin ibumu tidak akan menolaknya." gumam Seruni dalam hati. Dia yakin jika dia bisa mengandung cucunya, ibunya Bram pasti akan luluh.


Bram tidak menjawab Seruni, Dia masih berusaha menyelesaikan masalah pada program yang ada di laptop kekasihnya itu. Tapi, dada Seruni yang terus menempel pada lengannya membuat Bram tidak sepenuhnya bisa fokus. Dia lelaki normal dan dewasa, jelas itu akan menimbulkan gejolak pada hasratnya.


"Sudah selesai, Run." ujar Bram kemudian menegakkan tubuhnya. Lelaki itu berusaha menetralkan segala sesuatu yang kini melandanya. Tapi gadis yang menempel padanya malah menatapnya dengan tatapan menggoda.


"Mas, aku mencintaimu!"


"Aku takut kehilanganmu, Mas." suara lirih Seruni semakin terdengar mirip seperti d*s*han.


"Cup..." Seruni menempelkan bibirnya hingga Bram menyambutnya.


Dua orang dewasa itu saling berciuman, tapi bayangan Gendis membuat Bram segera mengakhirinya lebih dulu, hingga Seruni yang menginginkan lebih kini menatap Bram dengan kecewa.


Entah kenapa Bram malah terbayang manisnya bibir Gendis yang ranum saat bibirnya menempel pada bibir gadis di depannya. Lelaki itu berfikir, mungkin rasa bersalahnya pada Gendis sudah mengambil semua fokusnya.


"Mas, kita sudah dewasa, bukan hal yang aneh jika kita hanya berciuman." protes Seruni, jika dulu Bram selalu menjaga jarak agar tidak bertindak lebih dengan alasan takut keblabasan karena dia masih harus mengejar cita-citanya.


Tapi, sekarang Bram sudah memiliki apa yang dia inginkan, bahkan dirinya dan Bram sudah cukup dewasa untuk mempertanggung jawabkan jika terjadi sesuatu yang tidak seharusnya.

__ADS_1


"Mas tahu, Run. Tapi, posisi Mas masih suami Gendis." jelas Bram mencoba mencari alasan yang masuk akal meskipun sebenarnya dia tidak bisa menikmatinya karena bayangan Gendis yang terus mengejar.


"Mas, balik dulu, ya! Jika ada kesulitan telepon, Mas, saja." pamit Bram, lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya. Dia bersiap untuk meninggalkan Seruni yang masih merasa kecewa dan Bram tahu itu. Tapi, dia tidak bisa mengelakkan perasaannya yang tidak tenang itu.


Setelah keluar dari apartemen Seruni, Bram masih merasa gelisah. Lelaki yang beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar itu menghentikan mobilnya di tepi jalan yang lumayan sepi.


Sejenak, dia terdiam, merasakan perasaannya yang semakin kacau. Satu sisi dia sulit menolak keinginan Seruni, satu sisi ada rasa bersalah karena pernikahannya memang bukan sebuah kepalsuan. Hanya saja dia dan Gendis menganggap ini sebuah formalitas belaka.


Belum lagi, sudah terasa lama dia tidak bisa melihat wajah Gendis dengan seksama. Gadis itu terus menghindar dan menghabiskan waktunya di perpustakaan umum dengan alasan dia ingin belajar untuk masuk universitas negeri.


Bram memang tahu kemanapun Gendis pergi. Sejak Gendis menghindar, diam -diam Bram memasang GPS di ponsel istrinya. Lelaki itu tahu, jika akan kesulitan mengajak bicara Gendis. Hubungan mereka memang semakin buruk setelah kedatangan Seruni pagi itu dan kesibukan Bram.


Setelah terdiam sejenak dari kebingungannya, Bram kembali melajukan mobil menuju perpustakaan. Dia akan memutuskan untuk menunggu Gendis di depan gedung yang berada di tengah kota itu. Kali ini, dia yang akan menurunkan egonya untuk mengalah pada gadis keras kepala itu.


Lima belas menit dia menunggu, setengah jam kemudian dia kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya tapi istrinya tak kunjung terlihat. Padahal sebentar lagi perpustakaan umum akan segera tutup.


Hingga satu jam kemudian dia melihat Gendis keluar dengan wajah lesunya. Bram melihat Gendis semakin terlihat anggun, blues bermotif floral di padu dengan rok panjang dengan potongan lebar ,membuat Gendis terlihat lebih dewasa dan feminim.


"Ndis..."


"Ndis..." panggilan Bram dan Zayn bersamaan membuat Gendis menghentikan langkahnya.


Gadis yang masih menenteng buku yang baru dia pinjam itu menatap dua sosok lelaki yang sudah berdiri di depannya.


"Aku menjemputmu!" ucap Bram


"Aku akan mengantarmu pulang." sela Zain.

__ADS_1


Dua lelaki yang sama-sama tampan dengan bentuk wajah yang berbeda itu seperti sedang berlomba.


Gendis yang masih terdiam, membuat kedua lelaki itu saling menatap dingin.


__ADS_2