Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Khilaf


__ADS_3

Sepulang dari rumah ibunya, Bram melajukan mobil yang ditumpanginya bersama Gendis menuju rumah yang baru saja dia beli. Bu Harun mendesak, agar Gendis segera melihatnya.


Mereka berhenti tepat di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi halamannya cukup luas, dimana ada dua pohon mangga dan rambutan yang tumbuh besar.


Bram membeli rumah itu karena menurutnya Gendis pasti akan menyukainya, seperti rumah Pak Hastanto yang mempunyai halaman luas dengan beberapa pohon berbuah dan hamparan rumput yang diselingi dengan bunga-bunga. Rumah yang lebih memberi kesan nyaman dan anggun dari pada mewah.


“Aku suka, Mas.” ucap Gendis meskipun Bram tidak lagi menanyakan komentarnya.


“Mas sengaja membawamu ke sini agar bisa segera merenovasinya. Kamu boleh merancang sendiri sesuai keinginanmu. Atau kita akan konsultasi dengan arsitek sesuai dengan yang kamu inginkan.” ujar Bram dengan menatap ke arah rumah yang kira-kira hanya berukuran  10x16 meter.


Dengan masih menggenggam lengan Gendis, Bram membawa Gendis melangkah ke dalam rumah. Bram membuka pintu rumah, di dalamnya memang masih kosong. Dia akan membiarkan Gendis untuk mengisinya, seperti pemikiran ibunya.


“Jika kita merenovasi total. Kamu harus bersabar untuk membeli perabotnya.” ujar Bram, suaranya terdengar menggema ke seluruh ruangan yang kosong.


“Mas tidak punya tabungan yang berlebih.” ujar Bram membuat Gendis menoleh. Gadis itu kemudian tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya. Dalam hati Bram, dia ingin sekali melarang gadis di sebelahnya menunjukkan senyum itu. Sungguh, Gendis terlihat begitu cantik dan manis jika tersenyum manja seperti yang baru saja dia lakukan.


“Kita tidak perlu merenovasinya, Mas. Aku sudah cocok dengan letak ruangnya. Hanya tinggal mengecat ulang dan mengulas kembali warna plitur di kayu-kayunya.” jawab Gendis, latar belakang Gendis yang dari keluarga priyayi memang membuat gadis itu punya selera yang elegan.


“Jika seperti itu kita akan segera pindah dan kamu bisa membeli perabotannya. Mas sudah menyiapkan dana untuk itu.” ujar Bram.


“Terima kasih, Mas.” balas Gendis dengan spontan memeluk tubuh tegap di sebelahnya.


Hingga kemudian gadis itu tersadar dan meregangkan pelukannya. Keduanya malah terlihat canggung, hingga saling tersenyum kaku.


“Ayo kita lihat lagi ke lantai duanya.” Gendis langsung menarik tangan Bram, mengusir kekakuan diantara keduanya. Dengan sangat bersemangat, Gendis meneliti dan mengukur setiap sudut ruangan. Dia akan mengira-ngira interior dan perabot yang cocok yang akan dia letakkan untuk mengisi kekosongan dari setiap ruangan.


Bram hanya terdiam dan terlihat kewalahan mengikuti langkah Istrinya. Sesekali, dia menyentuh dadanya yang merasa berbeda. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pelukan Gadis yang kini terlihat girang itu membuatnya berdebar-debar tak karuan.


“Hhhuuuuhhhfffff...” helaan nafas yang terdengar berat membuat Gendis menghentikan langkah. Dia menoleh ke arah Bram, meneliti dengan detail wajah tampan yang terlihat tegang.


“Mas Bram, kenapa?”

__ADS_1


“Mas Bram, sakit?”  tanya Gendis melihat Bram yang tidak biasa.


“ Mas nggak apa-apa. Kamu lihat saja ruangannya sampai puas!” titah Bram membuat Gendis kembali tersenyum dan menarik kembali tangan berotot  yang di hiasi jam tangan dengan model klasik itu.


Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang terhubung dengan balkon.


“Mas, aku ingin di sini ada sofa panjang dan televisi yang berukuran besar. Agar setiap malam semua anggota keluarga bisa berkumpul dan menikmati kebersamaan.” ujar Gendis, entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga membayangkan akan ada banyak anggota keluarga di rumahnya itu. Padahal secara sadar, dia tidak tahu sampai kemana tujuan pernikahannya itu.


“Aku ingin pintu penghubung ruangan dan balkon diganti dengan kaca agar jika mendung atau gerimis kita bisa menutupnya tapi kita masih bisa menikmati hujan dari dalam.” Gendis terus saja berbicara. Bram hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dia pun terhanyut dalam celotehan Gendis tentang keluarga dan pernikahan yang sempurna.


Gendis terus menarik tangan Bram, seolah ingin menunjukkan sesuatu di balkon.  Bram yang masih menyelami perasannya pun hanya mengikuti langkah gadis mungil itu.


“Mas, lihat tingkatan ini. Aku akan memberinya tanaman anggrek. Di balkon ini hanya ada bunga anggrek dan mawar saja.” lanjut Gendis dengan masih menggandeng Bram.


“Lakukan saja jika menurutmu bagus.” jawab Bram singkat.


Terlihat Gendis menaiki tingkatan itu. Kini, tubuh Gendis membelakangi tubuh yang saat ini setara lelaki itu. Iya, Bram hanya berdiri di belakang istrinya dengan melihat suasana petang karena mendung yang terlihat begitu pekat.


“Mas Bram...” teriak Gendis, spontan dia membalikkan tubuhnya hingga menabrak Bram ketika air tiba-tiba jatuh dengan derasnya.


“Hati- hati!” lirih Bram. Kepalanya menunduk menatap begitu dalam mata indah yang menghias di wajah cantik Gendis.


Hening, hanya suara rintik hujan yang terdengar saat tatapan keduanya seperti saling mengikat, mengikis jarak diantar mereka hingga bibir keduanya saling bersentuhan untuk bisa merasakan kelembutan satu dan lainnya.


“ Mas..” gendis mendorong pelan tubuh atletis yang hampir tak berjarak dengannya.


“Maafkan, Mas...”


“Maafkan, Mas...!” ulang Bram terdengar lirih dan menyentuh, hingga Gendis tak mampu menolak pelukan lembut Bram.


Bram memeluk tubuh Gendis karena tak berani menatap mata gadis dalam dekapannya itu. Dia sudah berjanji untuk memberi batasaan pada hubungan mereka, tapi kenyataannya ciuman singkat barusan sudah mengingkari janji hatinya.

__ADS_1


“Aku juga, Mas.” jawab Gendis terdengar begitu lirih hampir tak dengar. Gadis itu tidak tahu lagi cara menyampaikan jika dirinya juga salah karena terbawa rasa. Rasa yang seharusnya dia batasi sendiri.


Tidak bisa dipungkiri oleh Bram, jika lengan kecil yang masih melingkar erat di punggungnya memberi rasa hangat dan terasa begitu nyaman. Hingga rasa bersalah pada Seruni kembali menghantui Bram.


“Maafkan, Mas, Ndis. Ini di luar kendali, Mas.” jawab Bram setelah berhasil meregangkan tubuhnya dan memberi jarak yang tipis pada tubuh mungil di depannya.


“Lupakan saja, Mas! Anggap ini tak pernah terjadi.” sambut Gendis, dia tidak ingin Bram dikejar rasa bersalah karena kejadian barusan.


“Sebaiknya kita turun dan setelah hujan reda kita pulang saja.  Aku juga harus membeli sesuatu untuk hadiah ulang tahun Dek Ambar.”


“Bolehkan?” tanya Gendis membuat Bram tersenyum dan mengangguk.


Mereka menuruni satu persatu anak tangga rumah yang masih kosong itu dengan pelan, sambil menunggu gerimis reda. Meskipun keduanya sepakat untuk melupakan kejadian ini, tapi tetap saja tidak ada yang bisa membohongi diri sendiri.


Mobil Pajero putih itu meluncur meninggalkan rumah yang baru saja dia beli. Keduanya sama- sama terdiam, dengan perasaan masing masing. Bahkan, tidak bisa dipungkiri jika keduanya masih merasa canggung.


“Mau beli kado dimana?” tanya bram memecahkan keheningan diantara mereka.


“Butik busana muslim, Mas. Dek Ambar sekarang mulai berhijab.” jawab Gendis dengan tatapan jauh ke depan.


“Sekalian kamu belikan Tante Haliza dan Om Rendra oleh oleh.” titah Bram mengingatkan Gendis.


“Gak apa-apa , mas?'’ tanya gendis. Dia takut dirinya terlalu boros.


“Emang kenapa? Bram balik bertanya dengan pandangan menoleh ke arah gadis di sebelahnya.


“Takut aku boros dan uangnya habis.” jawab Gendis dengan naifnya.


“Jika habis bilang, Mas, saja.” ujar Bram dengan santai, diiringi tangannya memutar kemudi untuk berbelok pada salah satu deretan ruko yang berjajar.


“Mas, akan berusaha mencukupimu, Ndis.”  lanjut Bram dengan mematikan mesin mobilnya saat Pajero putih itu sudah terparkir rapi.

__ADS_1


“Semampunya, Mas. Mas, akan berusaha.” lanjut Bram dengan tatapannya yang membuat Gendis salah tingkah.


“ Ayo kita turun!” sambut Gendis dengan segera membuka pintu mobil dan keluar dengan perasaan yang tak  karuan.


__ADS_2