Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Ulang Tahun Ambar


__ADS_3

Seruni memasuki apartemennya dengan langkah gontai. Dia menjadi tidak bersemangat ketika kedua sahabatnya berasumsi banyak hal tentang hubungannya dengan Bram.


"Benarkah kamu mencintai Bram? Atau sekedar obsesi ingin memiliki lelaki yang diidamkan banyak gadis? Atau sekedar mengaguminya karena apa yang ada dalam dirinya?" rentetan pertanyaan yang dilayangkan oleh Areta membuat Seruni menjadi gelisah.


Dia hanya tidak bisa kehilangan Bram. Sudah banyak yang mereka lalui, canda tawa, masalah dan banyak kesulitan hingga Seruni tidak bisa lepas dari Bram.


"Aku tidak bisa kehilangan Mas Bram." gumam Seruni kemudian menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk. Matanya berkaca-kaca, membayangkan posisinya yang terhalang oleh status pernikahan Bram. Dia memang bisa memiliki hati Bram tapi status Bram menghalangi untuk bisa memiliki lelaki itu seutuhnya.


Sudah lama dia mendambakan untuk bisa bersama Bram. Menurutnya hanya satu orang yang kini menjadi penghalangnya yaitu Bu Harun. Tapi, Seruni tidak pernah mengerti kenapa ibunya Bram tidak menyukainya. Padahal menurutnya tidak ada yang kurang dalam dirinya.


###


Kampus mulai sepi, jam kuliah untuk kelas regular sudah berakhir, hanya beberapa kelas non regular dan kelas pasca sarjana yang memulai kelas perkuliahan.


Lelaki yang kini berdiri di dekat jendela itu merasa gelisah sejak Gendis meminta berpisah. Di sisi lain, ibunya selalu menanyakan sejauh mana renovasi rumah dan kapan ditempatinya, ditambah lagi Seruni yang ingin segera menikah. Kepalanya terasa ingin meledak saja saat semua berkumpul menjadi satu dalam otaknya.


"Tok...tok..."


Suara pintu dibuka, membuat Bram menoleh melihat siapa yang membuka ruangannya. Deska, sahabatnya itu melangkah masuk dan duduk di depan meja kerjanya.


"Aku lihat lampu ruanganmu masih menyala, jadi aku masuk saja." ujar Deska yang sudah beberapa waktu tidak melihat Bram.


Bram tidak lagi menjawab tapi lelaki itu memilih berjalan dan duduk di kursinya. Dia hanya bisa mendesah, saat sahabatnya itu menatapnya penuh selidik. Begitulah Bram, dia memang sulit untuk bicara tentang masalah yang sedang dia hadapi.


"Bagaimana dengan lomba merangkai motor listrik. Acara itu juga akan berpengaruh pada nama kampus dan akreditasi untuk prodi teknik." ujar Deska saat mengingatkan, karena dia merasa akhir-akhir ini dia melihat Bram tidak lagi fokus dengan pekerjaannya.


"Masih banyak dosen senior lain yang mampu mengatasi semuanya." jawab Bram. Dia yang biasa berambisi, kini terlihat tidak bersemangat.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa? Ada beberapa rumor jika saat ini kamu dekat dengan Seruni."


"Bagaimana dengan Gendis?" cecar Deska. Hanya Deska yang tahu tentang pernikahan Bram dan Gendis. Bram terdiam, dia tidak tahu lagi dari mana dia harus bercerita.


"Ketika kamu mempermainkan janjimu pada Allah, itu artinya kamu juga mempermainkan Tuhanmu."


Deg, kalimat Deska membuat jantung Bram berdetak lebih cepat. Dia memang bukan orang alim tapi dia juga tak ingin mempermainkan Tuhannya.


"Ketika kamu berhubungan dengan Seruni, itu artinya kamu mengkhianati ikrarmu." lanjut Deska membuat Bram terdiam, rasa berdosa kini membayang, tidak hanya dengan Gendis tapi ternyata dia sudah berdosa pada Tuhannya.


Lelaki dengan potongan mirip abdi negara itu seperti seorang ustad yang sedang menceramahinya.


"Dasar, Gus sesat! Ceramah cuma setengah-setengah." dengus Bram. Deska memang putra dari seorang ustad, tapi tampilannya memang tidak menunjukkan dia pernah beberapa tahun hidup dilingkungan pesantren.


"Hahahaha, aku tidak ahli agama. Jadi kita tarik logika saja." tawa Deska pun memenuhi ruangan Bram. Dia tahu Bram benar-benar menikahi Gendis secara sah sesuai agama dan negara.


"Tapi, aku juga merasa bersalah dengan Seruni. Aku seperti mengkhianati hubungan kami. Sampai saat ini Serunilah yang selalu menerima aku apa adanya." jelas Bram mengurai sedikit kerumitan dari isi kepalanya.


Deska sendiri tidak habis pikir tentang penolakan Bu Harun, padahal semua tahu, Seruni gadis yang berpendidikan, dari kalangan sosial atas dan cantik. Deska merasa Seruni sebenarnya sudah cukup pantas untuk Bram yang memang hampir mendekati sempurna.


"Terus, niat mau poligami? Hahahah." ledek Deska membuat Bram melempar sebuah bulpoin yang berhasil ditangkapnya. Dia tahu Bram tidak akan melakukannya.


"Aku harus menjemput Gendis di rumah Omnya." ujar Bram ketika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Keduanya pun beranjak keluar dan berjalan bersama menuju parkiran," Gendis sudah tahu tentang Seruni?" tanya Deska yang sebenarnya masih penasaran.


"Sudah tahu. Sepertinya dia tidak mempermasalahkan Seruni. Tapi, hanya saja ..." kalimat Bram terhenti. Dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena siapapun akan menyalahkan tindakannya karena sudah menampar Gendis.

__ADS_1


"Kenapa?" Deska pun menghentikan langkahnya saat mereka berada diantara jajaran mobil. Lelaki itu semakin dibuat penasaran oleh Bram.


"Tidak...besok saja aku akan bercerita padamu." Bram pun langsung meninggalkan Deska yang masih menatapnya masuk ke dalam mobil Pajero berwarna putih itu.


Sebuah klakson, dibunyikan oleh Bram saat mobilnya melewati Deska yang masih diselimuti rasa penasaran. Tapi, Deska juga tidak akan memaksa Bram untuk bercerita.


###


Hampir satu jam, perjalanan yang dilalui Bram menuju rumah joglo dengan halaman luas itu. Pajero putih berhenti tepat di depannya. Lelaki itu turun dari mobilnya dan berjalan masuk.


"Assalamualaikum..." ucap Bram saat melangkah melewati pintu utama yang sudah terbuka lebar.


Acaranya tidak ramai, hanya beberapa orang yang ada di sana. Terlihat Gendis beranjak dari duduknya menyambut, Bram. Bagaimana hebatnya badai yang menghantam rumah tangganya, dia tidak akan membiarkan orang lain mengetahuinya.


"Ndis, siapkan Bram makan dulu." ucap Tante Halisa, wanita itu sedang sibuk menata camilan di meja, dimana teman-teman Ambar sedang asyik mengobrol.


"Iya, Tan." jawab Gendis dengan tersenyum seperti biasanya.


"Aku memang belum makan dari siang, Ndis." sela Bram setengah berbisik saat mereka masuk ke belakang, tepatnya menghampiri meja makan.


Gendis tidak menjawab, dia hanya menghela nafas saja membuat Bram meliriknya. Sebenarnya dia ingin Gendis kembali meresponnya dengan baik meski dengan alasan berada di tempat orang.


Gendis mulai menata makanan untuk Bram, membuat Bram tersenyum samar. Dia memang merindukan Gendis yang seperti ini. Akhir-akhir ini , Gendis hanya meninggalkan makanan yang selesai dimasaknya, tanpa mau menemaninya makan. Hal itu yang membuat Bram tidak berselera saat melihat makanan di rumah.


"Bram..." sapa Om Rendra saat berjalan mendekati Bram. Lelaki itu berniat menyalami mantu keponakannya yang baru datang.


"Apa kabar, Om?" Bram pun beranjak berdiri menyambut uluran tangan Om Rendra.

__ADS_1


"Silahkan, dinikmati seadanya. Nanti saja kita ngobrol."


"Oh ya, Gendis juga belum sempat makan. Katanya nunggu kamu." ujar Om Rendra membuat Bram melirik Gendis sambil tersenyum. Sedangkan Gendis hanya membuang muka saat melihat senyum yang memuakkan itu.


__ADS_2