Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Sebuah Pernikahan


__ADS_3

"Sebentar lagi kita sampai di rumah, Ibu." ujar Bram setelah beberapa kali memperhatikan Gendis yang duduk di sebelahnya.


Gendis itu hanya terdiam, dia merasakan tubuhnya terasa panas dingin saat mereka sudah menuju rumah besar milik Ibu mertuanya.


"Angkat saja, Mas! " ucap Gendis saat melihat ponsel Bram yang terus saja berbunyi. Gendis memang bisa melihat siapa nama orang yang sedang melakukan panggilan.


"Mungkin penting." sarkas Gendis, saat Bram hanya menoleh untuk menatapnya lebih dalam. Lelaki itu butuh keyakinan, atas jawaban istrinya.


Mobil yang berhenti di depan rumah kuno dengan halaman luas itu tidak langsung membuat penumpangnya turun. Mereka terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing.


"Aku akan turun terlebih dahulu!" pamit Gendis pada akhirnya, ketika melihat wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menyambutnya.


"Kita akan bicara nanti!" ucap Bram, saat Gendis membuka pintu mobil.


Gadis itu menghentikan sejenak gerakannya sebelum turun meninggalkan Bram yang terlihat membuka panggilan dari Seruni. Begini saja, ada yang membuat hatinya nyeri. Mungkinkah, hatinya sudah melampaui batasan sebagai istri dari pernikahan yang berdiri atas perjodohan?


"Kenapa hatiku rasanya sesakit ini, rasanya seperti sedang dikhianati." gumam Gendis dalam hati. Dia buru-buru keluar dari mobil sebelum lebih terluka lagi mendengar percakapan sepasang kekasih itu.


Gendis keluar dari mobil dengan berusaha menampilkan wajah tersenyum ceria, apalagi saat melihat Ibu mertua yang berjalan menyambut kedatangannya. Dia tidak ingin membuat wanita yang penuh perhatian itu merasa kecewa.


"Apa kabarmu, Nduk?" sambut Bu Harun kemudian memeluk menantu kesayangannya.


"Loh tubuhmu panas banget. Kamu sakit?" lanjut Bu Harun saat meregangkan pelukannya pada Gendis. Beliau meneliti wajah Gendis yang terlihat memerah.


"Sedikit nggak enak badan, Bu." jawab Gendis dengan tersenyum.


"Ayo, langsung masuk ke kamar!" ajak Bu Harun yang sudah menyiapkan kamar untuk Gendis dan Bram, ketika Bram mengabari sedang dalam perjalanan menuju rumah beliau.


"Bram, kenapa nggak segera masuk? Padahal istrinya sedang sakit. Apa anak itu masih sama sikapnya yang cuek sama orang." gerutu Bu Harun ketika belum melihat Bram masuk.


Setelah membantu Gendis merebahkan diri di ranjang berukuran besar, Bu Harun langsung melangkah keluar untuk mencari keberadaan putranya.

__ADS_1


Terlihat Bram yang baru saja melangkah masuk, wanita yang sudah terlihat panik itu langsung menghampiri putranya.


"Apa kamu tidak tahu jika istrimu demam?" tanya Bu Harun dengan wajah serius ketika menghadang langkah putranya.


"Apa secuek itu perlakuanmu pada Gendis?" lanjut Bu Harun tanpa menunggu penjelasan pada Bram.


"Bram, tidak tahu jika Gendis demam." jawab Bram kemudian berjalan dengan tergesa ke arah kamar dan diikuti oleh ibunya.


Terlihat Gendis meringkuk dengan selimut menutup tubuhnya dari kaki hingga leher. Sungguh, Bram tidak tahu jika kondisi Gendis bertambah parah setelah terlihat bersin-bersin beberapa kali.


"Bram akan membawa Gendis ke rumah sakit saja, Bu." ujar Bram terlihat panik setelah memeriksa suhu badan Gendis dengan telapak tangannya. Dia juga berfikir, mumpung masih sore juga.


"Ibu akan memanggil Bu Yeni, bidan desa." pamit Bu Harun.


"Biar Bram saja, Bu." sela Bram membuat Bu Harun menghentikan langkahnya.


"Temani Gendis! Dia pasti ingin kamu temani." sambut Bu Harun kemudian berjalan cepat meninggalkan Bram yang terlihat tidak nyaman dengan tatapan ibunya.


Hal yang paling lemah bagi Bram adalah tentang wanita yang sudah susah payah memperjuangkan dan membesarkan dirinya seorang diri.


"Ndis..." Tak ada jawaban dari Gendis hingga membuat dirinya merasa tidak nyaman dengan posisinya. Tapi, lelaki itu berusaha meyakinkan dirinya jika sikap Gendis hanya karena dirinya sedang sakit.


Beberapa menit kemudian, Bu Harun datang bersama bidan desa yang tinggal selang dua dua rumah dari rumah beliau.


"Permisi, Mas Bram." ucap Bu Nuning saat mengambil alih posisi Bram dan memeriksa tekanan darah Gendis.


"Apa istrinya Mas Bram sudah telat menstruasi?" tanya Bu Nuning membuat Gendis membuka matanya.


"Baru kemarin selesai menstrausi, Bu." lirih Gendis. Bram sejak tadi memang memperhatikan Gendis yang terdiam, hingga dirinya tidak fokus pada kondisi Gendis.


"Jika nanti malam panasnya tidak turun, lebih baik langsung dibawa ke dokter saja, Mas." ujar Bu Nuning dengan memberikan dua jenis obat. Beliau juga tidak berani bertindak lebih karena statusnya bidan bukan dokter.

__ADS_1


Bu Harun kembali mengantar Bu Nuning kembali, kedua wanita itu berjalan bersama dengan membicarakan sesuatu.


Bram naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya tepat di belakang Gendis yang kini berbaring dengan posisi membelakanginya.


"Kita ke dokter, Ndis?" tanya Bram sambil menatap tubuh mungil itu dari belakang. Terlihat Gendis hanya menggeleng.


Suasana terlihat hening, mereka terdiam dengan rasa yang cukup tidak nyaman. Bahkan, Gendis sempat menitikan air mata. Tidak hanya tubuhnya, tapi pikiran dan hatinya pun tidak baik-baik saja. Gadis itu mencengkeram selimutnya tanpa sadar, seolah meluapkan rasa hatinya yang terluka.


Gendis Pov


Aku berada di ambang batas yang aku tidak tahu sampai kapan. Seharusnya, sebuah pernikahan mengikiskan banyak perbedaan, jarak dan banyak batasan lainnya. Tapi, beda dengan pernikahanku dengan Mas Bram.


Aku seperti terombang-ambing dalam pernikahan ini dan aku sudah terjebak di dalamnya. Sungguh, kehilangan Papa dan Mama membuat diriku tidak bisa perfikir dengan baik, kemana tujuan hidupku untuk selanjutnya, bahkan gambaran ke depan tentang hidupku pun tidak ada terlintas dalam pikiranku.


Rasa kehilangan membuat diriku hanya ingin melakukan apa yang diminta Papa untuk terakhir kalinya, tanpa bisa berfikir, jika semua menjadi serumit ini.


Pernikahan adalah hal terumit yang pernah aku jalani dalam hidupku. Saat ini, aku merasa berada diambang batas, batasan yang tidak bisa aku lalui dengan mudah dan batasan yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Bahkan, sampai kapan batasan ini akan berdiri kokoh, aku sendiri tidak tahu.


Author Pov


Suara derit pintu yang terbuka membuat Gendis menyeka air matanya. Dia tidak ingin ibu mertuanya atau Bram melihatnya menangis.


Bahkan, Bram yang sejak tadi terdiam pun beranjak duduk. Lelaki itu sudah merasa tidak nyaman dengan situasi yang diciptakan Gendis.


"Bram, suapi istrimu makan dan segera minum obat!" titah Bu Harun dengan membawa makanan dan minuman ke kamar.


Bram langsung menyambut apa yang dibawa ibunya, sementara Gendis mulai membuka matanya dan berlahan beranjak duduk.


"Gendis tidak sakit parah, Bu. Gendis hanya merasa lelah dan kembung saja." lirih Gendis saat mertuanya duduk di sebelahnya. Dari tatapan Bu Harun, Gendis tahu jika mertuanya cukup mengkhawatirkan keadaannya.


"Sebaiknya kamu makan, terus minum obat." ujar Bram dengan memegang sepiring nasi dengan porsi yang cukup kecil yang dibawakan ibunya untuk Gendis.

__ADS_1


"Aku akan makan sendiri, Mas." ucap Gendis dengan mengambil alih sendok dan piring dari tangan Bram.


Bram hanya menatap Gendis, dia merasa ada yang beda dengan Gendis. Gendis seperti menghindar darinya, setelah mengetahui hubungannya dengan Seruni secara detail.


__ADS_2