
"Mas, kok males ke kampus ya! Padahal sore ada janji dengan mahasiswa skripsi yang akan bimbingan." ujar Bram menghampiri Gendis yang masih nampak merapikan dapurnya.
Gendis yang masih menata beberapa peralatan dapur itu pun menghentikan gerakannya. Tidak biasanya, Bram memelihara rasa malasnya.
"Mas Bram, nggak enak badan?" tanya Gendis dengan menatap sosok bertubuh tinggi yang kini masih menunggui di sebelahnya. Bram setengah bersandar pada dinding dapur.
"Nggak, sih." jawab Bram kemudian tersenyum penuh arti.
"Terus...?" Gendis yang kini ganti menatap Bram dengan curiga.
"Kayaknya kita perlu bulan madu, Sayang." rayu Bram. Dia semakin mendekat ke arah istrinya menarik tubuh kecil itu hingga tak berjarak.
"Aku masih marah sama kamu lo, Mas!" ujar Gendis dengan mendongakkan wajahnya menatap wajah yang tampan hingga membuat banyak para wanita terpesona saat menatapnya.
"Astaga, Sayang. Semalam kamu hampir memp*rkos* Mas, tapi bilang masih marah?" Mendengar kalimat Bram, wajah Gendis langsung memerah menahan malu setiap kali mengingat kejadian itu.
"Itu gara-gara, bocah tengik itu. Si Radit benar-benar kurang ajar!" gerutu Gendis dengan wajah kesal seolah ingin sekali meremukkan tulang pemuda itu.
"Kamu tahu?" tanya Bram dengan penasaran. Satu kaki dan tangannya mengunci tubuh mungil itu agar tidak menjauh dan satu tangannya menyingkirkan anak rambut istrinya adat tidak menghalangi kecantikan yang terpancar dari wajah Gendis.
"Aku mendengar kalian berdebat." jawab Gendis, posisi tubuhnya yang tidak seimbang membuat tangannya spontan berpegang di kedua sisi pinggang Bram.
"Mungkin, ini jalannya agar kita dapat pahala." lanjut Bram, suaranya terdengar lirih dengan tatapan memuja.
Berlahan wajah berahang tegas itu mengikis jarak diantara keduanya hingga keduanya kembali berciuman dan saling *******.
"Mas, kita masih di dapur." ujar Gendis yang masih merasa aneh jika harus melakukannya di ruangan terbuka seperti itu.
Bram pun mengangkat tubuh Gendis dengan harus melepaskan ciumannya, bibir ranum itu memang bagai candu bagi lelaki yang kini berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari posisi awal mereka.
Tubuh Gendis yang seperti candu membuat Bram menggila, hingga wanita yang berada dalam lingkungannya itu pun di buat melayang.
Tidak ada yang menyangka, di balik wajah coolnya dan sikap kalemnya ternyata lelaki itu itu begitu gila saat bercinta.
__ADS_1
Terdengar suara Azan Dhuhur saat tubuh keduanya terkulai lemah di bawah selimut. Gendis masih mengumpulkan sisa- sisa tenaganya untuk bangkit setelah melayani Bram.
"Sayang, kamu ikut ke kampus dengan, Mas?" tanya Bram. Entah kenapa rasanya dia tidak ingin jauh dari istrinya.
"Aku malu, bekas yang semalam di leher masih terlihat jelas." ujar Gendis. Sebenarnya Gendis ingin jalan-jalan keluar, tapi malas jika ke kampus Bram mayoritas penghuni kampus teknik adalah laki- laki.
"Kamu bisa menutupinya dengan bedak." lanjut Bram. Tapi, seketika malah membuat Gendis menoleh, menatap penuh selidik wajah lelaki di depannya.
"Mas Bram, begitu berpengalaman."
"Astaga, Sayang. Mas, tadi sudah browsing. Bukannya sering melakukan itu. Mas, nggak hobby main perempuan!" jelas Bram, membuat tatapan Gendis melemah.
Gendis pun beranjak dari tempat tidurnya. Dia memunguti baju yang sempat di lempar Bram ke sana kemari sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Mereka sepakat untuk pergi keluar bersama, Bram pergi ke kampus dan Gendis akan di turunkan di mall untuk berbelanja.
"Sayang, ayo cepat!" ucap Bram meneriaki Gendis saat dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul satu. Entah apa yang dilakukan istrinya hingga berdandan pun begitu lama.
"Iya- ya, Mas."
"Nggak cuma satu pula." gerutu Gendis sambil berjalan masuk kedalam mobil membuat Bram tersenyum.
"Kamu cantik mengenakan Dress ini." puji Bram sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Dress yang dikenakan Gendis memang tersimple dengan kerah berbentuk neckless dengan potongan midi, hingga membuat Gendis terlihat begitu anggun.
Mobil meluncur mengantarkan Gendis ke mall terlebih dahulu, Gendis memang berniat berbelanja sambil menunggu Bram ke kampus.
"Hati- hati, Sayang!" ujar Bram dengan mencium singkat bibir mungil itu
Gendis pun mencium tangan Bram, sebelum membuka pintu mobil dan turun di depan mall.
Bram pun kembali melajukan mobilnya ke kampus. Hanya satu jam mata kuliah, dan bimbingan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang akan mengisi waktu Bram sore ini.
Satu setengah jam Bram menghabiskan waktunya di kelas. Kelas yang awalnya tenang pun mendadak ricuh kala Bram mengakhiri sesi pertemuan mereka.
__ADS_1
Lelaki berwajah tegas itu keluar dari kelas diikuti dengan mahasiswa yang ikut mata kuliahnya. Bramasta Dewangga, dosen yang dikenal tampan dan pintar itu berjalan penuh dengan kharismatik menuju kantornya.
"Pak Bram..." panggil seorang mahasiswi dengan berusaha menyamai lelaki yang kini melangkah dengan tatapan lurus ke depan .
"Ada apa?" tanya Bram tanpa melihat gadis yang susah payah mengejarnya.
"Saya akan bimbingan dengan Pak Bram sebagai pembimbing pertama." jawab gadis itu.
Bram membuka pintu ruangannya. Kemudian duduk di kursi kebesarannya, disusul gadis berambut panjang dengan kaos ketat di padu dengan jeans itu duduk di depan Bram.
"Saya mau mengajukan judul skripsi ini." ujar Gadis itu dengan hati-hati. Dalam hatinya dia mengagumi Bram karena dosen di depannya itu sangat tampan dan dikenal cerdas.
Bram mencermati proposal sebagai gambaran dari skripsi yang akan diajukan mahasiswi itu. Tidak butuh waktu lama untuk bisa memahaminya tapi dia juga harus mengamatinya dengan seksama, " Saya akan mempelajarinya terlebih dahulu. Lusa kamu bisa menemui saya lagi." ujar Bram membuat gadis itu mengangguk dan kemudian beranjak untuk pergi.
"Oh ya..."
"Saat bimbingan, tolong bajunya yang sopan! Jika tak ada baju yang sopan kamu bisa gunakan jas almamater." lanjut Bram tanpa melihat wajah mahasiswinya sudah memerah.
Mahasiswi itu keluar dengan rasa malu dan kesal. Dia tahu Bram memang selalu bersikap dingin, tapi dia tidak menyangka jika dosen laki laki itu langsung mengatakannya begitu saja.
"Tok...tok...habis bimbingan?" Deska langsung masuk ke dalam ruangan Bram dan sesekali menoleh ke arah gadis yang berjalan menjauh itu.
"Iya..." jawab Bram dengan datar.
"Gila seksi banget. Dadanya besar, Bram. Hati-hati nanti tergoda." celetuk Deska.
"Dasar ustad mesum! Otakmu penuh maksiat." umpat Bram.
"Aku sudah memintanya untuk berpakaian sopan saat bimbingan. Entahlah, anak jaman sekarang, udah tahu lingkungannya laki - laki semua tapi malah mancing-mancing." gerutu Bram membuat Deska terbahak.
"Jangan bahas generasi Bram. Aku belum menikah dan tidak ingin di katakan generasi Old." protes Deska.
"Kemarin sorry banget aku nggak bisa ikut acara pindahan rumah. Soalnya di rumah ada acara Bram." ujar Deska. Lelaki itu sebenarnya ingin mengajak Bram ngopi bersama tapi ditolak oleh Bram karena dia harus segera menjemput Gendis.
__ADS_1