
"Gila...!"
"Ini benar-benar gila!" umpat seorang lelaki saat melepaskan anak panahnya dengan asal-asalan.
Zayn sudah menghabiskan beberapa anak panah. Tapi, bidikannya tidak juga mengena tepat pada sasarannya.
Gendis. Gadis itu semakin liar membayang dalam ingatannya. Senyum manis dan kenaifannya membuat lelaki itu semakin mabuk kepayang terhadap istri orang.
"Bang Zayn..." panggil seorang gadis menghampiri lelaki yang tengah berdiri di tengah lapangan yang dibuat khusus di belakang rumahnya. Zayn memang sedang bermain panah sendirian.
Zayn hanya menoleh ketika Areta berlari kecil menghampirinya. Gadis yang menjadi salah satu sahabat Seruni itu merupakan sepupu Zayn. Dialah yang memberikan banyak informasi saat Zayn bertanya tentang hubungan Seruni dan Bram.
"Ada apa, Ret?" tanya Zayn saat gadis berambut sebahu itu berdiri di depannya.
"Bang, pinjam villanya dong!" pinta Areta setelah mendudukkan bobotnya pada kursi yang berada di dekat lelaki yang punya tubuh tinggi tegap itu tengah berdiri menatap sasarannya.
"Buat apa?" tanya Zayn, kemudian berjalan menghampiri Areta yang masih menunggu jawaban 'Iya' darinya.
"Buat acara pesta lajang sama teman-teman." jawab Areta.
"Masih lama, sih. Tapi, takut nanti ada yang nyewa, Bang." lanjut Areta.
"Kamu bilang saja sama Pak Hamdan(penjaga villa) biar nanti di kosongkan." jawab Zayn singkat, kemudian menegak segelas air yang ada dalam botol di atas meja.
"Kamu sudah yakin mau menikah dengan Delon?" tanya Zayn mengingatkan sepupunya itu, meskipun sebenarnya dia tidak ingin ikut campur urusan orang lain.
"Dia baik dan pendiam, Bang. Aku yakin dia tidak neko-neko." jawab Areta begitu yakin pada lelaki yang sudah dia kenal hampir setahun-nan.
Zayn terdiam, dia malah mengotak-atik ponselnya, membalas pesan yang baru saja di kirim oleh asistennya. Tapi, bukan berarti dia tidak mendengarkan Areta.
"Pendiam belum tentu setia." sahut Zayn dengan menatap layar ponselnya. Lelaki itu memang terkesan acuh.
"Bang, jangan buat Areta ragu. Aku dan Delon mau menikah, kita udah tunangan." ujar Areta.
Kalimat Zayn begitu berpengaruh pada Areta. Gadis itu bukan tanpa alasan menganggap serius apa yang baru saja diucapkan sepupunya.
Dia tahu, Zayn punya team cyber yang mengintai setiap orang yang membuat dirinya penasaran.
Zayn hanya tersenyum miring. Dia tidak ingin mencampuri terlalu jauh urusan orang. Baginya, setiap orang bisa berubah seperti Delon yang mungkin sudah berubah mempermainkan perempuan ketika bertemu Areta. Zayn sendiri mendapat berita itu hanya setengah-setengah.
__ADS_1
"Bang, aku dengar Abang lagi jomblo, ya?" Areta dengar berita tentang sepupunya itu dari salah satu temannya yang sejak dulu mengagumi Zayn. Temannya itu meminta Areta untuk mengenalkannya pada Zayn.
"Emang kenapa? Aku sudah bosan pacaran, maunya langsung nikah dan punya anak." jawab Zayn singkat.
Setiap memikirkan pernikahan dan anak yang terlintas justru istri seseorang. Gendis. Hanya Gendis yang menguasai pikiran dan hati Zayn.
"Nikah dulu, kan, Bang? Bukan Nikah dan punya anak secara bersamaan." goda Areta sambil tersenyum mengejek. Bukan rahasia lagi jika Zayn memang paling senang bermain wanita. Tapi, saat ini dia enggan punya hubungan dengan wanita manapun kecuali istri orang yang satu itu.
Sebuah panggilan dari ponsel Zayn membuat lelaki itu kemudian berdiri dan menjawabnya. Wajahnya, nampak serius hingga Areta pun tidak berani mengajaknya lagi bicara.
"Abang, masih ada urusan. Jika butuh Villa , konfirmasi saja sama Pak Hamdan." lanjut Zayn kemudian berjalan pergi meninggalkan Areta yang masih duduk di tengah lapangan tembak.
###
Bram berjalan di belakang Gendis saat mereka melangkah menuju unit apartemennya. Sejak tadi, Gendis enggan berdekatan dengannya. Dia lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
"Biar, Mas, pesan makanan. Kamu istirahat saja." ucap Bram saat Gendis tepat berada di depan kamar. Gadis itu hanya mengangguk dan kemudian memasuki kamar.
Bram menatap pintu kamar yang kembali tertutup. Saat ini dia merasa khawatir dengan kondisi psikis Gendis. Gadis yang dulunya periang, saat ini lebih banyak diam.
Bram melangkah menuju balkon dengan menghidupkan ponselnya kembali. Dia akan memesan makanan lewat aplikasi yang biasa digunakan oleh orang orang jaman sekarang.
Bram meletakkan kembali ponselnya setelah memesan makanan. Mode silent itu jauh lebih baik, agar dia bisa fokus dengan masalah rumah tangganya.
Senja kali ini terlihat lebih gelap dari biasanya. Mendung seperti melenyapkan keindahan yang biasa hadir di kala sore. Seperti dirinya yang semakin dibuat cemas dengan kondisi Gendis.
Bram menatap hampa suasana di luar dari balkon. Dia merasa masalahnya semakin pelik dengan kecerobohannya sendiri. Entah, kenapa saat melihat Gendis dia begitu sulit mengendalikan diri.
Sejak tadi dia sudah berdiri dengan tatapan hampa, entah sudah berapa lama, sehingga suara bel yang berbunyi membuyarkan lamunannya.
Bram melangkah untuk membukakan pintu dan ternyata benar, seorang kurir sudah berdiri dengan membawakan pesanannya.
"Tok... tok..."
"Gendis, makan dulu!" panggil Bram dengan mengetok pintu kamar dengan hati- hati.
"Ndis... kamu tidur?" panggil Bram setelah beberapa kali memanggil. Dia tidak berani membuka pintu kamar meskipun itu miliknya sendiri.
Sesat kemudian, berlahan pintu kamar di buka. Gendis berdiri dengan wajah lebih segar dari sebelumnya, bahkan rambutnya juga masih terlihat lembab. Tapi, mata sembab itu tidak bisa disembunyikan dari hadapan Bram.
__ADS_1
"Aku baru selesai mandi, Mas." lirih Gendis.
Gadis itu memang nampak lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu makan dulu, gih!' ujar Bram di jawab anggukan Gendis. Sekuat tenaga dia berusaha memulihkan perasaannya, membuang rasa takut pada sosok Bram.
"Mas akan mandi dulu." ucap Bram seraya akan melangkah masuk ke dalam kamar. Tapi, Gendis yang spontan langsung menghindar dengan memundurkan langkahnya membuat Bram menghentikan gerakannya.
"Maaf, Mas." ucap Gendis dengan menundukkan pandangannya, kala Bram menatapnya heran. Bukan hanya heran, sorot mata itu juga menyiratkan rasa prihatin.
Melihat semuanya, Bram bertambah frustasi, ternyata istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kamu makan dulu, saja!" lirih Bram dengan menatap Gendis yang berlahan melangkah menuju meja makan.
Sebenarnya gadis itu tidak berselera. Tapi, saat dia memikirkan jika dirinya sakit pasti akan menambah masalah baru, Gendis memaksa dirinya untuk menelan makanan.
Di bawah guyuran shower, Bram merutuki kebodohannya. Gendis ternyata tak sekuat yang nampak, gadis itu justru lebih rapuh dari yang dia perkirakan. Dia seperti tidak mengenali Gendis yang sekarang.
"Tok...tok..."
"Mas ada tamu." ujar Gendis dengan mengetok pintu kamar mandi.
"Iya sebentar!" jawab Bram yang langsung bergegas keluar dengan hanya mengenakan handuk dan tubuhnya yang masih basah.
Tapi, ternyata saat dia membuka pintu kamar mandi. Suara seseorang yang sempat memanggilnya sudah tidak ada. Padahal, dia secepat mungkin keluar hanya ingin bertanya tentang siapa yang datang.
Gendis. Dia berhasil mengacaukan dunianya, membuat seorang Bramasta Dewangga kalang kabut dengan perasaan bersalah.
Dan ternyata, hanya Gendis yang mampu membuat Bram sulit mengendalikan dirinya sendiri.
Bram keluar dari kamar dengan keadaan rapi. Lelaki itu melangkah menuju ruang utama dengan rasa penasaran. Kali ini dia berharap jangan sampai Seruni yang datang untuk menambah kekacauannya dengan Gendis.
BramG
Gendis
__ADS_1