Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Perasaan


__ADS_3

Menjalani hidup sebagai orang dewasa memang sangat rumit. Itu yang dirasakan Gendis saat ini. Apalagi jika mengahadapi persoalan yang ada sangkut pautnya dengan perasaan, semuanya serba salah dan terkadang juga menyakitkan.


Mungkin inilah pertama kalinya dia jatuh cinta dan patah hati pada seseorang. Ternyata perasaan pernah dimilikinya saat masih SMA terhadap Abiyan memang beda dengan apa yang dirasakannya pada Bram.


"Ndis, cepetan! Mas, juga belum Salat Magrib." Bram mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi.


Berlahan, pintu kamar mandi terbuka. Gendis melongokkan kepala, "Mas Bram keluar, dulu! Aku lupa bawa baju." ujar Gendis dengan malu-malu.


"Kamu ganti di luar saja, Ndi! Mas, akan segera masuk." ujar Bram yang merasa Gendis terlalu bertele-tele hanya akan ganti kamar mandi saja.


"Tapi..." ragu Gendis jika harus keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk saja.


"Astaga, Gendis. Waktu Magrib keburu, habis." ujar Bram dengan mendorong paksa daun pintu.


"Aaagggrrhhh ... " teriak Gendis saat dia berdiri di depan Bram hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya.


"Mas tahu jika kamu sudah mengenakan handuk. Jadi tidak akan membuat Mas ter*ngs*ng." lanjut Bram yang terdengar frontal di telinga Gendis. Hasta dan Rahayu memang selalu mengajarkan Gendis untuk bertutur kata yang sopan.


Mata tajam Bram sempat memperhatikan bahu putih Gendis dan tubuh mungil yang cukup berisi itu. Ah sialnya, ada lintasan hasrat yang tiba-tiba menjalar mengusik bagian-bagian tertentu dalam dirinya.


Bram hanya melewati Gendis, saat Gendis keluar dengan menyilangkan satu tangan di dada itu.


"Dia nggak ter*ngs*ng. Tapi, aku tetap malu." gerutu Gendis yang masih merasa malu dan kesal dengan kelakukan Bram. Apalagi saat menyadari tatapan Bram sempat tertuju pada dada kemudian beralih pada pahanya. Gadis itu bergidik ngeri ketika terbayang cara Bram memindai pandangannya.


"Sial..." umpat Bram ketika di bawah guyuran shower. Lelaki itu malah merasa kesal saat adik kecilnya tidak bisa dikondisikan ketika melihat tubuh Gendis. Kulit putih dan lekukan itu terlihat jelas dan selalu membayang mengusik ketenangan hasratnya.


Dia pikir hanya seperti itu tidak akan berpengaruh dengan dirinya. Tapi, semua yang sudah dia perkirakan malah meleset. Gendis memang selalu membuat sisi kelelakiannya begitu sensitif.


"Astaga..." gumam Bram berusaha menuntaskan hasratnya sebelum waktu Magrib selesai.


Lelaki yang kini terlihat segar itu keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang. Tubuh atletis yang masih nampak basah itu juga terlihat lebih seksi.


Setelah berganti pakaian dan Salat Magrib, Bram langsung keluar dari kamar. Wajahnya terlihat segar dengan rambut yang masih basah dan sudah rapi.


Lelaki itu yang kini melirik sekilas sosok mungil di dekat kompor itu melangkah mendekati meja makan. Perutnya memang sudah sangat lapar.

__ADS_1


"Ndis, masih lama?" tanya Bram membuat Gendis menoleh.


"Ini baru saja di potong dagingnya." ujar Gendis dengan menghidupkan kompor. Rencananya, dia hanya akan memasak daging lapis saja.


Bram berjalan mendekat, dia tidak menyadari jika Gendis seperti magnet baginya. Langkahnya seolah selalu mencari keberadaan gadis mungil itu.


"Mas, bantuin apa?" tanya Bram mendekat ke arah Gendis berdiri. Ini pertama kalinya Bram menawarkan bantuannya untuk urusan dapur.


"Sawinya, dibikin orik arik saja ya, Mas?" tanya Gendis tanpa menolehi lelaki yang sudah berdiri di sampingnya.


"Terserah kamu." jawab Bram sambil melihat Gendis menumis bumbu yang sudah dihaluskan.


Entah kenapa saat melihat setiap gerak gerik Gendis saat memasak membuat Bram tertarik. Pemandangan yang terlihat begitu seksi di matanya.


"Mas, tolong potong sawinya." ujar Gendis. menyerahkan sawi putih yang sudah dicucinya.


Lelaki itu pun menurut saja, dengan sesekali melirik Gendis yang memasukkan irisan daging pada bumbu yang harum.


"Mas, dipotong sekitar empat senti saja." lanjut Gendis mengingatkan Bram yang terlihat hanya menonton dirinya saja.


"Iya-iya." jawab Bram.


Keduanya saling membantu menyelesaikan urusan dapur agar secepatnya bisa menikmati makan malam.


Gendis memang sosok yang sederhana. Gadis yang terkesan biasa, tapi caranya yang sederhana itulah yang membuat Bram terhanyut di dalamnya.


Mereka pun menikmati makan malam dengan tenang, hingga suara dering ponsel milik Bram terdengar. Keduanya berusaha berada pada posisinya masing-masing tanpa harus menuntut satu sama lain.


Bram bangkit dan mengambil ponselnya yang tergeletak di antara rak partisi. Ibunya yang ternyata kini melakukan panggilan.


"Assalamualaikum." ucap Bram sambil berjalan kembali ke meja makan.


"Waalaikum salam." jawab Bu Harun sambil tersenyum saat melihat wajah putranya dari layar ponsel.


"Kapan kamu mengisi rumahmu, Bram?" tanya Bu Harun. Sebenarnya sudah dari kemarin wanita itu bertanya tentang rumah baru dibeli putranya.

__ADS_1


"Ini Ibu bicara sama Gendis." ujar Bram menyerahkan ponselnya pada Gendis. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada ibunya karena justru Gendis ingin berpisah.


Gendis mengambil ponsel milik suaminya dengan dilema yang masih dia tutupi. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan pada mertuanya yang sangat baik dengannya.


"Nduk, kapan belanja perabot? Sebaiknya rumahnya segera di tempati saja. Jika uangnya belum cukup membeli semua perabotan, kalian beli saja yang penting dulu." Kalimat Bu Harun membuat Gendis takut untuk membahas apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya. Dia tidak tahu lagi apa yang mesti dia katakan nanti.


"Mas Bram, masih sibuk, Buk." jawab Gendis berusaha menghindari pertanyaan yang akan semakin sulit untuk dijawab.


"Bram..." panggil Bu Harun.


"Iya, Buk."


"Sebaiknya cepat pindahannya. Nanti ibu kirim sedikit uang untuk tambahan mengisi rumah baru." jelas Bu Harun.


"Nggak usah, Buk. Uangnya buat kebutuhan ibu saja. Bram masih ada tabungan untuk itu." tolak Bram dengan tegas. Dia tidak ingin menyusahkan ibunya lagi, sudah cukup perjuangan ibunya membesarkan dirinya dengan susah payah.


"Bram, jangan menolak. Anggap saja itu hadiah untuk Istrimu. " desak Bu Harun. Beliau tahu Bram akan bersikeras menolak.


"Iya, Buk. Nanti Bram telpon lagi."


"Terima kasih." seketika Bram menutup panggilan ibunya saat melihat Gendis menangis.


Wajah putih istrinya berubah memerah saat dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Ndis, kenapa?" tanya Bram.


Gendis hanya terdiam. Nafasnya tersengal saat berusaha menahan Isak tangisnya.


"Ndis..." Bram berdiri kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Gendis yang masih duduk di kursi.


"Ada yang salah?" tanya Bram.


"Ak- aku merasa terharu, aku merasa Ibu sangat menyayangiku, Mas." ujar Gendis masih dengan air mata yang berlinang.


"Sudah jangan menangis. Ibu hanya ingin kamu bahagia, bukan menangis." Bram mengusap punggung Gendis. Pemandangan seperti ini seperti membuat dilemanya semakin dalam.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Tapi, aku juga takut kenangan dan perasaanku bersama Seruni tak pernah usai saat aku memilih Gendis." batin Bram


__ADS_2