Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Dompet Tertinggal


__ADS_3

Gendis merasa gelisah saat Ambar mengatakan, jika dia akan dijemput temannya karena ada kegiatan kampus yang mendadak.


"Mbak Gendis, tidak apa jika pulang sendiri? Atau nunggu saja di kos sampai Mas Bram menjemput." ujar Ambar saat memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis.


Meskipun Ambar lebih tua dari Gendis. Tapi, mereka tetap menggunakan panggilan kekerabatan agar silsilah dalam keluarga besar mereka tidak terputus.


"Aku pulang sendiri saja, Dek Ambar." jawab Gendis merasa tidak enak pada Ambar jika berada di kos Ambar sendirian. Dia juga tidak mengatakam jika dompetnya ketinggalan karena tidak ingin membebani Ambar.


Tadi siang, saat Gendis merasa jenuh di apartemen sendirian, dia bertukar pesan dengan Ambar. Saat itulah, Ambar bilang jika jam kuliahnya hari ini sudah selesai, Gendis yang mendengarnya pun meminta Ambar untuk menjemput dirinya di apartemen. Gendis memang ingin sekali tahu, dimana keberadaan kos-kosan yang di tempati adik sepupunya itu.


Begitu senangnya Gendis saat melihat Ambar datang untuk menjemputnya, hingga dia lupa jika sudah tidak ada dompet di tasnya itu. Gadis itu pergi tanpa sepeser uang pun yang dia bawa.


"Maaf lo, Mbak, rapat Bem-nya mendadak. " Ambar pun merasa tidak enak, dia terkesan memaksa Gendis untuk pulang sebelum mereka puas menghabiskan waktu.


"Ayo Dek! Aku sudah siap pulang. Aku juga akan menunggu Mas Bram di pinggir jalan saja." ucap Gendis sambil tersenyum. Dia tidak ingin Ambar merasa bersalah padanya.


Mereka akhirnya keluar kos bersama. Ambar yang sudah ditunggu temannya pun membiarkan Gendis berjalan beberapa meter ke depan, dimana di pinggir jalan besar itu ada sebuah bangku yang terbuat dari besi yang menjadi tujuannya untuk menunggu Bram.


"Mas Bram, di mana ya? " gumam Gendis saat melihat kembali pesan yang dia kirim untuk Bram.


Belum ada satu pesan pun yang dibaca oleh Bram, bahkan panggilannya juga tidak diangkat oleh Bram, membuat Gadis yang tidak punya ongkos pulang itu menjatuhkan tubuhnya dengan lemah di kursi yang ada di pinggir jalan.


"Terpaksa menunggu, sampai Mas Bram membaca pesanku." gumam Gendis sedikit kesal.


"Mana sudah sore." gerutu Gendis. Saat mentari hanya bersinar dengan samar dan begitu redup. Suasana tempat dimana dia menunggu juga sudah terlihat lenggang.


Gendis kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian dia kembali mengambil ponsel dalam tas untuk. memeriksa pesan dari Bram. Tapi, ternyata belum juga mendapat balasan.


"Sendirian?" Suara itu membuat Gendis menoleh.


Lelaki dengan perawakan tinggi itu sudah berdiri di sampingnya. Zayn tersenyum pada gadis yang kini membalasnya dengan kaku.

__ADS_1


" Iya.. " jawab Gendis singkat. Dia tidak ingin berlama-lama dengan lelaki yang tidak dia kenal sama sekali. Seperti pesan Bram.


"Aku belum tahu namamu."


"Jika boleh tahu siapa namamu? " cecar Zain dengan terus menatap gadis berwajah cantik dan manis itu tanpa berkedip.


Zain begitu terpesona dengan kecantikan Gendis. Tampilannya yang tertutup dengan model baju kekinian membuat gadis itu terkesan elegant di mata lelaki yang sudah pernah menjajaki puluhan wanita.


"Kamu takut aku guna-guna?" goda Zayn dengan melirik Gendis.


"Bukan-bukan, mas. " sergah Gendis mengelak atas tuduhan Zayn. Gendis juga tidak yakin jika lelaki di sebelahnya itu mempercayai tahayul seperti itu.


Lelaki dengan rambut klimis itu terkekeh. Dia merasa gadis di depannya itu begitu naif. Gendis berbeda dengan wanita-wanita yang selalu mencari perhatiannya.


Sejenak mereka terdiam, hingga atmosfir diantara mereka terasa kaku. Iya, Gendis masih mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Namaku Gendis." jawab Gendis lirih. Dia merasa ragu karena mengingat, jika Bram mengetahui ini pasti akan marah.


"Manis. "


"Pantas kamu sangat manis sekali. " puji zain membuat Gendis tersipu. Meskipun dia sudah terbiasa dengan pujian akan fisiknya tapi tetap saja pujian lelaki dengan tatapan yang begitu lekat membuat dirinya salah tingkah.


"Oh iya.. Beneran kamu sudah menikah? " tanya Zain yang memang sebelumnya tidak percaya jika Gendis sudah menikah dengan lelaki yang terlihat matang itu.


"Ndis, apa benar kamu sudah menikah? " Ulang zayn setelah beberapa menit Gendis hanya terdiam. Zayn terus saja memperhatikan Gendis yang terus mengayunkan kedua kaki untuk menghilangkan grogi.


"Dia sudah menikah!" Gendis terperangah mendengar suara itu. Entah dari mana datangnya Bram yang tiba-tiba sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Apa perlu aku menunjukkan buku nikah kami agar kamu puas. " lanjut Bram bersamaan langkahnya menghampiri Gendis.


Wajah tampan itu terlihat lebih mengerikan dengan rahang yang sudah mengeras karena rasa marah yang harus dia kendalikan.

__ADS_1


"Pulang sekarang, Ndis! " titah Bram dengan memegang lengan Gendis. Lelaki itu berniat membawa istrinya pergi.


"Aku bertanya dengannya, bukan denganmu!" Zayn akhirnya berdiri. Dia menatap Bram dengan cemooh. Lelaki itu soale mengerti kegusaran yang di rasakan Bram.


Sebagai seorang pengusaha yang cukup berpengalaman dia bisa menganalisa jika hubungan antara Gendis dan Bram tidak seperti umumnya. Bahkan, Zayn sempat mencari tahu tentang Gendis dan Bram dari orang kepercayaannya.


"Berhentilah mencampuri urusan orang lain!" teriak Bram sudah merasa kesal.


"Apa kamu merasa terancam? " balas Zayn dengan tersenyum sini.


"Brengsek!" pekik Bram dengan melayangkan pukulan tepat mengenai wajah berharga Zayn.


"Sialan... " Zayn berusaha membalas pukulan Bram. Pukulan lelaki yang tak kalah emosi itu menyerempet wajah tampan Bram.


"Berhenti...!"


"Kalian berhenti! " Gendis berteriak-teriak penuh dengan kepanikan kala melihat dua lelaki dewasa itu saling menyerang dan terluka.


Gendis akhirnya nekat mendekati dan memeluk tubuh besar Bram," Berhenti...!" teriak Gendis sekencang mungkin dengan berusaha mendorong tubuh Bram untuk mundur.


Bram pun mengikuti gerakan Gendis yang sudah terlihay ketakutan. Tatapannya masih terlihat menantang lawan duelnya meski satu tangannya mengusap punggung istrinya yang masih histeris memeluknya.


" Pergilah, Mas Zayn." teriak Gendis sekilas menoleh ke belakang melihat Zayn yang masih berdiri di depan Bram.


"Pergilah! " teriak Gendis lagi. Dia takut dua lelaki dewasa itu tidak bisa mengendalikan emosi mereka.


Zayn pun melangkah menjauh meski tatapannya masih juga menantang Bram. lelaki itu bukannya tidak berani menuntaskan urusan mereka tapi keduanya takut akan melukai Gendis. Dua laki-laki dengan kekuatan yanh cukup sepadan terpaksa meredakan ego mereka.


Bram meregakan pelukan Gendis. Tatapan lelaki itu masih menyimpan amarah yang cukup besar. Ini pertama kalinya seseorang menentang dirinya dengan terang-terangan.


"Pulang Sekarang!" titah Bram kemudian berjalan meninggalkan Gendis yang masih meredakan sisa sisa paniknya.

__ADS_1


Gadis itu kemudian berjalan cepat mengejar Bram. Lelaki dengan lebam di bawha dagu kirinya itu menghampiri mobilnya yang dia parkir sedikit menjauh.


__ADS_2