
Gendis meregangkan tubuhnya mengurai rasa kantuk yang masih lekat di matanya. Sepulang ujian, dia memilih untuk istirahat karena rasa capek.
Setelah kesadarannya pulih, tangan kecil meraba keberadaan ponselnya yang dia ingat tergeletak di sebelahnya tidur.
"Ya Allah.. ternyata sudah pukul setengah lima!" pekik Gendis langsung bangkit mengingat dia belum Salat Ashar.
Memilih mengabaikan terlebih dahulu banyak pesan dan panggilan tak terjawab, Gendis segera masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Dia akan Salat di kamar saja.
Hanya melantunkan doa untuk kedua orangtuanya, Gendis bergegas melipat mukena dan keluar kamar.
Tanggung jawabnya sebagai rumah tangga membuatnya sedikit panik karena di jam sore seperti ini, dia belum juga memasak atau membereskan rumah.
Dengan berlari kecil, wanita bertubuh mungil itu menuruni anak tangga menuju dapur. Pikirnya, dia harus memasak terlebih dahulu sebelum suaminya pulang.
"Mas Bram..." gumamnya tidak yakin saat melihat sosok yang ada dalam pikirannya itu tengah duduk di teras belakang.
Langkah kakinya memilih untuk mendekati sosok yang tengah melepas lelah di teras dengan menikmati suasana sore hari.
"Mas Bram, sudah pulang?" tanya Gendis saat berdiri di dekat Bram.
"Iya, baru saja! Mas, tidak tega membangunkanmu!" jawab Bram sambil menyuap jajanan yang dia bawa dari meja makan.
"Itu jajananku!" protes Gendis saat melihat satu bungkus sosis bakarnya sudah kosong.
"Aku belum sempat memakannya!" gerutu Gendis saat cirengnya juga tinggal satu suap. Wajah manisnya cemberut dengan sorot mata menatap tajam Bram yang tersenyum sambil mengunyah makanan.
"Mas lapar, sayang! Dan yang ada di meja makan cuma itu." jelas Bram membuat Gendis gak bisa menjawab.
Rasa bersalah karena tak ada makanan ketika suaminya pulang membuat Gendis membisu. Dia yang biasa mengomel hanya bisa menunjukkan wajah kesalnya pada Bram.
"Aku sudah lama tidak makan jajanan itu!" gumam Gendis masih dengan cemberut, membuat Bram tersenyum mengejek.
"Ayo, kita cari yang kayak gitu!" ajak Bram. Dia tidak tega melihat wajah kecewa istrinya apa lagi gumaman kecil yang sempat dia dengar jika sudah lama tidak makan jajan seperti itu.
__ADS_1
"Aku belum masak. Aku juga belum bersih-bersih." jawab Gendis lirih.
Tanpa menjawab Gendis, Bram pun beranjak dari tempat duduknya. Dan merangkul tubuh mungil yang sejak tadi berdiri di dekatnya.
"Kita beli makan sekalian." ajak Bram.
"Aku mandi dulu, ya?" tanya Gendis yang masih mengenakan baju yang sama seperti tadi pagi.
"Nggak usah! Cari yang dekat saja." ujar Bram dengan merangkul keluar tubuh mungil itu menuju garasi. Bram juga masih mengenakan pakaian yang tadi pagi.
Saat keluar dari rumah, Gendis melihat Vespa berwarna hijau terpampang di halaman rumah tepatnya di sebelah mobil Bram yang belum masuk garasi.
"Itu motor siapa, Mas?" tanya Gendis dengan rasa penasaran.
"Motormu. Nanti kamu bisa kuliah naik itu." ucap Bram membuat Gendis menghentikan langkahnya dan menatap Bram.
"Kenapa? Itu cocok dengan body kamu yang kecil." lanjut Bram merasa heran karena tidak ada senyum di wajah istrinya.
"Aku nggak bisa naik motor!" lirih Gendis membuat Bram langsung terbahak. Dia merasa tidak percaya jika di zaman sekarang masih ada yang belum bisa naik motor.
"Habisnya di zaman sekarang ternyata masih ada yang nggak bisa naik motor. Langka banget, sayang." ujar Bram masih dengan tertawa.
"Papa nggak pernah memperbolehkan aku dan Mama naik motor." jawab Gendis membuat Bram mengangguk. Ya, dia faham istrinya memang gadis manja yang jadi prioritas papanya.
"Ya sudah kita pergi sekarang, nanti keburu malam." ajak Bram saat melihat wajah kesal istrinya, bisa jadi nanti malam dia tidak bisa buka password karena gendis merajuk.
Keduanya keluar dengan mengendarai motor baru. Tubuh kecil Gendis tenggelam di belakang tubuh tinggi tegap Bram. Lelaki itu pun menarik lengan istrinya agar melingkar di perutnya.
Senja yang memerah tembaga menggantung di ujung langit bagian barat diiringi angin bertiup sepoi-sepoi membuat Gendis terbawa suasana. Di sandarkan kepalanya di punggung Bram, membuat Bram tersenyum tipis. Rasa bahagia membuncah diantara hati keduanya.
"Sayang, jangan terlalu banyak beli jajannya." bisik Bram dengan membawa tubuh istrinya sedikit menjauh dari penjual gerobak.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku akan memakannya semua." jawab Gendis. Bram hanya menatap heran istrinya.
__ADS_1
Mereka menunggu antrian itu cukup lama, sesekali Bram melirik wajah manis yang ada di sebelahnya.
"Mas Bram pasti punya banyak kenangan dengan wanita itu." ucap Gendis dengan tatapan menerawang. Gendis masih penasaran dengan perasaan suaminya.
"Kenapa bertanya seperti itu, Sayang?" tanya Bram yang sedikit salah tingkah. Dia sebenarnya enggan membahas itu. Tapi, wajah sendu Gendis membuatnya penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan istrinya.
"Kalian sudah lama bersama dan aku hanya beberapa bulan bersama Mas Bram." lanjut Gendis. Kalimat-kalimat Seruni memang menjadi beban pikirannya selama ini.
Bram menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah manis istrinya. Dia menatap lekat mata yang biasa berbinar ceria, "Mas tidak ingin membahas masa lalu karena yang terpenting saat ini, Mas, bersamamu." ujar Bram, dia kesulitan mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Panggilan penjual jajanan dengan menu Sosis bakar, cornerdog, cireng dan cilok itu memanggil jika pesanan mereka selesai. Gendis memang memesan semua menu termasuk es Boba.
Setelah membeli jajanan di pinggir jalan yang menghabiskan uang seratus ribu lebih mereka kembali menaiki motornya dan Gendis meminta Bram untuk menemukan makanan ayam bakar untuk makan malam mereka.
###
Seruni mematut diri di depan cermin. Wajah cantik dengan body yang cukup menggoda memang aset yang selalu dia banggakan.
Kenyataannya semua itu ternyata tidak bisa menggoda seorang Bramasta Dewangga. Tapi, setelah rasa kecewanya sedikit mereda dia mulai menyadari seperti apa sosok Seruni yang pernah membuat Bram tertarik.
Dia hanya menampilkan Seruni yang mandiri, dewasa, pintar dan mandiri. Itulah sosok yang pernah menaklukkan hati seorang Bram.
"Aku masih merindukanmu, Mas Bram. Aku akan menjadi seperti yang kamu mau!" ujar Seruni dengan menatap dirinya di cermin.
Sebuah bel membuyarkan lamunannya. Gadis yang kini mengenakan dress setali itu segera melangkah untuk membukakan pintu. Dia memang menunggu Areta yang akan datang untuk mengajaknya hang out.
"Ayo masuk, Ret." ucap Seruni sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
"Kamu seksi banget, Run. Bagaimana jika mahasiswamu melihatnya." ucap Areta saat keduanya masuk ke dalam.
"Mereka bukan anak kecil lagi, Ret. Lagian, aku tampil seperti ini di luar jam kerja kan?" ujar Seruni dengan membuatkan minum Areta.
Areta mengakui jika Seruni itu cantik, bodynya bagus, pintar dan anak orang kaya. Tapi, entah kenapa Bram tidak memilihnya.
__ADS_1
"Hanya laki laki bodoh yang tidak menginginkanmu, Run." ujar Areta membuat Seruni tersenyum.
Gadis itu melangkah dengan membawa segelas jus jeruk untuk diberikan pada Areta, "Benarkah?" ucap Seruni sambil tersenyum, rasa percaya dirinya pun semakin membubung tinggi. Jika pun Bram, tidak memilihnya itu bukan karena Gendis jauh lebih baik darinya. Tapi karena keadaan yang membuat Bram tidak bisa bersamanya.