
Gendis tersenyum kecut mendengar alasan kamuflase dari Bram, "bagaimana bisa orang yang sudah mengkhianati pernikahannya bicara tentang dosa dan pahala?" gerutu Gendis dengan kesal. Dia ingin segera tidur dan tidak ingin memperpanjang perdebatan ini.
Bagi Gendis semua harus adil. Semua ada konsekuensinya. Jika tidak menghargai orang lain jangan harapkan orang lain juga menghargainya.
"Kamu tidak sedang cemburu, kan?" celetuk Bram, seketika membuat wajah Gendis langsung memerah. Desiran hawa panas seolah mendidihkan seluruh urat sarafnya ketika dia merasa perasaannya terbaca oleh Bram.
"Apa benar itu?" tanya Bram dibuat penasaran saat Gendis terdiam dengan wajahnya yang memerah. Awalnya pertanyaan itu hanya sebatas celetukan biasa, tapi ternyata Gendis menanggapinya dengan serius.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Mas? Hanya merasa sebagai satu-satunya laki-laki di dunia ini?" cecar Gendis, semampunya dia masih mati-matian menutupi perasaannya.
Gadis itu menarik selimut untuk dikuasainya. Dia rasanya tidak ingin lagi melanjutkan perdebatan malam ini.
"Jawab pertanyaan, Mas, Ndis." desak Bram yang semakin di buat penasaran kala merasa Gendis menghindari pertanyaannya.
"Jawab , Ndis!" Bram secepat kilat langsung menyergap Gendis, menahan bahu kecil istrinya yang akan merebahkan diri di ranjang.
"Aku membencimu!"
"Iya aku membencimu." ulang Gendis dengan penuh penekanan.
"Hik hik...hik..." hingga akhirnya tangis lirih Gendis mulai terdengar. Gadis itu tidak bisa menahan air mata yang keluar. Perasaan yang selama ini dia tahan sudah menembus batas pertahanan dengan membabi buta.
Bram terkejut melihat kejadian diluar dugaannya. Dia hanya terpaku dengan ribuan pertanyaannya tentang alasan Gendis menangis sejadi-jadinya.
"Ndis...jangan menangis!" lirih Bram.
"Mas, hanya bertanya. Tidak memaksamu menjawab." sanggah Bram, padahal pertanyaannya sangat mendesak Gendis untuk segera menjawabnya.
Bram mengusap punggung yang bergetar karena tangisan gadis di sebelahnya. Dia juga merasa kaget, tidak menyangka jika Gendis akan menangis histeris seperti ini.
"Ndis, jangan menangis. Ini di rumah orang." bisik Bram seraya mendekap kepala istrinya untuk memberikan ketenangan.
__ADS_1
Mendengar kalimat terakhir Bram, Gendis mulai tersadar dan menghentikan tangisnya. Dia juga mendorong dada bidang Bram untuk menjauh.
Dia tidak ingin Om Rendra dan Tante Halisa mengetahui kondisi rumah tangganya. Sesekali dia masih terisak, tangannya mengusap pelan wajah sembabnya karena air mata. Sedangkan, Bram hanya menatapnya dengan sorot mata yang entah.
"Aku memang bukan orang yang berpendidikan seperti kalian, tapi setidaknya hormatilah apa yang sudah menjadi sumpahmu pada Tuhan, Mas." lirih Gendis tanpa ingin menatap wajah orang yang sedari memandanginya dengan begitu dalam. Hatinya seperti sudah lelah dengan menahan semuanya.
"Setidaknya kamu menjaga keluargamu, tidak benar jika kamu memasukkan gadis lain dalam pernikahanmu. Meskipun, kamu mencintainya."
"Meskipun kamu tidak menginginkan istrimu, tidak mencintai istrimu. Tapi, hargailah keberadaannya." lirih Gendis. Kali ini dia menatap tajam lelaki di sebelahnya. Matanya yang berkaca-kaca seolah menggambarkan betapa sakit hatinya saat ini.
Bram tak mampu mengatakan apapun, lidahnya terasa kelu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rasa bersalah menguar dengan begitu hebat, seolah membekukan seluruh sarafnya. Dia tidak menyangka jika Gendis tersakiti akan semua yang sudah terjadi.
"Mas, minta maaf!" kalimat yang terucap dari Bram yang kini memecahkan keheningan diantara mereka setelah beberapa menit keduanya tenggelam dalam keheningan yang memilukan rasa.
"Aku memang ingin berpisah. Tapi, aku tidak tahu caranya..." jujur Gendis dengan begitu lirih. Tapi bagi Bram, kalimat itu seolah mendorongnya terjun hingga ke dasar jurang yang terdalam.
Bahu tegap itu seketika luruh, seolah seluruh tenaganya juga lolos dengan sendirinya. Bahkan, sorot mata tegas itu pun berkaca-kaca hingga mengembun di kedua sudutnya. Dia hanya tak menyangka saja.
"Benarkah, pernikahannya sudah diambang batas?" pertanyaaan itu yang terus saja mendera dalam pikirannya tapi tak mampu terucap.
Gendis menarik selimutnya dan merebahkan diri di ranjang, tanpa peduli Bram yang masih tertegun menatapnya dengan tatapan nanar.
Gadis yang sudah merasa lelah itu memejamkan matanya, meskipun rasa kantuk sudah menghilang entah kemana.
Suasana kamar menjadi hening, meskipun lampunya masih menyala dengan terang. Bram menatap Gendis yang mengatupkan kelopak matanya, meskipun gadis itu masih tersadar penuh.
Bram POV
Aku baru melihat kesedihan dari mata indah milik Gendis. Aku biasa mendapati mata itu berbinar indah saat menatapku.
Ternyata sudah sejauh ini aku melakukan kesalahan. Dan yang tidak kusadari, ternyata sudah sedalam itu aku melukainya, hingga aku tak menyadari sosok itu sudah banyak berubah.
__ADS_1
Oh Tuhan, ternyata aku terlalu jauh melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan yang tak terlintas sedikit pun dalam perkiraanku. Aku pikir semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang aku pikirkan.
Aku bisa menjaga Gendis dalam sebuah hubungan pernikahan. Dan menikahi Seruni setelah Gendis sudah bisa sendiri. Tapi, ternyata tak semudah itu.
Aku menikahi gadis remaja itu. Gendis. Itu artinya dia istriku. Semua protesnya yang baru saja dia lontarkan seolah menyadarkan aku jika dia istriku. Seseorang yang tidak hanya aku lindungi tapi juga aku hargai.
Kenapa semua jadi serumit ini? Sementara, banyak impian yang aku bangun bersama Seruni. Dialah sosok istri yang ada dalam idealiasmeku Dewasa, dia akan menjadi pendamping yang bisa mengimbangi ku. Smart, dia pasti mampu membuat anak-anak ku nanti menjadi anak yang pintar dengan adab dan intelektual yang tinggi. Dan aku merasa kita selalu berada dalam satu dunia.
Author Pov
Bram menghela nafas lemah, dia pun menggeser posisinya dan merebahkan tubuh lelahnya kembali.
Dengan terus menatap Gendis yang memunggunginya, lelaki itu terus saja merenungkan apa yang sudah dia lewatkan.
###
Bram mengerjakan matanya yang terasa lengket bersamaan tangannya meraba sosok yang berbaring di sebelahnya.
Kosong, tangannya tidak merasakan siapapun ada di sebelahnya hingga laki- laki terlonjak bangun.
Gendis sudah tidak ada. Tapi, ponselnya masih tergeletak di atas nakas membuat dirinya merasa lega.
Dia kembali terkejut saat jam menunjukkan pukul lima pagi, itu artinya dia sedikit kesiangan. Bahkan, dia juga menyadari jika semalam dia masih mengenakan kemeja yang sudah dia pakai kemarin.
Gegas, Bram langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan mandi dan kemudian Shalat Subuh.
Pagi mulai menampakkan sinarnya. Suasana sudah terlihat terang. Gendis yang sudah membantu Tante Halisa menyiapkan sarapan itu pun memutuskan kembali ke kamar untuk persiapan pulang.
Dengan pelan, dia kembali membuka pintu kamarnya agar tidak menarik perhatian orang yang ada di dalamnya. Tapi, kenyataannya, Bram yang sudah membereskan tas baju kotor itu pun menoleh saat mengetahui kehadirannya.
"Aku sudah membereskannya, Ndis." ujar Bram membuat Gendis hanya mengangguk. Dia pun segera mengambil ponselnya untuk mengecheck kondisi batrainya.
__ADS_1
'Bisa kita bertemu'
Pesan dari nomer asing membuatnya penasaran siapa pengirimnya. Gendis tidak langsung menjawabnya tapi tangan mungil itu membuka foto profile pengirimnya. Dan ternyata perempuan itu.