Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Sekali Saja


__ADS_3

Bram memasuki apartemennya setelah seharian berada di kampus. Tubuhnya terasa lelah, otaknya juga rasanya ingin meledak kala dia setelah seharian dipenuhi masalah-masalah yang tidak bisa dia selesaikan sekaligus.


Terlihat sileut tubuh mungil yang mondar mandir di dapur dan laundry. Gendis sedang mencuci dan memasak.


Bram beranjak dari duduknya, dia kembali mencoba peruntungan dengan melangkah menuju ke tempat di mana istrinya berada.


Jika sejak semalam Gendis mendiamkannya, dia berharap setan setan yang membujuk keburukan pada istrinya itu sudah menghilang.


"Ndis..." panggilnya dengan hati-hati.


Gendis menoleh menatap sosok yang sudah berdiri tidak jauh dari meja tempat dia sedang menyetrika. Khusus untuk semua pakaian Gendis memang memilih untuk menyetrikanya sendiri. Berbeda dengan yang lainnya, seperti sprai, tirai atau perlengkapan yang lainnya, Bram meminta untuk di bawa ke laundry saja.


"Mas, ingin bicara serius tentang kita." lanjut Bram. Gendis pun menghentikan pekerjaannya dan mengikuti Bram tanpa sepatah katapun.


Bram pun sudah hafal jika isterinya memang paling jago dan paling betah mendiamkan orang.


"Mas minta maaf atas semua kesalahan, Mas." ucap Bram kala mereka tengah duduk di meja makan.


"Tidak semua kesalahan selesai dengan kata maaf, Mas." jawab Gendis dengan tenang, meskipun dia masih marah dengan Bram.


"Mas, tahu itu! Tapi, beri Mas kesempatan untuk sekali saja." sambut Bram dengan penuh permohonan. Dia tahu Gendis tidak bisa ditekan.


Gendis masih terdiam, bayangan beberapa bulan hidup bersama Bram sudah membayang dengan begitu detailnya.


"Aku tidak pernah melihat Papa membentak apalagi memukul Mama. Aku tidak pernah melihat Papa menyepelekan Mama meskipun Mama hanya seorang Ibu rumah tangga."


Gendis kembali menangis saat mengingat papanya. Dia benar-benar pada titik terlelah dalam hidupnya.


"Maafkan, Mas, Ndis." lirih Bram dia merasa bersalah, semua kalimat Gendis seolah menyinggung tentang apa yang pernah dia lakukan padanya.


Bram tak mampu lagi bicara. Matanya ikut berkaca-kaca saat melihat Gendis menangis tanpa bersuara. Rasa bersalahnya semakin membuncah dan mendominasi perasaannya.


Mereka akhirnya kembali terdiam. Gendis sibuk mengusap air matanya, sedangkan Bram menatapnya dengan hati yang terasa entah. Campuran rasa iba dan rasa bersalah melebur menjadi satu.


"Mas mohon, Ndis. Beri Mas sekali saja kesempatan untuk menjadi imam yang baik untuk keluarga kita." lanjut Bram dengan suara yang penuh dengan putus asa.

__ADS_1


Dia merasa sudah tidak ada harapan untuk dirinya.


Masih tidak ada jawaban dari Gendis. Gadis itu tidak tahu lagi harus berkomentar apalagi.


"Mas memang salah. Mungkin dalam hati kamu mengatakan jika Mas tidak tahu diri."


"Mas tidak akan mengelak untuk itu, Ndis. Tapi, Mas sudah memutuskan untuk memprioritaskan keluarga kita." lanjut Bram.


Gendis menatap lelaki yang terus berbicara dengan tatapan menunduk. Iya, mata yang biasa tegas itu pun memperlihatkan sorot melemah.


"Bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Gendis masih tidak ingin melihat Bram.


"Seruni?" tanya Bram yang hanya dia jawab dengan anggukan Gendis.


"Aku dan dia sudah tidak ada hubungan spesial lagi." ujar Bram membuat Gendis menoleh ke arah Bram. Lelaki itu menatap lemah istrinya.


"Bagaimana jika dia hamil anak Mas Bram?" tanya Gendis membuat Bram mengerutkan kening.


"Maksud kamu?" Bram balik bertanya dengan wajah hampir tidak percaya.


"Gendis, sumpah demi Allah mas nggak sampai kesitu, Ndis." ujap Bram dengan berusaha meyakinkan Gendis.


"Jadi tidak mungkin jika Seruni hamil." lanjut Bram. Dia terus menatap Gendis menunggu jawaban dari istrinya.


"Berarti sudah mendekati itu?" Gendis langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia mulai berjalan menuju kamar.


"Ndis, Mas Mohon! Beri Mas kesempatan sekali lagi." Bram beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh mungil itu.


"Selama ini, Mas memang salah, Ndis."


Bram memeluk tubuh mungil istrinya dengan begitu erat. Suaranya penuh permohonan agar Gendis tidak meninggalkannya. Bahkan, matanya pun sudah mengembun.


"Mas, aku akan mandi dan Salat Magrib. Adzan magrib sudah terlewat sejak tadi." jawab Gendis, sekilas dia melirik lengan yang melilit di tubuhnya.


"Mas mohon, beri Mas kesempatan sekali saja!" ulang Bram dia ingin meyakinkan dirinya jika Gendis mengiyakan permintaannya.

__ADS_1


"Iya, kita akan memulainya lagi." ujar Gendis setelah beberapa menit dia membisu. Gendis berharap keputusannya kali ini tidak salah.


"Terima kasih, sayang." ujar Bram, sambil mencium puncak kepala istrinya. Sejenak dia menikmati tubuhnya yang mendekap tubuh mungil istrinya.


"Hanya sekali, Mas!" lanjut Gendis penuh dengan penekanan. Dia tidak ingin terluka hingga berkali-kali.


"Mas Janji." ujar Bram penuh dengan keyakinan. Dia benar-benar ingin memperbaiki segalanya dan membina keluarga yang sempurna bersama Gendis.


"Sebaiknya kita Salat Magrib dulu, Mas." Bram melepaskan pelukannya dari tubuh mungil itu. Sungguh, lelaki itu terlihat merengek meminta pengampunan pada gadis remaja yang dulu pernah dia sepelekan.


"Oh ya, setelah Salat Magrib aku akan keluar sebentar, Ma!" ujar Gendis.


"Mau kemana, Nanti Mas Antar, ya!" tawar Bram, dia tidak ingin Gendis keluar malam sendirian.


Gendis hanya mengangguk menyetujui tawaran Bram. Keduanya akhirnya Salat Magrib berjamaah.


Bagi Gendis tidak ada salahnya memperbaiki semuanya. Lagi pula, hidupnya juga tidak sempurna tanpa kedua orang tuanya. Setidaknya Bram memang lelaki yang bertanggung jawab dan dia juga punya mertua yang sangat menyayanginya.


###


"Apa? Berani sekali Bram." murka Pak Alwy saat mendengar cerita Seruni jika Bram menjauh darinya.


Awalnya, kedatangan Seruni ke rumah Pak Alwy membuat lelaki sepuh itu bertanya kapan menikah? Tapi, jawaban Seruni yang mengatakan jika Bram menghindarinya membuat Pak Alwy murka.


Beliau merasa Bram sudah mempermainkan putri satu-satunya yang juga menjadi kebanggaannya.


"Papa, Seruni rasanya ingin mati saja!" tangisnya mulai memenuhi ruang keluarga rumah mewah milik Pak Alwy.


Lelaki yang kini menghela nafas panjang itu terlihat memikirkan sesuatu. Iya, dia juga sudah tahu, jika Gendis Ayunda, istri dari Bramasta Dewangga adalah putri dari seorang pensiunan dari kantor kejaksaan yang pernah mengincar dirinya.


Sepenggal kisah politiknya mulai bermunculan dan membuat dirinya harus waspada. Untung saja, putra dan putri dari musuhnya itu tidak ingin masuk dalam daftar politikus.


"Sebaiknya, kamu lupakan Bram, cari lelaki yang pantas untukmu, setidaknya kaya dan punya kekuasaan." jelas Pak Alwy dengan mengusap bahu putrinya yang masih bergetar karena isak tangisnya.


Seruni mengusap air matanya. Beberapa hari ini dunia memang terasa runtuh setelah kejadian penolakan yang dilakukan Bram padanya.

__ADS_1


Pak Alwy sendiri, sedang sibuk berfikir. Langkah apa yang akan dia lakukan untuk memberi pelajaran pada lelaki yang sudah membuat putrinya menangis.


__ADS_2