Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Menyimpan Rasa


__ADS_3

Dua kali dia menginap di kamar ini. Ruangan yang cukup luas dengan beberapa foto yang terpajang di dinding. Tidak lupa jajaran buku dengan rapi, menghias begitu elegan, menunjukkan si pemilik ruangan memang pecinta buku.


Gendis berjalan mendekat ke arah salah satu rak buku yang menghias manis di sudut kamar Bram. Gadis itu baru mengetahui jika suaminya tidak hanya menyukai buku bidang teknik, tapi juga politik.


Gendis mengambil salah satu buku tentang politik Indonesia sebelum merdeka. Dia terus saja membolak balik isinya hingga menemukan satu lembar foto yang terlihat menarik.


Bram saat masih remaja, mungkin awal dirinya menjadi mahasiswa, lelaki yang telihat masih polos itu bersama dengan seorang gadis cantik yang tingginya begitu serasi dengannya. Mereka terlihat bahagia saat berada di puncak sebuah gunung. Gendis yakin gadis itulah yang bernama Seruni. Cantik, tubuh proposional dan pintar itulah sosok Seruni di mata Gendis.


Ada yang mencubit hati Gendis saat membayangkam betapa serasi dan kompaknya mereka. Tapi ada pula yang menarik perhatian Gendis. Tulisan di balik foto itu. Tulisan tangan seorang lelaki yang mengungkapkan betapa istimewanya gadis di sebelahnya hingga dia begitu yakin jika tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya.


Seketika tubuh Gendis bersandar di dinding, dia merasakan sebagian tenaganya lolos begitu saja. Ungkapan hati suaminya di masa lalu, membuat rasa sakit di hatinya semakin nyata karena sampai saat ini mereka masih menjalin hubungan.


"Ndis... " panggilan itu membuat Gendis tersadar. Gadis itu langsung membenarkan posisinya dan menyimpan kembali foto itu dalam lembaran buku.


"Kenapa di situ?" tanya Bram yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Hanya ingin melihat buku saja! " jawab Gendis dengan mengembalikan buku yang sempat dia ambil ke dalam rak.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, sebelum kita makan malam." ujar Bram membuat Gendis tersenyum. Senyum yang sebenarnya terlihat hambar jika dilihat dengan teliti.


Gadis itu berlahan mencari sofa yang ada di dekatnya. Mendudukkan tubuh yang masih terasa lemah dengan perasaan tak menentu.


Ditatapnya lelaki yang terlihat tampan dan matang yang kini menyisir rambut cepaknya setelah Salat Isya. Bram memang selalu tampil rapi dan maskulin.


"Sampai kapan pernikahan ini, Mas? "


"Kenapa harus membeli rumah, seolah kita keluarga yang sebenarnya." cecaran kalimat yang ingin sekali terlontar dari mulut Gendis untuk mendapatkan jawaban dari keadaan ini. Tapi tetap saja dia tak mampu berucap.


"Ndis?" panggil Bram melihat tatapan yang begitu dalam dari Gendis.

__ADS_1


"Badanmu masih panas?" tanya Bram. kemudian berjalan mendekat tapi kemudian Gendis malah berdiri.


"Aku sudah baik-baik saja. Aku akan membantu Ibu menyiapkan makan malam!" sela Gendis yang ingin segera meninggalkan Bram.


"Ndis...! " Bram menahan Gendis dengan memegang lengannya saat gadis itu akan beranjak pergi.


"Kenapa?" tanya Bram dengan mengikis jarak diantara mereka. Lelaki itu menatap lekat mata indah Gendis.


"Apa karena Seruni?" lanjut Bram dengan menatap lekat mata yang sudah memanas. Entah, kenapa saat suaminya mengatakan nama itu, matanya memanas ingin mengeluarkan cairan.


Gendis sempat salah tingkah, bahkan spontan tangannya meronta karena sesungguhnya saat ini dirinya tidak menemukan jawaban yang tepat untuk diberikan pada Bram. Terlebih, dirinya sedang bekerja keras untuk menenangkan diri dengan perasaannya yang entah.


"Benarkah, kamu marah karena Seruni?" desak Bram membuat Gendis hanya menggeleng.


"Aku tidak akan pernah menahanmu bersama siapapun, Mas." lirih Gendis seluruh tenaganya seolah sedang mengumpul untuk membendung cairan yang hampir saja melelah dari sudut kedua mata cantiknya.


"Aku memang tidak akan menahanmu, tapi jika perasaanku melampau batasannya hingga aku tidak mampu menahan rasa itu. Maka aku yang akan pergi." gumam hati Gendis dengan tatapan yang tidak beralih dari Bram. Dia akan menyimpan perasaannya sendiri, jangan sampai lelaki di depannya saat ini tahu jika ada rasa yang berbeda sudah hadir dalam hatinya.


"Ayo, kita makan! Aku sudah lapar." ucap Gendis berusaha terdengar riang hingga membuat melepas genggaman jari jarinya dari lengan Gendis.


"Ibu, memang Ibu mertua yang top banget." gumam Gendis dengan berjalan keluar kamar.


Bram menatap punggung kecil istrinya. Gadis itu selalu membuatnya merasa tidak tahu harus berbuat apa.


"Kamu sudah baikan, Nduk? " tanya Bu Harun saat melihat Gendis berjalan ke arahnya. Wanita paruh baya itu masih menata makanan di meja.


"Sudah, Bu."


"Terima kasih sudah sayang sama Gendis." lanjut Gendis dengan memeluk mertuanya.

__ADS_1


Bu Harun menghentikan gerakannya. Tangan keriputnya mengelus lengan kecil yang melingkar di tubuhnya. Bibirnya tersenyum, hatinya sangat bahagia saat Gendis memeluknya manja. Inilah, putri Hastanto yang dia kenal.


Saat pertama menjadi menantunya, sikap Gendis pada mertuanya masih terbilang kaku, tapi saat ini Bu Harun bisa merasakan Gendis mulai terbiasa dengannya.


"Kamu putriku, tentu Ibu sayang sama kamu." jawab Bu Harun membuat Gendis meregangkan pelukannya dan terkekeh.


"Ayo, makan. Kamu yang harus melayani masmu." titah Bu Harun membuat Gendis menoleh ke arah Bram yang sudah berdiri di dekat kursi, bahkan lelaki itu kini segera mengambil duduk bersiap untuk makan malam.


"Kapan kalian pindah ke rumah baru?" tanya Bu Harun saat beliau sudah duduk di depan Bram.


"Gendis belum melihat rumahnya, Bu. Nggak mewah, mungkin Bram akan merenovasi terlebih dahulu setelah Gendis melihatnya." ujar Bram membuat Gendis menoleh ke arah Bram.


"Seperti permintaan Ibu." lanjut Bram dengan membalas tatapan Gendis, membuat gadis yang sedang meletakkan makana di piring itu mengerti jika semua memang permintaan ibunya.


"Iya, istri memang banyak mendominasi suasana rumah. Bahkan, saat istrimu tidak senang atau tidak bahagia, rumahmu akan terasa tidak nyaman. Jadi biarkan Gendis yang menatanya. Dia yang banyak waktu untuk tinggal di dalam rumah." jelas Bu Harun.


Mereka mengakhiri percakapan dengan menikmati makan malam ala masakan kuno. Wanita yang sudah lama tinggal di perkampungan itu memang terbiasa dengan menu masakan seperti sayur lodeh, tahu bacem dan lele goreng.


###


"Mas Bram sepertinya sayang sama Mbak Gendis, Ma." cerita Ambar saat gadis itu sudah berada di rumah. Gadis itu tahunya Gendis dan Bram sudah kompak.


Ketika hari libur dan tidak ada kegiatan, Ambar menggunakannya untuk pulang ke rumah. Saat ini, Halisa dan Ambar sedang menghabiskan waktu di teras samping, sambil mencari angin segar mereka berbicara banyak hal.


"Syukurlah jika Mbak Gendis bahagia. Mama ikut tenang."


"Mbar, usaha Papa sedang ada masalah. Kamu yang hemat, ya! Kalau bisa kamu lulus cepat." ucap Halisa yang sedang menceritakan keadaan financial keluarganya.


"Ambar mengerti, Ma. Kalau bisa Ambar akan cari kerja part time." jawab Ambar. Gadis itu sudah mengerti kondisi keuangan keluarganya, apalagi kakaknya Fitri juga baru setahun mengambil S2 di Australi.

__ADS_1


"Doakan Papa bisa segera mengatasinya." lanjut Halisa. Meskipun, ada masalah tapi masih ada yang membuat hatinya lega. Kedua anaknya sangat pengertian dan Gendis yang sudah bisa menyesuaikan diri dengan pernikahannya.


__ADS_2