Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Pertemuan Gendis dan Seruni.


__ADS_3

Deska tengah duduk seorang diri dengan pandangan mengedar, seolah meneliti dari setiap inci ruanganku yang sedikit banyak berubah dari sebelumnya.


"Ehem...ehem..." Deheman Bram membuat Deska menyadari keberadaan Bram. Lelaki yang berjalan mendekati tamunya merasa lega karena bukan Seruni yang datang.


"Aku mampir, Bram."


"Beberapa kali aku menelponmu tapi tidak bisa." ujar Deska saat Bram mendudukkan tubuhnya di sofa.


Lelaki itu meneliti wajah sahabatnya yang terlihat murung. Bersahabat sejak kuliah membuat Deska sudah hafal perubahan air muka Bram.


"Tapi, sebenarnya aku ingin memberikan undangan rapat untuk seluruh dosen dan staf civitas akademik yang dititipkan untukmu." lanjut Deska dengan menyodorkan sebuah amplop putih yang langsung di terima oleh Bram.


Nampak Bram membacanya begitu lambat membuat Deska semakin yakin jika lelaki yang tengah duduk di depannya itu sedang ada masalah.


"Ada masalah apa, Bram?"


"Aku juga melihat mata Gendis sembab." cecar Deska. Dia memang sempat memperhatikan mata Gendis.


"Besok saja kita bahas ini." ujar Bram.


"Baiklah, Bram. Mungkin aku perlu mengingatkan. Kita tidak tahu siapa jodoh kita sebenarnya, terkadang orang yang tidak kita cintai adalah jodoh kita." Deska bisa mengerti jika tidak semua masalah rumah tangga diceritakan pada orang lain.


"Kalau begitu aku pamit dulu." jawab lelaki berkulit sawo matang itu saat beranjak berdiri.


"Terima kasih." jawab Bram saat mengantarkan temannya sampai di depan pintu.


Lelaki yang masih merasa bersalah itu tertegun sejenak, dia masih mengingat kalimat Hastanto.


"Putriku meskipun bandel, dia masih sangat polos dalam mengenal lawan jenis. Jadi, aku meminta kami untuk menjaganya, Bram." kalimat itu tiba-tiba terngiang dalam ingatannya.


Hal itu malah justru membuat Bram semakin merasa bersalah tidak hanya pada Gendis tapi juga Hastanto.

__ADS_1


Gendis memang gadis dengan tampilan kekinian. Apalagi sebelum hidup dengan Bram, dia sering mengenakan rok dan celana pendek hingga mengekspos kaki dan kulit indahnya. Tidak ada yang akan menyangka jika hidup gadis itu hanya seputar tentang sekolah dan orang tuanya saja.


Ingatannya pada Gendis membuat Bram kembali mencari gadis itu. Dia tidak tahu, dimana Gendis membunyikan dirinya. Bram berjalan ke dapur dan balkon tapi sosok yang dicarinya tidak ada.


Apartemen yang tidak begitu luas, seharusnya tidak sulit dia mendapatkan keberadaan Gendis, tapi tetap saja tidak ada.


Lelaki itu semakin di buat kalang kabut, tanpa tahu kemana Gendis pergi. Dia begitu was-was hingga mencari ponsel untuk melacak keberadaan Gendis.


Sementara itu, Gendis tengah duduk sendiri di sebuah bangku panjang yang ada di pinggir jalan. Keberadaannya memang tidak jauh dari gedung apartemen.


Tatapannya jauh ke depan terlihat begitu hampa meskipun suara bisik dan beberapa orang sudah melewatinya. Tapi gadis itu takbergeming, dia sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Telepon dari ibu mertuanya dan pertemuannya dengan Seruni yang baru saja membuatnya semakin bimbang. Ditambah, tidak ada lagi yang bisa diajak untuk bertukar pikiran.


Saat ini mentalnya seperti di hajar habis-habisan. Keadaan seolah memaksanya untuk dewasa, menuntutnya untuk mampu membedakan mana yang harus dia lakukan dan mana yang tidak.


Flash Back


"Sudah lama?" sapa Seruni, sejengkel apapun dia pada Gendis, gadis itu masih menjaga sikapnya agar tetap berkelas.


"Baru saja." jawab Gendis dengan datar meskipun kenyataan sudah hampir setengah jam dia menunggu.


"Ada apa? Kenapa ingin bertemu?" lanjut Gendis. Tidak ingin berbasa-basi lagi.


"Sampai kapan kamu berada diantara kami?" Seruni balik bertanya. Suaranya di buat setenang mungkin padahal amarahnya sudah diubun-ubun karena Bram yang sulit dihubungi sejak kemarin.


"Diantara kalian?" Gendis tersenyum sinis. Rasanya dia tidak terima jika dituduh menjadi orang ketiga diantara mereka.


"Bukankah kamu yang hadir dalam pernikahan kami?" sergah Gendis seraya masih menutupi ambang kehancuran pernikahannya.


"Dari awal, kamu sudah tahu jika Mas Bram hanya mencintaiku. Hubungan kami jauh sebelum dia ketemu denganmu. Dan kenyataannya Mas Bram masih memilihku."

__ADS_1


"Dan itu artinya kamulah yang menjadi duri dalam hubungan kami." Desak Seruni. Dia tahu, titik kelemahan Gendis. Saat terjadi percekcokan diantara dirinya dan Gendis kenyataannya Bram selalu memihaknya dan datang padanya kembali.


"Kamu tahu takdir? Tidak ada yang tahu jalannya takdir jodoh seseorang. Jadi, sebuah hubungan tidak akan berguna jika tidak dilandasi dengan pernikahan." bantah Gendis semakin membuat Seruni meradang.


"Dan menikah pun belum tentu berjodoh." geram Seruni dengan menatap penuh permusuhan pada gadis di depannya. Dia tidak ingin kalah hanya dengan gadis ingusan dan hanya lulusan SMA.


"Aku tahu. Terus apa kabar dengan yang tidak menikah? Apa dasarnya dia meluapkan perasaan cintanya?" Tatapan Gendis terlihat menantang. Meskipun mentalnya menciut mengahadapi wanita yang dia anggap pintar, dewasa dan pengalaman tapi Gendis tetep berusaha untuk bisa tetap terlihat tegar.


Seruni sudah diujung rasa kesalnya. Tapi, dia tidak ingin bersikap arogan seperti wanita tidak berpendidikan. Jadi gadis itu hanya menghela nafas dengan menatap tampilannya.


"Terserah kamu saja! Dan ada yang mesti kamu tahu, tidak mudah menghapus cinta pertama seorang lelaki dengan banyak kenangan manis. Ya, hidupnya semua hanya tentang aku, bukan kamu!" Seruni langsung pergi meninggalkan Gendis. Dia tidak ingin melanjutkan perdebatan ini karena bisa saja di tidak bisa menahan diri.


Gendis. Seruni mengira Gendis hanyalah gadis manja yang arogan. Tapi, ternyata dia bisa bertahan dengan semua desakannya. Bahkan, cara dia menatap lawannya pun penuh dengan ketegasan.


Gendis hanya menatap kepergian Seruni. Apa yang dilakukan gadis yang sudah menghilang dengan mobil mewahnya itu hanya menambah deretan masalahnya.


Flash On.


Gendis tidak menyadari sudah lama dia berdiam dengan pandangan menerawang ke depan. Kemeja panjang yang sempat di lipat hingga bawah siku kini dia turunkan karena angin sudah membuat kulitnya terasa meremang.


"Ndis, kenapa di sini sendiri?" tanya Bram yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.


"Aku membeli ini, Mas. Maaf belum sempat bilang ke, Mas." lanjut Gendis. Dia juga tidak menyangka jika Bram akan datang menyusul. Untung Gendis sempat membeli buah dari toko depan apartemen.


"Kalau begitu kita balik saja. Anginnya semakin kencang!" ajak Bram.


Gendis pun berdiri. Saat Bram akan menggandengnya, hampir saja dia menghindar. Tapi, tangan Bram sudah berada di lengan tangannya.


Mereka berjalan berdua, Gendis menatap lengan tangannya yang masih digenggam Bram. Berbeda dengan tadi siang, yang sempat membuat Gendis ketakutan. Tatapan marah Bram begitu buas, bahkan sentuhannya yang Brutal sulit untuk dikendalikan, Gendis benar-benar takut meskipun Bram adalah suaminya.


Mereka berjalan bersama dengan kebisuan. Sesekali Bram melirik Gendis yang sedikit tertinggal dari langkahnya meskipun jari-jari kokohnya masih menggenggam hangat lengan kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2