
Bram sendiri dilanda rasa gelisah yang begitu hebat, bahkan otaknya tak mampu lagi berfikir dengan baik ketika mengingat kalimat Gendis yang ingin berpisah. Kalimat itu terus saja terngiang meskipun sudah beberapa hari berlalu.
Entah itu gertakan atau memang pada dasarnya keinginan sebenarnya gadis itu. Bram tidak mampu lagi berspekulasi. Lelaki yang benar-benar dibuat gelisah oleh rasa bersalahnya itu menunggu Gendis sampai keluar kamar.
Sejak kejadian itu, Gendis memberi jarak yang sangat jelas dengannya. Ada aja yang membuatnya menghindar dari Bram ketika lelaki itu masih berada di rumah.
Hari ini Bram memang punya waktu longgar karena jam mengajarnya jatuh pada siang hari setelah makan siang. Maka, dia berharap hari ini dia bisa bicara dengan Gendis dengan cara baik-baik.
"Iya Dek Ambar, insyaallah ya." ujar Gendis dengan ponsel yang melekat di telinga saat dia melewati Bram yang sudah duduk di sofa panjang yang terletak diantara kamar dan dapur.
Ambar meminta Gendis untuk datang saat acara ulang tahunnya minggu depan. Ulang tahun Ambar tidak diadakan seperti biasanya. Karena, mereka hanya akan makan malam bersama dengan kerabat dekat.
Setelah menutup panggilan dari Ambar, Gendis memulai aktifitasnya setelah Salat Subuh yaitu mengurus dapur, seperti biasanya. Gadis yang masih merasakan hatinya terluka memang enggan melihat Bram, apalagi berbicara dengan lelaki yang saat ini menatapnya.
Lelaki yang kini menautkan kedua tangannya yang bertumpu pada kedua paha hanya menatap Gendis yang sedang mulai memasak. Dia juga bingung harus memulai dari mana. Dia pikir setelah beberapa hari sikap Gendis akan melunak padanya tapi kenyataannya bocah itu terlalu jago untuk mendiamkan orang.
"Ting... Tong. Ting..tong..." belum sempat Bram menghampiri Gendis. Suara bel membuat lelaki itu segera melangkah untuk membukakan pintu.
"Seruni." terlihat gadis itu sudah berdiri dengan tampilan formal.
"Mas, aku sengaja mampir sebelum ke kampus." jawab Seruni seraya berjalan masuk melewati Bram yang sempat tertegun karena tidak menyangka jika Seruni akan datang di apartemen sepagi ini.
"Aku membawakan, Mas Bram sarapan."
"Kebetulan aku lewat di depan penjual sate ayam langganan kita. Jadi aku bawakan sekalian buat Mas Bram." jelas Seruni kemudian berjalan menuju meja makan untuk menaruh makanannya.
Bram masih terdiam, dia hanya tidak menyangka jika Seruni akan datang ke apartemennya setelah dia menjelaskan banyak hal. Dia juga sekarang banyak meluangkan waktu, ketika Seruni meminta untuk ditemani di apartemen gadis itu seusai Bram mengajar.
Ruang makan yang tak bersekat dengan dapur, membuat Gendis dengan mudah melihat kedekatan mereka. Nampak Seruni sedang melayani Bram saat sarapan, sedangkan lelaki yang hanya terdiam itu sempat beberapa kali menatap Gendis yang masih memasak sayur.
Gendis sudah tidak peduli dengan mereka, dia hanya akan memerankan perannya. Ya, jika dianggap hanya asisten rumah tangga pun dia sudah tak peduli. Meskipun, masih saja dia merasakan nyeri dalam hatinya.
__ADS_1
Gendis membawa semangkuk sup yang sudah matang dan tiga potong ayam goreng untuk di letakkan di atas meja. Dia tidak peduli, jika dua orang yang sedang sarapan itu terganggu karena tindakannya.
"Kamu sengaja ya?" protes Seruni saat Gendis meletakkan semangkuk sup panas di dekat lengannya.
"Bukankah meja makan untuk meletakkan makanan?" tanya Gendis dengan menatap tajam Seruni.
"Dasar tidak sopan!" gerutu Seruni yang masih terdengar oleh Gendis.
"Yang tidak sopan itu pagi-pagi buta sudah datang bertamu. Katanya berpendidikan tapi tidak tahu waktu." jawab Gendis membuat keadaan memanas.
"Dasar, gadis tidak tahu diri. Sudah dipungut masih ngelunjak." bentak Seruni dengan membanting sendoknya, dia merasa harga dirinya dibanting mati-matian.
"Masih mending seorang gadis pungut dari pada pelakor!"
"Brak..." Bram menggebrak meja. Lelaki itu sudah merasa kesal dengan pertengkaran dua wanita di depannya.
"Run, Mas, harap kamu sabar! Gendis masih labil." pinta Bram saat Seruni sudah berdiri ingin melawan Gendis.
"Tapi, Mas. Dia sudah menghinaku. Padahal dia yang masuk dalam hubungan kita." balas Seruni. Dia tidak terima di sebut pelakor oleh rivalnya.
"Ndis, Mas, mohon mengertilah dengan posisi Seruni." pinta Bram. Kepalanya terasa mau pecah saat kedua wanita itu saling beradu kekuatan.
"Ayo Mas, antar ke bawah, Run! Kita bicarakan ini nanti." ajak Bram yang ingin memisahkan pertengkaran dua wanita itu.
Bram merangkul bahu Seruni, dia sedikit memaksa Seruni untuk meninggalkan apartemennya. Dia tahu, semua sudah terluka karena keputusan itu.
Gendis menatap nanar dua sosok yang meninggalkan apartemen. Gadis itu pun kemudian terduduk di kursi dengan hatinya yang sebenarnya sudah hancur tak berbentuk.
"Kenapa jalannya harus seperti ini?" gumam Gendis. Dia sendiri masih bimbang, hatinya dipenuhi dengan dilema yang tak berkesudahan. Harusnya sampai di sini dia mengakhiri semuanya, atau harus bertahan sampai seorang Bramasta membuangnya.
Dia kembali tersadar, jika dirinya tidak tahu lagi tempat untuk pulang jika mengakhiri semuanya. Tidak mudah bagi Gendis mengakhiri semuanya, apalagi Bram masih belum mau melepaskannya begitu saja.
__ADS_1
Gendis mengambil ponsel dan tasnya. Dia butuh oksigen untuk mengurai rasa sesak di hatinya.
Gadis manis yang sudah menata rambut panjangnya itu pun melangkah keluar dari apartemen.
Kaki kecil itu terus menyusuri jalan yang tidak jauh dari apartemen. Sesekali dia melihat pertokoan yang masih banyak tutup dan hanya beberapa saja yang buka.
"Gendis!" Suara bariton itu membuat Gendis menghentikan langkahnya. Gadis itu pun mencari seseorang yang sudah memanggilnya.
"Mas Zayn." gumam Gendis dengan menatap lelaki yang sudah rapi dengan kemeja kerja dan sepatu pantofelnya.
"Mau kemana? Ayo aku antar." tawar Zayn yang sudah dari tadi memperhatikan Gendis berjalan.
"Aku hanya ingin mencari udara segar saja." jawab Gendis.
Zayn hanya tersenyum, dia sudah mulai membaca keadaan Gendis. Mata sembab Gendis tidak bisa di sembunyikan lagi dari tangkapan mata Zayn.
"Suamimu sedang mengantar dosen wanita itu." lanjut Zayn. Dia memang sempat melihat Bram mengemudikan mobil Seruni ke arah kampus gadis itu.
"Aku tidak ingin pergi jauh, Mas." jawab Gendis, jika dia pergi dengan laki laki lain, itu tidak jauh beda dengan Bram.
"Baiklah, Ayo kita duduk saja di sini!" Ajak Zayn saat melihat sebuah kursi panjang berbahan besi tidak jauh dari posisi mereka.
Keduanya pun menikmati suasana pagi dengan melihat kendaraan yang mulai lalu lalang.
"Mungkin kamu butuh yang manis-manis." ujar Zayn dengan mengulurkan sebuah coklat .
"Aku tidak menaruh racun di dalamnya." lanjut Zayn saat Gendis masih terdiam dan menatapnya.
Akhirnya Gendis pun mengambil sepotong coklat dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia hanya ingin menghargai Zayn yang sudah peduli padanya.
"Terkadang kita butuh yang manis, saat hidup terasa pahit." ujar Zayn membuat Gendis menoleh. Lelaki berhidung mancung itu tersenyum saat menangkap sorot mata cantik milik Gendis.
__ADS_1
"Mungkin apa yang dikatakan Mas Zayn ada benarnya." sambut Gendis.
"Termasuk, melihat senyum manismu, Ndis." goda Zayn membuat Gendis hanya tersenyum. Keduanya pun saling membalas senyum hingga mengikis kecanggungan diantara mereka.