Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Kesal


__ADS_3

Bram menarik kedua lengannya ke atas, untuk meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Rasa lelahnya kini terobati saat penutupan acara disnatalis universitas tempat dia mengajar.


Masih ada beberapa orang sebagai perwakilan dari kampus-kampus tetangga yang ikut memeriahkan acara yang masih tinggal dan berbincang dengan lainnya.


"Astaga." ucap Bram dengan rasa kaget saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga sore. Hari ini, dia ada janji dengan Gendis mencari perabotan untuk mengisi rumahnya.


"Mas Bram..." suara itu membuatnya terkejut. Seruni sudah berdiri di sampingnya dengan baju kerja yang sangat tertutup. Penampilan yang cukup kontras dibanding saat di luar jam kerjanya.


"Runi..." sambut Bram sambil memaksa untuk tersenyum.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Seruni dengan hati-hati, sikapnya juga terlihat kaku di depan Bram.


"Tentu bisa , Run." jawab Bram, dia juga ingin menyelesaikan semuanya agar tidak ada yang menjadi beban dari hubungannya dengan Seruni.


"Bagaimana jika kita ke kafe depan kampus." tawar Seruni yang dijawab anggukan oleh Bram.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kafe 'Sahabat'. Sambil berjalan, Bram sibuk menulis di layar ponselnya hingga membuat Seruni sesekali meliriknya. Entah, kenapa masih ada rasa cemburu yang membakar hati gadis itu.


"Mas..." Kalimat Seruni terjeda saat Bram belum fokus dengan dirinya.


"Iya..." jawab Bram kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Kenapa Mas Bram menghilang setelah kejadian malam itu?" tanya Seruni merasa Bram lari begitu saja tanpa alasan apapun. Beberapa hari setelah itu tidak ada lagi sebuah pertemuan atau mengirim pesan untuknya.


"Kita salah, Run. Kita memang tidak seharusnya melanjutkan hubungan yang salah." jawab Bram dengan menatap iba gadis di depannya.


Sebenarnya sulit bagi Bram berterus terang seperti ini. Tapi, dia juga tidak mau memperumit cerita rumah tangganya.


"Aku mencintai Mas Bram. Kita sudah lama bersama. Apa salah jika aku juga ingin memiliki cintanya Mas Bram seutuhnya." Kalimat Seruni terjeda kala pramusaji membawa segelas minuman yang sudah mereka pesan.


"Kamu, nggak salah. Mas yang salah."


"Mas yang tidak menyadari jika Mas sudah menikah dan tidak benar jika menjalin hubungan dengan gadis lain."


"Tapi, hubungan kita lebih dulu ada, Mas. Kita sudah bersama jauh sebelum Mas Bertemu gadis itu." jawab Seruni dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya sudah memerah menahan tangis hingga membuat Bram tidak tega melihatnya.


"Maafkan, Mas, Run. Mas mengerti , Run. Tidak mudah melupakan semuanya, tapi meneruskannya juga salah." ujar Bram, dengan tatapan penuh iba.

__ADS_1


"Aku butuh waktu untuk bisa melupakan hubungan ini. Aku juga butuh waktu untuk bisa lepas dari Mas Bram." lanjut Seruni membuat Bram menggenggam tangan gadis di depannya.


Bram berusaha mengerti perasaan Seruni. Seperti perasaannya, mungkin jika tidak ada Gendis dalam hidupnya Bram juga akan kesulitan melupakan cerita masala lalu dan kenangan manis bersama Seruni.


"Kita akan tetap berteman seperti dulu, jika kamu butuh bantuan, Insyaallah Mas akan bantu." lanjut Bram, keduanya memang sudah dewasa untuk menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik.


"Aku mengerti, Mas. Semoga Mas Bram Bahagia bersama gadis itu!" jawab Seruni dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Dia tahu tidak ada gunanya memaksakan perasaannya pada lelaki berwatak keras seperti Bram.


"Mas harap kamu mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Mas. Lelaki yang pantas untuk gadis sebaik dirimu, Run!" Mendengar kalimat Bram, Seruni hanya tersenyum. Gadis itu seperti putus asa dengan perasannya.


"Ayo kita balik!" ajak Bram yang dijawab anggukan Seruni. Bram memang tidak ingin berlama-lama dengan gadis yang pernah mengisi kisah remajanya itu karena takut dia tidak tega jika melihat wajah sendu Seruni.


Setelah Bram membayar tagihan, mereka pun berjalan keluar bersama. Beberapa mata memang menatap keduanya, mereka memang terlihat serasi.


Dari kejauhan Gendis baru aja turun dari taxi yang membawanya hingga di depan kampus di mana Bram mengajar.


Gendis terpaku menatap dua orang yang keluar dari kafe itu dengan penuh tanya. Ya, Seruni terlihat tersenyum sebelum meninggalkan Bram dan berjalan ke arah berbeda untuk menghampiri mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


Sementara Bram pun berjalan lurus dan akan berjalan kembali ke kampus. Tapi, langkahnya terhenti saat Gendis sudah berdiri dengan menatapnya dari sebrang jalan.


Gendis yang hanya terdiam, membuat Bram berjalan cepat untuk menghampiri istrinya yang tak berekspresi.


"Menyelesaikan semuanya dengan baik-baik." jelas Bram, dia tidak ingin Gendis salah faham saat melihat dia keluar dari kafe bersama Seruni.


"Aku tidak tahu kebenarannya. Tapi, apa aku diminta datang ke sini hanya untuk melihat kalian berdua bersama?" tanya Gendis dengan wajah dan nada datar, kesal rasa hatinya. Rasanya pingin dipukulnya lelaki di depannya ini hingga bertubi-tubi.


"Sayang, Mas, tadi tidak sengaja bertemu Seruni." Mendengar penjelasan Bram, Gendis hanya mengerucutkan bibirnya.


"Kalau bohong pinter sedikit dong ,Mas." kesal Gendis, jika kini dia dan Bram tidak menjadi pusat perhatian, rasanya kakinya tidak tahan untuk menghentak ke tanah.


"Bagaiman bisa, tidak sengaja. Padahal, Mas Bram, mengirim pesan padaku tidak lama."


"Itu aku sudah menunggu Mas dan bersiap pergi." lanjut Gendis.


"Iya, sayang. Ayo, kita pergi sebelum mahasiswa melihat kita dengan tatapan aneh." bujuk Bram dengan merangkul bahu kecil istrinya menuju mobil yang masih berjajar rapi di parkiran khusus dosen.


####

__ADS_1


"Astagfirullah... Aku telat lagi." Ambar langsung saja berlari menyambar handuk dan membersihkan dengan kilat bau kasur yang melekat di tubuhnya.


Dengan polesan make up tipis dengan jilbab yang sudah melekat rapi, gadis itu melangkah secepatnya menuju motor yang terparkir di depan kos.


"Kerja apa kuliah, Mbak?" tanya salah satu adik kos Ambar saat melihat dirinya grasak grusuk mengeluarkan motor maticnya.


"Kerja, Nis. Katanya, Bos killernya datang." ujar Ambar kemudian menstater motornya dan tanpa memanasi mesinnya, dia langsung meluncur.


Semalam, memang sudah di beritahu dari manager resto jika Big Bos akan meninjau dan mengatakan rapat.


Ambar membawa motornya secepat pembalap melewati jalanan yang sudah mulai lenggang karena jam masuk kantor dan sekolah sudah lewat. Tapi, tetap saja saat menghentikan motornya di depan resto dia sudah terlambat.


"Ya Allah, memang benar tidak seharusnya habis Shubuh balik tidur." gumamnya dengan ragu-ragu memasuki resto yang terlihat sepi.


Tapi, beberapa menit kemudian dari arah belakang, muncul seseorang yang diikuti semua karyawan dibelakangnya berjalan menuju ke arahnya.


Dalam hati Ambar berharap lelaki dengan wajah Indo itu tidak melihatnya.


"Heh, kamu!" panggil Zayn saat melihat Ambar yang berusaha menghindar.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Ambar dengan basa basi, kala berjalan menghadap lelaki yang kini sudah menatapnya tajam.


"Jam berapa ini?"


"Kamu masih niat kerja, nggak?" hardik Zayn saat berbicara dengan gadis yang hanya menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.


"Masih niat kerja, Pak. Semalam bergadang karena tugas kuliah saya banyak." jelas Ambar sedikit belepotan memberi penjelasan.


"Itu urusanmu. Saya tidak ingin merugi karena keteledoran karyawan seperti kamu!" lanjut Zayn kemudian akan melangkah pergi.


"Coba ada pekerjaan lebih baik ogah aku kerja di tempatnya." gerutu Ambar hingga membuat Zayn menghentikan langkahnya. Gadis itu kembali kelepasan, dia tidak tahu jika suaranya akan di dengar bosnya itu.


"Kamu bilang apa?"


"Setiap siang , dia wajib membawa makan siang untukku!"


"Dengar itu Pak Farid!"

__ADS_1


"Siap, Pak. Biar Mbak Ambar yang akan mengantar ke kantor bapak." jawab Farid.


Zain memang kesal dengan ucapan Ambar yang tidak senang bekerja di tempatnya. Maka, lelaki itu dengan sengaja akan membuat gadis berkerudung itu hanya berkutat di wilayah tempat usaha dan kantornya.


__ADS_2