HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 10 - BARA PEMBOHONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Sudah empat hari sejak kejadian naas yang menimpa Jelita saat pulang kuliah lalu. Dan sudah empat hari pula wanita cantik itu terus menangis dan mengunci dirinya dalam kamar.


Tidak keluar untuk makan maupun masuk kuliah. Untungnya ada para maid yang membawakan makanan ke dalam kamar Jelita. Dengan sedikit ancaman dan paksaan dari Bara akhirnya gadis itu mau untuk makan.


Selama empat hari tak keluar kamar, Jelita juga tak bertemu dengan Bara. Pria itu hanya menelfon jika ingin berbicara dengan adiknya.


"Aku udah gak suci lagi...hiks...hiks..." isaknya setiap saat.


Saat mandi selalu terbayang, saat akan menutup mata kejadian-kejadian itu terbayang lagi.


"Kenapa dia jahat banget sama aku ? Aku ini adiknya! Adik kandungnya!!!!" frustasi Jelita. "Apa kak Bara selama ini gak pernah menganggap aku adik kandungnya?"


Dengan perlahan ia bangkit dari duduknya menahan rasa perih yang masih menjalar pada daerah kewanitaannya untuk berjalan menuju rooftop kamarnya yang berada pada lantai tiga.


"Mending aku mati daripada hidup menjijikkan seperti ini! Disetubuhi oleh kakak sendiri merupakan suatu aib bagiku!" ucapnya dengan gemetar.


Entah bisikan darimana, namun kini Jelita sudah membuka pintu penghubung kamarnya dengan rooftop.


Saat berhasil membuka pintu itu, seperti ada seseorang yang membisikkan sesuatu pada kuping Jelita.


"Ya Jelita, mending kamu bunuh diri saja. Kamu itu aib! Dari kecil sudah di buang ke panti, sekarang kamu mau bikin malu keluarga yang sudah memberikanmu tempat tinggal ?"


"Ayo bunuh diri Jelita! Kamu aib!"


"Seorang adik disetubuhi kakak kandungnya sendiri ? Menjijikan?"


"Bunuh diri saja...."


Tanpa sadar Jelita sudah berada dalam pinggiran rooftop, sekali saja melangkah tubuh Jelita akan jatuh ke bawah.


Gadis yang masih memakai piyama tidur dan rambut yang berantakan ini memejamkan mata, tubuhnya bergetar karena ketakutan.


"Hiks...hiks...maafin Jelita ya Ma, Pa. Jelita ini hanya aib. Mending Jelita bunuh diri daripada harus hidup ji–"


Kring.... kring....kring...


Ucapan Jelita terpotong saat remaja itu mendengar suara telfon berdering dari dalam kamarnya.


Setelah dering keempat berbunyi, Jelita seolah sadar dan menjauhkan dirinya dari pinggiran balkon kamar.

__ADS_1


"Astagfirullah, bunuh diri bukan penyelesaian suatu masalah," ucapnya setelah sadar.


Ia mengusap air matanya kasar pada wajahnya, dan segera berlari dengan tertatih-tatih memasuki kamarnya.


Jelita mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan ponselnya.


Kring....kring...


"Nomor tak di kenal, siapa ini ?" gumamnya menatap layar ponselnya menatap sejumlah nomor yang tertera tak ia simpan.


"Lebih baik angkat saja, aku takut jika monster itu yang menelfon ku," monolognya pada diri sendiri.


Setelah beberapa kali menghela nafas, Jelita akhirnya menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Hal–"


"Ini gue Hades. Kenapa lo gak masuk kuliah ?"


Jelita menelan salivanya susah payah, kenapa selalu seperti ini ? Saat mendengar suara Hades jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Oh kamu, aku gak masuk karena....."


"....karena sakit," jawabnya setelah lama berfikir.


Hening, Hades tak merespon jawaban Jelita beberapa detik, membuat Jelita jadi takut sendiri.


"Gue tanya sekali lagi. Kenapa lo gak masuk kuliah Jelita ?"


Jelita memejamkan matanya sejenak, tak mungkin juga ia memberitahukan pada Hades dengan apa yang terjadi padanya.


Bisa-bisa pria itu membeberkan masalahnya kepada orang lain, yang nantinya akan jadi Boomerang sendiri untuknya.


"Bukan urusan kamu, kita gak terlalu dekat. Jadi untuk apa kamu kepo sama urusanku ?"


"Karena gue mau dekat sama lo. Kenapa jadi suara serak gini sih ? Lo habis nangis ?"


Deg...


Hades bilang mau dekat dengan Jelita ? Pria tampan dan kaya itu ? Benarkah ?


"Sekali lagi aku bilang, bukan urusan kamu!"


"Pokoknya besok pagi lo harus kuliah! Gue jemput!" ucap Hades dari balik telfon tak terbantahkan.


Tut...


Pria itu mematikan sambungan telfon sepihak. Jelita mendesah frustasi dan membanting tubuhnya ke kasur.


"Aku mohon Hades, jangan dekati aku. Pr–pria itu gila. Aku takut kamu jadi korban selanjutnya...."

__ADS_1


...o0o...


Dengan perlahan Jelita melangkahkan kakinya menuruni tangga. Jangan tanyakan bagaimana perih yang dirasakan wanita polos dan lugu itu pada daerah sensitifnya.


Usinya baru menginjak 23 tahun tapi sudah melakukan, ya kalian tahu. Di umur segitu, Jelita sudah mengalami tindakan asusila.


Jadi rasa sakit yang Jelita dapat, berkali-kali lebih menyakitkan daripada wanita yang umurnya lebih matang.


"Shh....sakit sekali Tuhan," ringisnya.


Beberapa anak tangga lagi Jelita sudah sampai pada meja makannya. Dan Fara yang melihat anaknya sedang kesakitan di anak tangga terakhir, segera mendekatkan dirinya pada remaja cantik itu.


"Ya ampun, akhirnya anak Mama keluar dari kamar," jerit Fara yang membuat Doddy dan Bara mengalihkan pandangannya ke arah Jelita.


Baru saja Bara akan berdiri dan menuntut Jelita untuk duduk di kursi, tapi dengan cepat Doddy menggenggam tangannya, mengistirahatkan Bara untuk tetap duduk. "Duduk atau Papa bakal asingkan Jelita ke negara lain!" ancamnya berbisik.


Tangan Bara terkepal kuat, ia dengan pasrah kembali duduk, menatap Jelita yang dituntun ibunya untuk duduk di kursi meja makan yang berada di sebelah ibunya.


"Kamu itu loh nak, sudah jatuh kecelakaan kok malah ngurung diri di kamar ? Harusnya keluar kamar, jemur badan kamu di bawah sinar matahari pagi. Langsung sembuh tulang-tulang kamu itu," ucap Doddy yang heran dengan kelakukan Putri angkatnya. Masa setelah kecelakaan malah mengurung diri di kamar. Ada-ada saja.


Fara tertawa kecil sembari menaruh nasi pada piring suami dan kedua anaknya. "Lagian kamu kenapa lagi ojek si Fara. Kalo kakak gak bisa jemput ya naik taxi saja."


"Emang aneh Jelita, Ma. Aku udah suruh naik taxi malah naik ojek. Kecelakaan kan jadinya," ucap Bara ikut menimbrung.


Sedangkan Jelita mengepalkan tangannya erat di bawah meja makan. Pertama ia tak tahu apa maksud Ayahnya saat mengatakan padanya jika kecelakaan. Tapi menurut analisa Jelita, sepertinya Bara telah berbohong kepada kedua orang tua mereka.


Pria itu mengatakan jika Jelita tak keluar kamar karena mengalami kecelakaan akibat dua hari lalu Bara tak bisa menjemput Jelita, hingga akhirnya Jelita memilih pulang menggunakan jasa ojek online. Lalu Bara mengatakan bahwa Jelita mengalami kecelakaan, itu yang membuat Jelita mengurung dirinya di kamar.


Sungguh picik kamu Bara!


Mata Jelita menatap tajam Bara, kedua tangannya masih terkepal kuat. Sedangkan Bara yang merasa di perhatikan dengan begitu intens hanya tersenyum tipis sembari mengedipkan matanya ke arah Jelita.


"Ayo dimakan dek, biar kuat besok kamu kuliah. Masa cuma gara-gara keserempet kamu gak masuk dua hari. Lemah kamu, dek. Kapan-kapan kalo kecelakaan lebih parah kamu harus kuat," ucap Bara dengan seribu makna.


Mendengar ucapan anaknya, Fara dan Doddy hanya tertawa kecil. Berbeda dengan kedua anaknya yang menatap penuh permusuhan.


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2