
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Sejak beberapa hari yang lalu ia melahirkan bayi laki-laki, keluarga Bara-orangtua angkatnya menjadi sedikit melunak padanya.
Mulai dari memberikan perhiasan sebagai hadiah, lalu memanjakan Jelita yang masih merasakan nyeri yang luar biasa dengan cara memanggil salon untuk merawat tubuhnya. Dan terakhir Jelita kembali diijinkan memanggil kedua orang tua itu dengan sebutan 'Mama dan Papa', sangat lucu.
Begitupula dengan Bara, pria itu tampak semakin posesif terhadapnya. Ia tak boleh makan ini itu, lalu di larang banyak gerak.
Bukannya senang, Jelita malah merasa amat sangat muak, jujur saja, jika boleh Jelita lebih memilih untuk kabur dari rumah ini. Tapi kembali pada realita, Jelita tak mempunyai uang sebanyak itu untuk kabur dari keluarga Adinata.
"Hah," Jelita menghela nafas panjang, wanita itu berdiri di balkon kamarnya melihat pemandangan luar. Kedua tangannya meremas kuat pagar pembatas balkon, menyalurkan kekesalannya. Entah ini sudah berapa lama ia tak keluar dari rumah, ia bosan.
Apalagi ia setiap harinya terus-menerus mendengar suara tangisan itu, Jelita benar-benar muak.
"Kapan hidupku akan bahagia ?" gumamnya tersenyum pedih. Ia memejamkan matanya merasakan angin berhembus pada wajah cantiknya.
"Seandainya aku bisa bebas terbang seperti angin itu.."
Brakkk....
Tubuh Jelita berjengit kaget mendengar suara pintu di banting, bisa ia tebak jika Bara saat ini tengah emosi padanya.
"JELITA!!!"
"JELITA!!" teriaknya untuk yang kesekian kali, Bara dengan urat leher yang sudah menonjol keluar memasuki kamarnya dengan Jelita sembari menggendong Gala yang tengah menangis.
Jelita melirik sebentar kearah pintu penghubung kamarnya dengan balkon itu lalu kembali menatap pemandangan di depannya. Mengabaikan panggilan Bara padanya.
"DIMANA KAMU JELITA!!!"
Jelita memejamkan matanya saat mendengar suara langkah kaki dan tangisan bayi yang semakin mendekat kearahnya.
__ADS_1
Tanpa sadar ia menahan nafas.
"Jelita," panggil Bara sekali lagi sembari menepuk pelan bahu kanan istrinya itu.
Reflek, wanita itu membuka nafas dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Dengan raut wajah datar Jelita membalikkan tubuhnya menatap wajah Bara yang sudah memerah–marah.
"Ibu yang tidak berguna! Sudah aku bilang Gala harus minum ASI setiap 2 jam sekali! Kamu sudah tahu jika Gala tak mau minum susu formula lagi. Kenapa kamu terlambat memberikannya ASI ? Dia pasti sudah sangat kelaparan!" ucap Bara dengan dada naik turun, ia benar-benar emosi pada Jelita.
"Aku tidak bisa memberikannya ASI lagi, p**t*ng ku lecet, dan aku tidak sanggup menahan rasa sakitnya," jawab Jelita dengan sejujurnya.
Alis Bara menyatu, tak mengerti dengan ucapan istrinya. "Itu memang sudah menjadi tugasmu sebagai seorang ibu. Aku yakin semua ibu dari penjuru dunia pasti akan merasakan sakitnya menyusui."
"Dan Gala adalah darah dagingmu, jadi sudah sepantasnya kamu merelakan tubuhmu merasakan sakit untuk Gala," sambungnya.
Jelita tertawa sinis menatap Bara sembari melipat tangannya di depan dada. "Apa kamu sudah amnesia kak Bara ?"
Wanita itu menjilat bibir bawahnya yang terasa kering lalu tangannya menunjuk bayi malang itu yang tengah menangis. "Ini anak lahir bukan atas kehendak ku! Aku sama sekali tidak mengharapkan anak itu ada di dunia itu! Aku membencinya sama seperti aku membenci mu, tuan Bara. Kalian berdua ini membuat hidupku hancur!" ucapnya dengan suara bergetar.
"Jauhkan tangan mu dari wajah anakku, Jelita!" Bara menyentak tangan Jelita yang menunjuk wajah bayinya. "Bagaimana pun jika dia adalah anakmu, kamu yang membuatnya lahir dan ada di dunia ini!" ingat Bara.
Bara memejamkan matanya untuk mengurangi emosinya, ia menatap anaknya yang kini telah tertidur akibat kelahan menangis sejak tadi.
Bukannya merasa marah dengan ucapan Bara, Jelita malah tertawa hampar, menampilkan senyum mengejek pada suaminya. "Memang siapa yang mau jadi ibu dari anak sial itu ? Kamu yang membuatku terpaksa menjadi ibunya! Kamu mem***per**sa ku, tuan Bara! Men**ye**tu**bu**hi adikmu sendiri!"
"Aku melakukannya karena aku mencintaimu! Aku ingin memiliki mu sepenuhnya! Aku tahu caraku salah, aku mohon, lupakan masa lalu. Mari kita bangun keluarga kecil kita mulai dari awal. Aku, kamu dan anak kita, bagaimana ?" tanya Bara berusaha untuk membuang egonya.
Ini demi Gala, meskipun ia harus memohon pada Jelita, pasti ia akan lakukan. Bara ingin agar Gala mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
"Memperbaiki dan memulai dari awal ?" tanya Jelita yang diangguki cepat oleh Bara. "Apa ada seseorang korban pelecehan akan berakhir bahagia dengan pelaku pelecehan ? Itu tidak akan pernah ada! Pernikahan ini hanya membuatku muak!" jawabnya setengah berteriak dengan suara gemetar.
Runtuh sudah bertahan Jelita, wanita itu menangis menatap Bara. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya kelantai menyentuh kaki suaminya. "Aku mohon kak, ceraikan Jelita! Hapus rasa sukamu padaku, percayalah rasa sukamu itu bukan cinta, hanya obsesi semata. Aku sama sekali tidak akan mengambil hak asuh Gala, aku tak ingin hidup bersama dengan Gala."
"Berdiri!" titah Bara dengan suara dingin.
Mau tak mau Jelita berdiri menatap Gala dengan pandangan yang berkaca-kaca. Bayi laki-laki itu begitu mirip dengan Bara, itu menjadi salah satu faktor Jelita membencinya.
"Dengarkan aku baik-baik, kita tak akan bercerai selamanya. Aku tidak obsesi padamu, Jelita. Aku benar-benar mencintai mu, tulus. Yang kedua, Gala masih membutuhkan figur seorang ibu. Dia butuh kamu," jelas Bara menatap Jelita dengan sorot mata tajam.
"Aku sama sekali tak perduli dengan rasa benci mu kepadaku yang akan semakin besar. Yang terpenting adalah kamu selalu ada untukku dan Gala. Itu sudah cukup bagi kamu berdua," sambungnya.
__ADS_1
Jelita memutar matanya jengah, ia mengacak rambutnya frustasi. "Berapa kali aku sudah bilang kepadamu ?" tanyanya frustasi. "Aku gak bisa, aku gak bisa tinggal bersama kalian berdua. Wajah kalian yang begitu mirip benar-benar membuatku muak! Aku lebih ba–"
"Bagaimana jika kita buat perjanjian ?" tanya Bara memotong ucapan Jelita.
Alis wanita itu terangkat, sedikit tertarik dengan ucapan Bara. "Perjanjian yang seperti apa ?" tanyanya.
"Berikan anakku kasih sayang seperti seorang ibu pada bayinya. Berikan ASI hingga usia Gala 2 tahun, dan melayani sebagi seorang suami dengan baik. Jika kamu mau memberikannya, kamu akan aku sekolahkan hingga lulus kuliah, kita akan bercerai secara baik-baik, kamu akan aku berikan tempat tinggal dan pekerjaan yang layak," jelas Bara, pria itu tersenyum melihat ada binar-binar di wajah Jelita.
Sementara Jelita yang mendengar tawaran menggiurkan Bara. "Hanya dua tahun ?" tanyanya yang diangguki oleh Bara.
"Bukan hanya itu, setelah masa nifasmu selesai, aku akan mengijinkan mu bekerja kembali di perusahaan, kamu pasti bosan kan berada di rumah ? Kamu bisa menjadi OG lagi, dan aku akan mengurangi pekerjaan mu."
Mendengar itu Jelita langsung menganggukan kepalanya dengan senyum lebar. "Aku setuju dengan perjanjian itu, kita mulai hari ini ?" Bara menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku harap kamu memang benar-benar menepati janjimu. Hanya dua tahun kita bersama, setelah itu kita berpisah!"
"Tentu Jelita, ini hanya dua tahun!"
Jelita mengangguk lalu mengambil alih gendongan Gala, ia mendekap bayi itu erat. "Ayo minum susu sama Mama," ajaknya membawa bayi itu memasuki kamar mereka, meninggalkan Bara yang masih berada di balkon menatap punggung Jelita yang semakin menjauh dengan senyum kecil.
Bara mengeluarkan rok**k yang berada di saku celananya, menyalakannya lalu menghisap nikotin itu penuh khidmat.
"Sesuatu yang Bara sudah genggam, tak bisa di lepas begitu saja, Jelita!" Bara mengeluarkan asap ro**k itu melalu hidungnya lalu tersenyum manis.
...o0o...
HUAAA 🥺 MAAF YA RATU GA UPDATE TEPAT WAKTU. BANYAK KERJAAN 🥺😘
TERUS DUKUNG RATU YAA
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA